Kisah VBAC Maira

KISAH VBAC MAIRA

Alhamdulillah, sampai detik ini rasanya seperti mimpi dapat melahirkan normal pervaginam bayi laki-laki yang bersih dan sehat. Bersyukur kepada Alloh tiada hentinya karena berkat pertolongan Alloh dan doa semua rekan ibu dan bayi sehat dan selamat.

 

***

Trauma melahirkan anak pertama melalui operasi secar sangat mendalam, butuh waktu bertahun tahun lamanya untuk menghilangkan semua trauma. Lima tahun lamanya, ya, lima tahun lamanya mentalku baru siap untuk program hamil lagi. Setelah melahirkan anak pertama aku pun bertekad jika hamil lagi aku akan melahirkan secara normal, dan alhamdulillah suami pun mendukung.

Lima tahun lalu..

Rabu, 25 januari 2012
Kontrol ke dsog usia kehamilan 38 week, Dsog melakukan VT. Aku pasrah dan menurutnya aku sudah pembukaan 1. Aku pun berkomentar “Kok sudah pembukaan 1 tapi saya tidak merasakan mules, Dok?” Dsog pun menjawab “Oh ibu bisa menahan rasa sakit berarti. Kurang lebih 3 hari ibu bisa lahiran ya.” Aku dan suami pun kaget karena HPL 5 Februari 2012, masih sektar 2 minggu lagi. Ketika VT aku merasakan ada yang pecah lalu keluarlah darah. Dsog pun membuat surat rekomendasi ke rumah bersalin tempat aku akan melahirkan mengenai pembukaan dan pinggulku yang mendukung untuk melahirkan secara normal pervaginam. Aku dan suami pun kembali ke rumah dan beraktifitas kembali. Sampai di rumah aku pun memakai pembalut. Rasa mulas tak kunjung datang. Kamis malam aku dan suami pun mengungsi ke rumah mama, karena rumah bersalin lebih dekat jaraknya jika dari rumah mama.

Sabtu, 28 Agustus 2012
Saat ingin sholat dhuha, ketika memakai bawahan mukena aku merasakan ada sesuatu yang mengalir, cairan bening agak berlendir, sepertinya ketuban. Aku pun panik dan segera hubungi suami. Kami pun segera ke rumah bersalin. Bidan segera mencek tekanan darah dan hasilnya 170/100 mmHg. Bidan melihat kakiku yang bengkak dan meminta suami untuk cek urin ke Lab terdekat. Selama menunggu hasil Lab, bidan konsultasi via telepon ke dsog. Aku dan mama harap-harap cemas menunggu hasilnya karena 2 minggu sebelumnya bidan meminta cek urin dan hasilnya negatif protein. Bidan menjelaskan jika terdapat protein positif 2 dalam urin sulit untuk melahirkan secara normal. Hp ku pun berdering dan ternyata dari suami, langsung ku tanyakan bagaimana hasilnya dengan santai suami menjawab positif 2 urin, aku pun lemas mendengarnya. Bidan memanggil ku dan suami dan menjelaskan kondisi ku, bidan mengatakan aku pre-eklampsia yaitu kondisi dimana tekanan darah tinggi, keadaan kaki bengkak (edema) dan terdapat protein dalam urin. Bidan tersebut menyerah tidak sanggup jika aku melahirkan d RB tersebut, dan harus dirujuk ke Rumah Sakit untuk SC. Aku menangis sejadi jadinya memohon untuk tetap bisa melahirkan di RB, namun bidan bilang sangat berisiko dengan kondisiku untuk melahirkan di RB dan normal. Setidaknya  jika di rujuk di RS bisa usaha untuk menormalkan tekanan darah, kami pun mengikuti saran bidan.

Mimpi pun tidak untuk melahirkan secara Sc, karena selama ini selalu memohon kepada Alloh untuk bisa melahirkan normal pervaginam.

Diantar bidan kami pun sampai d rumah sakit tidak jauh dari rumah kami. Di RS, aku tetap kekeh utuk melahirkan normal dan Alhamdulillah diberi waktu sama dokter 1 hari. Diberilah treatment penurunan tekanan darah dengan harapan tekanan darah turun dan bisa dilakukan induksi buatan jika tidak ada mulas.

