Kisah VBAC Hapsari

Kisah VBAC Hapsari

Alhamdulillah Allah mengijinkanku untuk merasakan melahirkan pervaginam, Allah begitu sayang dan baik kepada ku, Allah menunjukkan jalan kesana kemari agar aku yakin dengan pilihanku, terus berusaha, tetap istiqomah dan tawakal. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah jika Allah sudah berkata KUN FAYAKUUN… dan semua hanya dengan ijin Allah.

 

***

Hari itu, 3 tahun yang lalu, lahirlah putra pertama kami melalui proses sesar jam 10.10. Saat lahir ia langsung menangis kencang sekencang-kencangnya seperti memberi tau bahwa dia tidak senang dilahirkan dengan cara itu. Saat itu aku bersyukur dia sehat dan selamat.  Pembukaan yang lama lah yang menjadi alasan si kakak harus lahir dengan proses sesar. Uniknya, proses kelahiran si kakak ini tidak di tempat biasa aku melakukan cek up kehamilan, melainkan di tempat pilihan keluargaku.

Pengalaman persalinan pertama itu membuatku sadar bahwa aku harus ikhlas dan memaafkan apa yang sudah terjadi. Cukup lama sebenarnya hal itu mengganjal di hati ini, karena aku merasa menyesal dan sedih sekali melahirkan si kakak secara sesar, hingga 3 bulan pertama si kakak lahir aku mengalami baby blues syndrome. Pengalaman itu juga menjadi pembelajaran bagiku. Harus kuakui selama hamil aku begitu malas, seringnya tidur siang saja, duduk suka menyender, makan makanan tidak sehat, dan yang paling kurang adalah mempelajari ilmu tentang kehamilan dan melahirkan. Persepsiku saat itu melahirkan itu alami-alami saja tanpa perlu banyak belajar ini itu lalu brol, lahir. Namun ternyata pemikiran yang terlalu sederhana itulah yang kemudian menggiringku kepada persalinan sesar. Qadarullah…

Satu tahun 3 bulan sudah berlalu, tepatnya tanggal 10 maret 2016 aku mencoba memberanikan diri untuk test pack karena si M tidak kunjung datang. Berdasarkan pengalaman dulu walau belum telat dari jadwal M di test pack pun sudah positif dan sekarang batin ku berkata apapun hasilnya aku terima. Ternyata hasilnya dua garis merah terang dan jelas. Senang pasti senang, bersyukur alhamdulillah masih di percaya sama Allah untuk hamil lagi. Hasil test pack pun kusampaikan pada suamiku. Sontak suamiku agak kaget tapi langsung senyum bahagia. Sebenarnya seminggu belakangan ini suami sudah melihat keadaan yang berbeda pada diriku. Aku juga ikut tersenyum tapi senyum yang sedikit tertekan. Ada sedikit kekhawatiran di hati ini…

Suami pun kemudian memilih tempat untuk cek up kehamilan dan dengan dasar pertimbangan ini dan itu aku dan suami memilih periksa di dokter kandungan yang dulu aku SC pertama kalI di sana. Aku masih ingat saat terakhir cek luka jahitan operasi aku sempat bertanya ke dokter, kapankah aku bisa hamil lagi dan bisa melahirkan secara normal? Dokter pun menjawab bahwa satu tahun setelah sesar juga sudah boleh hamil, “Dan kamu bisa kok nantinya lahiran normal.” Saat itu jawaban sang dokter bagai angin segar bagiku, karena itulah aku ingin ke sana lagi. Aku benar-benar tidak mau lagi sesar, SAKITTT… Sakit luka sayatan itu dan sakit hati atas omongan orang-orang yang nyinyir kalau lahiran sesar itu enak, tak merasakan mulesnya lahiran normal, belum jadi wanita seutuhnya dan macam-macam lagi.

Alhamdulillah cek up pertama hasilnya semua baik, sudah ada janinnya, usia kehamilan pun sudah 5 minggu. Selesai cek up aku dan suami berkonsultasi dengan dokter, aku menanyakan lagi 1 hal yang amat penting bagiku. “Dok… saya bisa enggak yang ini lahiran normal?” Dokter langsung menjawab, “Bisa… kenapa enggak bisa? Kan si kakak udah setahun lebih.” Alhamdulillah… Sang dokter masih tetap dengan perkataannya dahulu. Aku sangat bersyukur sudah dapat tenaga kesehatan yang mau membantuku VBAC.

Bulan demi bulan berlalu, saat itu usia kandunganku sudah masuk 17 minggu, ada kabar yang membuatku galau, tenyata si dokter sedang hamil juga, hanya beda 2 minggu denganku. Pikiranku pun langsung kemana-mana, bagaimana dengan rencanaku untuk melahirkan normal kalau-kalau nanti si dokter yang keduluan untuk lahiran? Secara si dokter sudah berencana untuk melahirkan anak keempatnya ini secara sesar pula karena faktor usia dan riwayat melahirkan anak ke2 dan ke3 nya (kembar) dilahirkan secara sesar. Hatiku ini tak tenang dan galau terus-terusan. Bagaimana mungkin dia akan membantuku bersalin sementara dia sendiri akan bersalin?

