Kisah VBAC Maya

Kisah VBAC Maya

Alhamdulillah ala kullihal atas pertolongan Allah, aku bisa melahirkan secara normal setelah sebelumnya SC, persalinan dengan proses yang cukup singkat dan diluar dugaan kami semua.

***

Cerita kehamilanku berawal dari adanya keluhan menstruasi yang panjang (sampai 15hari), aku berpikir ini adalah efek dari IUD yang tertanam di rahimku. Setelah berdiskusi dengan suami akhirnya kami sepakat untuk melepas IUD tersebut. Bukan tanpa perjuangan saat itu, sesaat setelah proses melepas IUD aku hampir pingsan karena menahan rasa nyeri saat pengambilan IUD ditambah lagi aku dalam kondisi lelah dan belum makan. Selang sebulan setelah melepas IUD aku mendapatkan menstruasi lagi namun aku tidak menyangka itu adalah menstruasi ku yang terakhir.

Aku pun menggunakan test pack namun hasilnya negatif. Ada rasa syukur yang menghampiri karena memang kami belum benar-benar berniat untuk menambah momongan, mengingat riwayat persalinan pertamaku yang SC, paling tidak menunggu anak pertamaku berusia 3 tahun (saat itu masih berusia 2,5 tahun). Namun aku juga tidak percaya dengan hasil testpack tersebut karena aku merasakan tanda2 bahwa aku hamil. Seminggu kemudian aku pun menggunakan test pack ulang, dan ternyata benar muncul dua garis merah di test pack tersebut, Alhamdulillah aku hamil. Aku pun berazzam bahwa kali ini aku HARUS melahirkan NORMAL. Aku ingin merasakan perjuangan menjadi ibu yang “sesungguhnya”, merasakan kontraksi yang konon katanya luar biasa masyaAllah. Aku ingin merasakan mengejan agar bayi segera terdorong keluar, tidak hanya menjadi penonton saat membantu persalinan, kali ini aku ingin menjadi pelakunya.

Untuk memastikan aku benar-benar hamil, aku langsung periksa ke obgyn dan seorang bidan yang pro normal. Saat aku megutarakan keinginanku untuk VBAC Alhamdulillah Obgyn dan Bidan mengamini keinginanku untuk VBAC walau respon dari keduanya sedikit berbeda. Obgyn memperbolehkan untuk VBAC dengan beberapa syarat, antara lain kontraksi adekuat, TBJ tidak boleh lebih besar dari kakaknya, dan harus melahirkan di RS, tidak boleh di bidan. Berbeda dengan Bidan yang lebih “adem” dalam memberikan syarat, walaupun intinya sama tapi pemilihan kata yang digunakan berbeda sehingga lebih menenangkan.

Setelah kunjungan pertama di Bidan R dan didapatkan HPL tanggal 1 April 2017, aku bergabung di WAG RBR yang berisi klien dan alumnus dari Rumah Bersalin Bidan R dengan berbagai pengalaman dan rencana melahirkan, ada yang normal dan VBAC. Menyimak percakapan di WAG tersebut ada dua alumnus VBAC yang kuincar untuk ditanya-tanya lebih lanjut, yaitu mba Wanti dan mba Putri. Mba Wanti adalah seorang klien dari Gresik yang berhasil VBA2C di RBR dengan UK 44w4d, yang kekeuh ingin VBA2C dan membuktikan dirinya bisa melahirkan normal setelah dipandang sebelah mata setelah sebelumnya 2x melahirkan secara SC. Sedangkan Mba Putri adalah wanita ramah asli Batu yang saat ini sedang merantau di Jakarta. Ia dengan sabar menjawab semua pertanyaanku seputar VBAC dan merekomendasikan untuk membaca birth story di kisahvbac.com.

Membaca banyaak sekali cerita tentang VBAC bahkan VBA2C, juga VBA3C berhasil mengaduk-aduk perasaaanku dan meningkatkan rasa percaya diriku. Kalau orang lain bisa aku pasti bisa, itulah yang ada di benakku saat itu. Setelah berroller coster membaca banyak cerita di kisahvbac.com dan media lainnya aku pun kemudian bergabung di sebuah WAG VBAC Support yang sering diceritakan di kisahvbac.com, rasanya seperti mimpi.

Aku yakin dengan masuk ke WAG VBAC ini adalah salah satu rencana Allah untukku. Di sana aku belajar banyaaak sekali ilmu baru yang membuka pikiranku dan menambah rasa percaya diri. Beberapa ilmu wajib yang harus dipraktikkan antara lain:
1. Asupan tinggi protein yang sangat penting untuk membangun jaringan bekas luka SC
2. Asupan seimbang selama kehamilan untuk menjaga TBJ agar stabil
3. Berbagai aktivitas fisik yang harus dilakukan untuk memaksimalkan posisi janin
4. Keadaan ketika harus berangkat untuk melahirkan.

Selain di WAG aku juga membaca berbagai hal terkait persalinan normal dan VBAC di web bidankita.com dan Amani Birth. Tidak berhenti sampai di situ, saat di salah satu grup mengadakan Kuliah Whatsapp dengan tema VBAC aku pun langsung mencari informasi ke narasumbernya yang juga seorang doula AMANI, bahkan aku sempat meminta beliau untuk menemani persalinanku tapi qaddarullah beliau juga sedang hamil dan usia kehamilannya tidak berbeda jauh denganku. Pokoknya ku usahakan mengikuti segala hal yang berkaitan dengan VBAC.

Hari berganti hari minggu berganti minggu, di sela mencari ilmu dari satu orang ke orang lain, dari satu web ke web yang lain, seiring pertambahan usia kehamilanku aku pun semakin  bersemangat untuk melakukan aktivitas fisik seperti pelvic rocking, cat cow position. Tapi Bidan R memintaku untuk tidak terburu-buru dan menunggu sampai 34w. Memasuki 32w aku mulai rajin berjalan-jalan pagi walaupun tidak bisa tiap hari karena harus memasak dan mempersiapkan anakku untuk sekolah. Sehingga kualihkan waktu berjalan-jalan di akhir pekan. Setelah 34w aku pun mulai rajin latihan fisik pelvic rocking, cat cow, squad, setiap selesai shalat fardhu dan shalat dhuha. Satu sesinya kurang lebih cat cow 2×8 hitungan dan squad 20x, untuk pelvic rocking aku lakukan sesering mungkin dengan menggunakan gym ball.

Saat memasuki 38w posisi janinku sempat dinyatakan oblique. Aku pun panik dan mendapatkan saran dari WAG untuk melakukan exercise forward leaning inversion dan knee chest position. Aku pun merutinkan excersise tambahan ini dalam latihan fisik rutin. Selang tiga hari setelah dinyatakan oblique dan merutinkan beberapa latihan fisik itu, alhamdulillah saat periksa ke Bidan R (seharusnya belum jadwal periksa) posisinya sudah kembali presentasi kepala.

Di usia kehamilan 38w aku dan suami mulai melakukan pijat perineum dan berbagai induksi alami agar bayiku segera lahir. Induksi alami yang aku lakukan antara lain jalan cepat, makan buah kurma, nanas, pijat perineum, berhubungan badan, dan aktivitas fisik. Jujur walaupun sudah tahu bahwa HPL bukan suatu kepastian tapi masih ada rasa takut jika harus sampai lewat HPL. Akan banyak orang di luar sana yang bertanya kenapa tidak kunjung lahir, sedangkan ini merupakan sebuah stressor tersendiri untukku.

Semakin hari aku pun semakin rajin melakukan induksi alami. Apapun aku lakukan agar bayiku segera lahir, termasuk salah satunya berjalan kaki sejauh kurang lebih 5.8km selama 1 jam 20 menit tapi ternyata bayiku masih belum juga mau lahir. Tidak patah semangat aku terus mengupayakan induksi alami yang lain. Dan yang cukup memberikan efek datangnya gelombang cinta yaitu berhubungan dengan suami. Setiap selesai berhubungan gelombang cinta itu akan datang dan aku menikmatinya sambil bergoyang diatas gymball. Tapi semakin lama gelombang cinta ini semakin lemah dan akhirnya menghilang.

