Kisah VBAC Lilis

Perjalanan VBAC-ku

Cerita pengalaman ini bukan untuk ujub atau pamer, melainkan sebagai inspirasi untuk menyemangati. Sungguh, Aku percaya pada “man shobaro zafiro”, namun semuanya kembali kepada sebab pertolongan dari Allah Taala semata, karena melahirkan apapun caranya, Allah mengaturnya yang terbaik. Namun demikian, tanggung jawab untuk menjaga kehamilan dan kelahiran akan selalu ada di pundak setiap kita.

image

***

Pengalaman melahirkan dan menyusui yang manis belum bisa kurasakan karena SC yang lalu membawa dampak yang kurang baik terhadap proses menyusui bagiku, dan juga berefek pada psikologis ku selama lebih dari 4 bulan. Aku pun mengintrospeksi diriku sendiri, apa yang “salah” selama kehamilan kemarin. Apakah yang kurang dari usahaku sehingga berakhir kurang sesuai dengan harapan?

Secara psikologis aku memang memiliki trauma terhadap proses kehamilan ektopik sebelumnya. Dan kisah meninggalnya kakakku 1 jam setelah dilahirkan karena lahir normal dengan posisi sungsang juga sangat mempengaruhi keputusan sc yang kuambil saat itu.

Selama hamil aku juga tidak banyak membuka cakrawala tentang kehamilan, sendiko dawuh saja dengan dokter, padahal opini dokter itu tidak selalu tepat. Jujur aku juga Kurang excercise dan hamil seperti princess, banyak bobok juga jarang bergerak. Nutrisi yang kukonsumsi pun seadanya. Aku tidak bertanggungjawab penuh terhadap proses kehamilan dan melahirkan yang ternyata kedua proses tersbut sangat tergantung dengan apa yang kita makan.

Semenjak aku tahu aku hamil lagi, aku segera menyampaikan kepada suamiku untuk sama-sama berusaha menjaga kehamilan ketiga ini dan merencanakan persalinan normal. Alasan mengapa aku memilih VBAC tidak lain adalah karena aku merasa sebagai perempuan pasti Allah sudah karuniakan kemampuan untuk melahirkan melalui jalan lahir yang sudah Allah ciptakan.

Alhamdulillah, aku mengenal seorang akhwat di FB yang berhasil VBAC padahal jarak kehamilan kedua dengan sc sebelumnya hanya 15 bulan. Sedangkan protap Yang ada minimal 18 bulan. Aku pun menanyakan bagaimana dia bisa melaluinya dan alhamdulillah kemudian aku dimasukkan ke sebuah group khusus bagi mereka yang sedang mengusahakan dan sudah sukses VBAC. Semenjak saat itu, mataku terbuka melihat keajaiban kelahiran. Terutama VBAC.

Banyak kondisi dengan risiko tinggi untuk vbac dapat dilalui dengan sangat baik. Doulaku melahirkan vba2c (setelah 2x SC) kemudian 2vba2c saat putri ketiganya belum genap dua tahun. Ibu-ibu lain melahirkan VBAC dengan riwayat SC 3 kali pun ada. Plus ada pula yang disertai darah tinggi, BBJ besar (lebih dari 4), yang riwayat SC sebelumnya divonis panggul sempit, tali pusat pendek, mata minus tinggi, dan kondisi-kondisi lain yang seringkali diopinikan dokter untuk melahirkan SC saja tapi alhamdulillah bisa melahirkan normal dengan izin Allah.

Allohuakbar! Ternyata komplikasi dalam persalinan itu sangat banyak. Sedangkan aku dapat dikatakan tidak ada komplikasi bawaan, penghambat normal kemarin adalah sungsang, yang ternyata dengan beberapa teraphy selama hamil beberapa kasus sungsang berhasil dapat merubah posisi kepala di waktu yang tepat dengan cara yangi minim risiko. Aku pun merasa seharusnya mampu untuk mewujudkan cita-cita VBAC ini.

Awalnya suamiku kurang mendukung karena percobaan vbac berisiko ruptur uteri/ruptur rahim. Padahal penelitian menyatakan hanya 2% dari seluruh kelahiran VBAC yang berakhir dengan ruptur. Resiko ini pun insyaAllah dapat diatasi sejak kehamilan berlangsung, yaitu dengan diet protein tinggi. Rahim kita terbuat dari jaringan-jaringan yang kekuatannya dipengaruhi oleh nutrisi yang masuk. Walaupun rahim kita sudah robek tapi ia tidak seperti kain yang lemah. Rahim kembali sehat setelah kurleb 3 bulan dari proses SC dengan syarat asupan protein baik. Jadi, daripada memikirkan risikonya, lebih baik kita mencegahnya.

Ku sampaikan ke suami SC berulang pun punya risiko. Sayang dokter jarang menyampaikan, asyik saja menyampaikan “Kalau kamu lairan normal, awas rahimmu sobek.” Dari situ suami pun tahu bahwa SC memang banyak sekali risiko bawaannya.

Kusampaikan juga padanya cita-cita pengalaman melahirkan yang kuinginkan. Aku ingin melahirkan ditemani suami dengan nakes (bidan) yang sudah ku pilih dan percaya serta kenal sebelumnya. Aku ingin melahirkan di rumah, diperlakukan sebagai seseorang yang punya privasi dan hak atas sebuah kelahiran. Aku ingin IMD dengan nyaman dan bayiku dipotong tali pusatnya setelah 3 jam. Aku ingin melahirkan dan kemudian menyusui senyaman mungkin di rumah.

Ikhtiarku pun berlanjut dengan mencari Bidan yang mau menjadi pendamping persalinanku. Alhamdulillah info dari group dan teman aku pun memutuskan konsultasi dengan Bu Bidan X. Alhamdulillah, aku merasa cocok dengan beliau dan mantap untuk meminta bantuan beliau.

Selanjutnya aku pun memutuskan untuk menjadi Ibu hamil yang aktif. Tidak manja, banyak gerak, banyak olahraga, dan menjaga nutrisi dengan baik. Aku tidak mau bayiku sungsang lagi. Aku harus banyak gerak maka ku ikuti kelas yoga hamil. Aku tidak mau kena PEB, diabetes, dll, maka kuperbaiki nutrisi. Aku tidak mau kurang ketuban, maka aku selalu minum minimal 3 Lt sehari.

Secara umum, itu lah yang kulakukan dari segi fisik. Secara ruhiyah, insyaAllah First of all, kuperbaiki niat hamil dan melahirkan untuk ibadah. Dua, komit dengan ikhtiar. Tiga, tawakal dengan apapun hasilnya.⁠⁠ Alhamdulillah, dengan tanggung jawab lebih selama hamil ini, aku tidak mengalami komplikasi kesehatan berarti. Aku pun mengikuti kelas menyusui sebagai bagian ikhtiar atas kegagalan menyusui di waktu lalu. Secara psikologis aku merasa jadi lebih siap dengan proses hamil dan melahirkan. Berbeda sekali dengan saat hamil sebelumnya, pernah tipes, pernah divonis ketuban kurang, dll.

Meski aku ingin melahirkan dengan Bidan, aku tetap cek ke DSOG, tes lab, dll, walau tidak sering atau rutin. Seperlunya saja. Dan memilih untuk tidak periksa lagi setelah 37w dengan tetap menjaga kondisi kehamilan agar tetap aman untuk VBAC. Seperti menjaga asupan minum, terapi kurma, bit, telur, susu, jalan pagi, mengawasi gerak janin dan menjaga ruhiyah.

***

Senin 2 November2015

Hari itu, 38w. muncul lah lendir darah. Alhamdulillah tanda pertama persalinan sudah tampak. Aku memilih untuk tetap aktivitas seperti biasa. Rasanya mules menekan. Beberapa kali lendir keluar hingga malamnya aku mengantuk setelah bergymball dan makan.

Selasa 3 November 2015

Lendir terus keluar dan terasa cenut2 di bawah tapi reda kalau dibawa bergymball. Kontraksi terasa menekan dan ada rasa nyeri di perut bawah. Lendir pun berubah warna dari bening, berubah dengan segaris darah, hingga flek coklat menjadi muda lagi warnanya kali ini.

Bidan datang mengecek. Alhamdulillah sudah masuk panggul walau sedikit goyang. Aku diminta jalan satu jam dan induksi alami.

Hingga Kamis, gelombang cinta hadir mendashyat hingga aku merasa tidak bisa mengabaikannya. Tapi aku tetap exercise dengan jalan di sekitaran komplek dan goyang di atas gymball. Aduhai rasanya.

Kamis 4 November 2015

Masuk Maghrib, kontraksi makin intens, mulai per 6 menit. Aku pun menghubungi Bidan. Beliau tiba sekitar pukul 8. Langsung memeriksa DJJ dan membantu ku untuk tetap rileks sambil sesekali mengusap punggungku saat kontraksi tiba.

Jumat 5 November 2015

Pagi sekali aku di VT, baru bukaan 3. Dan hingga Sabtu kontraksi tetap berlangsung tanpa ada pembukaan berarti. Allohuakbar! Tapi aku tidak mau goyah. Aku tidak akan menyerah. Aku sudah sejauh ini. Allah pasti menolongku.

Ibuku datang menemani dan merasa khawatir. Beberapa kali beliau menanyakan “Apakah ke RS saja?” Aku jawab sabar ya Bu, InsyaAllah aku masih semangat.

Sabtu 6 November 2015

Sore kontraksi semakin meningkat, masuk bukaan 7. Ya Allah, bahkan mau ke toilet pun rasanya tidak sanggup.⁠⁠ Ternyata setelah kontraksi yang panjang dan intens juga ketuban rembes aku belum juga masuk masa transisi.

Ahad 7 November 2015

Masuk bukaan 8-9 pagi dan 10 sekitar dhuhur plus ketuban pecah. Aku sudah tidak bisa jalan lagi. Kontraksi sudah 3-5 menit sekali. Dorongan itu semakin luar biasa. Konntraksi terasa sakit bila ditahan, rasanya ingin kukeluarkan saja. Ya Allah barulah rasa ingin menyerah itu tiba. Nafas ku tersengal. Denyut jantung ku pun sempat meninggi. Mungkin karena terlalu khawatir kalau aku kurang tidur. Setiap ingin tidur selalu terbangun.

Ya Allah, apa aku sanggup. DJJ masih baik tapi energi ku menipis. Tetiba perut ku sakit, Ya Allah jangan ruptur. Semakin lama semakin terasa luar biasa. Aku pun “menyerah”.

“Mas ayo ke RS sekarang.”

Kebetulan Bu Bidan sedang tidak di tempat karena harus pulang sebentar menjemput anak anak beliau. Yang menemani ku saat itu hanya asistennya. Suami pun menghubungi Bu Bidan, menyampaikan kalau perut ku sakit. Beliau meyakinkan itu bukan ruptur.

Saat itu aku tidak terpikir untuk mengambil opsi SC, tapi entah kenapa aku hanya yakin dan ikhlas untuk pergi saja ke RS. Bu Bidan menelponku tapi aku bilang sudah tidak kuat. Suami pun mengikuti apa yang ku minta.

Dengan mobil tetangga aku dibawa ke RS. Dalam perjalanan, cairan ketuban selalu keluar setiap gelombang cinta datang. Ya Allah rasanya, terpikir oleh ku apakah aku akan mengalami kegawatdaruratan.⁠⁠

Sampai di RS, aku langsung dibawa masuk ke ruang bersalin. Deg. Dokter SPOg yang ready hanya dokter cadangan. Bidan yang kupilih pun sedang ke luar kota. Saat itu Ibuku dengan cepat menjawab, menyetujui untuk dibantu dokter yang ada. Di ruang itu, aku diminta untuk menahan gelombang cinta yang sudah tertahankan lagi. Akkk, aku ingin mengejan!

Di atas meja bersalin, dokter datang dengan bawa gunting. Mereka berkali-kali bertanya, “bekas luka SC nya ga sakit kan Bu?” Engga, Mba, jawabku. Karena memang tidak sakit dan aku tidak mau ditawari atau dibujuk untuk SC.

Dan gelombang cinta pun datang lagi. Aakk, pengen mengejan banget, ga tahan. Akhirnya aku pun dapat infus plus induksi yang dibuka tutup, dibuka pas aku mengejan, ditutup lagi pas kontraksi hilang.

Beberapa kali aba aba mengejan datang, nafasku sudah tak sampai. Sekali kontraksi datang, aku pun mengejan 3-4 kali. Hingga akhirnya, di kontraksi ke-4 selama aku di kasur panas itu Dokter bilang, “Bu, yang sekarang harus lahir ya Bu! Kalau ga lahir terpaksa lewat atas.” Mataku pun terbelalak dan mengejan sekuatnya tapi  tanpa suara . Sempat kuberkata, Iya Dok, tapi boleh minum ga? Alhamdulillah suster sigap, akupun minum beberapa teguk teh manis.

Gelombang cinta ke4 itu pun datang, saatnya mengejan yang keempat, dan blusut.. Dedek pun lahir mudah sekali, Allohuakbar!

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Zat Maha Kuasa atas segalanya.

Lilis

7 thoughts on “Kisah VBAC Lilis

  1. Karena satu dan lain hal, terutama keterbatasan waktu dan kemampuan, ini akan menjadi pesan terakhir di kisah ini. Selanjutnya Sila para ibu yang memiliki akun FB untuk bergabung di Page VBAC Tanya Saya. Insya Allah di sana lebih banyak informasi sputar VBAC. Ketemu di sana ya…

  2. Bunda saya ingin sekali melahirkan VBAC setelah sebelumnya SC boleh saya dimasukkan ke group ini nomor saya 081316924972

  3. Mba aku mau jg donk di masukkin ke group wa vbac .. sekarang uk ku dah 26w pengen lahir normal setelah sebelumnya sc … ini no wa ku 087728827017

  4. Boleh minta masuk kegroup watshap vba2c ak pngen bgt lahir normal ak prcya tdk ad yg tdk mungkin jk allah brkehendak n kita berusaha ,ak terinspirasi bgtttt

  5. Mb aku bisa dibantu ke grup wa vbac, aku bru baca & inginyy mlahirkn Norml usia hmilku jln 8 bln, dg bekas sesar 2x. Ini no wa ku mb aku pengen tau lbh byk 088802325565

Comments are closed.