Kisah VBAC Shophi

Kisah Kelahiran Khalid 

image

Khalid adalah nama anak keduaku yang lahir pada tanggal 26 Oktober 2015. Khalid juga adalah salah satu nama pejuang Islam yang hebat, tangguh dan gigih dalam memperjuangkan agama Allah, dan Alhamdulillah Khalid anakku pun adalah pejuang tangguh yang bisa memotivasi ibu nya untuk dapat melahirkan normal bi idznillah setelah proses kelahiran anak pertamaku Hisyam melalui persalinan SC pada tanggal 10 November 2013.

Khalid dengan Hisyam hanya terpaut 2 tahun. Berarti 1,5 tahun setelah proses SC Allah memberikan kepercayaan kepada ku untuk dapat hamil anak kedua.

Di awal kehamilan aku  memang sudah bertekad untuk dapat melahirkan anak kedua melalui persalinan normal. Karena aku tidak mau ketidakberdayaanku setelah melahirkan SC kurasakan kembali, aku khawatir Hisyam akan merasa terasingkan akibat kehadiran adiknya.

Tekad hanya akan menjadi tekad dan tidak akan terwujud apabila tanpa usaha. Usaha yang aku lakukan di awal kehamilan kedua ini adalah mencari tenaga kesehatan yang bisa membantuku melahirkan normal. Beberapa kali aku ganti nakes, mulai dari bidan sampai dokter. Dan akhirnya berdasarkan referensi rekan satu kantor aku memilih Dokter A yang bertugas di salah satu RS di Jaktim.

Awal mula aku bertemu beliau kesan yang aku tangkap adalah beliau sabar. Beliau tanpa lelah menjawab pertanyaan-pertanyaanku seputar proses melahirkan normal setelah SC yang aku kenal di kemudian hari dengan sebutan VBAC. Beliau memang tidak dapat memastikan apakah aku bisa melakukan VBAC atau tidak. Namun rasa nyaman yang ku rasakan membuat aku betah berlama-lama konsultasi dengan beliau. Beliau bilang VBAC dapat dilakukan asalkan terpenuhinya beberapa syarat, salah satu yang betul-betul ku ingat adalah ketebalan dinding rahim jahitan pasca operasi SC harus lebih dari 3 mm dan ini akan dapat dilihat di usia kehamilan usia 36 w.

Aku pun menikmati kehamilan dengan rasa syukur yang teramat sangat. Kondisi kehamilan yang sehat (aku sampai dapat full menjalankan ibadah puasa Ramadhan) dan tidak adanya keluhan kehamilan yang tidak dapat diterima oleh tubuhku membuat aku semakin yakin untuk VBAC.

Hingga akhirnya usia kehamilan 36w pun datang menjelang. Aku sangat tidak sabar menunggu keputusan dokter, akankah beliau membantuku VBAC atau tidak?

Proses menunggu giliran konsultasi dengan dokter A pada saat itu berasa sangat lama. Sampai akhirnya giliranku datang hingga aku bisa merasakan jantungku berdetak sangat cepat pada saat dokter A membaca rekam medis kehamilanku. Dan akhirnya, “Ibu insya Allah bisa melahirkan secara normal” katanya. Alhamdulillah, aku bergumam. “Tapi proses melahirkan normal ibu tidak boleh lebih dari HPL yaitu tgl 23 oktober 2015, dan tidak boleh ada ketuban pecah terlebih dahulu”, lanjut Dokter A. Insya Allah, bantu hamba ya Allah, doa ku dalam hati.

Tgl 07 oktober 2015 merupakan hari pertama cutiku dari kantor, dan bertepatan dengan pulangnya orang tuaku dari ibadah haji. Oleh sebab itu aku pulang kampung ke Ciasem (Subang) di tanggal tersebut. Karena usia kehamilanku sudah memasuki usia yang cukup untuk melahirkan maka aku dan suami langsung membuat rencana kelahiran :

1. Apabila sebelum HPL aku sudah merasakan kontraksi aku tetap melahirkan dengan dibantu oleh Dr. A
2. Apabila setelah HPL aku baru merasakan kontraksi, maka aku akan melahirkan di bidan terdekat di ciasem-subang

Proses menunggu kontraksi merupakan proses yang sangat mendebarkan apalagi HPL yang semakin dekat. Kondisiku dan suami yang terpisahkan oleh jarak, aku di ciasem-subang sementara  suami di Jakarta, semakin membuatku terkadang merasa sedih. Campur aduk perasaan yang timbul. Kegalauan akibat tidak munculnya kontraksi sedikit membuat aku stress, sesekali perasaan takut akan kondisi bayi di kandungan datang, apalagi aku tidak pernah kontrol kembali setelah kontrol terakhir dengan Dr A. Namun aku senantiasa menanamkan positif thinking “EVERYTHING WILL BE OK”. Bayiku baik-baik saja dan sehat di dalam sana, hanya waktu saja yg belum mengharuskan dia untuk ketemu ayah bunda nya. Alhamdulillah keikutsertaan ku di sebuah group VBAC membuatku semakin yakin bahwa keputusanku untuk VBAC adalah keputusan yang tepat. Walaupun aku tidak aktif di group tersebut tapi aku rajin membaca sharing teman-teman dalam group tsb. Motivasi-motivasi yang diberikan membuatku tenang dan merasa bahwa aku tidak sendiri.

HPL pun datang menjelang, namun kontraksi atau tanda-tanda akan melahirkan belum juga datang. Rencana kelahiran no 1 sepertinya harus kandas. Baik, kita ambil rencana kedua yaitu melahirkan dengan dibantu bidan di Ciasem-Subang. Kegalauan makin menjadi,pertanyaan-pertanyaan yg sebelumnya tidak pernah timbul akhirnya muncul. “Bagaimana kondisi bayiku? Kok sepertinya tidak ada gerakan. Apakah ketuban ku cukup untuk bayi ku? Apakah ini jalan terbaik? Tidakkah aku egois untuk memaksakan VBAC? Kenapa aku sangat bersikeras seperti ini? apa yang aku kejar?“ Astaghfirullah, kemana keimanan ku? Tidakkah aku punya Allah? Kemana energi positif yang biasa ku sebar untuk diriku dan bayiku?.

Aku pun melupakan bahwa aku sedang hamil besar dan HPLku sudah lewat. Kulakukan pekerjaan di luar rutinitas seperti goyang Inul yg sebelumnya belum pernah aku lakukan. Aku pun keluar rumah dan bercengkrama dengan tetangga sambil mengajak anak pertamaku main. Aku juga menonton film ceria dan membaca-baca cerita tentang keberhasilan VBAC, hingga akhirnya aku pun berserah diri dan mengadu kepada Allah, berdiam diri di kamar dan menangis sampai hati tenang dan puas.

Tgl 24 Oktober 2015 ( HPL + 1 ) suami datang mengunjungi ku dan Aa Hisyam. Senang rasanya di saat  kegalauan melanda ada suami yang menemani. Perasaan senang itu pula yang mungkin bayiku rasakan karena mulai pukul 22.00 terasa perutku sakit dan kencang, apakah ini yg namanya kontraksi? Frekwensinya lebih dari satu jam sekali. Sambil bercanda aku berucap ke suami “Kayaknya ade memang nungguin ayah deh, Yah, soalnya ko perut bunda sakit?“. Karena jarak kontraksi yang masih jauh maka aku abaikan rasa sakit itu dan berusaha untuk tidur.

Tgl 25 Oktober 2015 ( HPL + 2 ) persis setelah shalat subuh aku merasakan sepertinya keputihan ku cukup banyak. Pada saat aku membersihkannya aku melihat ada bercak. Alhamdulillah, dalam hatiku bergumam, inilah mucus plug yg dinanti. Aku sampaikan kejadian itu kepada suami dan ibuku. Aku punya perasaan yakin “THIS IS THE TIME “. Kontraksi semakin lama semakin dekat jaraknya, namun berdasarkan ilmu yang kuterima dari group VBAC jangan terburu-buru ke nakes sampai jarak kontraksi yang sangat dekat sampai-sampai aku sendiri pun sudah lupa bagaimana untuk tersenyum.

Namun karena ayah dan ibu khawatir, mereka memaksaku untuk segera datang ke bidan. Dengan membawa semua perlengkapan, pukul 13.00 aku dan suami datang ke bidan. Sesampainya di klinik, aku bertemu dengan asisten bidan. VT langsung dilakukan dan dikatakan sudah pembukaan 5. MasyaAllah, aku bergumam. Dikarenakan ibu bidan sedang istirahat aku sampaikan ke asisten bidan untuk tidak membangunkan beliau, aku ingin pembukaan lengkap terlebih dahulu baru ibu bidan kita bangunkan. Sambil menunggu pembukaan lengkap, aku perbanyak jalan kaki di klinik. Finally pukul 15.30 ibu bidan bangun dan langsung melakukan pemeriksaan ulang kepadaku. Aku kaget pas ibu bidan bilang bahwa aku baru pembukaan 3. Dan lebih kaget lagi pada saat bidan menyampaikan bahwa beliau belum pasti akan dapat membantu proses kelahiran normal aku. Beliau mengatakan bahwa beliau belum pernah membantu proses VBAC dengan jarak kelahiran 2 tahun dari anak pertama. Beliau seringnya membantu dengan jarak 5 tahun. Beliau bilang kalaupun beliau tidak dapat membantu proses kelahiran aku, namun beliau bersedia untuk memberikan rujukan ke RS terdekat.

Hancur hatiku, runtuh keyakinanku. Kegalauan akan keputusan apa yang harus ku ambil membuatku seakan ingin lari dari klinik tersebut. Namun lagi-lagi bayanganku memeluk bayi segera setelah melahirkan membuatku bangkit kembali. Aku bilang ke ibu bidan bahwa aku izin untuk pulang dahulu karena pembukaan masih di pembukaan 3 dan aku ingin merasakan step by step pembukaan di rumah. Dan insya Allah akan kembali ke klinik apabila aku merasakan pembukaanku sudah lengkap karena toh perjalanan dari rumah ke klinik hanya memakan waktu 5 menit. Bu bidan mengizinkan.

Sesampainya di rumah, keluarga, tetangga dan sanak saudara sudah berkumpul di sana. Berita bahwa aku sedang merasakan tanda-tanda akan melahirkan sudah tersebar malahan ada yang mendengar kabar bahwa aku sudah melahirkan, begitulah nikmat nya tinggal di kampung. Pertanyaan-pertanyaan keluarga dan tetangga aku jawab dengan tenang walaupun rasa sakit di perut semakin kuat. Masukan – masukan mereka tentang keputusan apa yang harus aku ambil aku terima namun tetap tidak aku ambil dengan berbagai pertimbangan. Aku masih ingin menunggu pembukaan sampai lengkap di rumah, nanti apabila sudah akan melahirkan aku akan datang kembali ke klinik dan minta bantuan bidan agar aku bisa VBAC di sana. Tapi pernyataan ibu bidan sebelumnya membuat aku berasumsi walaupun pembukaan sudah lengkap ibu bidan tetap tidak mau membantuku untuk VBAC dan ujung-ujung nya aku akan dirujuk ke RS terdekat dan RS terdekat adalah RS swasta yang aku tidak tahu dokternya apakah support VBAC atau tidak.

Sempat terpikir untuk datang ke klinik dan minta rujukan untuk ke RSUD Subang, karena menurut pengalaman tetangga beliau berhasil melalui proses normal walaupun dengan kondisi bayi sungsang. Tapi RSUD tetaplah RS yang memiliki alat kedokteran yang lengkap dan tetanggaku berhasil karena beliau melahirkan anak pertama, bukan proses kelahiran VBAC sepertiku. Terfikir juga kembali ke RS di Jaktim dengan dokter A dan minta beliau untuk membantuku VBAC karena toh aku hanya lewat 1 hari dari HPL. Tapi lagi2 kupikir RS memiliki alat yang lengkap, khawatir proses kelahiran ku tidak berjalan seperti yang di inginkan dan dengan mudah dokter akan menyarankan SC dan aku tidak bisa menolak.

Akhirnya aku telpon kakak iparku yang sangat mensupportku untuk VBAC karena beliaupun berhasil VBAC. Beliau menyarankan untuk bertanya ke Group VBAC sebuah klinik di kota Z yang katanya pernah ada yang VBAC di sana. Aku pun mendapat infonya dan langsung ku telpon bidan X di klinik Y, dan setelah mendengar suara beliau aku yakin beliau dapat membantu aku insya Allah.

Perjalanan menuju klinik Y dari Ciasem Alhamdulillah tanpa mengalami hambatan. Pukul 18.00 aku didampingi suami, ibu, ayah dan Aa hisyam berangkat dan pukul 20.00 saya sampai. Selama perjalanan rasa kencang dan kram perut semakin terasa sakitnya dan juga intens aku rasakan. Istighfar dan bacaan dzikir senantiasa aku panjatkan. Keyakinan untuk VBAC semakin bertambah karena aku selalu berfikir bayi kuat selama ibunya kuat, maka aku tanamkan kalimat “Aku kuat. Aku bisa VBAC. Aku bisa memeluk anakku setelah melahirkan. Segera.“

Sampai di klinik aku bertemu dengan Bidan X dan asistennya. Suasana klinik yang nyaman dan menentramkan membuat aku merasa seperti berada di rumah sendiri. Runtutan kejadian aku ceritakan kepada bidan X. Setelah dilakukan VT, ternyata pembukaan masih di pembukaan 3. Bidan X berkata dengan yakin “Besok ibu insya Allah ketemu dede bayi, sabar ya… “ Sebelum meninggalkanku di klinik beliau memintaku untuk banyak makan dan minum, beliau menitipkan gymball agar aku bisa melakukan excercise goyang inul dengan gymball apabila aku tidak dapat tidur. Bidan X sangat faham dan tahu bahwa sepanjang malam aku pasti tidak dapat tidur. Sengan senantiasa beristighfar menahan rasa sakit yang semakin kuat sepanjang malam aku habiskan dengan ber excercise di gymball terkadang berjalan kaki di sekitar klinik, dan apabila rasa sakit sedang hilang aku usahakan untuk dapat tidur walaupun beberapa menit. Ibuku sebetulnya sangat sabar menemani dan mendampingiku sepanjang malam, namun karena aku lihat beliau mengantuk aku meminta beliau untuk tidur dan meminta beliau untuk tidak khawatir aku yakinkan beliau bahwa “I’m fine and I Can do It” insya Allah.

Subuhpun tiba, aku sudah tidak sanggup menahan sakit. Aku minta ibu ku untuk dapat membangunkan asisten bidan yang memang tidur di klinik menemaniku. Asisten bidan mengusap punggungku sambil bercerita tentang keberhasilan pasien-pasien sebelumnya dalam melahirkan normal. Dan dari beberapa cerita itu dapat aku simpulkan bahwa keberhasilan VBAC tergantung dari keyakinan dan kesabaran ibunya. Semakin sabar si ibu menahan sakit dalam menjalani persalinan semakin besar peluang ibu tersebut untuk melahirkan normal. “Yes… aku sabar menanti kamu, nak“ gumamku dalam hati sambil mengusap perutku.

Pukul 10.00 bidan X datang ke kamarku dan bertanya “Ibu masih kuat kan?” Aku tersenyum. “Kalo ibu ingin berhasil VBAC ibu harus kuat dan sabar” dan lagi-lagi dalam hati aku berkata “Aku KUAT… Aku SABAR…” Rasa sakit ini tidak seberapa jika dibanding rasa bahagia yang nanti dapat kurasakan. Setelah VT rasanya aku ingin melonjak saat bidan X menyampaikan bahwa aku sudah pembukaan 7. Ya Allah, sebentar lagi. Terimakasih ya, nak.. udah mau sama – sama bersabar bersama bunda.

Pukul 15.00 Bidan X menyarankan hypnobirthing. Aku berendam dalam air hangat dan selama proses hypnobirthing aku diminta untuk mengejan apabila memang ingin “pup” dan tidak usah ditahan. Apabila perutku merasa sakit dan kencang asisten bidan dan adikku yang baru datang pukul 12.00 menyiram perutku dengan air hangat. Aku tidak tahu berapa lama aku sudah berendam dalam air hangat tersebut. Namun yang aku ingat setelah proses hypnobirthing selesai, terasa sangat kuat tekanan pada bawah perut ku. Sakit yang aku rasakan pada perut makin menjadi, serasa aku sangat ingin pergi ke kamar mandi untuk “pup” namun bidan X melarang. Ya Allah, aku ingin semuanya selesai. Aku ingin memeluk anakku, aku ingin berkumpul dengan keluargaku, aku ingin rasa sakit ini hilang…

Bidan X kemudian meminta ku untuk mengejan. Beliau tidak mengatakan kepadaku bahwa pembukaanku sudah lengkap. Beliau hanya memintaku untuk terus mengejan. Instingku mengatakan inilah saatnya melahirkan. Dengan dukungan ibuku, aku terus berusaha mendorong isi perutku yang lambat laun kurasakan isi perutku semakin lama semakin menekan ke bawah dan rasa sakit di perut turun ke bagian bawah tubuhku..  ALLAH, aku bisa, aku kuat, aku sanggup!

Lalu aku melihat sesosok bayi digendong oleh bidan X, putih, bersih sedang menangis dalam pelukan beliau. Itulah dia yang selama 39w+3d aku tunggu. Dialah pejuang ku yang kemudian berhenti menangis setelah diserahkan ke dalam pelukanku.

Alhamdulillah…

8 thoughts on “Kisah VBAC Shophi

  1. Bun aku pengen juga ikuy grup VBAC aku udah 2 kali sesar..mohon bantuannya ya bun ini nmor wa ku bun 082293024881

  2. bu,, mau ikut grup vbac bagaimana ya.. saat ini saya hamil 36 minggu pasca 2x cesar. saya ingin berjuang vbac tentunya biar bisa sharing sugesti positif di grup ini. ini no wa saya 081330665569. makasih buunn..

  3. Subhanallah. .perjuangan dan keputusan yg tepat ya bun.
    Saya skrg lg hamil bun anak kdua uk 36mnggu. Tp dokter kndungan saya ga support VBAC, saya bingung bun, saya rasa kandungan saya baik2 saja & dlm hati kcil saya brtekad utk VBAC tp saya bngung hrs kmna nanti saat mlahirkan. Kalau mlahirkan d Bidan saya riskan bun.

    tolong kasih penyemangat n saranny bun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *