Kisah VBAC Prima

Kisahku Melahirkan Normal Setelah Caesar, Di Rumah (Accidental Unassisted VBAC At Home)

Mei 2015
Ada rasa yang tak biasa kurasakan. Diriku pun bertanya2 mungkinkah aku hamil lagi? Anakku yg ke 2 masih berusia 9 bulan dan lahir melalui operasi caesar, kalau positif hamil apa yang harus kulakukan? Operasi caesar lagi atau berusaha melahirkan normal setelah caesar (Vaginal Birth After Cesarean=VBAC)? Tanpa menunggu lama agar tak penasaran aku dan suami pun membeli test pack. Rasanya deg-degan luar biasa dan ternyata benar, dua strip menjadi hasilnya.

Perasaanku pun bercampur aduk, ada bahagia ada gundah gulana. Tapi aku tahu hal pertama yang harus kulakukan adalah pergi ke klinik, dan meminta dilakukan test TORCH. Bukan apa –apa, virus ini lah yang membuat aku memilih untuk melahirkan anak ke 2 melalui operasi caesar.

Sempat ada trauma tersendiri bila mengingat proses kelahiran anak ke 2, bukan penyesalan, tapi lebih ke rasa belum berusaha maksimal. Butuh waktu bagiku untuk mengerti dan menerima apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah untukku, serta introspeksi diri. Kucoba untuk menyembuhkan trauma itu dengan menulis dan self healing. Ketika aku sadar alasan sc yang kupilih adalah karena kurangnya pemberdayaan diri, kurang ilmu, kurang referensi, lemahnya keyakinan pada diri sendiri, kekhawatiran berlebihan, aku pun menyadari bahwa sebetulnya SC pertamaku itu dapat dicegah dan  kenyataannya memang keputusan yang diambil itu adalah pilihanku tanpa paksaan dari siapapun, maka tidak ada lagi rasa marah, trauma, menyalahkan keadaan, tenaga medis, atau yang lainnya. Yang ada hanyalah sikap berusaha menerima, ikhlas, berdamai dan memaafkan diri sendiri demi kesehatan kehamilan yang dijalani saat ini.
image

Setelah hasil lab kuterima, aku konsultasi ke dokter spesialis kandungan, Dokter E, yang membantuku melahirkan anak pertama dan kedua. Alhamdulillah, antibodiku sudah terbentuk. Insyaallah kekhawatiran tentang penularan virus ke bayiku pun menjadi berkurang. Namun hal yang menjadi perhatian sekarang adalah jarak kehamilan pasca operasi caesar yang terlalu dekat. Aku dinyatakan hamil ketika anak ke 2 berusia 9 bulan yang berarti ketika melahirkan anak ke 3 nanti jarak nya 18 bulan dari operasi caesar. Sementara dokter kandungan menyarankan jarak aman minimal agar bisa melakukan VBAC adalah hamil lagi 18 bulan pasca SC. Saat itu, dokter pun langsung menyatakan “Nanti lahirannya operasi lagi ya bu, soalnya jaraknya terlalu dekat” Pikiranku pun melayang, teringat setiap detail yang terjadi saat operasi caesar yang sebelumnya kualami. Dan sungguh, aku tidak mau mengingat-ingat hal itu lagi, tidak untuk yang kedua kali, apalagi mengalaminya lagi. Sudah semenjak tahu hamil lagi, aku berniat untuk bisa melahirkan pervaginam, walau aku masih belum yakin apakah aku bisa karena aku merasa belum dapat dukungan. Dokter tempat berkonsultasi saja sudah langsung menyarankan SC. Tapi aku tetap mau berusaha mencari tahu tentang VBAC, syarat dan ketentuannya, resikonya, dan segala yang berkaitan agar bisa VBAC serta mencari tahu kemungkinan yang ada bila harus SC berulang.

Kuawali semuanya dengan searching artikel di internet, membaca jurnal dalam dan luar negeri, baca buku tentang kehamilan dan persalinan, membandingkan resiko VBAC dan CBAC, menjaga pola makan aku tambah semangat bisa VBAC. Namun aku merasa masih ada yang kurang, rasanya aku ingin mendapat lebih dari apa yang telah kudapati, sebuah dukungan, dan aku memang belum mendapatkannya. Aku pun hanya bisa berdoa semoga saja seiring berjalannya kehamilan, semua dilancarkan. Alhamdulillah kehamilan ke 3 ini rasanya lebih mudah, tidak ada keluhan mual muntah berarti, hanya sesekali saja. Aku dan keluarga pun happy.

