Kisah VBAC Lely

Kisah VBAC Lely

Alhamdulillah segala puji bagi Allah karena hanya dengan kehendakNya lah segala sesuatu bisa terjadi, segala permohonan bisa terkabul, dan seluruh ikhtiar serta tawakkal bisa terjawab.

***

Tahun 2014 alhamdulillah aku dan suami dikaruniai anak kembar melalui proses persalinan SC tepat di usia kehamilan 36 minggu. Kehamilan pertamaku saat itu sangat dinanti dan kami pun menjaga kehamilan itu bersama. Dokter kandunganku sudah sejak awal saat mengetahui kehamilan ini langsung menjadwalkan operasi caesar di usia 36 minggu, tanpa menjelaskan alasan apapun. Karena berat hati aku pun mengajak suami untuk mencari cari dokter lain yang pro normal.

Browsing tentang persalinan normal untuk anak kembar qadarallah mempertemukanku dengan Mba Evariny, penulis buku “Melahirkan Tanpa Rasa Sakit”. Judulnya membuatku penasaran karena selama ini yang aku dengar adalah melahirkan itu sakit sekali, dan aku agak sedikit takut dengan rasa sakit. Di akhir trimester kedua aku pun memutuskan untuk mengikuti kelas private hypnobirthing bersama beliau dan lebih mendalami lagi tentang apa itu gentle birth. Dari situ lah aku mulai menyusun birth plan dan meyakinkan diri bahwa aku bisa melahirkan anak kembarku secara normal insya allah. Toh, tante-tanteku juga melahirkan sepupu-sepupuku yang kembar secara normal, aku pun pasti bisa insya allah. Pada saat itu sempat terpikir untuk water birth karena rumah sakit yang biasa aku datangi untuk kontrol sudah memfasilitasi water birth. Yang kutau juga water birth bisa meminimalisir rasa sakit saat proses persalinan. Namun aku masih sebatas membayangkannya saja, karena belum sempat cari tau lebih dalam tentang prosedurnya secara detail.

Di minggu ke 35, saat sedang kontrol bulanan, sebelum pamit dokter menanyakan apakah ada keluhan. Aku jawab, tidak ada, hanya perut terkadang terasa kencang (biasa aku alami saat dikantor). Tak disangka dokter menyuruh untuk VT dan ternyata aku sudah pembukaan 3. Saat itu aku mendadak panik, takut, kaget dan merasa belum siap kalau harus melahirkan dalam waktu dekat. Padahal dari artikel-artikel yang ku baca untuk bayi kembar memang sudah bisa dilahirkan di usia 36 minggu, dan bayi tunggal 38 minggu usia idealnya. Aku merasa masih banyak yang harus kupelajari. Sejak itu dokter pun memasang infus untuk mencegah pembukaan bertambah karena estimasi bayi belum cukup minggu untuk dilahirkan. Tidak lupa juga aku disuntikkan penguat paru sebanyak 3 kali, karena bayi prematur cenderung blm memiliki paru yg belum sempurna. Singkatnya diopname lah aku selama 5 hari, dan 5 hari itu terasa lama sekali bagiku. Sejujurnya aku sudah tidak sabar bertemu bayi-bayiku namun aku juga merasa belum cukup persiapan. Selama di infus aku hanya bisa berbaring dan sesekali jalan di sekitar kamar. Aku tetap mengusahakan jongkok berdiri walau dilarang oleh suster karena khawatir bukaan bertambah dan setiap bidan yang keluar masuk untuk VT pasti bilang “Biasanya di sini kalo kembar sesar, bu”. Semakin bertambah lah kegalauanku. Akan berakhir dengan proses apakah persalinanku nanti..

Di hari kelima opname, dokter pun menawarkan induksi. Aku pun bertanya-tanya, kenapa ya awalnya ditahan pembukaan agar tdk maju, setelah berjalan lambat di pembukaan 5 malah ditawari induksi. Belakangan aku tau bahwa itu lah SOP rumah sakit. Saat itu aku tidak mau untuk di induksi karena semua orang disekitarku bilang di induksi itu sakit sekali sampai seperti ingin mati. Aku tidak sanggup membayangkan jika aku sudah kelelahan menahan rasa sakit untuk induksi, pembukaan lengkap, tapi aku tidak kuat lagi untuk mengejan dan mengeluarkan 2 bayi, begitu pula  kalau pada akhirnya harus berakhir SC juga. Disitu aku galau sekali. AKu pun minta pulang saja, aku bilang ingin menunggu pembukaan bertambah dengan sendirinya. Tapi dokter tidak mengizinkan karena sudah bukaan 5. Suami pun menyerahkan pilihan kepadaku, maka aku putuskan untuk langsung SC saja. Mba Evariny juga menyemangati agar aku tidak sedih walaupun harus SC.

Operasi terdahulu memang atas kesadaranku sendiri. Masih ada perasaan belum yakin dan ketakutan akan proses persalinan pada waktu itu. Blm sepenuhnya yakin bisa melahirkan 2 bayi dengan cara pervaginam. Aku menyesal karena aku belum mencoba. Padahal posisi kepala bayi keduanya sudah dibawah dan kondisinya semua normal. Beratnya juga hanya 2 kilogram, dan dokter bilang kemungkinan di pembukaan 8 kepala sudah bisa keluar. Namun qadarallah, mungkin memang itu yang terbaik untuk kami saat itu. Alhamdulillah ala kulli hal.

***

Saat anak-anakku berusia 2 tahun lebih aku mulai cemas kenapa belum juga hamil lagi, karena aku dan suami memang ingin memiliki anak dalam jarak waktu dekat. Maka kami pun ke dokter dan di cek semua baik2 saja. Kami menyampaikan niat ingin program anak kembar lagi namun dokter menyuruh kami pulang dan menunggu sampai kakak-kakaknya berumur 5 tahun. Kami pun pulang dan pasrah saja pada keputusan Allah nantinya. Sekitar sebulan kemudian aku mencoba bekam di titik rahim karena haidku tidak lancar, maasyaa Allah keesokan harinya haid langsung muncul dan itu haid terkahirku sebelum hamil kedua ini. Alhamdulillah. Setelah mengetahui kehamilan ini positif dari testpack kami pun kembali memeriksakannya ke dsog langganan kami. Beliau tertawa karena aku malah hamil duluan sebelum di program. Biidznillah.

Alhamdulillah kehamilan kali ini berjalan lancar. Mual dan muntah2 biasa terjadi sampai sekitar 4-5 bulan usia kandungan.

Suatu hari saat mengantar anak-anakku paud, tidak sengaja aku membahas tentang vbac atau melahirkan normal setelah sesar bersama salah seorang wali murid disana. Dari beliau aku baru mengetahui apa itu vbac. Aku belum terlalu yakin untuk bisa melakukannya karena kan memang biasanya kalau anak pertama SC, anak selanjutnya pun begitu, pikirku saat itu. Sampai aku menemukan artikel seseorang yang melakukan unassisted homebirth setelah 2 kali SC, aku membacanya dengan berlinang air mata. Tersadar bahwa proses persalinan adalah proses yang alami. Bahkan proses yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan siapapun dengan izin Allah, bukan proses kegawatdaruratan yang selama ini kita ketahui bahwa melahirkan harus di rumah sakit. Aku pun mencoba mencari seseorang yang bisa kuajak diskusi tentang vbac.  Bertemulah aku dengan mba Eva. Alhamdulillah di bulan desember aku di invite ke sebuah group Support vbac. Masya allah, Di sana banyak ibu-ibu yang dengan ikhlas mengedukasi, saling menyemangati dan membuat aku yakin dan merasa tidak sendirian. Aku juga dibantu untuk mereview apa saja persiapan yang masih kurang dalam ikhtiar vbac, murojaah sebab SC terdahulu agar bisa diperbaiki untuk persalinan selanjutnya, dan banyak sekali ilmu2 lainnya yang kalau aku tidak berada di grup itu hanya akan berlalu tanpa diserap dengan keyakinan. Sungguh sesuatu yang tidak ternilai di saat2 kehamilan ini.

Berbeda dengan kehamilan pertamaku yang sempat beberapa kali pindah dsog, kali ini awalnya aku berpikiran siapapun dsog nya toh akan sama saja, terbentur dengan SOP rumah sakit. Namun setelah yakin dan berniat untuk vbac aku mulai selektif untuk memilih nakes, krn feelingku dsogku yg sekarang kurang pro normal. Suamiku awalnya hanya menyetujui persalinanku nanti dilakukan dirumah sakit. Aku hanya bisa berdoa pada Maha pembolak balik hati agar suamiku setuju untuk aku bisa melahirkan dengan bidan saja. Aku sangat ingin menghindari scare tactic di RS, dan segala kemungkinan yang bisa dengan mudah merujukku untuk kembali di SC.

Aku coba hubungi mba eva untuk menanyakan tentang bidan Y yang membantunya home birth. Di akhir pekan aku dan suamiku langsung mencoba mendatangi kliniknya dan ngobrol seputar penyebab SC terdahulu serta birthplanku nanti. Sepulangnya dari klinik bidan Y aku dan suami sepakat kalau nanti akan melakukan persalinan di klinik itu. Beberapa minggu berlalu, entah kenapa aku jadi ingin melakukan persalinan dirumah saja, aku ingin melihat anak anakku main seperti biasa, tidak ada gerakan-gerakan terburu buru seperti sedang ada situasi emergency, dan aku ingin tetap bisa beraktivitas seperti hari-hari biasa. Namun suami belum tentu setuju pikirku. Beberapa kisah homebirth, accidentally unnasisted birth, carbirth, semua kusodorkan kepada suamiku. Alhamdulillah berkat izin Allah suamiku mendukung. Aku segera mengabari bidan Y bahwa suamiku sudah memberi izin untuk home birth dan aku berencana untuk melakukan water birth. Sekitar pertengahan januari bidan Y visit kerumahku, melihat kondisi bathtub, membicarakan birthplan dan prenatal class yang harus aku ikuti.

Kontrol bulanan tetap kulakukan di rumah sakit dengan SpOg berganti-ganti dan dokter yang kutemui rata-rata memberikan syarat yang sama jika mau dibantu vbac olehnya. Antara lain presentasi bayi harus kepala tidak boleh sungsang, panggul tidak sempit, jarak diatas 2 tahun dengan sc sebelumnya, SBR diatas 3 mm, berat bayi tidak lebih dari 3,5, tidak ada komplikasi pernah operasi miom, kuret, dll. Aku diam saja saat dokter berceloteh, dalam hatiku “Ada kok dok yang berhasil vba2c lahir sungsang di mobil, lahir diatas 4 kg, lahir dgn jarak dibawah 2 tahun dari sc sebelumnya”, dan semuanya ditutup dengan scare tactic ruptur uteri olehnya.

Aku dan suami memberdayakan diri dengan mulai dari membaca kisah-kisah sukses vbac, termasuk juga komplikasi yang mungkin terjadi, membaca buku & jurnal juga menonton video-video tentang gentle birth. Memperbaiki hubungan dengan Allah, muhasabah diri dan mendoakan sesama muslim aku coba lakukan. Aku percaya bahwa malaikat akan mengaminkan doa-doa yang kita ucapkan diam-diam untuk orang lain kepada kita juga. Asupan makanan tak lupa aku perhatikan, antara lain telur ayam kampung 2 butir setiap hari, kacang kacangan, dan macam-macam protein lain yang bisa di dapat dari tahu, tempe, ikan daging merah. Protein ini berguna untuk perbaikan jaringan bekas luka SC. Asupan lainnya kurma 7 butir, madu, minyak zaitun, lebih banyak konsumsi sayuran dan buah-buahan, air putih sebanyak mungkin. 3 liter air yang disarankan aku belum bisa penuhi karena selalu ada rasa ingin muntah setelah minum banyak. Jadi untuk itu disesuaikan dengan kemampuan. Masker yoghurt dan konsumsi yoghurt aku rutinkan untuk menghindari keputihan yang bisa menyebabkan pecah ketuban dini. Exercise yang kulakukan antara lain mengikuti kelas senam hamil, prenatal yoga yang di referensikan oleh bidan Y saat itu dgn seorang doula, berenang dan jalan kaki. Downward dog, long inversion, all four dan squat rutin kulakukan karena membuat tubuhku terasa lebih nyaman. Di trimester ketiga juga nyeri di tulang belakang sudah sangat terasa, namun sangat jauh berbeda dgn kehamilan pertamaku dimana di usia kehamilan yang sama waktu itu aku sudah tidak bisa solat sambil berdiri. Alhamdulillah di kehamilan kali ini Allah memberi kekuatan, dan keringanan pada tubuhku.

Sekitar usia kehamilan 36w suamiku semakin sibuk dengan urusan kantornya. Aku coba sesekali membahas tentang waterbirth dengan istilah-istilah yang tidak awam, dan suamiku terlihat asing dengannya. Aku ragu suamiku sudah membaca buku-buku yang aku PR-kan kepadanya untuk dibaca. Dari situ aku tau sepertinya suamiku belum siap untuk mendampingiku water birth, aku juga tidak mau memaksa.

Pencarian nakes lainpun kembali kulakukan. Aku mencoba ke klinik bidan I dan mulai rutin kontrol mingguan disana. Suamiku pun akhirnya lebih memilih aku untuk melahirkan dengan bantuan bidan I. Namun bidan I tidak menerima homebirth, ituberarti aku harus melakukan persalinan di kliniknya, otomatis akupun harus merombak birthplanku dari awal. Maasyaa Allah, di penghujung kehamilan aku semakin galau. Shalat istikhoroh kulakukan untuk meyakinkan diri dengan pilihanku, semoga Allah tunjukkan nakes yang terbaik untuk mendampingiku nanti. Semoga Allah menguatkanku dari rasa sakit walaupun tidak jadi waterbirth. Insya Allah aku harus siap.

Sejak 38w aku sudah mencoba induksi alami namun kontraksi yang aku rasakan malah semakin hilang. Dari makan buah nanas, squat, butterfly pose, jongkok berdiri, jalan kaki, dll namun masih sering hilang. Di awal 39w  aku pun mencoba bekam di titik rahim dan alhamdulillah kontraksi mulai terasa lagi, walaupun masih belum intens. Kontrol mingguan masih kulakukan dan di usg berat bayiku sudah mencapai 3,4 kg, posisi plasenta corpus dan air ketuban cukup, posisi kepala sudah engaged di panggul sejak 36w. Alhamdulillah. Jalan kaki rutin kulakukan apalagi saat weekend, alhamdulillah sejauh ini yang paling berpengaruh pada kontraksiku.

Senin (40w)
Kontraksi kembali hilang, lalu aku coba makan buah durian. Kontraksi tidak bertahan lama dan kembali menghilang. Mungkin aku tidak cocok dengan induksi alami itu, akupun mencoba tetap tenang, dan exercise tetap rutin.

Selasa (40w 1d)
Akhirnya aku merasakan juga post date, selama ini aku selalu membayangkan bagaimana jika bayiku lahir lewat HPL, benar saja satu hari lewat HPL orang rumah dan beberapa teman sudah bertanya kok belum lahir karena perutku sudah turun sejak lama kata mereka. Sambil tetap tersenyum aku bilang doakan saja insya Allah sebentar lagi. Malamnya suamiku melakukan akupresur sebentar karena dia sudah mengantuk pulang dari kantor. Alhamdulillah kontraksi kembali muncul.

Rabu (40w 2d)
Saat bangun tidur aku merasakan ada sesuatu yang mengalir sampai tembus ke kasur, aku coba cek ternyata warnanya bening. Aku sempat khawatir kalau sampai nanti pecah ketuban namun tidak ada kontraksi dan harus berujung sesar lagi. Jadi aku memutuskan untuk tidak membeli kertas lakmus yang biasa digunakan untuk mengecek ketuban, aku memilih untuk tetap positive thinking dan boost asupan protein, vitamin c serta cairan untuk menjaga volume ketubanku. Bidan juga berpesan untuk tetap mengobserve gerakan bayi pada hari itu, alhamdulillah masih lebih dari 10 kali. Aku pun yakin bayiku dalam kondisi baik-baik saja. Malamnya, sambil terus berharap kontraksi intens datang aku lakukan stimulasi puting sendiri, dan benar saja kontraksi alhamdulillah semakin kuat dan jaraknya semakin singkat. Akupun hanya bisa tidur satu jam malam itu. Sempat kubangunkan suamiku dan minta dibuatkan roti dan susu. Dia khawatir aku akan segera melahirkan dan mengajak ke bidan keesokan paginya. Tapi aku bilang nanti dulu.

Kamis (40w 3d)
Paginya kontraksi masih terus datang tapi mulai tidak teratur. Aku berpikir mungkin nanti akan hilang dan tidak intens lagi, tapi ternyata sampai siang tetap ada dan aku tanya ke bidan I beliau bilang jangan langsung datang, tunggu sampai malam dan tetap rekam kontraksi pakai contraction timer. Aku juga tidak mau terburu-buru karena khawatir merepotkan bidan dan suamiku kalau ternyata nanti setelah cek di klinik masih di kala 1.

Hari itu aku membuat janji untuk massage & akupresur dirumah agar bisa lebih relax, namun qadarallah tidak jadi karena bidan yang mau kerumah terjebak hujan. Akhirnya suamiku yang sudah izin pulang kantor mengajak ke mall dekat rumah bersama anak-anak untuk menyamarkan rasa sakit kontraksi dan agar bayi bisa semakin turun.  Aku pun makan sebentar, keliling sebentar dan kontraksi mulai tak tertahankan. Aku sempat istirahat di wc sambil BAB. Sejak dua hari yang lalu setiap BAK pun aku selalu BAB mungkin karena bayi sudah mau keluar jadi dia membersihkan jalannya.

Saat itu setiap kontraksi datang aku menundukkan wajahku, mencoba menerima rasa sakit yang kurasakan, dan setiap kontraksi hilang aku bisa kembali ceria seperti biasa. Sudah seperti ada 2 kepribadian yang berbeda pada diriku. Setiap suamiku bertanyapun juga aku tidak bisa menjawab jika kontraksi datang.

Jam setengah 4 akhirnya kita pulang dari mall dan titip kakak-kakak dirumah neneknya sementara aku dan suamiku berdua menuju ke klinik bidan. VT di bidan ternyata baru pembukaan 4, whattt? Aku pikir ini sudah pembukaan 7 karena rasa sakitnya yang luar biasa. Tapi aku tetap berusaha menjalaninya.

Di bidan sebenarnya aku sudah tidak bisa fokus lagi. Deep breathing kadang berhasil kadang tidak karena rasa sakit yang benar2 menekan di perut sampai ke vagina dan bokong. Aku berusaha tetap kuat sambil mondar mandir, pelvic rocking dan jongkok. Saat aku kesakitan suami malah sempat berbisik sambil senyam-senyum “Enakan sesar ya..”. Kesal rasanya, mau kusuruh saja dia tunggu di luar. Tapi aku tau dia cuma bercanda dan ingin membuatku tersenyum, sayangnya entah kenapa seketika semangatku pergi entah kemana. Namun aku berusaha fokus pada ikhtiarku selama ini, tinggal sedikit saja lagi. Sambil terus kuberharap semoga Allah mudahkan, semoga Allah menolongku.

Sekitar jam 5 lewat bidan I kembali mengecek ternyata masih bukaan 4 tipis tapi kontraksi yang aku rasakan sudah seperti ada sensasi untuk mengejan. Akhirnya aku dipindah ke kasur tindakan dengan posisi setengah duduk. Posisi yang ku inginkan sebenarnya all four position tapi aku sudah tidak bisa berkata- kata sedikitpun, aku pun langsung saja mengikuti yang bidan I bilang. Bidan I kemudian memberi aba-aba dan suamiku terus mengingatkan untuk deep breathing, tapi ternyata aku tidak bisa, padahal selama ini aku selalu mempraktekkannya sehari-hari, namun tetap saja rasa sakit kontraksi lebih kuat menguasai diriku.

Setelah beberapa kali mengejan tiba-tiba aku merasakan ketubanku pecah dan setelah itu dorongan semakin kuat. Aku mengejan lagi dan suamiku bilang rambut bayinya sudah semakin terlihat. Aku pun jadi bersemangat dan bilang pada diriku sendiri bahwa sebentar lagi aku dan bayiku akan bertemu jadi aku harus lebih kuat lagi. Sambil mengejan aku hanya bisa berkata laa hawla wa la quwwata illa billah.

Kepala bayi ternyata masih belum muncul sempurna dan bidan I menawarkanku untuk di episiotomi. Aku bilang aku mau mencoba dulu sekali lagi, dan saat kontraksi kembali datang aku pun mengejan dengan sekuat tenaga. Kepala bayi pun berhasil keluar dan seluruh badannya pun kemudian mengikuti. Alhamdulillaaah, lahirlah putri ketiga kami Amara Safaniya Alshamira, dengan berat 3 kg, panjang 50 cm, pukul 18:38. Terdengar tangisan bayi kecil yang putih bersih, langsung ia diletakkan di dadaku untuk proses IMD. Masya allah, Alhamdulillah. Aku hanya bisa terdiam dan bersyukur semuanya sehat dan selamat.

Sungguh pertolongan Allah saat itu nyata bagi kami, tak ada daya kecuali hanya kuasaNya.

Semoga Allah jadikan putriku putri yang sholehah, umat nabi Muhammad yang tegar diatas Al Qur’an dan sunnah.

***

Alhamdulillah proses melahirkanku Allah izinkan untuk berjalan lancar, cepat dan pervaginam. Aku berharap jika nanti hamil lagi untuk bisa melahirkan pervaginam dengan lebih gentle dan bisa menguasai diri. Aamiin.

Lely

 

8 thoughts on “Kisah VBAC Lely

  1. Karena satu dan lain hal, terutama keterbatasan waktu dan kemampuan, ini akan menjadi pesan terakhir di kisah ini. Selanjutnya Sila para ibu yang memiliki akun FB untuk bergabung di Page VBAC Tanya Saya. Insya Allah di sana lebih banyak informasi sputar VBAC. Ketemu di sana ya…

  2. Assalamualaikum mbak.. terharu baca postingan mbak.. jd terus termotivasi untuk vbac, skrg saya hamil 28 week.. pengen gabung di komunitas vbac. Kira2 gmn caranya ya mbak? Syukran jzk.

  3. Assalamualaikum mba, salut sekali dg ikhtiarnya,, saya juga ingin vbac, tp anak pertama baru 1 th,, bisa sharing2 tntg pengeringan jahitan sc mom?

  4. MasyaAllah.. bacanya bikin saya deg2an..
    Mudah-mudahan kelak saya bisa sesabar dan sebagainya positif mba Lely jika kelak diizinkan hamil kembali..

  5. Mb klo boleh tau grup vbac nya ada dmn? Saya ingin gabung karena berniat untuk vba2c. Terima kasih infonya.

Comments are closed.