Iseng-iseng kubuka lah FB, baca-baca status orang. Ada satu status yang menggelitik tanganku untuk mengklik kolom komentar. Seorang teman FB menulis status tentang riwayat sesarnya lalu sebuah akun bernama mba N memberi komentar, dan dari komentarnyalah aku tau bahwa mba N ini berhasil melahirkan anak keduanya secara normal dengan riwayat anak pertama dilahirkan secara sesar. Balas membalas komentar di status teman FB itu akhirnya berujung pada inbok mba N. Aku meminta no WA nya dan tak lama mba N pun membalas memberikan no HP nya. Ini jadi angin segar kedua bagiku. Ku WA mba N menanyakan tentang VBAC dan kusampaikan niatanku untuk VBAC. Dengan ramah mba N membalas WA, menanyakan riwayat sesarku terdahulu, menanyakan pula bagaimana sikap suami tentang niatanku untuk VBAC. Aku bilang kalau suami alhamdulillah mendukung dan mba N pun membalas “Maa syaa Allah dukungan suami itu ibarat kita menggenggam dunia dan seisinya” dalam artian bahwa dukungan suami itu bagaikan penyokong terbesar dalam ikhtiar VBAC ini.

Memasuki bulan ke 5 usia kehamilan aku mulai sering browsing di google, mencari tau lebih banyak tentang VBAC karena aku menyadari ilmuku yang sangat minim, masih NOL, tidak mengerti apa-apa tentang proses melahirkan terlebih tentang VBAC. Yang aku tau ya ibuku dulu juga VBAC dan alhamdulillah berhasil, namun itu dulu tahun 1983 zaman di mana dokter-dokter kandungannya masih lebih suka seorang ibu melahirkan secara normal, ehm.  Aku hanya pahamnya melahirkan itu alami tidak perlu banyak belajar juga bisa, banyak orang awam bisa melahirkan enak-enak saja, normal-normal saja, enggak pake sesar-sesaran. Namun inilah kesalahanku… Kesalahan yang harus aku perbaiki. Semuanya harus dengan ilmu. Oleh sebab itu aku jadi aktif mencari tau walau hanya lewat google.

Suatu hari aku mendapati sebuah blog yang sangat menarik, di dalam blog tersebut ternyata banyak kisah-kisah yang bercerita tentang keberhasilan VBAC bahkan ada yang sudah 2x sesar pun berhasil, MAA SYAA ALLAH… Mungkin inilah jalan dari Allah, MAN JADDA WA JADDA, barang siapa yang bersungguh-sungguh maka Allah memberi jalan kepadanya. Kisah-kisah mereka aku baca satu persatu, begitu amazing aku di buatnya, bahkan tak bisa aku berpikir bagaimana takdir Allah itu sebegitu indah untuk mereka, walaupun ada juga yang batal untuk VBAC tapi tetap sangat menginspirasi. Rasa ingin tau ku begitu besar dan aku pun menulis di salah satu kolom komentar sebuah kisah, aku meminta no WA nya untuk lebih lanjut menghubungi si mba ini, namun sayangnya tidak di balas-balas sampai kurang lebih 3 hari kedepan ku buka lagi blog tersebut dan tetap tidak di balas. Batinku berkata lebih baik beralih ke kisah mba yang lain mungkin nanti di baca terus di balas, aku memutuskan menulis di kolom komentar mba A sama seperti komentar di kisah mba sebelumnya, aku meminta no WA dan alhamdulillah besoknya langsung di balas, angin segar kembali datang untuk ketiga kalinya alhamdulillah.. Bukan itu saja aku juga mendapati sebuah kisah dimana mba ini melahirkan anak ketiganya di rumah bersama suaminya, dengan metode waterbirth, maa syaa Allah kisah inilah yang membawa ku masuk ke sebuah grup yang mensupport siapa saja yang mau berikhtiar VBAC.

Aku pun tidak mau sendiri dalam ikhtiar ini, oleh sebab itu suami aku minta banyak searching tentang VBAC. Aku ceritakan kisah-kisah di blog yang ku dapati. Seiring berjalan waktu aku masih tetap cek up kehamilan di dokter dan tetap secara setengah aktif di grup, namun kegalauan kembali datang kala aku menceritakan birth planku kepada teman-teman di grup, yaitu ketika kusampaikan bahwa aku berencana VBAC dengan dokter yang dahulu melakukan sesar padaku. Mereka mempertanyakan, bagaimana mungkin dokter yang menyarankan SC pada persalinan pertama akan membantu persalinan normal di persalinan berikutnya? Bagaiamana kalau dia menyarankan SC lagi. Apakah akan tetap ingin VBAC atau mengikuti pendapatnya? Secara logika memang ada benarnya juga. Jujur saja saat itu aku pun berpikir begitu, namun ada satu hal yang berat bagiku. Aku teringat bagaimana baiknya dokter X kepadaku dan keluargaku. Ibu ku percaya dan menyerahkan aku di bantu lagi untuk melahirkan dengan dokter X tersebut. Aku keluhkan hal ini dengan suami, dan suami meminta aku lebih baik banyak-banyak berserah diri kepada Allah, berdoa saja sama Allah, fokus dengan rencana dan ikhtiar kamu, “Aku bantu doa dan support, apapun yang kamu lakukan itulah yang terbaik.” begitulah nasehatnya. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk vakum dari grup itu. Di grup pun selalu diingatkan bahwa ibu yang melahirkan dia lah yang berhak menentukan bagaimana, di mana dan dengan siapa Ibu ingin melahirkan. Ibu lah yang lebih tahu kedaannya sendiri. Maka tentu tidak ada masalah apabila aku memiliki pilihanku sendiri. Maka kutentukan sendiri bagaimana aku ingin menjalani kehamilan ini dan persalinanku nantinya.

Aku pun jalani semuanya seperti yang suami nasehatkan.  Aku berharap inilah yang terbaik. Aku berusaha nurut dengan nasehat suami karena aku tau aku mudah galau, aku mudah berputus asa, namun karena dukungan suamilah aku dapat menjalani hari demi hari masa kehamilanku dengan lebih tenang, lebih pasrah, dan lebih memberdayakkan diriku sendiri. Aku tak mau malas-malasan lagi, apapun pekerjaan rumah lebih aku prioritaskan untuk ikhtiar ini. Aku memang tidak mengikuti senam hamil, yoga hamil dan lain-lain tapi aku mencoba senam hamil sendiri di rumah, berbekal ilmu praktek waktu kuliah terdahulu dan hasil dari googling jadilah aku latihan-latihan sendiri di rumah.

Hari-hari ku lalui dengan lebih baik, walaupun vakum dari grup tapi aku masih punya sedikit catatan ilmu yang ku dapat ketika masih aktif di grup. Beberapa catatan penting yang tersimpan di notes HP sewaktu-waktu ku buka dan ku baca. Teringat betul sloganku, JANGAN MENDZHOLIMI diri sendiri apalagi mendzholimi si baby, sebab itu ku usahakan makan dan minum yang baik-baik walau terkadang bandel juga, kepengen makan kebab atau mie ayam, hehehe.. Hingga suatu ketika ada sebuah pesan WA yang masuk dan ternyata dari mba M dari grup, ia menanyakan kabarku dan menanyakan tentang rencanaku untuk VBAC. Saat itu kehamilan ku sudah masuk bulan ketujuh, rasa senang karena masih di pedulikan oleh mba M membuat ku semakin semangat dan jadi lebih suka PM dengan mba M. Saat itu memang aku masih melakukan cek up kehamilan di dokter X dan selama periksa semua dalam keadaan baik tidak ada masalah. Entah mengapa aku memilih tetap cek up ke dokter X dan mengikuti alur saja. Batin ku berkata biar Allah lah yang memberi jalan, biar Allah lah yang akan menunjukkan ke depannya. Saat ini yang terpenting bagi ku fokus terhadap kehamilan dan diri ku. Ku pasrahkan cerita akhirnya kepada Allah.

Di bulan ke delapan usia kehamilan, tepatnya 33w, hasil dari USG menyatakan BBJ kecil, hanya sekitar 2 kilogram, Saat itu dokter X menyarakan aku untuk lebih banyak konsumsi susu sapi dan minum jus. Kata dokter X sih aku kurang gizi karena saat itu BB ku juga tidak naik banyak cuma 1 kilo selama kurang lebih 1 bulan. Dokter X akan memantau lagi untuk 2 minggu ke depan, yang pasti BBJ adik bayi harus naik minimal 2,3 kilogram. Galau dan bingung harus apa, sedikit menguras pikiranku, aku cuma cerita keadaan ku kepada suami dan tidak  menceritakannya  kepada ibuku, tapi akhirnya ibuku tau juga, kontan saja beliau menyuruhku makan es krim tiap hari, makan yang banyak, jangan capek-capek dan lain-lain nasehatnya.

Saat cek up pun tiba (35w) aku berharap hasil USG menunjukkan BBJ adik bayi sudah ada kenaikan secara signifikan, karena selama 2 minggu itu aku sudah berusaha menjalankan apa yang dokter X sarankan. Selama di  ruang tunggu menunggu giliran cek up aku berdoa dalam hati, Ya Allah hamba mohon berikanlah hasil yang terbaik. Dokter X langsung melakukan USG, dengan cekatan dia menghitung dan memeriksa keadaan adik bayi, dan hasil BBJ pun di dapa. Hasilnya… BBJ adik bayi hanya bertambah 1 ons atau 100 gram saja. Serasa heran mendengar hasil USG tersebut aku pun hanya bisa diam, setengah percaya setengah tidak. Dokter X pun berkata, “Gimana nih? Masih kurang nih BBJ nya, kalau begini kamu enggak bisa lahiran normal, beresiko, kamu tau enggak? Jangan di kira bayi kecil itu jadi gampang ngelahirinnya, ada resikonya untuk bayi…”Daaan penjelasan panjang lebar lainnya. Terakhir dokter X minta aku lebih banyak lagi dan lagi minum susu sapi pasteurisasi, pokoknya dalam waktu 1 minggu berarti usia kehamilan saya 36 minggu BBJ nya sudah harus minimal 2,5 kilogram. Entah bagaimana  caranya, kalau tetap tidak bisa terpaksa aku harus sesar lagi. Saat itu aku melihat di catatannya tertulis IUGR rencana SC.

Seminggu itu aku pakai untuk menenangkan diri, dan aku putuskan tidak balik cek up lagi ke dokter X. Mungkin inilah petunjuk dari Allah agar aku mengikuti alur yang Allah beri sehingga nantinya semua karena Allah, sehingga nanti aku tidak akan kecewa aku ikhlas atas keputusan Allah…

36w, aku memutuskan untuk mencoba cek up kehamilan di tempat lain, karena jujur saja aku sedikit penasaran dengan bbj adik bayi, kenapa hasil USG di dokter X terasa ganjal bagiku. Aku pun mulai searching-searching dokter kandungan atau bidan yang mungkin mau membantu ku di akhir-akhir masa kehamilan ini. Secara tidak sengaja saat aku dan suami belanja kebutuhan herbal di toko langganan kami, penjaga toko bercerita panjang lebar tentang istri pemilik toko yang belum lama melahirkan anak ketujuh secara sesar, padahal anak pertama hingga keenam lahir secara normal di klinik seorang dokter. Iseng-iseng aku tanyakan dimana biasanya istri pemilik toko itu cek up kehamilan. Batinku berkata mungkin saja dokter ini bisa membantu. Esok harinya  aku dan suami berangkat menuju klinik dokter tersebut, sungguh aku berharap dokter tersebut mau membantuku. Sampai klinik aku tidak menunggu lama dan langsung masuk ruang periksa. Dokternya ramah, suaranya lembut dan mulailah si dokter tersebut melakukan USG. Dokter berkata BBJ adik bayi 3 kilogram, air ketuban masih banyak. Alhamdulillah nambah bbjnya banyak, ucapku dalam hati. Tanpa basa basi aku pun langsung menanyakan apakah aku bisa melahirkan normal. Dokter menjawab bahwa hal itu adalah riskan, beresiko sekali, rahimku sudah menipis menurut pemeriksaannya. Aku pun mengatakan bahwa hasil konsultasi dengan dokter di tempat biasa aku cek jawabnya adalah aku bisa melahirkan normal. Dokter pun menanyakan berapa usia anakku yang pertama. Kujawab dua tahun. Lalu ia menyebutkan bahwa jarak minimal untuk lahiran normal setelah sesar itu 3 tahun, kalau kurang dari itu beresiko, karena di khawatirkan luka jahitan belum kering betul dan nanti bisa berakibat robek rahim. Ia kemudian menanyakan kenapa aku tidak konsuktasi dengan dokter yang itu lagi. Kujawab karena dokternya mau cuti melahirkan, HPLnya beda dua minggu denganku. Kemudian dokter itu menyarankan agar aku pergi ke RS besar terdekat dari rumahku, konsultasi dengan dokter di sana, nanti biar dokter tersebut yang menentukan baiknya gimana. “Tp kalau menurut saya ini beresiko sekali, dan menurut saya lebih baik ibu sesar lagi daripada nanti terjadi yang tidak di inginkan.” Lanjut sang dokter. “iyah dok… Saya enggak bisa kah dok lahiran disini?” Tetep kekeh nego. “Enggak bisa bu, ini cuma klinik bersalin, kita enggak bisa nerima pasien dengan riwayat seperti ibu, pokoknya ibu coba aja dulu datang dan konsultasi ke dokter kandungan di RS SA.” Aku pun menjawab insya Allah.

Sampai di dalam mobil, aku coba menenangkan pikiran kembali, tarik nafas dan menghela nafas panjang. Batin ini berkata, sekali lagi Engkau mengeliminasi orang yang memang tidak bisa membantuku Ya Allah, ini pasti sudah rencana Engkau dan ini jalan yang Engkau beri agar hamba kuat. Sepanjang perjalanan aku mencoba whatsapp mba M, aku ceritakan apa yang barusan terjadi, Alhamdulillah hasil whatsapp dengan mba M membantu membangkitkan semangat saya. Mba M berkata, kalau sudah hamil tua wajar rahim terlihat menipis kan seperti balon yang semakin besar maka semakin meregang. Bedanya balon made in somewhere, sedangkan Rahim ciptaan Allah. Sudah didesain sedemikian rupa mampu menjadi tempat tinggal bayi sebelum kahir ke dunia. Right! Secara logika masuk banget dan aku pun menjelaskan perkataan mba M kepada suami, tujuannya biar suami juga tenang dan tetap di jalan yang sudah kami rencanakan.

38 minggu, ibuku akhirnya tau kalau aku sudah tidak lagi melakukan cek up ke dokter X. Aku mencoba menjelaskan kepada ibuku tapi aku tidak menceritakan hasil USG terakhirku dengan dokter X. Aku hanya tidak mau membuat khawatir ibuku dan berusaha untuk tidak ada yang mengganggu pikiranku terlebih rencanaku, karena aku tau sekali bagaimana sikap ibuku kalau sampai tau kabar yang kurang baik seperti hasil USG terakhir dengan dokter X. Alih-alih bukan tetap mendukungku yang mau lahiran normal malah bakal mendukung dokter X yang berencana sesar aku lagi. Huffttt…

Aku dan suami kemudian pergi cek up ke salah satu rs dekat rumah. Di sana hanya ada satu orang dokter kandungan wanita dan mau enggak mau hanya sama dokter itu aku bisa cek up. Cukup lama mengantri menunggu panggilan untuk masuk ke ruangan dokter dan setelah akhirnya masuk juga, seperti biasa perawat menensi tekanan darahku, dan mencatat informasi tentang kehamilan ku. Tak lama Dokter G langsung menyuruhku berbaring di tempat tidur dan memulai memeriksa ku dengan USG. Slama pemeriksaan USG berjalan sekali lagi tanpa basa basi langsung saja aku ngomong ke intinya, itulah aku hehehe #intermezzoo. “Hah… Enggak bisa bu, jaraknya dengan anak pertama terlalu dekat, ini juga si adik ada lilitan di leher.” Hah, gantian aku yg kaget, perasaan seminggu lalu ga ada masalah, ngomong dalam hati. “Lilitan di leher 2 cukup ketat, coba bapak lihat nih (manggil suami ku) ini yang putih tali pusat pak, kelihatan kan?” Suamiku cuma ngangguk-ngangguk, mungkin enggak begitu paham. “Air ketubannya gimana dok?” Tanyaku. Kurang, sedikit sekali, jawabnya. “Kalau tebel rahimnya? SBR dok…” Tanyaku lagi. “Sebentar… Cuma 8 koma sekian mili (aku lupa berapa komanya), syarat untuk bisa normal paska sesar itu menurut literatur ini (aku juga lupa literatur apa yang dokter ngomong waktu itu, pokonya semacam jurnal kedokteran) 17 koma sekian mili, ini ibu enggak ada setengahnya…” Jelas sang dokter. Aku mulai merasa pesimis, tapi aku berusaha tetap berpikir waras karena jujur saja ini di luar dugaanku, hasil cek up kali ini benar-benar menguji keyakinanku. “Beratnya 2,9 kilo posisi kepala sudah di bawah banget bu…” Lanjut sang dokter. Stelah selesai usg dokter tersebut kembali duduk di kursinya dan menjelaskan panjang lebar perihal sesar dan resiko kalau  aku mau lahiran normal. Dokter pun menanyakan tentang BPJS, kali ini suami yang menjawab karena aku udah mulai bingung, pusing, galau. “Oke, hari ini saya kasih pengantar untuk rujukan sesar besok lusa, bapak bisa urus hari ini atau besok dan langsung kasih saja ke perawat, besok ya pak.” Kata sang dokter. Aku kaget dan kukatakan bahwa aku ingin 
mendiskusikannya dengan keluargaku dan aku juga ingin menenangkan diri dulu. Dokter berkata, “Santai aja bu… kan udah pernah sesar sebelumnya, enggak usah khawatir.”

Justru sesar sebelumnya itulah perkara besar bagi ku, bisa saja nyawa ku di ambil saat operasi dan aku enggak liat keluarga ku lagi sama sekali saat itu. Sesar kan bukan perkara mudah. Kok bisa yah di suruh santai kayak di pantai, batinku dalam hati.

Dokter pun memintaku untuk cek lab terbaru. Perawat menyerahkan kertas rujukan cek lab ke ku. Aku coba ngomong ke perawat kalau aku enggak bisa secepat itu. Perawat pun mencoba membujuk ku untuk cek lab aja dulu, masalah mau operasi kapan bisa di omongin lagi, tapi aku kekeh enggak mau besok lusa. Akhirnya perawat kasih tau perbincangan ku dengannya ke dokter. Dokter lagi-lagi menghela nafas, mungkin karena sebel juga liat sikap kekeh saya. “Ibu sekarang cek lab yah. Udah, enggak usah mikirin apa-apa, biar si bapak yang ngurus segala administrasi, saya yakin bu 2-3 hari lagi bakal ada kontraksi.”

Dengan perasaan yang udah campur aduk, suami pun juga sama, kami melangkah keluar ruangan dokter. Langsung saja kertas rujukan lab ku masukan ke dalam tas dan aku bilang ke suami, “Enggak usah cek lab, yuk pulang…” Namun disini muncul drama antara aku dan suami, suami kekeh minta aku untuk cek lab tapi aku minta sama suami untuk sholat dulu karena saat itu aku belum sholat ashar. Selesai sholat aku lanjut membujuk suami untuk pulang tapi raut wajah suami menunjukkan kekhawatiran dan enggan untuk beranjak pulang. Di sinilah aku merasa, aku yang harus kuat karena partner ku satu-satunya sudah mulai redup. Aku mencoba ngomong ke suami dengan sangat hati-hati. Aku bilang aku merasa baik-baik saja, bukannya aju tidak percaya dengan keahlian seorang dokter kandungan tapi hati aku mengatakan “I AM OKAY”. Suami berkata bahwa dia begitu khawatir akan diriku, apapun dia ikuti asal aku selamat dan adik bayi juga. Bingung harus bagaimana lalu ku WA mba M, ku ceritakan kejadian hari ini, lalu mba M pun membalas menanyakan bagaimana feelingku. Aku jawab bahwa aku masih merasa yakin aku bisa VBAC, bukan coba-coba tapi memang VBAC harus dengan ilmu. Perihal adek bayi yang lehernya kelilit tali pusar di jelaskan oleh mba M bahwa insya Allah itu merupakan tanda bahwa tali pusar adek bayi panjang dan insya Allah dapat mencegah terjadinya terputusnya tali pusar atau cord prolapse saat proses persalinan nanti, Naudzubillah min dzalik.

Di rumah, keadaan suami masih belum stabil, kembali lagi aku harus membangun spiritnya, aku banyak berbicara dengannya dari hati ke hati, karena siapa lagilah yang akan benar-benar mensupport ku kalau bukan suami ku, abi dari anak-anak ku. Disini kami benar-benar merasa lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, kami berdua menangis bersama dan akhirnya Alhamdulillah semangat kami kembali berkobar. Aku meminta kepada suami untuk merahasiakan hasil pemeriksaan hal ini ke ibu ku atau siapapun, cukup kami saja yang tau. Dan benar saja tak berapa lama ibuku menelpon ku, beliau bertanya tentang hasil pemeriksaan tadi. Aku jelaskan bahwa semua baik-baik saja. Ya Allah, sungguh enggak ada niatan untuk berbohong dalam hal ini, aku hanya tidak ingin orangtua ku khawatir dan terlebih tidak ingin ikhtiar ku yang sudah sejauh ini harus batal. Aku juga menjelaskan kalau dokternya menyuruh untuk sesar, dan ibuku seperti pasrah dengan kenyataan yang ada bahwa tidak ada dokter yang mau menolong ku, dan pada akhirnya ibuku berpesan, “Kalau memang kamu tetap yakin untuk lahiran normal coba kamu cari lagi dokter yang mau untuk membantu kamu, atau siapa aja, mungkin bidan yang kamu kasih tau waktu itu.”

Aku pun mendiskusikan birthplan ke mba M setelah semua dokter yang kudatangi menyarankan SC. Ada satu bidan sebenarnya yang aku pernah sekali cek up dengan bidan itu. Waktu itu aku cuma mau nyari tau apakah bidan R bisa membantu ku untuk VBAC. Bidan R ini bidan senior, dia pernah membantu sepupu suami melahirkan anak pertama tanpa di bantu induksi. Kalau cerita dari sepupu suami bidan R ini tidak mau maen induksilah atau merujuk SC dsb.. Bidan R saat itu memang bilang bisa membantu ku namun dengan syarat BBJ tidak boleh lebih 2,6 kg. Sementara selama ini BBJ menurut Spog harus di atas itu. Sangat bertolak belakang memang. Well.. allahu’allam kalau persoalan ini akhirnya aku sampai kepada akhir pemikiran bahwa sejatinya tidak ada yang tau berat si bayi nanti terlahir berapa. Bisa saja hasil USG terakhir menyatakan sekian kg tapi terlahirnya di atas itu atau bahkan di bawah itu, karena banyak kenyataan yang membuktikan BBJ dari hasil USG terkadang melenceng jauh dari kenyataan yang ada. Karena itulah aku merasa condong untuk divantu oleh bidan R. Mba M bilang, bahwa yang penting sudah ada komunikasi sebelumnya, bahwa kita ingin VBAC. Walau nakes menolak sekalipun tidak ada masalah. Yang penting datang di waktu yang tepat.

Menjelang kehamilan yang mulai mendekati HPL, akupun lebih merasa tenang. Aku banyak bergerak, setiap aktifitas ku usahakan dalam keadaan jongkok, mandi, nyuci baju, ngepel, nyapu kolong pun aku bawa berdiri jongkok. Niatnya untuk lebih memperdayakan diri ku, membuang jauh-jauh kata malas, karena malas lah salah satu faktor aku dulu di sesar. Selain itu aku tetap menjaga asupan cairan. Alhamdulillah aku bersyukur hasil pemeriksaan kemarin aku jadikan teguran untuk lebih menjaga asupan cairan dan menambahnya lagi. Kalau sebelumnya sehari 3-4 liter, saat ini minimal 4 liter dan selebihnya lebih sering dalam satu hari minum 5 liter air putih + air kelapa. Aku juga usahakan menjaga pola makan, mengurangi karbohidrat, lebih banyak sayur dan buah-buahan. Walaupun hasil USG terakhir adik bayi 2,9 kg, bukan karena alasan itu aku melakukannya karena aku mau tetap sehat dan aku mau adik bayi juga sehat. Tambahan yang lain seperti minyak zaitun, gamat gold dan kurma insya Allah semua itu adalah ikhtiar ku di masa-masa mendekati HPL. Aku percaya HPL bukanlah patokan baku untuk menentukan kapan si adik bayi harus lahir, tapi tidak salah kita lebih menjaga segalanya untuk tetap dalam kondisi baik saat hamil tua. Dan yang paling terpenting bagi ku adalah KUASA ALLAH, aku hanya seorang hamba yang berusaha mengikuti keyakinan ku atas apa yang Allah ciptakan. Allah SWT sudah menciptakan alat reproduksi lengkap untuk hidup seorang bayi di dalam perut manusia dan untuk keluarnya si bayi tersebut dari perut ibunya, dan aku yakini itu. Lebih khusyu ku beribadah dan berdoa, memperlama sujud di setiap sholat. Aku tetap harus sabar dan ikhlas, tetap semua aku serahkan kepada Allah SWT karena Allah lah yang menentukan.

===

Kamis 10 november 2016, pagi hari tiba-tiba aku merasakan kontraksi tidak seperti biasanya. Sebelum hari ini aku juga sempat merasakan kontraksi palsu beberapa hari belakangan ini. Aku coba mencatat setiap kontraksi yang datang dan hasilnya sudah lebih intens 15 menit sekali, walaupun belum kuat rasa kontraksinya. Suami pergi kerja dengan perasaan sedikit cemas, aku katakan, “Aku baik-baik saja, belum ada yang perlu di khawatirkan tapi nanti kalau sudah lebih terasa kuat kontraksinya aku telpon kamu yah”. Siang harinya muncul lendir kecoklatan, aku bersyukur mungkin inilah muccus plug yang ku nantikan. Aku tetap beraktifitas seperti biasa dan sempat juga mengajak si kakak maen ke rumah tetangga sambil terus menikmati setiap kontraksi yang datang. Tiba-tiba suami meenelpon menanyakan kabar ku, ku katakan kalau kontraksi mulai lebih kuat dan masih intens 15 menit sekali, akhirnya suami pun memutuskan pulang ke rumah. Malam harinya aku sulit tidur, kontraksi makin menguat dan jaraknya sudah lebih dekat 10 menit sekali, dan aku pun memilih daripada menahan sakit aku lebih baik jalan-jalan mengelilingi rumah. Setengah jam berjalan-jalan mengelilingi rumah ku putuskan untuk tidur saja, untuk mencharge tenaga agar nanti saat itu tiba aku punya cukup pasokan energi. Namun kembali lagi jam 02.30 dini hari aku terbangun merasa tidak bisa tidur lagi. Aku bawa lagi berjalan-jalan mengelilingi rumah, goyang inul, dan makan beberapa butir kurma. Setengah jam kemudian aku mulai merasakan lelah dan memutuskan untuk tidur lagi. selama berjalan-jalan mengelilingi rumah muccus plug terus keluar lebih banyak dari yang keluar pagi hari.

Adzhan subuh berkumandang, suami membangunkan ku untuk sholat dan pamit ke mesjid, ku katakan kepadanya bahwa aku keluar banyak lendir kecoklatan semalem dan baru tidur jam 3 pagi. Akhirnya suami menyuruh ku untuk tidur lagi. Suami mengajak ku untuk jalan pagi sekitar komplek rumah, lucunyaa kontraksi yang sudah menguat dan intens itu hilang. Mungkin si adik bayi lagi tidur karena semalaman cukup melelahkan baginya. Aku bersyukur dengan begini aku lebih enak untuk jalan pagi, jalannya pun bukan jalan santai, langkah kaki ku percepat dan intensitas bolak-balik dari depan komplek ke blok rumah ku lebih ku perbanyak, memang tidak terlalu jauh kurang lebih hanya 200 meteran, tapi alhamdulillah aku syukuri saja semua ini. Suami izin untuk kerja dan meminta ibunya (bumer saya) untuk menjaga ku.

Siang hari kontraksi kembali datang, ibuku menelepon seakan-akan ada feeling kalau anaknya ini sedang dalam proses menuju persalinan. Ibuku banyak bertanya dan ujung-ujung ayah dan ibuku mau ke rumah nengok kondisi ku. Aku berusaha mengontrol diri setiap kontraksi datang, tetap makan tetap beraktifitas seperti biasa mengurus si kakak meski ibu mertua di rumah. Aku juga sempatin tidur siang sama si kakak dengan harapan untuk mengumpulkan energi kalau-kalau malam ini aku melahirkan. Ayah ibuku pun datang dan suami pun juga sudah pulang. Melihat kondisi ku yang terlihat seperti orang yang mau melahirkan, kata ibuku keringetan, orang tua ku dan ibu mertua sepakat untuk membawa ku ke rs. Aku sempat menolak karena aku rasa ini belum waktunya tapi akhirnya luluh juga dengan ajakan mereka. Kupikir tidak ada salahnya aku menuruti permintaan orang tua. Kami berangkat ke rs yang dahulu tempat ibu mertua melahirkan anak-anaknya kecuali suami ku, rs tempat dulu aku cek up saat hamil si kakak. Di perjalanan kontraksi makin menjadi dan jaraknya pun semakin dekat, aku tidak tau pasti sudah berapa menit sekali kontraksi itu datang karena aku sibuk menenangkan diri dan berusaha mengatur nafas untuk menikmati setiap kontraksi itu datang.

Jam 8 malam kami sampai di rs, aku dan suami langsung masuk ke IGD dan hampir sama seperti dulu, aku dan suami di sambut oleh perawat-perawat. Mereka menanyakan banyak hal untuk melengkapi berkas administrasi. Aku di minta masuk ke ruangan dan mulai di cek macam-macam. Dokter jaga pun datang memperkenalkan diri sambil USG, dokter bilang kalau kepala si adik bayi sudah di bawah sekali tapi kenapa masih pembukaan 1? Jujur aku malas sekali untuk menjalani pemeriksaan ini karena aku seperti sudah tau ujung-ujungnya bakal di suruh SESAR, dan benar saja dokter jaga menelepon dokter SpOg yang bertugas malam itu dan mendapatkan hasil kalau aku harus SESAR MALAM ITU JUGA. Aku langsung sms suami, saat semua pemeriksaan berlangsung suami tidak boleh berada di ruangan pemeriksaa, aku katakan aku mau pulang. Dokter jaga pergi dan suamiku masuk ke dalam, aku berkata kepadanya bahwa aku mau pulang, aku mau pulang. Dan seperti tau isyarat ini suami pun mangangguk tanda OKE kita pulang.

Dokter jaga pun datang, menjelaskan macam-macam hal termasuk rencana sesar malam ini karena aku sudah ada kontraksi tapi pembukaan masih 1. Selesai dokter menjelaskan suami langsung berkata kalau kami mau pulang dulu. Dokter jaga seperti tidak percaya dengan kata-kata suamiku dan mencoba menjelaskan dengan nada bicara yang cukup tinggi “Bapak, ini ibu sudah ada mules, ibunya ada riwayat sesar dan jarak kelahiran anak pertama dan ini belum ada 2 tahun, bapak tau resikonya kalau sudah begini bisa robek rahimnya si ibu?” Suami langsung menjawab, “Ini tanggung jawab saya.” Dan dokter jaga pun pasrah, menyuruh kami menandatangi surat penolakan intervensi dan juga menelepon dokter SpOg kalau aku menolak untuk sesar. Sebelum keluar ruangan suami Di beri tau salah satu perawat, “Kalau ada apa-apa sama si ibu langsung ke puskesmas atau ke rs dekat rumah ya pak.” Katanya sambil menyodorkan surat penolakan intervensi yang tadi aku dan suami tanda tangani.

Selagi menunggu suami mengurus administrasi ayahku terus memintaku untuk sesar saja. Bagi ayahku mungkin ini sudah jalannya dari Allah. Kasihan kamu dan bayi kamu, katanya. Tapi alhamdulillah ibuku terus mendukungku. Menurut ibuku aku masih sanggup menjalani ini dan percaya aku bisa lahiran normal kali ini. Ayah dan ibukupulang ke rumah sementara aku, suami, ibu mertua dan si kakak pulang ke rumah ibu mertua. Antara nekat atau ikhtiar, sebelum pulang aku minum ¾ botol minyak zaitun sambil berdoa, ya Allah mudahkanlah proses persalinan ini, berharap Allah mudahkan jalan lahir buat si adik bayi agar mudah dia keluar. Selama di rumah mertua aku berusaha tidur dengan berbagai posisi sambil berusaha menahan sakitnya kontraksi yang datang 3 menit sekali, namun tetap saja aku tidak bisa tidur. Aku coba sujud setiap kontraksi datang tapi tetap kurang membantu untuk dapat posisi nyaman menikmati setiap kontraksi yang datang. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan dan sesekali jongkok berdiri, pokoknya tetap aku usahakan untuk membantu kelahiran si adik bayi. Aku ingat aku harus tenang, harus happy karena insya Allah sebantar lagi aku akan bertemu dengan si adik bayi. Aku coba untuk mensugesti diri sendiri bahwa INI TIDAK AKAN LAMA… INI HANYA SEMENTARA… NIKMATI DAN RILEKS… TARIK NAFAS DALAM DAN HEMBUSKAN.. Selalu aku katakan seperti itu ke diri ku sendiri setiap kontraksi datang, dan ku elus-elus pinggang ku sendiri karena suami sudah tidur dan aku juga enggak mau merepotkannya, dia pasti capek, toh nanti aku juga pasti akan bangunin dia kalau udah tidak sanggup dan merasa benar-benar ingin melahirkan.

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari, rasa kontraksinya juga sudah tidak karuan. Aku juga mendapati banyak lendir bercampur darah keluar, dan perasaan ku mengatakan insya Allah enggak akan lama lagi ini. Aku bangunin suami ku, aku bilang sudah enggak kuat kayaknya harus pergi sekarang juga ke bidan R. Yah, akhirnya aku memutuskan untuk dibantu oleh bidan R.

Suami menyarankan kalau nanti setelah subuh saja berangkat ke Bidan R tapi aku kekeh mau sekarang. Selagi suami siap-siap dan beritahu ibu bapaknya aku masih usaha jongkok-berdiri jongkok-berdiri, sambil berharap “mudah-mudahan sampai sana langsung melahirkan.” Aku pun ijin menitipkan si kakak yang sedang tidur ke ibu mertua walau rasanya agak sedih karena selama ini dia tidak pernah jauh dari ku dan sekarang aku harus meninggalkan dia untuk melahirkan adiknya, tanpa dia di sisi ku. Sebenarnya ingin sekali kuajak ia menyaksikan momen kelahiran adiknya. Namun apa daya, ibu harus melakukan apa yang ibu harus lakukan.

Selama perjalanan suami berusaha melaju mobil dengan tenang tapi Qadarullah jalan yang ingin kami lewati masih dalam kondisi macet saat itu, padahal waktu menunjukkan sudah pukul 02.20 pagi. Akhirnya suami balik arah dan langsung masuk akses tol. Sepanjang tol aku duduk di bangku belakang mobil dengan kondisi menahan sakit kontraksi dan terus berdoa sambil sesekali aku mencoba deep breathing. Melihat kondisiku seperti itu suami pun ikut tegang, dan tanpa dia sadari cukup cepat sekali dia memacu mobil di jalan tol yang kebetulan Alhamdulillah sepi.
Alhamdulillah kami akhirnya sampai di depan gang masuk rumah bidan R. Mobil diparkirkan di pinggir jalan raya seberang gang. Aku dibantu suami berjalan masuk ke gang. Dari depan gang ke rumah bidan R memang tidak begitu jauh, kurang lebih 100 meter, tapi lumayan bagi ku yang saat itu sedang menikmati kontraksi yang aduhai. Setiap kontraksi datang aku berdoa dan meremas baju suami. Hingga sampai di depan rumah Bidan R kuketuk-ketuk pntunya. Karena sudah jelas kondisinya saat itu masih dini hari, pasti orang-orang sedang terlelap dan mimpi indah, Bidan R pun membukaan pintu dengan sedikit bingung karena ada sepasang suami istri dengan tampang lelah. Aku langsung bilang kalau aku saudaranya fulanah yang waktu itu pernah konsultasi ke ibu. “Tolong bantu saya buu…” Bidan R langsung menyuruhku ke salah satu kamar untuk melahirkan. Aku diminta berbaring dan bidan R melakukan VT. Kutanyakan padanya sudah bukaan berapa. Bidan R menjawab, “Sudah bukaan 8 ini.” Alhamdulillah… Aku bersyukur sekali. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 kurang dan azan subuh pun berkumandang, namun jalan lahir masih tebal pembukaan juga, masih 8, aku sadar kalau di paksakan mengejan bisa bengkak, sedang saat itu aku sudah merasakan dorongan untuk mengejan. Air ketuban pun sedikit-sedikit mengucur dan basahlah bajuku. Suami saat itu mencoba menenangkanku sambil sesekali menyuapi kurma dan meminumkan air zam-zam tapi aku terus berkata bahwa aku mau mengejan, sudah tak kuat menahannya. Akhirnya suami menyerahkan lengannya untuk digigit kalau aku merasakan sakit kontraksi dan dorongan untuk mengejan. Sementara itu bidan R ijin untuk sholat subuh dulu. Jam 5 lewat 10 bidan R datang mengecek ku lagi dan akhirnya dia meminta ku untuk mencoba mengejan. Dua kali ku mencoba mengejan tapi gagal. Kali ketiga saat mengejan bidan R ijin untuk “menggunting”, aku dan suami pasrah dan menyetujui saja. Dengan sekali mengejan yang agak panjang…. Alhamdulillah lahirlah si adik bayi berjenis kelamin perempuan jam 05.22 WIB dengan berat 2,9 kg dan panjang 48 cm. Ia langsung di taruh di badan ku. Seketika hilang sudah rasa sakit kontraksi, dan benar kata orang-orang rasanya plong banget…Alhamdulillah. Masya Allah.

***

Sungguh… momen haru saat itu adalah ketika aku mencoba mengingat perjalanan kehamilan kemarin dengan segala macam halau rintangnya, ayah ibu ku pun menangis di rumah ketika mendapat telepon dari suamiku dan memberitahu kalau aku sudah melahirkan, dan… melihat suami juga menangis saat adik bayi akhirnya keluar secara alami. Alhamdulillah Masya Allah.

Akhir cerita terima kasih untuk suami dan keluargaku, terima kasih teman-teman di grup support VBAC walau aku sebenarnya sempat hilang dari grup. Big thanks untuk mba M yang begitu sabar dan maa syaa Allah kisahnya sangat menginspirasiku saat kontraksi datang dan aku berjalan-jalan di ruang tamu rumah mertua ku baca lagi kisah mba M dan membuat ku tetap istiqomah untuk tetap berjuang dan tidak menyerah. Tetaplah semangat buat ibu-ibu pejuang VBAC dalam memberdayakan diri, perkaya diri dengan ilmu sebelum dan selama berjuang untuk vbac…

wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,
Hapsari

One thought on “Kisah VBAC Hapsari

  1. Masya Allah, mbak. Mengalir air mataku. Sungguh jalan berliku penuh halau rintang tak menyurutkan tekadmu. Titip kecup sayang untuk adek bayi, sehat selalu, segera pulih dan semangat menyusui.

Comments are closed.