Ahad, 29 Januari 2012
Tiap 2 jam sekali suster memeriksa tekanan darah dan denyut jantung janin. Belum ada perubahan yang signifikan untuk tekanan darah, paling rendah mencapai 130/90mmHg. Dsog pun visit dan langsung USG, dan berkomentar “ini dibuka saja ya bu, ketubannya sudah sedikit dan denyut jantung janin melemah”. Ketika dsog memutuskan untuk operasi aku menghadapinya sendiri, karena suami sedang pulang ke rumah begitupun mama. Aku menangis sejadi jadinya, tapi ini sudah jalan terbaik dan yang terpenting aku dan bayi sehat dan selamat. Dikarenakan ini pengalaman pertama aku masuk kamar operasi yang sangat dingin, aku nervous dan tekanan darah mencapai 200/100mmHG. Alhamdulillah pukul 15. 17 wib lahirlah bayi perempuan mungil dengan BB 2600 gram dan tinggi 47cm.

Aku sangat bahagia dengan kehadiran si kecil, tapi tetap ada perasaan yang tak terdeskripsikan. Rasa sakit yang teramat di bagian perut, perasaan gagal, ketidakberdayaan untuk mengurus si kecil benar-benar membuatku trauma SC. Ditambah lagi si kecil bingung puting, aku pun mengalami baby blues. Alhamdulillah hari ke-8 baby blues berakhir ketika si kecil mau menyusu secara langsung.

Tahun demi tahun berlalu, setiap berjumpa dengan rekan atau saudara pasti mengajukan pertanyaan, “Kapan nambah momongan lagi? Kapan si kakak punya adik?” Aku hanya menjawab dengan senyuman. Tapi pertanyaan tersebut menjadi bahan renunganku.

Aku pun berdiskusi dengan suami bagaimana untuk perencanaan program hamil. Kami pun memohon kepada Alloh jika aju hamil lagi semoga bisa melahirkan normal pervaginam yang jauh dari intervensi medis.

Lima tahun kemudian..

06 Agustus 2017
Sudah telat 2 hari, kami pun membeli testpack dan hasilnya ada 2 strip, walau 1 strip terlihat berbayang, tidak jelas, tapi feelingku, aku positif hamil. Puji syukur kami panjatkan ke Ilahi Robbi. Kami pun ke bidan B yang memiliki USG. Ketika di usg, tak terlihat kantong kehamilan, padahal waktu hamil si kakak di usia 5 week sudah terlihat jelas. Untuk meyakinkan hasilnya, bidan melakukan tes urin dan Alhamdulillah hasilnya positif. Ketika di USG aku melontarkan pertanyaan “Bu bidan, saya bisa melahirkan normal kan? Dulu kakanya secar bu bidan.” Bu bidan menjawab, “Oh sepertinya kecil kemungkinannya, karena tadi ibu bilang sakit kan pas saya tekan di luka bekas SC? Tenang Bu, saya juga dua-duanya SC Bu, jarak kakak dan adik 5 tahun” jawab Bu Bidan. Dalam hati aku sangat sedih dengan jawaban bidan.

Sesampainya di rumah, aku bilang ke suami untuk tidak kembali ke bidan B, karena komentarnya membuat aku down. Dan Alhamdulillah teman merekomendasikan ke klink RM yang juga terdapat USG. Kami pun kontrol rutin disana, dan ketika aku utarakan untuk melahirkan normal bidan pun mendukung, “Semua tergantung ibu asal ibu bisa menahan rasa sakit dan tidak ada masalah pada kandungan ibu” jawabnya.

Kehamilan memasuki 25 week aku kontrol di salah satu klinik dsog yang menyediakan usg 4D live, disana lah pertama kalinya tekanan darah ku agak tinggi yaitu 150/90mmHg. Seperti biasa aku curhat dengan dsog, dan beliau bilang agar aku fokus dengan kondisiku, supaya tidak terjadi praeklampsia di kehamilan kedua ini. Aku pun mulai fokus untuk menjaga tekanan darah agar tidak tinggi.