Di saat berbagai usaha aku lakukan dan hasilnya masih nihil akhirnya aku bercerita ke Bidan R tentang yang aku khawatirkan yaitu lewat HPL dan beliau memberikan wejangan untuk tetap santai karena bayi memiliki waktu sendiri untuk keluar. Aku harus tetap tenang, latihan fisik, dan berdoa meminta yang terbaik dari Allah. Akhirnya aku pun kembali menata hatiku, mencoba tenang, tetap berhusnuzon pada Allah dan melanjutkan latihan fisik yang sudah rutin aku lakukan selama ini.

Memasuki uk 39w aku kembali ke dsog dan jeng jeeeng… setelah di usg ternyata bayiku besaaarr, 3800gr. Tapi entah mengapa aku tetap tenang dan berazzam akan diet lebih ketat lagi. Saat berdiskusi dengan dsog pernyataan beliau membuat aku tidak respect lagi padanya. Beliau menyarankan untuk SC di tanggal 1 April dengan alasan “rame-rame”, karena di tanggal tersebut sepertinya banyak yang menjadwalkan untuk SC. Walaupun saat ia mengatakannya itu dengan bercanda tapi tetap saja membuatku ragu atas label pro normal yang disandangnya. Ditambah lagi saat aku bertanya apakah masih harus diet beliau menjawab “Kalau mau SC tidak perlu diet lagi tapi kalau mau normal boleh diet.” Di sini aku benar-benar membuktikan obrolan di WAG bahwa bagaimanapun pro nya dsog re-SC akan selalu menjadi pilihan. Saat keluar dari kamar periksa, aku pun mengutarakan keingananku pada suami dan kami berdiskusi terkait pilihan yang kami ambil. Suamipun mengiyakan keinginanku untuk tidak periksa ke dsog pekan depan dan memilih periksa ke Bidan R Saja.

Qaddarallah Senin pagi anakku yang pertama dinyatakan harus dirawat di RS karena infeksi saluran cerna. Lima hari aku tidur di RS menjaga anakku dan tidak pulang ke rumah sama sekali. Aku sama sekali tidak melakukan latihan fisik, hanya sesekali latihan nafas dan itupun hanya saat kontraksi datang. Walau demikian kuambil hikmahnya, yaitu aku jadi tidak perlu periksa ke dsog itu lagi karena kami harus menjaga anak kami di RS.

Jumat dini hari, tepatnya tanggal 30 Maret 2017 aku merasakan gelombang cinta. Saat itu aku masih di RS menunggu anakku yang opname, masuk hari ke 5. Walaupun gelombang cinta terasa masih hilang timbul tetapi kali ini lebih sering datang dengan interval yang cukup jauh. Di saat gelombang cinta terasa aku minta bertukar posisi tidur dengan suami. Aku yang awalnya tidur di atas dengan anakku menjadi tidur melantai di bawah. Karena aku lebih nyaman berbaring miring sementara kasur yang ada tak cukup besar untuk kutempati bersama dengan anakku. Merasakan gelombang cinta di tengah menjaga anak yang sedang sakit rasanya subhanalloh.

Pagi pun tiba, gelombang cinta hilang timbul dan terasa semakin dekat dan teratur. Aku mulai menghitung dengan contraction timer, 10menit sekali dengan durasi +-1menit. Semakin siang semakin dekat intervalnya. Saat ba’da ashar semakin intens lagi intervalnya kurang lebih +-5-7mnt dengan durasi +-1menit, lalu aku pun menghubungi Bidan R melalui whatsapp. Beliau memintaku untuk datang ke rumah untuk diperiksa. Tapi aku masih bertahan karena nyerinya masih termasuk ringan dan bisa dialihkan, hingga maghrib tiba, aku melihat flek darah saat buang air kecil. Aku bercerita pada suami dan suami langsung mengajak periksa. Kami pun minta tolong bapak untuk menjaga anakku yang diopname.

Tepat saat adzan isya’ kami berdua berangkat dari rumah sakit ke rumah bidan diiringi gerimis sepanjang perjalanan naik motor. Saat gelombang cinta datang aku meremas pundak suami sambil terus berdzikir. Rasanya jarak yang biasanya ditempuh cukup singkat kali ini terasa sangat lama dan jauh ditambah lagi dengan banyaknya lampu lalu lintas yang kami lalui. Jam 19.30 kami pun sampai di rumah Bidan R. Tanpa banyak pertanyaan begitu masuk ke tempat prakteknya aku langsung di VT, dan ternyata hasilnya belum ada pembukaan, posisi cervix masih di belakang, walau kepala sudah dibawah dan ada darah lendir yang keluar. Alhamdulilalh DJJ dan durasi serta frekuensi kontraksi semua masih dalam batas normal. Akhirnya Bidan R memintaku pulang dan berpesan untuk menunggu sampai kontraksi 3-5 menit sekali baru kembali lagi.

Pukul 20.00 sampai di rumah aku langsung merebahkan diriku di kasur cukup lama sambil menikmati gelombang cinta. Lalu aku meminta ijin pada suami untuk kembali ke rumah sakit bersama agar bisa menjaga anakku lagi, aku takut dia mencariku saat terbangun di tengah malam. Tetapi suamiku tidak mengijinkan dan meyakinkanku bahwa anak kami akan baik-baik saja di rumah sakit bersama suamiku saja. Akhirnya aku mengiyakan untuk tetap tinggal dirumah dan berencana besok pagi ba’da subuh aku ke rumah sakit untuk bergantian menjaga. Lalu aku menelpon ibuku dan ibu mengatakan meminta adikku untuk menemaniku di rumah, dengan alasan takut kalau terjadi apa-apa denganku saat di rumah sendirian.

Pukul 20.30 aku merendam baju kotor yang sudah menumpuk untuk dicuci besok pagi. Aku pun melipat tumpukan baju bersih yang sudah berhari-hari dibiarkan begitu saja, karena memang aku sama sekali belum pulang ke rumah selama 5 hari anakku diopname. Awalnya aku duduk di kursi saat mencuci baju, tapi semakin lama semakin kuat rasanya si gelombang cinta dan akhirnya aku mengambil gym ball, duduk bergoyang sambil melipat baju. Setelah selesai melipat baju, aku berencana untuk tidur karena malam semakin larut, namun apa daya keinginan untuk dapat tidur nyenyak tinggallah mimpi, gelombang cinta yang kurasakan menguat. Aku whatsapp Bidan R dan ia berkata bahwa kondisiku termasuk normal, “Persalinan alami tidak boleh terburu-buru, kita harus sabar karena butuh oksitosin, kalau terburu-buru nanti stress oksitosin bisa ke-block, semakin kita menikmati prosesnya semakin akan singkat, tidak ada deadline selama kondisi ibu bayi baik, akan ditunggu dengan sabar dan senang menyambut bayi.” Nyeess rasanya membaca pesan dari Bidan R. Kusampaikan pada bidan R bahwa aku akan menikmati gelombang cinta dan mencoba relaksasi dengan deep breathing.

Malam semakin larut gelombang cinta semakin intens, semakin kuat dan intervalnya semakin dekat sampai akhirnya aku tidak mampu memegang hp untuk sekedar menghitung kontraksi dengan contraction timer. Saat gelombang cinta datang aku selalu duduk dan bergoyang di atas gymball sambil mencoba untuk deep breathing walaupun saat itu hidungku buntu karena flu menyerang. Sambil deep breathing aku berdzikir, mengucapkan lafal Allah, dan Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir yang tak pernah lepas dan putus dari lisanku. Pukul 00.05 aku menghubungi suami untuk mengabarkan bahwa besok sepertinya aku sudah tidak bisa ke RS untuk gantian menjaga anakku yang pertama, suami mengijinkan dan memintaku untuk beristirahat saja dirumah. Aku menelpon cukup lama sambil menceritakan apa yang sudah aku alami dan pesan dari mba Rina. Setelah selesai menelpon tidak berselang lama kurang lebih pukul 00.45 aku merasakan sensasi ingin mengejan, aku mencoba menahannya sampai aku marah dan memukul diriku sendiri karena saat itu aku tidak tahu sudah pembukaan berapa. Aku mencoba menelpon Bidan R untuk menanyakan kenapa sudah ada sensasi mengejan dan apa harus kembali ke Rumah Bidan saat itu juga, tetapi tidak ada jawaban, mungkin sudah tidur karena saat itu pukul 00.59.

Semakin lama sensasi itu semakin kuat dan aku tidak mampu untuk menahannya, semakin kuat aku menahan untuk tidak mengejan semakin kuat pula reflek mengejan itu datang. Saat ingin mengejan aku bolak-balik ke kamar mandi dengan asumsi akan BAB, karena saat 39w aku pernah merasakan kontraksi yang cukup hebat kemudian disusul sensasi mengejan ternyata saat aku mengejan waktu itu aku bisa BAB, kali ini aku berpikir sama siapa tau ini sensasi BAB. Ternyata aku salah, saat aku mengejan yang keluar adalah darah dan mengucur terus menerus. Setelah keluar darah sensasi mengejan ini tidak dapat dikontrol, setiap gelombang cinta datang sensasi mengejan itu juga datang, aku hanya dapat berdzikir dan bergoyang diatas gymball menikmati gelombang cinta seorang diri. Tidak lama setelah darah keluar dan saat gelombang cinta datang aku mengejan (tanpa terkontrol) keluarlah cairan putih jernih, aku langsung berpikir bahwa cairan jernih itu adalah cairan ketuban. Ketubanku terus mengucur terus menerus dan aku langsung minum air putih sebanyak yang aku bisa, tetapi setiap kali gelombang cinta datang aku merasa sangat kesakitan dan tidak mampu minum air putih. Tiap kali gelombang cinta yang makin kuat datang, aku langsung duduk dan bergoyang diatas gym sambil terus berdzikir.

Sampai akhirnya pukul 01.40 adikku terbangun, mungkin karena mendengar suaraku yang merintih sambil menyebut nama Allah. Lalu adikku menawariku untuk periksa ke bidan, tanpa berpikir panjang aku meng-iyakan dan aku menelpon suami untuk meminta ijin periksa ke bidan. Nyeri saat gelombang cinta datang semakin hebat rasanya dan tidak ketinggalan sensasi mengejan yang semakin kuat, sampai memegang hp pun aku tidak mampu dan harus me-loudspeaker saat telpon suami. Kemudian pukul 01.46 aku menelpon mba Rina untuk memberitahu bahwa aku akan ke Rumah Bidan Rina, berharap saat sampai disana pintu sudah dibuka dan langsung dilakukan pemeriksaan, lagi-lagi panggilanku tidak terjawab sampai 2x mungkin memang Bidan R sedang tidur. Namun aku tetap berangkat juga dan saat akan berangkat aku harus berkali-kali berhenti berjalan dan mengambil posisi all four mengikuti insting tubuh saat sudah tidak kuat untuk berdiri. Posisi all four cukup efektif untuk mengurangi rasa nyeri yang aku rasakan. Kemudian kami berdua berangkat dengan mengendarai motor, alhamdulillah karena dini hari jalanan sepi tidak butuh waktu lama untuk sampai di Rumah Bidan R. Diperjalanan yang cukup singkat itu gelombang cinta makin sering datang dan aku hanya bisa beristighfar sambil meremas pundak adikku. Sesampainya di depang gang, portal masih ditutup dan tanpa pikir panjang kami langsung meninggalkan motor dipinggir jalan raya dan berjalan ke Rumah Bidan R. Setelah sampai didepan rumahnya langsung saja adikku memencet bel sebanyak 3x dan tidak butuh waktu lama alhamdulillah suami Bidan R langsung membukakan pintu pagar yang masih digembok. Kemudian disusul Bidan R yang keluar dari rumah melihat siapa yang datang.

Setelah pintu pagar dibuka aku langsung masuk ke ruang praktek sambil menunggu Bidan R mempersiapkan tempat dan alat-alatnya. Saat duduk di ruang prakteknya aku sudah tidak mampu mengontrol keinginan mengejanku dan aku terus merintih sambil menyebut nama Allah, Bidan R langsung mengingatkanku untuk deep breathing.

Menunggu Bidan R menyiapkan tempat untuk periksa terasa sangat lama, yang aku inginkan saat itu adalah segera diperiksa dan segera mengejan. Akhirnya aku dipersilahkan untuk masuk dan naik ke tempat tidur untuk dilakukan pemeriksaan dalam, alhamdulillah pembukaan sudah lengkap aku pun langsung disuruh mengejan. Tetapi aku merasa kurang nyaman untuk mengejan di atas kasur dan meminta untuk turun mengambil posisi all four. Saat gelombang cinta datang aku langsung mengikuti keinginan mengejan, 2x mengejan aku mendengar bunyi seperti balon berisi air pecah pyok… Dan aku merasakan ada yang keluar dari vagina. Aku mengira kepala bayi sudah lahir, saat aku menengok ke belakang ternyata ketubanku yang pecah.

Mengejan dengan posisi all four cukup membuatku sedikit kelelahan dan tanganku mulai tidak kuat menopang tubuhku. Aku pun meminta untuk beristirahat sebentar di kasur dan Bidan R menyarankan untuk tidur dengan posisi miring kiri serta mengejan saat gelombang cinta datang agar kepala semakin cepat turun. Saat tidur miring kiri Bidan R menyuruh adikku masuk ke ruang bersalin dan menemaniku, setiap kali gelombang cinta datang aku mengejan lalu adikku memberitahu bahwa rambutnya sudah terlihat. Beberapa kali mengejan dengan posisi miring kepala bayiku keluar dan saat berhenti mengejan kepalanya masuk lagi. Setelah dengan posisi miring belum berhasil dan hanya keluar masuk kepala si bayi, Bidan R menyarankan untuk pindah posisi terlentang (litotomi). Saat gelombang cinta datang aku langsung mengejan dan mulai panik saat gelombang cinta hilang. Padahal itu adalah cara kerja tubuh untuk memberi kesempatan kita istirahat untuk pekerjaan yang berikutnya yang lebih berat. Disela-sela kontraksi mba R mengompres perineumku dengan air hangat, rasanya nyamaan sekali. Saat gelombang cinta mulai datang lagi aku pun mengejan dan mulai merasakan sensasi ring of fire, panas dan perih di vagina. Kemudian bidan R menyuruhku berhenti mengejan dan bernapas pendek saat kepala bayi sudah crowning. Alhamdulilah kemudian lahirlah bayi perempuan dengan berat 3340gr panjang 51cm pada 1 April 2017 pukul 02.34 WIB yang bernama Ayra Khanza Tazkiya Sakhi.

Bayiku menangis keras dan singkat, ia langsung diletakkan di dadaku untuk inisiasi menyusui dini. Melihat wajahnya saat diletakkan di dadaku aku menangis haru, bahagiaku membuncah alhamdulillah aku dimampukan oleh Allah untuk melahirkan secara normal dan semua dalam kondisi sehat baik aku maupun bayiku, pertolongan Allah begitu nyata dan dekat bagi hambaNya.

Adikku langsung mengabari suami dan ibuku yang masih di rumah sakit bahwa aku sudah melahirkan, semuanya sedikit terkejut karena tidak menyangka prosesnya akan secepat itu. Alhamdulilah Allah memberikanku kekuatan untuk menghadapi gelombang cinta seorang diri di rumah tanpa suami, hanya berteman dengan dzikir dan gymball. Alhamdulillah di hari yang sama anakku yang sakit diperbolehkan keluar dari rumah sakit.

Alhamdulillah Allah memudaehkan semuanya.

-Maya-