Juli 2015

Waktunya check up ke dokter kandungan, seperti biasa jauh –jauh hari aku sudah mendaftar via telp. Tapi aku kaget, ternyata dokter E sudah pindah ke Jakarta. Mau tidak mau aku harus mencari dokter lain. Bertemulah aku, anak –anak dan suami dengan dokter kandungan yang baru, Dokter D. Alhamdulillah kondisi kesehatan ibu dan janin baik, tumbuh sesuai tahapan usia kehamilan, katanya. Namun setelah dokter mengetahui riwayat persalinanku beliau langsung membuat jadwal operasi. “Nanti kita lakukan operasi saat usia kehamilan 38w ya bu, agar ibu tidak mengalami sakit kontraksi, bisa bahaya, rahim ibu bisa pecah, pendarahan, resiko nya tinggi bu bagi ibu dan janin, bisa dilakukan pengangkatan rahim juga bu, kalau memaksa lahiran normal. bahkan kematian. Rahim ibu kan sudah pernah di sayat, sudah robek.”

Aku hanya bisa terdiam. Saling berpandangan dengan suami. Namun dalam hati, aku berdoa, “Ya ALLAH, aku tidak mau operasi caesar lagi, ijinkan hamba melahirkan secara spontan, berilah jalan agar semuanya lancar. Amin amin Yaa Robbal Alamin.”

Agustus 2015

Tak terasa sudah memasuki usia kehamilan 5 bulan, saatnya melihat jenis kelamin calon bayi. Setelah dicek Alhamdulillah, calon bayiku berjenis kelamin laki-laki lagi. MasyaAllah, aku akan mempunyai 3 anak laki-laki, insyaAllah. Semoga sehat selalu. Namun entah mengapa setelah selesai konsultasi dengan dokter D, suami dan aku sama-sama merasa perlu mencoba konsul dengan dokter spesialis yang lain karena merasa kurang sreg. Pencarian pun dimulai lagi.

September 2015


Menyapa sahabat lama dan berbagi cerita merupakan hal yang cukup menyenangkan buatku di tengah rutinitas sehari-hari. Berbincang sedikit dengannya sangat mengurangi kepenatan. Di tengah obrolan sahabatku bertanya, “Prima, rencana mau lahiran gimana? Mau SC atau coba VBAC?” Kujawab, “Inginnya sih VBAC, tapi klo ga bisa mungkin caesar lagi. Tapi belum pasti juga. Sampai sekarang belum dapat dokter yang bersedia bantu VBAC.” Sahabatku berkata lagi, “Coba aja konsultasi dulu ke dokter Z, beliau sepertinya mau membantu untuk VBAC, tapi beliau laki-laki.” Hmmm, belum tentu dapat ijin dari suami kalau dsog nya laki-laki, pikirku. Walau begitu aku merasa sedikit dapat angin segar, ada pilihan lain yang bisa dituju ketika nanti tidak menemukan dokter kandungan perempuan yang mau membantu lahiran pervaginam.

Pencarian tentang hal yang berhubungan dengan VBAC pun akhirnya membawaku pada kisah kak Wildania yang sukses melahirkan normal setelah 2 x operasi caesar. Aku jadi tambah semangat. Karena peluangku untuk melahirkan normal masih cukup tinggi mengingat anak pertamaku lahir normal pada usia kehamilan 41 w meskipun dengan bantuan induksi. Aku pun memberanikan diri mencoba mengirim sms ke nomor kontak kak wildania. Aku ingin tau lebih jauh tentang persiapan dan kisah beliau VBA2C. Alhamdulillah, sms berbalas. Senang sekali. Obrolan pun dilanjutkan melalui whatsapp, dan beliau mengajak ku bergabung di sebuah grup support VBAC, tinggal tunggu konfirmasi dari admin grup nya. Alhamdulillah satu jalan terbuka, dan aku yakin ini bukan kebetulan. Ini adalah bagian dari rencana ALLAH agar aku bisa VBAC.

Keesokan harinya aku mendapat pesan di whatsapp, dari support grup itu. Alhamdulillah aku jadi tambah semangat. Aku merasa banyak yang senasip, banyak teman, saudara yang sama-sama sedang berjuang. Rupanya aku tidak sendiri. Ada yang sudah sukses VBAC, bahkan VBAMC. Dapat Inspirasi. Aku pun mulai bertanya banyak hal, memberdayakan diri, belajar, dan memperhatikan kiat-kiat agar bisa sukses VBAC. Aku mulai perbaikan asupan nutrisi selama hamil dalam porsi gizi seimbang, olahraga, konsumsi air putih minimal 3 liter per hari dan berupaya mengusahakan penyembuhan luka bekas operasi caesar. Teman-teman di grup menyarankan untuk meningkatkan konsumsi protein. baik nabati maupun hewani. Mengapa protein, karena penting dalam memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, dalam hal ini bekas luka SC. Aku juga belajar bagaimana mengurangi keluhan nyeri pada bekas luka dan mencegah perlekatan organ dalam yang mungkin terjadi pasca SC dengan pemijatan bekas luka caesar. C-Scar massage. Caranya bisa dilihat di http://mommylivesclean.com/2014/11/20/why-you-should-massage-your-c-section-scar/ Aku pun mencoba rutin melakukan C-scar Massage. Alhamdulillah tidak ada keluhan berarti di bekas luka Caesar selama hamil. Semoga kedepannya terhindar dari resiko perlengketan organ dalam. Amin.

Hal penting lainnya adalah penyusunan rencana melahirkan atau birth plan, apakah akan melahirkan di RS, dengan Bidan, atau melahirkan dirumah? Terfikir olehku untuk homebirth karena kami tinggal jauh dari keluarga, tak terbayang nanti anak2 dengan siapa, sementara aku pun perlu suamiku untuk mendampingiku bersalin. Apalagi anakku yang pertama setiap ditanya, “Aa, bunda nanti lahiran dimana?” Di rumah, jawabnya. Antara takut dan tidak percaya, anak kecil kok bilang gitu ya, berkali –kali. Dalam hati ada kekhawatiran ada juga harapan, kalau memang melahirkan di rumah semoga ALLAH mudahkan.

Pencarian tenaga medis yang akan membantu proses melahirkan pervaginam nantinya juga penting dilakukan, pemberdayaan diri, menambah ilmu tentang kehamilan dan persalinan, rutin melakukan senam hamil, latihan pernapasan, dan olahraga lain yang mendukung sehatnya kehamilan. MasyaALLAH banyak PR-ku. Aku harus semangat belajar lagi, cari ilmu sebanyak-banyaknya. Aku sangat senang dan berterima kasih kepada Mbak Aulia teman di grup yang telah mengirimkanku buku Guide to child birth: Segala hal yang perlu diketahui dalam kehamilan dan melahirkan karangan Ina May Gaskin, juga Mbak Desti yang mengirimkan buku Persalinan Maryam karangan Mugi Rahayu.

Oktober 2015


Mencari dokter spesialis kandungan perempuan di kota ini yang bersedia membantu proses melahirkan vbac tidaklah mudah. Setelah bertanya ke beberapa sahabat ada 2 nama lagi yang layak untuk dicoba. Baiklah, pencarian dimulai kembali. Setelah mendapat nomor kontak RSIA tempat dokter S praktek aku mencoba mendaftar via telp dan dibilang kalau pendaftaran untuk hari ini sudah penuh. Akhirnya aku diminta agar besok datang langsung ke RSIA. Perjalanan dari rumah menuju RSIA tempat dokter S praktek kami tempuh dalam waktu 1.5 jam. Namun begitu sampai di sana antrian sudah ditutup, padahal berdasarkan percakapan via telp sebelum berangkat dari rumah aku bisa konsul dengan dokter S hari ini. Kecewa tentu saja. Apalagi ketika bagian pendaftaran berkata, besok kembali lagi ya bu. Suamiku menolak, “Besok hari jumat bunda, ayah ga bisa. Kita ganti dokter saja.” Pupus sudah harapan konsultasi dengan dokter S. Mungkin memang belum jodoh, belum rejekiku. Baiklah, masih ada dokter perempuan yang lain lagi. Aku tidak boleh menyerah, tetap semangat.

Usia kehamilan 6 bulan aku dan suami berserta anak-anak mencoba konsultasi ke dokter spesialis kandungan perempuan yang lain, dokter A. Hasil check up kondisi ibu dan janin alhamdulillah sehat. Dokter berkata peluang saya vbac rendah, karena jarak kehamilan saya hanya 9 bulan pasca sc. Mendengar pernyataan dokter A, suamiku terpengaruh dan memintaku untuk melupakan keinginan VBAC. “Sudahlah bunda, tuh kan semua dokter kandungan yang kita datangi menyarankan operasi caesar lagi. Bunda jangan ngeyel, ikuti saja.” Perdebatan pun dimulai. Sedih sekali, akhirnya aku hanya diam saja selama perjalanan pulang ke rumah.  Tidak didukung itu menyakitkan. Sungguh, aku seperti harus berjuang seorang diri. Kekuatan dan semangat pun sempat jadi kendor. Tapi aku ingatkan diriku sendiri lahiran kali ini aku harus berjuang, dengan atau tanpa dukungan suami, aku akan berusaha melahirkan normal. VBAC layak diperjuangkan, demi kesehatanku sendiri, anak dan masa depan keluarga kami. Hanya Allah yang berkuasa membolak balikkan hati, termasuk hati suamiku. Semoga Allah lembutkan hatinya.

November 2015


Memasuki minggu ke 33, melihat kesungguhanku yang ingin melahirkan normal, akhirnya suami mengizinkanku untuk check up ke dokter Z, spesialis kandungan yang direkomendasikan oleh sahabatku. Alhamdulillah, dapat dukungan suami itu seperti mendapat kebahagiaan hidup di dunia dan isinya. Kami pun mendapat antrian jam 10 malam. Qodarullah dokter nya sedang melakukan tindakan, jadi buka prakteknya mundur. Selama menunggu, aku dan suami masih beda pendapat, berargumen soal VBAC ini. Bila dengan dokter Z tidak direkomendasikan VBAC, aku mengusulkan untuk melahirkan di bidan atau homebirth saja. Tetapi, suami semakin tidak setuju. Beliau mengusulkan kalau tidak dapat dokter yang support ya SC saja lagi. Suami mau mendukung niatku untuk VBAC asalkan Kondisiku dan janin sehat, tidak ada faktor yang menghalangi VBAC, bersedia melahirkan di RSIA, dan didampingi oleh dokter spesialis kandungan. Alasannya, bila ada kegawatdauratan bisa segera ditangani, dan aku tidak boleh memaksakan kehendak untuk melahirkan secara normal di bidan apalagi homebirth. DEAL. Aku hanya tersenyum menunggu antrian sambil terus berdoa, “Yaa Allah, berilah petunjuk, izinkan hamba melahirkan bayi ini dengan proses normal, minim intervensi. amin.”

Tibalah giliranku untuk periksa. Saat itu waktu menunjukkan pukul 00.30 pagi. Ya, hari sudah berganti. Inilah pengalaman pertama kami periksa kandungan dini hari. Begitu selesai usg, melihat kondisi janin sehat, perkembangannya normal, aku dan suami langsung menanyakan kepada dokter Z, bisa kah aku melahirkan normal setelah caesar dengan jarak kehamilan 9 bulan setelah SC? Deg-degan. Dokter Z pun menjawab, “BISA. Kata siapa tidak bisa?” Menurut beliau hal yang perlu diperhatikan bila ingin VBAC antara lain: jenis sayatan yang dilakukan saat SC, jenis jahitan luka SC (meskipun akhirnya saya pahami, bahwa setiap jenis luka sayatan, baik vertikal atau horisontal, akan bisa sembuh, bila ibu rajin mengkonsumsi protein, protein dan protein), kondisi ibu dan janin sehat, dan  letak plasenta tidak menutup jalan lahir. Beliau menjelaskan luka sesar dapat sembuh setelah 3 bulan pasca SC asalkan ibu memperbaiki asupan gizi, terutama protein. Dokter Z juga mengecek jenis sayatan SCku, yaitu transperitoneal profunda atau melintang. Kemudian beliau menanyakan siapa dokter yang melakukan SC. Aku jawab dokter E yang melakukan SC, dan beliau menjawab jenis jahitan yang biasanya dilakukan dokter E adalah jahitan Double Layer, dimana dinding rahim dijahit dengan 2 lapis. Semoga itu pertanda baik.

Saat usg berdasarkan hpht saat itu perhitungan usia kehamilan menunjukkan 38 w. Namun perawat nya menjelaskan berat badan janin terlalu kecil hanya 2.2kg dan posisi janinku masih melintang, tetapi aku balik menjelaskan, berdasarkan usg yang dilakukan sebelum usia kehamilan 3 bulan, perhitungan sekarang harusnya masih 33w. Tapi Aku tenang saja, tidak khawatir. Ga beda perhitungan HPL 1 bulan lebih, lagipula bila dicocokkan dengan tabel perkembangan janin, berat badan janin cenderung sama dengan usia kehamilan 33 w. Soal posisi yang melintang, aku yakin posisi janin masih bisa berubah, masih tersisa ruang di rahim untuk memperbaiki posisi janin ke posisi siap lahir. Aku pun diminta untuk datang 1 bulan lagi. Alhamdulillah, lega luar biasa begitu mendapat approval dari dokter Z, aku merasa lebih mantap insyaAllah bisa sukses VBAC dengan Izin ALLAH. Aku tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Yes, satu langkah lagi, memperbaik posisi janin. Untuk itu aku pun meminta bantuan suami untuk rutin melakukan REBOZO sifting, teknik memperbaiki posisi janin dengan menggunakan kain, atau selendang. Lengkapnya dapat dilihat di http://spinningbabies.com/learn-more/techniques/the-fantastic-four/rebozo-sifting/, juga knee position yaitu posisi seperti sujud. Aku juga berkomunikasi dengan janin, berdoa, afirmasi positif, bahwa janin akan mencari jalan lahirnya dan memposisikan diri optimal untuk persalinan normal. Aku terus menjaga asupan gizi dengan mengkonsumsi kurma minimal 7 butir sehari, susu, kacang hijau, air kelapa muda, gamat, aktif bergerak, dan memperbaiki hubungan dengan ALLAH, orangtua, juga dengan sesama. Tak lupa menjalin silaturahmi dengan keluarga, rekan, sambil minta doa supaya lancar dan dipermudah ketika melahirkan.

Desember 2015


Aku kembali cek kehamilan ke dokter Z, kali ini antriannya tidak seperti bulan lalu. Pukul 17.30 WIB kami sudah memasuki ruang periksa. Perawat kaget dengan HPHTku, dan menghitung sekarang sudah 42w. Aku jelaskan kalau haid ku tidak teratur, dan aku menggunakan perhitungan menurut USG sebagai perkiraan usia janin, jadi sekarang belum 42 w, masih 37 w. Alhamdulillah, posisi janin sudah mengarah kebawah dan taksiran berat badan pada usia kehamilan 37w ini adalah 2.8kg. Aku pun diminta untuk cek 2 minggu lagi, bila dalam waktu 2 minggu belum ada tanda akan melahirkan, aku diberi tambahan waktu 1 minggu lagi. Dokter Z menyatakan aku tidak boleh di induksi dengan obat, karena kontraksi yang dihasilkan dari pemberian induksi buatan tidak dapat diprediksi secara pasti, dapat terlalu kuat dan mengakibatkan pecahnya rahim. Opsi yang ada adalah menunggu tanda melahirkan alami muncul.

Januari 2016


HPL semakin dekat. Deg-degan rasanya, terpikir bagaimana aku akan melahirkan nanti? Kisah VBAC dan CBAC teman2 di grup terbayang2. Akan seperti apa persalinanku nanti? Tapi daripada aku banyak angan, aku mencoba fokus ke tujuan, insyaAllah bisa VBAC.

12 januari 2016
Suamiku berhalangan mengantarku untuk cek up ke dokter kandungan. Akhirnya kuputuskan untuk menunda sampai suamiku libur kerja, yang artinya minggu depan, 19 Januari 2016, insyaAllah dijadwalkan untuk cek ke dokter Z.

Tiba-tiba sakit gigi menyerang. Gigiku yg geraham belakang sebelah kiri rapuh dan patah sebagian plus gigi bawah sebelah kanan sakit karena tidak sengaja tertendang oleh anak ke 2 saat tidur. Luar biasa hamil kali ini entah sudah bolak-balik berapa kali aku ke dokter gigi, mulai dari membersihkan karang gigi, menambal gigi sementara dan menjelang lahiran sakit gigi lagi. Memang sebaiknya sebelum merencanakan kehamilan harus dituntaskan masalah gigi dan dirawat dengan baik. Repot sakit gigi ketika hamil karena tindakan nya terbatas, rontgen gigi tidak dianjurkan, mencabut gigi juga beresiko, tapi bila tidak dirawat, bisa infeksi.

Mengingat kehamilanku yang pertama dan kedua selalu sampai lewat HPL, aku pun mencoba untuk melakukan berbagai induksi alami, seperti yang kubaca dan disarankan oleh teman-teman di grup. Sebenarnya induksi alami dapat dilakukan ketika mulai memasuki usia kehamilan 38 w, tetapi karena kondisi, setelah 39w aku baru mencoba untuk melakukannya. Karena. suami masih masuk kerja dan ibu belum datang dari Balikpapan, beliau baru akan datang ketika tanda melahirkan mulai muncul. Aku khawatir lahir duluan sebelum suami libur dan ibu datang. Terbayang oleh ku bagaimana repotnya, anak 1 dan 2 diurus oleh siapa? Kalau suami yang jaga otomatis aku harus berjuang sendiri saat persalinan nanti.

Aku pun mulai dengan rutin jalan kaki, gerakan jongkok berdiri, memakan bolu durian, juga  1 biji buah durian walaupun tidak setiap hari. Pijat endorphin juga kulakukan dibantu oleh suami, mandi air hangat, accupressure sendiri, tapi belum juga ada tanda cinta dari dedek bayi. Ketika mulai galau segera aku curhat dengan beberapa teman di grup support, karena bila dihitung dari HPHT, sekarang sudah masuk 45 w, tapi kalau dari usg, sekarang 39w+6d.

18 Januari 2016

Aku yang biasanya tidak suka dan tidak tahan makan sambel malam itu makan pecel lele dengan sambel lahap sekali, berharap induksi dengan makanan pedas membuahkan hasil. Sebenarnya sudah ada nanas muda di kulkas, tapi belum sempat dikupas.

19 Januari 2016

Pukul 02.30 pagi, aku terbangun dan sholat malam. Aku memohon pada ALLAH agar dimudahkan segala urusan. Melahirkan dimana saja, semoga allah beri aku kesehatan, keselamatan ibu dan bayi.

Sekitar pukul 04.30 pagi, keluar mucus plug yg tidak lain adalah lendir penyumbat jalan lahir. Sebelumnya memang baru saja terjadi sesuatu yang menurut teman di grup, merupakan jenis induksi alami efektif. Pukul 06.30 pagi, aku mengabari mbak Muti. Sambil menikmati prosesnya, aku beberes rumah dan beraktivitas seperti biasa. Bila sudah saatnya, semoga dimudahkan, tetap senyum dan bahagia. Nyeri kontraksi masih bisa ditahan, dengan duduk diatas gymball sambil goyang, jalan kaki, jongkok berdiri.

Hari ini adalah hari pertama suami libur kerja. Setelah diskusi sebelumnya rencananya ibu datang juga hari ini. Siang hari sekitar pukul 1, aku, anak-anak dan suami menjemput ibu ke bandara. Tas berisi perlengkapan melahirkan, baju ganti anak dan suami, buku catatan kehamilan,perlak, kain, koran, dan segala persiapan melahirkan darurat sudah disimpan di mobil, untuk antisipasi bila saya melahirkan sewaktu-waktu. Kontraksi datang aetiap 30 menit sekali, durasi sekitar 5 detik. Sampai di bandara aku masih kuat berjalan menjemput ibu sambil cerita birth plan, aku nikmati kontraksi demi kontraksi. Dalam perjalanan pulang kontraksi terasa lebih dekat, 15 menit sekali, durasi 5 detik tapi aku masih ingin beli gudeg Suharti. Entah masih bisa disebut ngidam atau ngidam yang telat. Aku pun jalan sebentar ke swalayan beli sembako. Saat itu, suami menawarkan untuk langsung ke RSIA tempat dokter Z praktek, tapi aku menolak, “Nanti saja ayah.. kalau sudah dekat dan intens kontraksi nya.” Aku memang berencana untuk melahirkan di RSIA dibantu dokter Z sesuai kesepakatan dengan suami tapi aku juga ingin datang ketika last push agar tidak terlalu banyak mendapat intervensi medis yang tidak diperlukan.

Sampai di rumah sekitar pukul 16.30 WIB. Aku merasa harus ada tenaga, maka aku makan minum selagi bisa dan berbahagia, supaya oksitosin mengalir lancar. Aku pun makan gudeg, minum air putih, duduk di gymball, ganti posisi ke all four, dan bolak balik ke toilet sambil mengusap pinggang dengan air dingin agar nyeri kontraksi berkurang. Sesekali aku masukkan tangan ke gayung berisi air dingin, agar lebih rileks. Tidak lupa aku selalu membuka mulut dan berkata OOO…UUUU… Senyum sambil membayangkan jalan lahir terbuka. Aku teringat akan Spinchter Law. Senyum di atas senyum juga yang di bawah. Selesai makan aku masuk kamar dan sholat ashar. Masih menikmati kontraksi sambil ditemani anak-anak, aku disuapi kurma, air madu, minyak zaitun. Aku bercanda, bersenang hati dan berbahagia.
Aku menyiapkan perlak dialas kain, agar bila ada sesuatu yang menetes, entah itu mucus plug, atau ketuban maka aku akan dapat melihatnya.

Tak berapa lama benar saja terlihat ada yang menetes. Kali ini lendir bercampur darah, ibuku melihat, dan meminta agar aku beserta suami untuk bersiap segera ke RSIA. Kontraksi memang sudah intens. Dalam bayanganku akan cukup waktu untuk last push saat sampai di RS. Aku tidak tahu sudah pembukaan berapa dan berapa lama lagi aku akan melahirkan, yang aku tahu walaupun kontraksi intens insyaAllah masih ada jeda waktu sampai pembukaan lengkap hingga bayi terlahir. Jarak dari rumah ke RS sekitar 1 jam.

Aku mengiyakan untuk berangkat ke RSIA, tetapi aku minta izin mau pipis terlebih dahulu. Aku pun bangkit dari posisi all four menuju kamar mandi, sampe kamar mandi sengaja pintu tidak dikunci, takut terjadi apa-apa. Begitu posisi jongkok, ketubanku pecah, pyaar.. Aku pun teriak minta tolong ke suami.. “Ayah, ketuban bunda pecah.” Terlihat warna ketuban agak keruh. Refleks kupegang jalan lahir dan ternyata ada banyak lendir diikuti sundulan kepala bayi dan badannya. Aku tidak mengejan sama sekali tetapi tiba-tiba bayi meluncur bruuulll.. Pukul 18.03 wib, lahirlah bayi vbac ku.

Ketika badan sampai kaki nya keluar ibuku datang ke kamar mandi dan kemudian langsung sigap menangkap bayi, Alhamdulillah bayi tidak jatuh ke lantai walau badannya sangat licin. Bayi ku menangis dan bernapas. Aku pun lepas baju, tengkurapkan bayi di badan, skin to skin, dan langsung IMD walau sebentar. Plasenta pun lahir spontan, tanpa mengejan. Semua terjadi begitu cepat, aku hanya bisa berkata Alhamdulillah, bersyukur aku dan bayi selamat.

Aku meminta ibuku untuk mengambillkan HP. Aku mencoba menelpon mbak muti untuk menanyakan prosedur mengelurkan lendir bayi. Qodarullah pas maghrib tidak terangkat panggilanku. Saat melihat kepala bayi lahir suamiku langsung keluar rumah menyalakan mobil bersegera meminta pertolongan ke tetangga yang berprofesi sebagai bidan yg sekarang sudah tidak praktek. Suami lanjut ke klinik perusahaan, dan mendatangi bidan di luar komplek perumahan. Tetangga yang berprofesi sebagai bidan datang bersama suami dan anaknya langsung menyedot lendir adek bayi. Rencana memotong tali pusat batal karena tidak tersedia clamp dan gunting steril. Tidak berapa lama bidan dan asistennya datang langsung membersihkan sisa lendir di mulut adek bayi, memotong tali pusat, membersihkan dan memakaikan baju bayi agar tidak kedinginan. Kemudian bidan mengecek kondisiku memastikan plasenta telah lahir seluruhnya tidak ada yang tertinggal, tidak ada pendarahan, pecah rahim, dan memeriksa apakah ada robekan dijalan lahir mengingat posisiku yg jongkok saat melahirkan, tidak dipersiapkan dengan baik.

Setelah itu, ambulance dari klinik datang. Dokter klinik dan asistennya memeriksa tekanan darahku, denyut jantung, alhamdulillah semua normal. Aku dan bayi dibawa ke klinik. Alhamdulillah bayi lahir dengan berat 3.6kg, panjang 50cm sehat wal afiat. Tanpa ada komplikasi.

***

Sungguh, nikmat Allah yang mana lagi yang bisa ku dustakan. Semua diberikan sesuai harapanku, bayi lahir saat ayahnya libur kerja, neneknya sudah datang, kakak-kakaknya tenang, proses persalinannya cepat, semua sehat. Dengan pertolongan Allah, semua dimudahkan. Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billah, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan ALLAH.

Terimakasih kepada suami tercinta, atas doa, dukungan, dan kesiapsiagaan dalam menjalani kehamilan dan persalinan ini, pada anak-anak yang selalu menyemangati, orang tua, mertua, keluarga, yang memberi doa restu, teman-teman di grup support yang tidak bisa disebutkan satu per satu, atas doa, semangat, ilmu, dan semoga yang sedang menjalani ikhtiar dimudahkan, amin amin yaa robbal alamin. Tidak ada satupun usaha yang sia-sia, semua ada balasannya.

Primaria Bunda Agfa Rafa Ibrahim,

Minas 23 Maret 2016

 

56 thoughts on “Kisah VBAC Prima

  1. MasyaAlloh mbak..terharu membaca kisahnya.saya sedang hamil kedua usia 12w pasca sc dg jarak 2th dari putra pertama.saya ingin sekali vbac.bisàkah saya diskusi dg mbàk?ini WA saya 082327909674

  2. Prima, baru ini wilda baca dgn utuh bs nya. MasyaAllah, senyum2 sendiri membayangkan saat brul keluar bayi. Semua Allah mudahkan ya, berkat doa dan ikhtiar Prima.

  3. Mb..ini br aja sy test pack pg ini hsl +..anak sy 10 bulan sc..sy ingin vbac jg kyk mb prima bila berkenan sy mau jg diskusi..ini nomer wa sy 085729775252

    • Bunda prima, sy boleh minta no. Hp nya ?
      Sekarang sy lagi hamil 34mgg, anak ke3. Anak 1 normal, anak ke 2 sesar karna posisi melintang
      Lahiran anak ke 3 Rencana mau vbac. Sy mau sharing ilmu sma bunda prima.

      Terimakasih bunda

  4. Mbak prima masya allah.. Luar bias.. Sy ma sharing nanya2 boleh mbak? sy berniat vbac dihamil kedua ini.. Kl berkenan ini no wa sy 081373082607.. Jazakillah mba..

  5. Mbak prima.. Maasya allah.. Sy mau sharing nanya2 boleh kah mbak? sy niat vbac di anak kedua ini.. ini no wa sy 081373082607
    JazakillAh khairan katsir..

  6. Mbak. Saya sampe nangis bacanya… Ini kasusnya hampir sama yg saya alami. Yg suport vbac cuma 1 dokter aja. Skrg saya hamil anak ke3 31 wk… Mudah2 an bs mengikuti jejak mba prima

  7. bunda prima, membaca cerita dari bunda terimakasih banyak bunda untuk sharing pengalaman berharganya. saya jadi semangat dan pengen bgt bisa VBAC.
    10bulan yang lalu saya melahirkan melalui sesar, dan sekarang baru mau program lagi tapi masih takut klo nantinya harus sesar lagi.
    bolehkah saya minta contact atau email-nya bunda? buat sharing masalah-masalah VBAC

  8. Mba prima…saya sekarang hamil 37 w, saya ingin sekali vbac, boleh sharing2 g mba, induksi alami yg harus saya lakukan apa saja…kl blh..tlg wa saya di no 085215043558

    Terimakasih mba prima.

  9. assalamu’ alaykum mbk prima..saya pgen sekali sharing dengan mbk..ada beberapa yg sama dari kita..saya jg pgen vbac jarak kehamilan 10bln dr secar..dlu sc krn riwayat torch/gawat janin..saya minta no.hp y bisa? Ini no. wa saya 085645868654

  10. Assalamuallaikum..
    Mba..saya sdg hamil 17w after 2xsc. Bolehkah saya diskusi utk berikhtiar ttg vbac? No. Saya 081802010189. Trma kasih
    Wassalamuallaikum

  11. Mba prima. Mohon share dong latihan2 untuk induksi alaminya. Atau minta nomor wa nya. Aq udh 38weeks. Pengen banget sih klo debay lahir minggu2 ini (berharap ga sampe 40minggu) 😀 coz khawatir sama nakes2 yg jarang terima vbac klo lewat HPL

  12. Assalakualaikum bun, bolehkah sy masuk dalam grub trsebut bun? Sy ingin sekali meahirkan normal setelah sesar, kisah bunda inspiratif bgt buat sy dan nambah semangat, kl diizinkan mhon dbantu bun. Terimakasih

  13. Assalamualaikum mba prima..aku baru hamil dan sangat pengen bgt VBAC…klo mau masuk group WA nya gmn caranya mba?
    Bisa tolong di bantu?

  14. Assalamualaikum alaikum,
    Saya berniat lahir normal setelah VBAC dgn usia saya saat ini 35 tahun. Kalau mau join di grup wa utk saling sharing dan tukar pikiran, bagaimana caranya?selain itu apakah bisa direkomendasikandokter di jakarta yg mendukung lahir normal. Terima kasih

  15. MasyaAllah…alhamdulillah Allah bnr2 beri kemudahan ya mba. Mba blh minta kontak utk bs gabung di grup vbac sy sdg hamil anak ke2 usia kandungan 26w.ingin skali bs melahirkan normal. Jazakillah khairan

  16. Baca tulisan bunda semakin menguatkan tekad saya untuk bisa VBAC tentunya dengan izin Allah. Terima kasih banyak ya bun atas sharing pengalaman berharganya. Bisakah saya minta untuk diinformasikan grup muslimah baik wa, FB atau yang sejenisnya yang bisa saling support dalam VBAC? Terima kasih bun 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *