Kisah VBAC Ida

Kisah VBAC Ku

41w+1d kehamilan atau 8 hari lewat HPL bukanlah waktu yang sebentar dan temanku bertanya apa yang membuatku bertahan, kujawab.. Karena aku yakin atas Kodratku yang telah ditentukan Allah sebagai wanita untuk bisa melahirkan normal.

image

***

Saat mengetahui telat menstruasi aku langsung menggunakan testpack dan hasilnya pun dua garis merah. Seminggu setelah itu untuk lebih memastikan lagi aku cek ke bidan dan Alhamdulillah ternyata benar hasilnya aku positif hamil. Aku pun menanyakan kepada bidan tersebut apakah aku bisa melahirkan norml setelah SC (VBAC) 5,5 tahun yang lalu. Bidan menjawab persentasenya 50:50.

Aku berusaha menikmati kehamilan dengan harapan bisa melahirkan normal dengan riwayat anak pertama ketuban pecah dini atau KPD di usia 35w karena kehamilan kembar sehingga ketubanku berlebih. Aku pun mengutarakan keinginanku untuk VBAC kepada seorang teman yang telah berhasil VBAC dan ia oun mengajakku bergabung di sebuah grup support VBAC yang anggotanya dan bahkan adminnya pun telah berhasil VBA2C.

Aku mulai menyimak ilmu2 yang dishare dan sangat merasa bersemangat atas support yang ada seperti mendapat petunjuk bahwa aku insya Allah juga bisa VBAC walaupun saat itu usia kehamilanku sudah 6 bulan, waktu yang sangat singkat untuk belajar tentang seluk-beluk VBAC menurutku.

Sementara itu sebetulnya semenjak hamil aku ingin sekali periksa ke Dsog namun maju mundur karena takut Dsog akan mengatakan aku harus sc lagi. Akhirnya aku hanya memeriksakan diri ke bidan saja karena toh aku merasa kehamilanku baik2 saja. Aku pun mulai mencari bidan yang support VBAC dan alhamdulillah aku menemukannya. Bidan tersebut memberiku dukungan dan mengatakan bahwa insya allah aku bisa VBAC selama aku yakin bahwa Allah akan memudahkan niatku.

Hari perkiraan lahir atau HPL pun tiba, ada lendir yang keluar seperti keputihan dengan sedikit air seperti air kelapa yg cukup membuat basah pakaian dalamku. Kebetulan hari itu adalah hari aku rutin cek ke bidan dan bidan pun membuat surat rujukan untuk Dsog. Aku tidak tahu surat rujukan apa itu sebenarnya, kelihatannya hanya untuk pemeriksaan dengan usg saja. Namun aku ragu untuk mengikuti arahan bidan tersebut dan berusaha tetap tinggal di rumah walau aku sudah mulai merasakan mulas seperti ingin BAB tapi tidak ada yang keluar. Bagian pinggang dan miss v pun terasa senut2. Mulasnya datang dan pergi dengan jarak setengah jam. Kaki pun terasa kram. Ada sedikit khawatir ketika gerakan bayi terasa aktif sekali. Namun kuubah rasa khawatir itu menjadi harapan semoga ini pertanda hari pertemuan dengan bayiku akan segera tiba.

Ketika HPL berlalu aku mulai galau, seperti juga bidan yang awalnya mendukungku. Aku belum juga memeriksakan diri ke Dsog seperti yang diharapakan bidan tersebut dan ia pun mulai membisikkan ketakutan “Melahirkan itu sakit lho bu, mending SC lagi aja biar ga merasakan sakit, ibu kan belum pernah merasakan kontraksi nya melahirkan normal”

Hatiku semakin sedih dan surat rujukan itu kupandangi saja selama beberapa hari dengan harapan ada kontraksi sebelum ke Dsog. Namun suami masih terus mendukungku dan kami terus berdoa dengan sungguh2 dengan keyakinan Allah akan mengabulkan doa kami insya allah. Selama itu kontraksi rutin belum muncul juga. Namun keluar lendir kecoklatan dan aku tetap exercise all four position, jongkok-berdiri, duduk sila, dan setiap pagi jalan kaki mengitari lapangan dengan harapan bisa vbac.

Walau masih yakin aku bisa vbac tapi aku juga pasrah dengan keadaan. Pasrah dengan jadwal cek ke dsog dan membawa surat rujukan sesuai pada hari yang ditentukan, yaitu hari Rabu 3 juni 2015.

Senin 1 Juni 2015, tepat 41 minggu kehamilanku. Aku merasa sakit bagian pinggang dan perut, terasa seperti mulas tapi tidak ingin BAB. Aku tidak mau GR dulu tapi aku berharap semoga ini pertanda adik bayi akan segera lahir.

Aku pun memutuskan pergi ke bidan dan bidan kaget ketika aku datang dengan kontraksi yang intens, apalagi dia belum tahu hasil usg ku karena memang aku belum sempat ke Dsog. Bidan langsung menelpon Dsog dan menanyakan apa yang harus dilakukan karena ternyata surat rujukan waktu itu sebetulnya berisikan bahwa bidan tersebut tidak mau menangani persalinan VBAC ku. Berhubung aku datang dengan kontraksi yang intens dan Dsog pun support melahirkan normal, melalui speaker phone Dsog tersebut menyatakan persetujuannya untuk ku melahirkan normal yang didengarkan langsung oleh suamiku, dan bidan pun berani mengambil langkah selanjutnya.

Pembukaan 1 jam 9 malam, dan jam 9.30 malam aku merasakan kontraksi yang hebat dan mulas yang kuat, sampai aku bingung bagaimana mengaplikasikan latihan pernafasan yang telah kupelajari. Sempat aku berteriak “Allah, mudahkanlah persalinan normalku”.

Jam 4 pagi pembukaan lengkap dan bidan mengarahkan untuk posisi miring ke kiri dan tangan berpegangan kuat ke lutut untuk mengejan sekuat2nya setelah tarikan nafas panjang.

“Ayo mengejan, sudah bagus, rambut adek udah kelihatan, lebih kuat lagi” Aku pun sudah tidak peduli lagi dengan apapun selain mengejan dengan kuat sekali. Suami yang menyaksikan mengelus tanganku dan mengarahkan perkataan bidan. Kata suami dedek terlilit tali pusar di bagian leher dan bidan dengan sigap melepaskan lilitan tersebut. Jam 5 pagi, Alhamdulillah, Allahu Akbar, terlahir lah bayi VBAC ku.

Bidan bangga bisa menangani persalinan ku karena aku tidak takut sakit sementara bayiku termasuk besar 3,8 kg dengan panjang 50cm. Suamiku pun berkata “Subhanallah, kamu bisa melahirkan normal.”

Alhamdulillah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.

Ida Ummu Aziz

8 thoughts on “Kisah VBAC Ida

  1. halo mba Ida salam kenal. salut sekali membaca keberanian mba dlm melalui semua proses melahirkan tersebut. boleh aku diinvite ke grup vbac jg? akupun berniat vbac. nomerku 087809105305
    terima kasih sebelumnya

    • Sy lg hamil 6 bulan.. Mau vbac juga.. Seperti layaknya mba.. Sy juga agak repot cari tenaga medis yg mendukung vbac. Tapi sy MAU..
      Invite wa sy gabung ke group VBAC ini no sy 085603004032

  2. Bunda, saya minta tolong di invite ke group vbac nya ya. Sekarang saya lg hamil 21 minggu. Ingin sekali bisa sukses vbac spt bunda. Takut klo harus SC lg. trm ksh sblmnya
    No hp saya: 085725006119
    email: ingrid.anggraita@gmail.com

  3. Bunda, saya minta tolong di invite ke group vbac nya ya. Sekarang saya lg hamil 21 minggu. Ingin sekali bisa sukses vbac spt bunda. Jujur saya saat ini resah Dan takut terulang SC lg. Makanya ingin bnyk sharing dgn tmn2 vbac yg Lain. trm ksh sblmnya
    No hp saya: 085725006119
    email: ingrid.anggraita@gmail.com

  4. Subhanaallah mba Ida, slamat atas klahiran dede bayinya. Membaca cerita mba Ida aku ngerasa hampir sma, aku ingin sekali melahirkan VBA2C. Dan jaraknya sma anak yg terakhir 7 thn. Sdangkan usia sya jg sdh 35thn. Sdh lama skali jd hampir lupa lah gimana rasanya hamil. Mau tau gimana caranya bs bergabung di group VBAC ini. Klo boleh minta no telp mba Ida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *