Kisah VBAC Putri

Kisah VBAC Ku

Kisah ini berawal dari kehamilan anak pertamaku yang lahir via SC setelah 42w dan gagal induksi. Ketubanku habis di bukaan 2 dan hampir 10 jam kemudian bukaan mentok di bukaan 3. Aku harus diam dan tidak boleh bergerak lagi saat itu hingga akhirnya SC lah yang menjadi pilihan. Selama penyembuhan pasca operasi aku mengalami abses di PD kiri selama kurang lebih 1 bulan. Awalnya ASI masih rembes lalu diperban, sampai akhirnya berhenti total. Bayiku pun tertular di dagunya seminggu kemudian. Namun Alhamdulillah masih mau ngAsi di PD kanan. Hampir semua masalah menyusui mulai puting lecet sampai pecah terbelah, PD bengkak, mastitis, sampai abses sudah pernah terjadi padaku. Amat sangat benar pepatah ini “Pengalaman adalah Guru yang paling berharga”. Aku pun berikrar aku tidak ingin mengalaminya lagi. Aku ingin sekali bisa melahirkan normal dan lancar menyusui.


“Berasa belum jadi ibu seutuhnya kalau belum melahirkan secara normal” Kata orang, tetapi VBAC bukan lah soal itu. Menurut penelitian Nadia Mulya, survei terhadap 849 ibu muda di indonesia menunjukkan bahwa 46% nya lebih memilih persalinan secara caesar. Jenis persalinan satu ini dipilih karena beberapa hal, data survei oleh Nadia Mulya dari 394 responden menunjukkan bahwa:
1. Sebanyak 83.5% mengaku karena keputusan dokter, terjadinya komplikasi medis
2. Sebanyak 10% mengaku karena kehamilan sebelumnya juga caesar
3. Dan sisanya 6.5% mengaku karena tidak ingin merasakan sakit saat kontraksi, tidak ingin elastisitas vagina berubah, bisa menentukan tanggal kelahiran bayi, dan rekomendasi kerabat.

Padahal banyak sekali alasan untuk tidak memilih melahirkan secara caesar, selain biaya yang relatif mahal diantaranya adalah rasa sakit atau nyeri pasca operasi, bekas luka sayatan, infeksi jahitan, infeksi kandung kemih, infeksi rahim, pembekuan darah di kaki atau paru-paru, bekas jahitan robek pada kehamilan berikutnya, efek anastetis yaitu muntah, mual, & sakit kepala. Resiko jangka panjangnya adalah leher rahim terhalang dengan tumbuhnya plasenta di dalam rahim biasa disebut plasenta previa. Selain itu bisa juga mengalami plasenta akreta, plasenta increta, dan plasenta percreta. Ketiganya dapat menyebabkan pendarahan hebat setelah melahirkan menurut dr. Diah Sartika Sari, SpOG di aloodokter.com. Resiko buruk yang bisa saja terjadi tidak hanya pada sang ibu yang melahirkan, tetapi juga bisa terjadi pada bayinya, Dr.Erick Fransisco Kan, M.Med, Sp.A dari Siloam Hospital Karawaci menjelaskannya, yaitu gangguan pernafasan, rendahnya sistem kekebalan tubuh, rentan alergi, emosi cenderung rapuh, terpengaruh anestesi, minim peluang IMD dikarenakan masih teler karena pengaruh anestesi (sumber: kompas.com).

Karena itulah aku memilih untuk melahirkan secara normal, untuk menghindari hal-hal tersebut. Perasalinan normal memang yang paling ideal dan alami. Persalinan ini minim risiko, seperti perdarahan yang tidak berlebihan. Biaya persalinannya pun jauh lebih murah ketimbang caesar. Proses pemulihan setelah persalinan pun umumnya lebih cepat. Ibu tak perlu menjalani rawat inap lama; sekitar 4-6 jam pascapersalinan, umumnya si Ibu sudah bisa berjalan dan keesokan harinya sudah boleh pulang dari rumah sakit. Rahim pun akan melalui proses alami untuk kembali ke bentuk semula. Jika Ibu berencana memiliki anak lagi, maka tidak ada masalah dengan jarak kehamilan berikutnya. Secara biologi, persalinan ini memicu kelenjar susu memproduksi kolostrum untuk dihasilkannya air susu. Selain itu, bayi memiliki daya tahan tubuh yang tinggi. (Sumber: kemangmedicalcare.com). Allahua’lam. Inilah juga yang kuidamkan, ASI lancar terproduksi. Tak apalah merasakan kontraksi. Insya allah sakitnya saat kontraksi akan hilang seketika sesaat setelah bayi lahir. Seperti kata pepatah “…bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian”.

Alhamdulillah pada bulan Desember 2015 aku positif mengandung anak ke-2. “Ikhtiar tanpa doa itu sombong & doa tanpa ikhtiar itu bohong” kata seseorang. Aku pun browsing mencari informasi tentang melahirkan normal setelah sesar atau VBAC dan ketemulah www.kisahvbac.com hingga akhirnya bergabung lah aku di sebuah grup support. Banyak sekali yang aku pelajari di group tersebut seputar persiapan VBAC, di antaranya makan makanan yang bergizi dan tinggi protein, exercise yang mendukung persalinan normal, hingga induksi alami di minggu2 terakhir kehamilan.

Selain mempersiapkan diri sendiri, aku juga mempersiapkan kesiapan keluarga dekatku dalam mendampingiku menuju VBAC. Dukungan ayah dan ibuku sangatlah penting bagiku karena suamiku menginginkan istrinya yang tercinta ini melahirkan di kota Malang, tempat mereka berada, sementara suami akan tetap bekerja di kota tempat kami tinggal. Kuceritakan keinginanku untuk vbac, dan kuceritakan juga kisah-kisah vbac yang ada di kisahvbac.com. Alhamdulillah wa syukurilah, Aisyah (Tina), sahabat yang sudah seperti saudaraku sendiri telah terlebih dahulu sukses vba2c dan kisahnya kuceritakan pula ke keluargaku. Merekapun teryakini dan meyakinkanku “Putri, you can do it”. Insya Allah.

Tak putus asa aku mencari nakes yang pro VBAC. Bolak-balik ubleg-ubleg mbah gugle dan tanya sana sini, akhirnya kutemukan juga. MasyaAllah, klinik sang nakes tak jauh dari rumah orang tuaku. Memang rencana Allah itu indah. Alhamdulillah wa syukurilah gayung bersambut tak hanya keluargaku yang sepaham dengan tujuanku, nakes pun fully support.

Tapi di tengah perjalanan yang namanya tantangan itu pasti ada. Tiba-tiba saja Ayahku menyatakan keragu-raguannya merestuiku setelah bertemu istri pakde yang seorang dr. kandungan. “Nanti bisa ruptur loh (bekas jahitan caesar bisa robek) dan menyebabkan kematian” katanya. Dalam hati aku sempet kesal, kenapa tadi mesti ketemu sih, hehe.. Tapi aku maju tak gentar meyakinkan ayah kembali. Karena biasanya ayahku selalu memotivasiku maka kubalikkan kata-kata yang selalu beliau ucapkan. “Ayah loh yang bilang ke putri kalau harus yakin akan ketentuanNya. Kan melahirkan secara normal itu adalah salah satu ketentuanNya dan kalau kita meng-imaninya, Allah pasti memberi jalan yah.” Alhamdulillah akhirnya ayah bilang juga  “iya ya nduk bismillah, insyaAllah putri pasti bisa melahirkan normal, lancar, sehat. Terus berdoa ya nduk selain ikhtiarnya juga jalan terus”. Tak hanya mendukungku ayahku pun membuatkanku sari ikan gabus yang berprotein tinggi. Walau rasanya unik namun tetap kukonsumsi juga. Demi, demi…

Suamiku pun sempat ragu mendukungku, karena aku sempat memeriksakan diriku ke spog dan sang dokter memberi syarat bahwa vbac bisa dilakukan apabila bayi di bawah 3kg. Aku tahu keraguan suamiku adalah karena ia menyayangiku. Hanya kepada Allah aku berdoa agar Ia balikkan hatinya untuk mendukungku sepenuhnya, dan alhamdulillah ALlah kabulkan, lama kelamaan suamiku pun luluh juga.

Karena suamiku tidak mendampingiku nanti. Maka Sosok pendampingku untuk melahirkan yang kupilih adalah ibuku tercinta. Alhamdulillah dari awal aku berniat ingin vbac dan sebelum sempat ku yakinkan, beliau malah sudah yakin duluan, bahkan lebih yakin daripada aku sendiri. Ibuku yang tenang menanti hari H menjadikan suami dan ayahku pun ikut tenang.

***

37w kehamilan gelombang cinta mulai terasa. Sempat aku galau begitu juga suamiku nun jauh di sana, yang pada saat yang sama juga sebetulnya kegeeran. Namun ternyata itu si brixton hiks. Induksi alami belum disarankan sama bubid saat itu karena bbj masih 2.4 kg. Akhirnya aku pun berusaha stay calm & keep smile menunggu 38w.

38w pun datang dan BB bayi sudah aman yaitu >2,5kg. Aku mulai konsumsi nanas & malam menjelang tidur aku mendengarkan hypnobirthing dari bubid, alhamdulillah terasa kontraksi lagi, tapi kontraksinya hanya mampir sebentar dan akupun tertidur pulas.

Hal ini sempat membuat aku down. Mana suami jauh lagi. Namun “When life knocks you down, get up and turn back to Allah”. “…Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (Al Baqarah:214). Alhamdulillah benarlah pertolongan Allah pun datang melalui my little mood booster anakku yang pertama, si kakak afifa cantik sholehah. Ketika rasa malas datang si kakak pun menyemangatiku, “Ma, ayo senam ma”. Jendela ruang tamu pun kubuka semua. Udara sejuk merambat masuk ke dalam ruangan, menambah relax dan semangat 45 untuk memulai senam hamil dengan gymball. Sewaktu senam kegel kakak afifa suka mengikuti gerakanku dengan improvisasi ala2 kakak, tak hanya gerakan dia juga menirukan exhale&inhale. Ketika matahari masih malu2 menampakkan wajahnya, aku pun memulai untuk jalan kaki semi cepat sekitar 2km selepas rangkaian senam hamil tadi. Terkadang si kakak juga ikutan. Aku bawa strollernya supaya aku tak perlu gendong ketika dia capek. Rute yang ada pun juga asyik, pemandangan kanan kiri sawah & pegunungan dengan diiringi suara gemercik air pengairan sawah serta suara burung2 gereja bernyanyi. Kadang kala aku juga ingin jalan-jalan di tengah2 kebisingan kota, maka kupindah rute ke alun2 kota wisata batu, tetap dengan background pegunungan yang tetap terlihat dibalik rumah2 penduduk & cuaca khas yang sejuk mengelilingi alun2 kota dengan jarak yang ku perhitungkan sama.

Senin, 22 Agustus 2016, waktunya check up kandungan lagi. Sewaktu check up ke bubid kontraksi datang. Bubid dan asisten bubid berkata, “Semoga hari ini ya, mba Putri”. Amiiin, ya kuamini doa itu. Namun ternyata hari selasa dan rabu pun berlalu dan gelombang cinta itu acak adul, walau masih setia selalu menemani. Sementara HPL sudah semakin dekat, yaitu 28 Agustus 2016. Aku pun berusaha stay calm, “each contraction takes me a step closer to meeting my baby”.

Kamis 25 Agustus 2016, kontraksi datang sekitar jam 1 dini hari dan sudah semakin teratur. Aku mulai sulit konsen tidur. Ku ambil air wudhu lalu sholat qiyamul lail dan bermunajat kepadaNya “Ya Allah kalau memang hari ini takdir adik Afifa lahir kumohon mudahkanlah, lancarkanlah, & berilah kami kesehatan serta kekuatan”.

Jam 8 pagi kontraksi sudah 5 menit sekali, bilang ke Uti (ibuku) dan o’om afifa (adikku) biar siap2 berangkat ke bubid. Sebelumnya aku masih beraktifitas seperti biasa yaitu cuci baju lalu mandiin kakak afifa. Aku persiapkan baju2 kakak, karena aku berniat mengajak si kakak ke rumah bubid. Tak terasa jam sudah menunjukkan angka 9.30, akhirnya berangkat juga ke bubid yang ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Alhamdulillah sampai juga di rumah bubid. Sebelumnya sudah ku-WA asisten bubid mengatakan bahwa aku sudah dalam perjalanan, sehingga kamar buat menginap sudah terlebih dahulu dipersiapkan ketika aku sampai. Cek VT ternyata sudah bukaan 4, Alhamdulillah. Asisten bubid menyarankan buat jalan2 dulu sekitaran perum bubid. Beberapa menit jalan2, matahari sudah mulai meninggi dan aku memutuskan u/ kembali ke rumah bubid.

Kulakukan exercise goyang inul di atas gymball, kalau sudah gak sanggup hanya maju mundur saja di atas gymball sampai akhirnya kurubah posisi gaya pelvic rock sambil meluk gymball. Ketika kontraksi datang aku deep breathing dan asisten bubid datang bergantian melakukan acupressure sementara lantunan ayat suci AlQur’an dengan merdu memenuhi ruangan. Sore pun tiba tanpa terasa, asisten bubid menyarankan mandi air hangat biar relax. Aku pun meng iyakan setelah beberapa menit berfikir, was2 kalau kontraksinya semakin sakit. Ternyata relax banget, ketika kontraksi datang aku arahkan ke pinggang showernya, nikmat rasanya. Mucus plug beserta darah merah segar tak terasa keluar. Aku baru mengetahuinya sewaktu buang air kecil didampingi asisten bubid. VT lagi ternyata sudah bukaan 6, alhamdulillah.

Isya’pun tiba namun aku sudah tidak nafsu lagi buat makan malam, aku hanya minta makan coklat saja buat tenaga mengejan nanti. Asisten bubid menyuapkanku coklat dan ketika kontraksi datang ia melakukan pijatan acupressure. Suara lembut sang asisten bubid terdengar meng-hypnobirthing ku. “Ayo mbk putri tetap tersenyum biar mulut rahimnya juga tersenyum (a.k.a membuka), konsentrasi tarik nafas yg panjang dan keluarkan, hoosh”, katanya. Kadang aku buang nafas hosh hosh hosh, namun lebih seringnya sambil mengucap namaNya, ALLAH. Lampu kamar yang temaram membuat ku relax.

Sudah tak kuat lagi duduk di atas gymball, aku tiduran miring kiri sambil mengapit Peanut Ball. Mengapit peanut ball membantu mempercepat pembukaan. Gelombang cinta benarlah semakin mesra, akhirnya di VT ke 3 kalinya, alhamdulillah wa syukurilah sudah bukaan 9. “Mari mbak putri ke kamar bersalin.” kata asisten bubid, sembari ditemani ibuku tercinta. Kakak afifa langsung di handle oleh O’om kesayangannya.

Keinginan mengejan semakin kuat kurasakan, mau dibopong keatas bed bersalin. “Ooh nooo…saya gak nyaman, saya mau lahiran di lantai saja” kataku. Asisten bubid dengan sigap menggelar underpad di lantai kamar bersalin. Kemudian aku duduk bersandar gymbal, sambil dicek asisten bubid bilang, “mbak putri kepalanya belum di hodge 4 (penurunan maksimal kepala bayi), coba jongkok yuk supaya lebih turun lagi”. Saat itu pula ketuban keluar byor.. Akhirnya aku jongkok sambil peluk Ibuku erat2, kontraksi datang dan aku mengejan 3 kali. Asisten bubid mengarahkan, “Mbak putri mengejannya seperti mau pup dan jangan bersuara”. Ok i got it. Setelah itu asisten bubid bilang “Coba nungging (mungkin) lebih enak mbak putri”. Dan akhirnya, masyaAllah, alhamdulillah lahirlah Muhammad Haidar Zhafran Athallah” dengan suara tangisan bayi yang khas dan kencang sekali pada jam 22.12 Wib. “My body knows how to deliver this baby. Just as my body knew how to grow my baby..”