***

Karena pertimbangan akses menuju klinik RM yang sering macet, aku dan suami memutuskan untuk beralih ke bidan terdekat, yaitu bidan E yang hanya berjarak 10 menit dari rumah. Menurut para tetangga bidan E sangat sabar dan telaten menghadapi pasien. Namun ketika aku datang ke klinik Bidan E dan menceritakan maksud untuk melahirkan normal di sana ternyata bidan E langsung menolakku setelah tahu persalinan pertamaku SC. Menurut beliau sesuai SOP bahwa VBAC, bayi sungsang, KPD harus melahirkan di RS. Entah kenapa mendengar kata-kata RS, trauma terdahulu langsung mengganggu pikiranku. Setelah berdiskusi dengan suami kami putuskan untuk kembali kontrol rutin di klinik RM saja.

Tiap kontrol bulanan di klinik RM Alhamdulillah tekanan darah selalu normal, berkisar 110-120/70-80mmHg. Dan memasuki 30 week aku kontrol di salah satu RS untuk jaga-jaga jika memang harus melahirkan di RS. Teman merekomendasikan dsog S, namun laki-laki dan sudah lanjut usia. Agak jengah memang, karena selama ini dari anak pertama dsog ku selalu perempuan. Namun karena beliau pro normal, atas izin suami aku pasrah. Entah karena trauma dengan RS, tekanan darahku saat cek di RS itu mencapai 140/90mmmHg. Dsog dan suster pun berkomentar yang makin menciutkan niat ku untuk melahirkan normal karena melihat tingginya tekanan darah, dan kalaupun mau melahirkan normal memang harus melahirkan di RS karena sangat beresiko. Dsog pun menyuruh ku untuk cek lab. Selama perjalanan pulang aku sangat murung dan sangat kepikiran dengan kata-kata dsog tadi, aku pun hampir menyerah dan mengubur mimpi ku untuk melahirkan normal. Alhamdulilah setelah berdiskusi dengan suami, semangat untuk vbac kembali bangkit. Peran suami sangat lah penting, beliau lah yang menganalisa mengapa tekanan darah ku tinggi ketika tadi kontrol d RS. Menurut suami penyebabnya karena aku “alergi” dengan RS dan aku kelelahan karena sebelum ke RS, aku memang mengajar pemantapan UN kelas 12 SMA. Aku pun berkonsultasi dengan temanku, salah satu agen herbal, dan disarankan minum ekstrak mengkudu untuk mengontrol tekanan darahku.

Alloh sungguh Maha Baik, selalu memberi hikmah di setiap kejadian. Sejak kunjungan ke bidan E aku baru menyadari vbac itu tidak banyak nakes yang mendukung dan aku baru tersadar selama ini aku hanya ingin sukses vbac, namun ilmu dan usaha masih sangat minim. Usaha pun dimulai walau rasanya sudah terlambat, namun bagiku tak ada kata terlambat jika mau berubah.

Pencarian ilmu VBAC pun kuawali dengan tiada hari tanpa mencari tahu tentang vbac. Berawal dari Facebook aku like FP VBAC Tanya Saya yang disana banyak pelajaran yang aku petik. Dan ketika ada kesempatan untuk curhat apa yang terjadi padaku, Alhamdulillah di usia 28 week ada yang merespon curhatanku, yaitu mba M. Beliau merekomendasikan salah satu bidan di kotaku yang support VBAC. Dari FP itu aku pun jadi tahu ternyata banyak ibu yang bernasib sama, banyak yang berjuang untuk melahirkan normal setelah secar. Blog kisah VBAC pun tak luput untukku ambil pelajaran, dari beberapa kisah yang ada, sepertinya ada grup support, rasanya ingin sekali gabung, namun entah bagaimana cara masuknya.

Tiada hari tanpa belajar ilmu persalinan, itulah prinsipku agar kegagalan terdahulu tidak terulang. Salah satu teman merekomendasikan bidan Yessie ahli gentle birth, aku pun follow FB nya dan banyak ilmu yang didapat dari postingan beliau, intinya melahirkan adalah proses alamiah yang rasa sakit nya dapat dikelola.

Usia 32 week aku mulai exercise di gymbal, mulai dari duduk sampai goyang inul. Tak lupa kudengarkan audio relaksasi bidan Yessie. Exercise lain seperti jalan kaki dan naik turun tangga aku lakukan ketika mengajar, kebetulan kondisi sekolah berlantai 4. Jika malam, badan mulai pegal aku memposisikan allfour, alhamdulillah lumayan mengurangi pegal. Duduk atau setelah sholat kuusahakan butterfly pose.

Dari FP VBAC Tanya Saya aku juga berkenalan dengan mba S. Berawal dari kata-kata mba S yang sangat memotivasi, akhirnya aku memberanikan diri untuk PM beliau dan Alhamdulillah di respon dengan sangat baik. Dan Alhamdulillah di 33 week aku bergabung di sebuah grup support dengan teman-teman yang sangat luar biasa akan ilmu persalinannya dan vbac khususnya. Rasanya seperti tak percaya berada di grup itu. Dan ternyata disana ada mba M juga. Maasya Alloh impian yang menjadi kenyataan. Semua karena Alloh. Sebagai pendatang baru aku langsung mengajukan pertanyaan, apakah ada yang VBAC dengan riwayat SC karena praeklampsia (PE), dan ketika ada yang menjawab belum nyali vbac pun menciut. Namun Alloh Maha Baik. Seharian kasusku di sc sebelumnya dibahas, dan diambil kesimpulan kalau aku dahulu itu bisa jadi bukan PE, kalaupun tekanan darah tinggi ketika menjelang kelahiran mungkin karena aku stress, bengkak kaki mungkin karena memang sudah menahan beban di atasnya dan urin positif 2 pun sebenarnya bisa diatasi dengan banyak minum air putih. Alhamdulillah aku merasa sangat lega, semoga aku memang bukan alumni PE.

Banyak sekali ilmu demi sukses vbac aku dapatkan dari teman-teman mulai dari scar massage yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, booster protein dari lauk pauk dan aku tambah meminum gamat, menjaga agar tidak KPD dengan cara meminum air minimal 3 liter sehari, air kelapa, konsumsi buah mengandung vitamin C dan exercise yang dilakukan sampai cara induksi alami.

Persalinan maryam ibu Mugi Rahayu pun mulai aku pelajari. Dari FB beliau aku mendapati info bahwa gerakan sujud dan ruku dalam sholat bagus untuk optimalisasi janin. Dan konsumsi kurma 7 butir perhari serta 2 sendok makan minyak zaitun aku lakukan mulai 36week. Aku pun mendownload video di youtube berbagai gerakan yoga, exercise in gymball dan senam hamil sampai deep breathing yang sangat berguna dalam proses melahirkan.

Selain usaha tentunya aku selalu memohon kepada Alloh untuk diberi kemudahan melahirkan normal pervaginam tanpa intervensi medis yang aman, nyaman, cepat, ibu dan bayi sehat dan selamat. Alhamdulilah temanku juga ada yang mengingatkan untuk jangan lupa zikir pagi sorenya, karena beliau punya teman sukses vbac salah satunya dengan ikhtiar tersebut. Afirmasi positif pun aku lakukan dengan mengajak janin bicara, “De nanti lahirnya pada saat yang tepat cara yang hebat ya, saat papa dan kakak di rumah, saat jalanan lengang, ga macet jalan menuju ke ibu bidan, nanti kita kerjasama yang baik ya De. Dede usaha mama juga usaha”. Aku pun tak lupa meminta doa dari siswa, teman sampai saudara agar bisa diberi kemudahan saat melahirkan.

***
Cuti pun tiba, walaupun berjarak H-sebulan dari HPL 10 April 2017. Namun aku ambil hikmahnya untuk dapat memberdayakan diri dan exercise lebih baik lagi. Aku jadwalkan tiap senin, rabu dan jumat mengantar dengan berjalan kaki si kakak sekolah tiap pagi dan mengaji kalau sore hari. Sedangkan untuk hari selasa kamis sabtu ahad aku jadwalkan untuk baca buku dan exercise yang lain seperti di gymball, senam hamil dan yoga dari video yang aku download. Aku teringat dengan salah satu postingan bidan Yessie bahwa manusia harus melihat ketika kucing melahirkan. Banyak pelajaran yang dapat diambil, melahirkan itu tenang, tidak gaduh, di tempat yang nyaman dan cahaya yang remang. Alhamdulillah aku merasa Alloh telah menjauhkanku dari rasa takut ketika melahirkan, yang ada di fikiranku adalah aku bisa melahirkan normal, kalau yang lain bisa, insya Alloh aku pun bisa.

Memasuki 38 week aku mulai induksi alami, seperti makan buah naga, makan es krim duren, pijat endorpin yang dibantu suami. Pokoknya aku melakukan hal yang membuat suasana hati happy agar si hormon cinta yaitu oksitosin melimpah.

Rabu, 28 maret 2017, gelombang cinta mulai datang, sebuah sensasi yang ditungu tunggu karena waktu si kakak sama sekali tidak merasakan mulas. Rasanya cukup membuat aku sulit tidur. Kamis gelombang cinta masih terasa namun aku tetap aktifitas seperti biasa. Dari kisah-kisah vbac yang saya ku baca juga ilmu yang ku dapatkan jika gelombang cinta sudah intens barulah mendatangi bidan. Alhamdulilah tiap malam ada saja siswa atau sahabat via wa atau sms yang bertanya mengenai kondisiku sudah melahirkan atau belum. Entah firasat melahirkan semakin dekat, di sepertiga malam aku mencurahkan semua isi hatiku kepada sang pencipta, aku menangis memohon ampunan dan kemudahan. Karena aku yakin Alloh sesuai prasangka hambaNYA dan hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Memohon maaf dan doa kepada suami, mama, ibu dan bapak mertua pun tak luput aku lakukan, agar semua berjalan dengan lancar.

Senin, 3 April 2017 memasuki 39 week, aku jalan gagah ditemani si kakak dan sepupunya. Tiap ada yang bertanya kapan lahiran, aku hanya menjawab “Doakan semoga pekan ini juga bisa lahir dede bayi nya”. Sepertinya suami pun mempunyai firasat jika aku akan melahirkan dalam waktu dekat. Suami memintaku menyiapkan segala perlengkapan yang harus dibawa ke klinik RM, agar jika saatnya tiba, semua sudah siap.

Selasa, 4 April 2017 jadwal aktifitas di rumah. Exercise in gymbal sambil melihat video youtube, squating sekuatnya dan relaksas, juga makan mie ayam kesukaan sampai happy karena baru kesampaian makan selama hamil, sampai-sampai kufoto dan kukirim ke suami gambar mie ayam tersebut.

Rabu, 5 April 2017 aku merasakan miss V sangat berlendir, ku cek ke kamar mandi ternyata ada cairan bening agak pink. Setelah ku berkonsultasi dengan mba S dan mba L, sepertinya itu mucus plug dan memang hari itu perut agak keras dan mulas. Saran dan petunjuk mba S dan mba L ku ikuti. Aktifitas rutin tetap dilakukan, karena semakin bergerak maka akan memudahkan bayi mencari jalan lahir. Sore hari aku tetap mengantar si kakak mengaji. Di tempat mengaji aku merasakan miss V tambah berlendir. Sesampainya di rumah aku langsung mencek dan ternyata mengeluarkan lemdir lebih banyak dan berwarna coklat. Tetap aku berusaha kalem dan tidak panik, dan ingat jika keluar mucus plug berarti sebentar lagi ketemu dede bayi dan kebersihan miss V harus dijaga agar tidak rembes ketuban. Aku pun membeli pembalut di warung, dan ibu penjual berkomentar “Wah dikit lagi bu lahiran.” Aku menjawab aamiin. Rasanya hari ini sangat melelahkan dan tidak seperti biasa aku ketiduran ba’da magrib. Karena belum sholat isya, aku pun terbangun pukul 23.00 untuk sholat. Setelah isya aku menonton TV dengan perasaan sangat happy sekali. Lalu aku tidur kembali pukul 00.30 namun pukul 01.00 aku terbangun karena merasakan gelombang cinta. Rasanya lebih dibandingkan seminggu yang lalu. Aku usahakan untuk tidur kembali namun tidak bisa. Perasaan campur aduk, antara senang dan bingung. Senang karena akan bertemu dengan dede bayi, bingung karena belum atur strategi penjagaan si kakak.

Aku nikmati gelombang cinta yang datang sambil berdzikir dan tak tega untuk membangunkan suami, toh aku masih bisa menghandle sendiri rasa sakitnya. Pukul 03.00 suami aku bangunkan karena sudah membutuhkan pijat endhorpin. Aku bilang, “Sepertinya Mama mau melahirakn, Pah”. Spontan suami bingung karena pekerjaannya sedang banyak. Suami langsung menyelesaikan pekerjaannya dan berkoordinasi dengan temannya untuk menghandle sementara. Kami pun atur rencana. Pukul 04.00 suami menjemput mama untuk menemani si kakak di rumah, sebelumnya kami telepone mama dahulu agar tidak kaget. Kontraksi semakin intens, namun tiap kontraksi hanya berlangsung sebentar. Feeling beberes rumah tetap ada, sambil menikmati gelombang cinta, aku sempat mencuci piring dan memasak nasi serta merebus telur puyuh untuk persipan tenaga.

Ba’da shubuh kami ke klinik RM setelah menelpon ke sana agar mereka siap-siap. Afirmasi yang klakukan selama ini ke janin agar lahir di saat yang tetap Alhamdulillah terwujud. Suami dan kakak sedang di rumah dan jalanan lengang tidak macet. Sesampainya  di klinik aku langsung di VT, dan ternyata baru pembukaan 1. Dalam hati kecewa, sudah mules seperti ini tapi kok masih pembukaan 1. Aku mengura sudah pembukaan di atas 3. Tapi aku tidak boleh menyerah, aku ingat usaha dan doaku selama ini, aku sedang “final” jadi harus semangat. Sempat galau untuk tetap berada di klinik atau kembali ke rumah, namun akhirnya kami putuskan untuk tetap di klinik. Lalu bidan mempersilakanku dan suami ke kamar yang sudah disiapkan. Alhamdulillah kamar nya nyaman. Sesampainya di kamar, aku bilang ke suami bagaimana kalau pulang saja ke rumah, dengan alasan di rumah aku bisa exercise di gymball atau yang lainnya demi mempercepat pembukaan dan bisa bertemu dengan si kakak dan mama. Suami pun menyetujui dan kami bilang ke bidan. Karena sarapan pagi sudah disiapkan, sebelum pulang aku menyempatkan makan walaupun hanya beberapa suap untuk menghimpun tenaga. Sesampainya di rumah mama kaget mempertanyakan kenapa kami pulang, suami pun menjelaskan alasannya.

Di rumah kontraksi semakin aduhai, suami selalu mengingatkanku untuk deep breathing, namun aki sulit untuk melakukannya, sehingga aku bernafas terengah engah. Namun asupan nutrisi tidak kulupakan, karena melahirkan butuh energi full. Aku makan beberapa butir telur puyuh, sari kurma, madu sampai minuman isotonis. Dukungan suami sangat luar biasa, beliau selalu mengingatkanku untuk istighfar dan mengatur nafas ketika gelombang cinta itu datang. Beliau juga selalu memberikan pijatan oksitosin sehingga mengurangi rasa sakit. Kontraksi semakin intens dan tiap kontraksi berlangsung lebih lama dibandingkan sebelum ke klinik. Untuk jalan kaki aku sudah tidak kuat, di gymball pun mulai tidak nyaman, yang paling nyaman adalah posisi sujud. Disela sela merasakan gelombang cinta aku selalu memohon pertolongan Alloh dan meminta doa dari suami dan mama. Mama dan suami tidak tega melihatku, suami pun membujukku untuk kembali ke klinik ketika jam sudah menunjukan pukul 10.00. Aku selalu menjawab nanti dulu karena tak ingin sering di VT. Akhirnya pukul 10.30 kami kembali ke klinik.

Di klinik aku langsung d VT ternyata baru pembukaan 2. Maasya Alloh aku tidak boleh menyerah, aku harus semangat. Suami dan bu bidan selalu menyemangati. 10 menit kemudian bu bidan memintaku untuk ke ruang periksa dan di vt kembali oleh bu bidan senior, dan Alhamdulillah ternyata sudah pembukaan 3. Bu bidan memberi nasehat untuk sabar dan harus kuat. Kami putuskan untuk tetap di klinik. Bu bidan menyuruhku untuk jalan kalau masih kuat atau tidur miring. Aku pun memilih untuk jalan, namun baru beberapa langkah, gelombang cinta datang dan aku tidak kuat untuk meneruskan. Aku pun ke kamar dan berbaring miring. Wah ternyata kontraksi semakin aduhai, sampai mengeluarkan teriakan yang memalukan. Tiap kontraksi datang, suami langsung sigap untuk memijit atau mengelus ngelus punggungku. Suami pun mengintruksikan untuk deep breathing, dan Alhamdulillah lumayan kalem, sampai bidannya bingung “Kok sepi, tidak terdengar suara lagi, ini kontraksinya hilang atau bagaimana?” Pukul 14.00 di vt lagi dan sudah pembukaan 5, kami pun terpacu dan semakin semangat, karena kemajuan pembukaan signifikan. Kontraksi semakin aduhai dan ada hasrat mau BAB, suami pun lekas ke bu bidan, dan kami dipersilakan untuk masuk ruang bersalin. Pukul 16.00 sudah bukaan 8 dan bu bidan menyemangati karena prosesnya sebentar lagi. Aku pun sempat disuapi makan suami walau hanya 3 suap. Yang penting ada untuk energi. Pukul 17.00 pembukaan sudah full dan bu bidan memecahkan ketuban serta mengintruksikan untuk boleh mengedan. Maasya Alloh ternyata mengedan tidak semudah yang aku bayangkan, mungkin exercise saya kurang pada bagian ini. Di posisi miring beberapa kali mengedan belum berhasil. Aku meminta posisi jongkok namun tidak diizinkan. Aku lebih nyaman telentang dibanding miring.

Karena beberapa kali gagal, energi pun cukup terkuras. Aku mulai lemas ketika azan magrib berkumandang, dan para bidan yang menemaniku di ruang bersalin ingin berbuka puasa sunah dan sholat magrib dahulu. Jadilah hanya aku dan suami berdua di ruang bersalin. Suami terus menyemangatiku, aku pun tetap semangat, tak ada kata menyerah. Ini adalah impianku selama ini dan aku yakin Alloh pasti akan menolongku. Setelah Bu bidan kembali gantian suami yang izin untuk sholat magrib. Pukul 18.30 bu bidan berkomentar “Paling lambat jam 19.00 dede bayi harus lahir ya bu.” Mendengar kata itu aku semakin semangat, walaupun mataku sudah berkunang-kunang. Beberapa kali bu bidan bertanya apakah di bekas luka sc terasa sakit, aku menjawab tidak, Alhamdulillah aman. Bu bidan sempat memasangkan oksigen untuk membantu pernafasan ketika mulas datang dan aku mengedan, lalu bidan bilang “Ayo bu sedikit lagi, kepala sudah terlihat” Namun energiku sudah lemah. Gagal lagi, gagal lagi, entah berapa kali aku mengedan. Bidan pun memutuskan epistomi, lalu energi tiba-tiba datang dan kali ini aku berhasil mengedan. Allohu Akbar! Lahirlah anak sholeh bersamaan dengan kumandang azan isya, pukul 19.09. Seperti mimpi rasanya aku sampai bertanya ke suami, “Pah, anak kita sudah lahir?” Bu bidan yang menjawab “Sudah bu, ini laki-laki” sambil menunjukan si dede.

Masya Allah aku tak hentinya mengucapkan syukur kepada Alloh dan berterima kasih kepada bu bidan M, bidan N, bidan D dan bidan S yang sangat sabar dan selalu memotivasiku. Semua karena Alloh. Terima kasih yang sebesar-besarnya atas doa dan dukungan suami, kakak Aira yang selalu istiqomah mendoakan mamanya untuk bisa melahirkan normal setiap bada sholat, juga mama yang dengan tulus memaafkan dan mendoakan anakmu ini.

Tak lupa aku menghaturkan rasa terima kasih kepada cekgu Mutiara, mba Vani dan mba Lilis yang sering aku gangguin untuk bertanya ini itu serta mba mba yang lain yang selalu support dan doa. Semoga Alloh senantiasa melimpahkan keberkahan kepada kita semua…Aamiin..

Maira Tya

This entry was posted on April 29, 2018, in VBAC. Bookmark the permalink.