IMD dan penundaan pemotongan plasenta  kurang lebih 2 jam lamanya. Sesaat setelah lahir bayiku dilap di semua bagian kecuali tangan, karena air ketuban yang menempel di tangan bayi aromanya dan rasanya seperti puting dan aerola. Sewaktu diletakkan di atas dadaku bayiku mulai ngenyot tangannya kemudian perlahan2 bergerak menuju dadaku dan menyusu secara alamiah, ia menemukan air susu dengan sendirinya. Masya Allah sungguh sempurna ciptaan Allah.

Karunia yang tak ternilai dariNya, akhirnya Allah pun menjawab doaku, dan keinginanku pun menjadi kenyataan.

@Rumah Uti&akung,
Kota Wisata Batu-15 September 2016-
Putri(amma afifa&haidar)

***

Mohon doanya supaya lulus ASIx dengan sehat untuk adek Haidar. Dan semangat dan yakin ya bumil yang menuju gentle birth dan busui yang menuju Asix 2thn.

“if you ralized how powerful your thoughts are you’d never think a negative thought again”.

“..Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”.(Ali Imran:159)

***

14 thoughts on “Kisah VBAC Putri

  1. Assalamu’allaikum. Mbk, bidan yang membantu mbk melahirkn itu dimana alamatnya ya? Kalo masih ada, saya minta nomer hp bidan dan no hp mbk untk konsultasi? Jazakillah khoiron katsir.

  2. Hi mba Putri,
    Baca kisahnya astagaa mirip kisah saya.. Kecuali bagian vbac nya (masih berharap bisa vbac dikehamilan kedua ini). Lahir anak pertama sc krn ketuban pecah duluan dan bayi blm turun panggul.. Sedihnya pemulihan dr sc lama, kena mastitis hingga abses pd kiri dan terpaksa di operasi lg buat dibersihin.. Semogaaa saya jg bisa vbac buat yg kedua ini meskipun konsul sm dokter td ktnya baby blm masuk panggul sudah 37w 😅

  3. Barokallahu Mba Putri,,gentle sekali lahirannya..Semoga gentle juga ASIX nya..semoga debay menjadi anak shaleh. Mohon do’anya agar VBAC sy juga sesukses kisah VBAC mba Putri..😍😘

  4. Assalamualaikum mba mau tanya exercise yg mba lakukan selama hamil apa aja mba? Sy jg k pengen sprt mba bs lahiran normal.. dan induksi alami tu seperti apa? Dan kapan boleh melakukan?

    • waalaikumsalam mb febrina
      boleh japri saya wa 081617176228

      exercisenya sy contek di yutub
      induksi alami boleh dilakukan kalau dah memasuki 8 bulan dan bb janin diatas 2.5 kg

  5. Asslmualaikum Ummi….

    Menginspirasi sekali dan bersemangat baca tulisannya ttg melahirkan normal setelah Sc. Ini adalah cita-cita Saya untuk melahirkan anak ke-2 kami secra normal. Saya sekarang berumur 34 th, lg hamil anak ke-2 lebih kurang 30 minggu. Anak pertama sy sekarng sdh berumur 24 bulan yg dilahirkan secara SC 09012015. HPL sekitar 12 Maret 2017.
    Yang jadi pikiran saat ini, mencari tenagadan fasilitas kesehatan yg support dg VBAC, palagi di tempat sy melahirkan nnti di kota kecil…

    O y, sahring infonya bagaimana cara bergabung dengan komunitas VBAC support, cara memberdayakan diri untuk VBAC, buku2 yg bisa saya baca untuk menambah ilmu ttg VBAC.

    Semoga Alloh memberikan jalan dan kemudahan untuk segala yang sy niatkan pada kehamilan ke-2 ini…

    Terima kasih untuk kisah isnpiratifnya…

    BundAghna (handayani_apt@yahoo.co.id)

    • sama2 ummi fitri…alhamdulillah bisa mengispirasi

      semoga Allah memudahkan niat ummi vbac dan harus ada tekad kuat dalam diri ya ummi…yakinkan juga keluarga terdekat dan pendamping ummi nanti dikala melahirkan

      boleh japri saya via wa081617176228

  6. Assalamu alaikum Mba Putri, kisah yg inspiratif jd smoking semangat utk anak ke-3 bisa normal setelah vbac2.
    Mba, apakah ada komunikasi vbac via wa,mohon infonya juga ada.terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *