Kisah VBAC Eva


image

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah

28 Muharram 1436 H/ 21 November 2014 pukul 00.55 WIB lahirlah putra ke-2 kami, yang kami beri nama Muhammad, di rumah kami yang penuh cinta, di dalam kolam air hangat dengan berat badan 4,1 kg dan panjang 51cm. Sungguh tidak ada daya tanpa pertolongan Allah. Allah yang Maha Mengatur, mulai saat terjadinya konsepsi yang hanya Dia -lah yang mengetahui kapan saatnya hingga tercapainya harapan dan doa-doa yang senantiasa kami panjatkan agar kehamilan ini sehat, anak kami sehat dan dapat melahirkan normal di rumah kami.

Maret 2014, memasuki bulan ini aku mulai merasakan bahwa ada janin di dalam rahimku, karena memang sejak kelahiran Ibrahim dengan proses Sectio Caesarean kami sangat menjaga agar tercapai batas aman untuk dapat melahirkan anak selanjutnya pervaginam (meski banyak juga yang berhasil normal setelah caesar dengan jarak kehamilan hanya 3-4 bulan dari dari caesar sebelumnya). Hingga akhirnya, di 9 Maret 2014 saya memberanikan diri untuk testpack mandiri saat suami sudah di kantor, Alhamdulillah 2 garis, rasanya antara senang dan khawatir.

Sejak putra pertama kami berusia sekitar 1 tahun, kami sudah mulai mempelajari ilmu terkait proses kehamilan dan persalinan yang tidak kami miliki pada persalinan yang lalu. Tak bosan saya menyampaikan ke suami apa saja info yang saya dapat hari itu. Saya pun nyemplung ke beberapa supporting grup VBAC yang base mereka di luar negeri, karena memang kami tidak menemukan yang base-nya di Indonesia pada saat itu. Masuk juga ke grup melahirkan alami yang bernama Gentle Birth Untuk Semua, berawal dari chatting dengan Kak Malda yang pada saat itu tengah hamil dan merencanakan kelahiran anak ke-2 nya.

Membaca kisah kelahiran baik dari ibu-ibu di Indonesia ataupun dari web dan blog orang luar negeri sana, menjadikanku banyak belajar dan memahami bahwa setiap kehamilan dan persalinan itu memiliki kisahnya masing-masing yang unik dan Allah lah yang menakdirkannya. Selain itu menonton video dan membaca tentang The Business of Being Born pun kami lakoni, dan benar-benar membuat kami tersadar, bahwa dewasa ini kian sedikit manusia yang membentengi dirinya, bahwa kelak semua akan dihisab, semua yang kita lakukan ada ganjarannya, bisa di dunia dan pasti di akhirat kelak.

Perjalanan mencari tenaga kesehatan yang cocok dengan kami pun bukanlah perjalanan mudah, setidaknya 5 nama dokter spesialis kandungan yang kami datangi di 3 rumah sakit berbeda, juga 6 bidan tempat kami konsultasi, dengan memegang 2 nama dokter kandungan laki-laki sepuh yang akan didatangi jika memang benar-benar mentok tidak menemukan tenaga kesehatan yang cocok untuk membantu kelahiran anak ke-2 kami.

Mulai dari dokter yang saklek pada ketentuan SBR (Segmen Bawah Rahim) dan pemberian vitamin dengan harga menjulang namun dikenal pro normal, dokter atau rumah sakit yang alatnya kurang baik, dokter yang manis di depan mendukung namun faktanya saat kami mencari info lebih jauh tingkat kelahiran Sectio Caesarean yang ditanganinya begitu tinggi, dokter yang ala kadarnya memberikan informasi kepada kami, hingga dokter yang mewajibkan lebar panggul itu nilai utama faktor pendukung Vaginal Birth After Caesarean. Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah

Perjalanan saya mendapatkan ridho suami untuk dapat melahirkan di rumah dengannya dan tenaga kesehatan yang mendampingi pun tidak berjalan mudah. Meski dari awal beliau mendukung saya untuk dapat melahirkan alami di kelahiran-kelahiran anak kami selanjutnya. Beliau menyetujui namun proses persalinan harus di klinik bidan. Sungguh saat itu saya hanya berharap pada Allah yang Maha Membolak balikkan hati manusia untuk melunakkan hati suamiku, karena saya ingin persalinan yang nyaman buat saya dan aman untuk semua. Saya sangat malu dan risih ketika aurat saya harus terlihat banyak orang layaknya di rumah sakit (suster atau bidan yang berganti sesuai shift, dokter yang tidak mungkin menemani full dr awal sampai selesai), hingga momok The Business of Being Born yang senantiasa terngiang di kepala saya. Saya menyadari bahwa diri ini tak kan nyaman jika harus bolak balik ke toilet jika bukan di rumah sendiri, dan saya sangat memikirkan Ibrahim, putra pertama kami yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, saya tidak mau jauh dari dia dan saya pun tidak mau membuat dia tidak nyaman. Akhirnya, saya memberanikan diri suatu hari menyampaikan ke suami “Hon, ini(-menunjuk perut ) anak kita, tapi akulah yang melahirkannya kelak, biarkan aku memilih persalinan yang nyaman untukku selama semua dalam keadaan baik” ~ kurang lebih begitu yang saya sampaikan ke suami. Mungkin bagi sebagian orang yang membaca saya terkesan egois? Namun bagi saya tidak, karena sayalah yang hamil dan sayalah yang akan melahirkan, rasa dan perasaan apapun yang terjadi selama proses itu saya lah pemain utamanya. Dan, suamipun mengijinkan saya melahirkan di rumah, hanya Allah yang Maha Kuasa membolak balikkan hati manusia. Alhamdulillah, dukungan suami itu bagai memiliki dunia dan seisinya.

Mengapa saya begitu bersikukuh untuk melahirkan secara normal? Karena kami ingin mempunyai anak yang banyak, tidak dibatasi karena SC. Karena saya tidak nyaman dan sangat malu aurat saya terbuka kepada orang-orang yang asing bagi saya apalagi yang bukan mahram saya, karena saya ingin selalu bersama bayi kami, suami dan ibrahim. Kami tidak mau Ibrahim merasa sendiri dan tersingkirkan karena proses kelahiran adiknya, karena kami berharap mereka saling menyayangi, saling menjaga, saling mengingatkan dan menasihati dengan cara yang baik kelak, maka kami menginginkan awal pertemuan yang baik bagi keduanya. Kami ingin hormon dan suasana yang ada pada saat kami mengusahakan kehadiran bayi ini di dalam rahim dan keluarga kami, juga ada pada saat saya melahirkan bayi ini nantinya.

Sembari kontrol ke dokter kami pun menjalani pencarian bidan, mulai dari bidan yang bersedia namun Qadarallah karena kesehatan beliau tidak bisa mendampingi rencana homebirth kami, kemudian bidan sekitar yang menolak kami karena alasan belum 5 tahun jarak dengan kelahiran sebelumnya, bidan yang pada saat kami menghubunginya belum bisa mendampingi kelahiran di rumah karena ijin suaminya, bidan yang saat pertemuan pertama kami dengannya ada rasa yang membuat kami sangat tidak sreg, ada juga bidan yang dekat dari rumah kami namun beliau saat itu juga sedang hamil dan HPL nya berjarak sekitar sebulan saja dari HPL saya, hingga Bismillah kita coba lobby bidan yang terjauh lokasinya dengan kami, dengan ijin Allah tentunya beliau menyambut baik meski jarak tempuh rumahnya ke rumah kami jauh, bidan di Tambun, Bekasi dan kami saat itu di Bojonggede, Bogor.

Sekitar bulan Agustus 2014, kehamilan saya saat itu sekitar 26 minggu, akhirnya permintaan pertemanan saya dengan seorang yang melahirkan di rumah setelah 2 kali menjalankan Sectio Caesareans pun diapprove, Mbak Muti, aah bahagia sekali, karena memang banyak yang ingin saya tanyakan langsung setelah saya membaca birth stories beliau sekitar bulan Desember 2013, yang linknya diberikan oleh seorang sahabat yang seperti mbak sendiri untukku, yang sudah sejak lama mendukungku mulai sebelum hamil dan melalui dirinya pula awal aku mengenal pelaku melahirkan alami, karena secara langsung bertemu dengan Mbak Rule. Dan dibuatlah grup wa untuk mensupport ibu hamil yang berniat Vaginal Birth After Caesarean pun Vaginal Birth After Multiple Caesareans.

Hingga saat 34 minggu usia kehamilan saya, bidan yang akan mendampingi proses persalinan datang survey ke rumah, berbincang dengan kami, hingga suami menyampaikan ketakutannya akan darah karena pernah menolong Kung( kakeknya) kecelakaan. Namun mbak bidan menyampaikan bahwa darah persalinan itu jauh berbeda dengan darah kecelakaan. Sampai di sini kelegaan saya selanjutnya, karena sesaat setelah suami mengijinkan melahirkan di rumah, beliau juga menyampaikan bahwa akan mengungsi ke pos satpam saat persalinan, biarlah saya dan bidan saja, karena ketakutannya akan darah. Suami pun menandatangani surat persetujuan melahirkan di rumah, Alhamdulillah. Dan mbak bidan pun membekali kami dengan doppler, sehingga kami bisa mengecek detak jantung janin kami sewaktu-waktu.

Memasuki usia kehamilan 37 minggu, kami berencana menyambangi satu dokter kandungan yang sempat mendukung teman untuk vba2c meski akhirnya teman ini melahirkan di rumah dengan bidan, untuk mengecek kondisi kehamilan dan janin kami. Kami pun berencana jika semua sehat saja, ini kali terakhir mengunjungi dokter kandungan di kehamilan ke-2 ini. Berbekal hasil lab cek darah juga yang Alhamdulillah Hb normal. Hasilnya, ketuban banyak jernih, plasenta mulai ada pengapuran (ok, ini wajar dalam benak kami karena toh sudah hamil tua), berat badan bayi 2,6 kg, ada 1 lilitan di leher adik, dan beliau berencana mengecek panggul di pertemuan selanjutnya minggu depan ( kami tidak datang).

Alhamdulillah, hasil yang baik hingga saat ini. Tetap menjaga asupan makanan dan cairan yang masuk, air putih minimal 3 liter 1 hari, air kelapa, menjaga asupan protein yang tinggi, jauh-jauh dari yang berbau instan, pengawet, perasa, pewarna, menjauh dari camilan kurang sehat, memperbanyak konsumsi kurma, minyak zaitun, jeruk dan tomat untuk vitamin C nya. Tetap exercise, memperbanyak all four position, jongkok berdiri, jalan jongkok, senam ala kadarnya di rumah, ngepel jongkok, ngepel merangkak, haha dengan perut besar. Pun bergoyang di gym ball.

Selain exercise, baca-baca, menerapkan ilmu, menjaga asupan, kami yakin bahwa apabila kita mendoakan kebaikan untuk saudara kita, maka malaikat akan meng-aamiin-kan dan mendoakan hal yang sama untuk kita, sehingga di waktu-waktu mustajab kami mendoakan saudara, kerabat, teman yang sedang hamil juga sebagaimana yang kami harapkan untuk persalinan kelak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan do’anya kepada saudarany, pen). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” (HR. Muslim no. 2733)

Mbak bidan sepertinya menyadari kegalauan saya yang penasaran kondisi janin tapi takut ke dokter, karena saya khawatir tidak bisa menghadapi scare tactic mereka. Beliaupun, bela-belain malam berangkat dari Tangerang ke rumah kami di Bogor, sampai sekitar jam 22.30. Sebentar saja kedatangannya, tapi membuat perasaanku lebih nyaman.

Ahad, 16 November 2015 tepat HPL sekitar jam 3 pagi, saya terbangun dan ke wc. Mucus plug pun saya temukan, bahagia jelas, khawatir pun ada karena semakin dekat pertemuan dengan bayi kami. Mengabarkan mbak bidan, tetap beraktifitas seperti biasa, dan memperbanyak jongkok berdiri, juga minum jus nanas. Kontraksi ada tapi belum teratur dan masih bisa dibawa istirahat juga aktifitas.

Senin, 17 November 2014, teman mau main ke rumah dan ngajak ke mall, meski sebenarnya di hari Sabtu, 15 November pun sudah ke mall dengan suami dan Kakak Ibrahim. Akhirnya ijin sama suami, diijinkan, dan kami pun ke mall lagi, haha, saat itu kondisi sebenarnya sudah mulai ada kontraksi yang semakin intens dan berasa. Di perjalanan pulang, baru saya sampaikan ke mereka bahwa saya sudah mengalami tanda-tanda persalinan. Sepulang dari ngemall hari senin itu, semakin intens sekitar 15 menit sekali selama 30 detik sampai 1 menit, masih saya bawa beres-beres rumah sambil nunggu jam suami pulang kantor. Sejak maghrib saya lebih sering goyang di gym ball, semakin kencang berdoa berharap Allah mengabulkan harapan kami, karena kami yakin Allah sesuai dengan persangkaan hamba Nya. Kami pun menginfokan kondisi terkini ke mbak bidan, mbak bidan bilang kurang lebihnya begini, “Oke mbak eva, coba istirahat dulu ya, kalau sampai jam 9 malam masih seperti sekarang dan tidak bisa istirahat, kabari saya ya”. Rasanya tidak bisa dibawa istirahat, entah karena gelombang cinta di rahim ataukah saya yang dagdigdug, entahlah. Tapi, saya mengabari mbak bidan bahwa tidak bisa istirahat, kontraksi pun sama seperti tadi, saya juga infokan rasanya seperti nyeri haid, perut kencang dan udel rata dan keras. Sekitar jam 22.00 mbak bidan wa, “Aku masih di Bekasi mbak Eva, macet banget” #jelang kenaikan bbm saat itu. Suami sudah bersiap dengan kolam dan air, hahaha. Lucu saat ingat kejadian itu, dan ternyata kolam bagian bawah bocor, Alhamdulillah ‘ala kulli hal, ada hikmahnya jadi bersiap agar saat hari H bisa lebih siap.

Selasa, 18 November 2014 jam 00.30 an mbak bidan sampai depan rumah, dipikir beliau kami tidur, nyatanya belum bisa, masih goyang juga di gym ball. Mbak bidan dan asistennya masuk rumah, dan komentar mereka “masih seger mukanya” (batinku, waah jangan-jangan belum pembukaan, mereka udah datang jauh). Benar saja setelah di vt baru pembukaan 2, mungkin efek terlalu cepat ingin ketemu debay dan melahirkan alami. Sejak saat itu Mbak bidan dan asistennya tinggal di rumah kami. Mbak bidan masuk ke kamar, hypnobirthing dengan suara pelan, sambil di elus-elus punggungku, nyamaaan Maa Syaa Allah dan kami pun tertidur. Pagi hari, setelah subuh dan mulai ada matahari kembali memulai rutinitas dan jalan pagi keliling komplek, suamipun mulai cuti. Selepas jalan pagi, dicek tensi, dan divt menuju 3, kami pun sarapan, berbincang dan siang hari datang mbak Maya seorang bidan yang HPL nya beda sebulan dengan saya, datang dengan perut besar membawa kolam cadangan untuk kami Barakallahu fiik mbak. Kami pun mengobrol sambil saya butterfly pose, pun duduk sila dengan telapak kaki berhadapan sambil goyang panggul. Selepas shalat dzuhur dan makan siang mbak Maya pamit pulang, kali itu pertama kali bertemu dengannya. Selepas ashar, mbak bidan cek vt, masih sama dengan tadi pagi, lalu beliau menyampaikan bahwa ada pasiennya 2 orang di klinik sudah bukaan 5 lebih, jadi beliau mau pamit pulang dulu sendiri, sementara asistennya tetap tinggal di rumah kami. Oke mbak gak masalah. Mulai berasa lama sekali padahal tinggal menghitung jam atau hari lagi, saya mulai bosan dan jenuh, saya menangis di pelukan suami, beliaupun menguatkan saya, mengingatkan kembali tujuan kita, mengembalikan kepada Allah, selama ini kita sudah berusaha sebentar lagi in syaa Allah nampak hasilnya. Saya pun menghubungi mbak Muti, curhat dengannya setelah itu baru semakin nyaman. Kami pun tertidur lelap malam itu.

Rabu, 19 November 2014. Pagi hari rutinitas seperti biasa, selesai jalan pagi vt bukaan 3 mau ke 4. Menjelang ashar mbak bidan datang, menanyakan kondisi hari ini. Sore itu, saya masih sempat ngepel jongkok karena berasa risih rumah tidak dipel. Ba’da Isya beliau masuk kamar kami dan menyampaikan bahwa serviks masih tebal, mau tidak dibantu dengan suntikan untuk menipiskan serviks, saya menyetujui. Karena cara alami itu setau saya dengan sperma, namun karena sudah mucus plug sudah tidak aman lagi berhubungan. Setelah disuntik, masih sempat diajak ke mall, tapi dalam benak saya sudah terlalu malam lebih baik saya istirahat mengumpulkan tenaga, di luar pun hujan deras, akhirnya accupresure pakai Essential oil Peppermint, nyaman tentunya. Benar saja, mulai malam itu nyeri seperti haid yang tadinya di bagian perut berpindah ke panggul sehingga nikmat rasanya Subhanallah. Sampai saat ini, saya nyaman di rumah kami, mau ke wc bolak balik terserah, mau jalan jongkok, guling guling di kasur, goyang di bola, siram siram air di badan, apapun yang membuat saya nyaman namun masih dalam taraf aman tentunya.

Kamis, 20 November 2014, mengawali rutinitas seperti biasa dengan gelombang cinta yang lebih mantap. Kali ini jalan pagi kami meski rute dan putaran sama, namun waktunya lebih lama, karena tiap sebentar saya jongkok atau mengambil posisi gimana nyamannya saya saat jalan pagi kala itu. Selesai jalan pagi dicek kembali sudah bukaan 4 tipis menuju 5, Alhamdulillah semakin dekat rasanya dengan bayi kami. Sekitar jam 11 siang, mbak bidan masuk kamar, “Mbak Eva, jalan-jalan yuk, kita ke mall”, kali ini saya menyambut baik, suami pun setuju dan yeayyy ngemall. Ba’da dzuhur, bersiap berangkat dan Ibrahim minta ikut, walaaah yo wes lah, berbekal HP dan sedikit sangu ngemall, entah kenapa saya ingin beli camilan macam-macam, pun begitu dengan suami yang tinggal di rumah tapi tetap menitip camilan. Berjalan di mall, terkadang terdiam, terkadang jongkok di mall, mbak bidan pilih-pilih sepatu, saya keliling sekitarnya, selesai bayar sepatu, kita mau keliling lagi, laaah Ibrahim kebelet pipis dan toiletnya ada di ujung sebelah utara mall padahal posisi kami sedang di sebelah selatan mall, Maa Syaa Allah, benar-benar Allah Maha Mengatur, jalan cepat ke ujung sana, sampai di dekat toilet ternyata sudah ada yang kebablasan sedikit di celananya. Ibrahim ini risihan, dia minta ganti, akhirnya saya kembali lagi ke selatan mall beli yang nyaman buat dia, karena dari rumah tidak terfikir untuk bawa baju ganti. Mbak bidan dan asistennya menemani Ibrahim, saya ngacir sendiri sambil meringis, terdiam, jongkok selama perjalanan utara – selatan – utara mall. Selesai Ibrahim ganti baju, kami pun lanjut keliling mall, ditengah mall Ibrahim mengeluh capek, dan akhirnya dia duduk menunggu ditemani asisten bidan dan saya melanjutkan ngemall dengan mbak bidan, naik ke lantai teratas waah diffuser yang selama ini ditunggu diskonannya sedang diskon, akhirnya jadi beli diffuser, hahaha. Selepas itu kami pun mendatangi Ibrahim, hari juga sudah sore, turun ke bawah rencana cari nanas, camilan dan pulang. Saat mbak bidan pilih-pilih baju anak Ibrahim mau pipis lagi, karena merasa gak kuat bawa Ibrahim ke sudut sana lagi, meski saat itu kami di tengah mall, saya pun meminta bantuan asisten bidan untuk mengantar Ibrahim. Saat itu, saya sudah jongkok sambil pegangan dan menggerakkan panggul. Sembari menunggu Ibrahim kembali, saya pun membeli camilan yang simpel namun mengenyangkan. Di perjalanan pulang, antara lapar dan gelombang rahim yang semakin intens itu membuat keringat tak berhenti keluar meski hari itu hujan. Mampirlah dulu kami di warung bakso, kuah hangat nan pedas, membuat gelombang cinta ini bertambah mantap, hahaha.

Sekitar jam 17.25 sampai rumah, bersih-bersih badan, rasanya saya ingin siram-siram air kran yang lama, nyamaan rasanya. Selesai itu, di vt bukaan 5 menuju 6 mbak Eva, Alhamdulillah. Sejak itu saya lebih banyak nungging, duduk di bola, main air di kamar mandi, aktifitas ke belakang pun rutin. Sempat sebel juga sama suami karena lepas maghrib beliau tidak langsung pulang ke rumah, namun menunggu hingga Isya’, meski rumah dengan masjid hanya beberapa langkah saja tapi tetap sebeeeel banget saat itu, karena saya maunya dia di dekatku, meski dari kemarin-kemarin pun selalu di dekatku. Mbak Yuli memompa kolam lagi, Ibrahim tertidur lelap. Suami kembali dari masjid saya sempat ngomel dulu, dilanjut beliau melakukan apa yang saya minta, pelukan, elusan, dipijat sempat juga saya minta diantar ke kamar mandi, disiram-siram dengan air. Mbak bidan dan asistennya mulai mengisi air di kolam dan memasak air panas.

Jam 22.00, dari kamar sembari nungging dan dielus punggung oleh suami, samar saya melihat jam, tak lama Ibrahim terbangun, dia menanyakan banyak hal, sedikit saja yang bisa saya jawab, saya hentikan pertanyaannya dengan nanti ya kak di jawab lagi, kakak sama tante (bidan) dulu sana ya, pergilah dia ke depan ke kamarnya mbak bidan dan asistennya. Saya di vt bukaan 8, dan saya menyampaikan mbaaak pinggangku sakit banget, dipijatlah bagian yang sakit dengan minyak oleh mbak bidan bergantian dengan suami. Alhamdulillah sudah sejauh ini, tak henti kami terus berdoa meminta kepada Sang Penguasa karena kami sadar perjuangan ini belum selesai. Dan suami senantiasa mengingatkan sebentar lagi setelah sekian lama.

Jam 23.00 an, mbak bidan masuk kamar, samar saya dengar suami bilang sudah tiap 1 menit mbak, saya sempat tertidur antara jam 22 – 23 tadi. Saat diajak untuk vt lagi, saya bilang susah bangunnya mbak, posisi masih nungging, bisa kok ujar mbak bidan, sini ku bantu, dan sudah pembukaan 9. Mbak bidan meminta kain untuk masuk kolam, asistennya menuang air panas ke kolam, saya pun berganti kostum.

Jam 23.50 an saya masuk kolam, Maa Syaa Allah nikmat sekali, meski sakit di tempat bius Sc Ibrahim lalu jauh lebih terasa dari nyeri lain ataupun mules. Saya pun berganti-ganti posisi didalam kolam, sembari dipijat suami dan mbak bidan. Sampai saat ini saya masih mengingat deep breathing, breath the baby’s out. Ibrahim dan suami, selalu di dekat saya, memegang tanganku, memelukku dan menciumiku, pun membelai rambutku, aku merasa disayang sekali oleh mereka, kata-kata penyemangat pun senantiasa dibisikkan suamiku, aaah indahnya dirinya gak jadi ngungsi ke pos satpam, hahaha. Saya masih ditawari minum dan minum banyak dan minum madu yaman, tenaga seperti full kembali Maa Syaa Allah.

Jum’at 21 November 2014 Jam 00.25 an, mbak bidan bertanya, mbak ada rasa mau pup? Kalau mau bantu mengejan, mengejan aja mbak, seketika hilanglah ilmu deep breathing, hahaha. Hingga mbak bidan bilang, sudah teraba rambutnya mbak, coba pegang, Maa Syaa Allah bahagianya, rambutny lebat, dan panjang. Dan mbak bidan pun menawarkan ke suami, Ayahnya mau nangkep? He said Ya, mau pakai Sarung Tangan nggak? Dan saya tak tahu jawabannya. Suami nyemplung kolam, asisten bidan dan Ibrahim yang menemaniku dari luar kolam. Terasa kepalanya keluar, memutar hingga kakinya keluar semua, Alhamdulillah, Allahu Akbar, I did It. Saat itu Jam 00.55. Saya pun memutar badan yang tadinya berjongkok menghadap pinggir kolam, jadi senderan di kolam dan aku pun memeluk bayi kami, haru, bahagia, senang sekali rasanya Alhamdulillah.

Keluar dari kolam dibantu mbak bidan dan asistennya sambil memeluk Muhammad, suami menggendong Ibrahim. Saya pun tiduran di kamar sambil Inisiasi Menyusu Dini, plasenta lahir, dan dijahit, saat itu rasanya senyuuuum bersyukur kepada Allah, terbayar bahagia usaha kami selama ini, Allah sesuai persangkaan hamba-Nya, Allah Maha Baik.

Setelah selesai dibereskan yang dipakai selama persalinan dan jahit menjahit tadi dan IMD, Muhammad pun di timbang 4,1 kg dan 51 cm panjangnya, mbak bidan bilang bahwa meconiumnya sudah keluar, kalau belum mungkin beratnya 4,2 kg. Sekitar jam 02.30 saya diminta bangun, pindah ke ruang tamu dulu, karena kamar mau dirapihkan untuk kami istirahat. Saat itu baru saya mengabari orang tua, kalau sudah melahirkan. Dan mama bilang pagi akan datang ke rumah kami. Kami pun istirahat sebentar hingga sekitar jam 5 pagi. Rasanya haru dan bahagia, aaah indah sekali Maa Syaa Allah.

Jam 07.00 saya dan bayi kami mandi, setelah itu kami sarapan. Menyelesaikan administrasi dengan mbak bidan, dan sekitar jam 08.00 pagi mbak bidan dan asistennya pamit karena ada acara di Bogor. Tinggallah kami berempat, bahagia, bersyukur, nikmat Allah untuk kami, Allah Maha Baik dan kami berempat semakin saling cinta dan sayang. Semoga kami selalu bersama bahagia hingga akhir kehidupan di dunia dan dikumpulkan Allah di surga firdaus Nya kelak, kebahagiaan abadi, aamiin.

Dibuat di Kranggan 2 Dzulhijjah 1436 H, 16 September 2014, saat masih high oksitosin dapat kabar mbak Muti lahiran 2vba2c at home, unassisted birth. Lain kali kudu buat birth stories saat masih panas jadi masih mendetail, ini noted banget buat saya.

 

9 thoughts on “Kisah VBAC Eva

  1. Karena satu dan lain hal, terutama keterbatasan waktu dan kemampuan, ini akan menjadi pesan terakhir di kisah ini. Selanjutnya Sila para ibu yang memiliki akun FB untuk bergabung di Page VBAC Tanya Saya. Insya Allah di sana lebih banyak informasi sputar VBAC. Ketemu di sana ya…

  2. Assalamualaikum mbk eva, salam kenal. Saya wirda. Sekrg saya hamil di uk 39w. Sama seperti mbk eva, kelahiran pertama saya sc, di hamil kedua ini saya ingin sekali vbac. Tp bayi saya blm masuk panggul. Sekrg saya galau tingkat tinggi. Saya terus berdoa dan berusaha. Btw kranggannya di pondok gede bukan mbk? Untuk kelahiran yg mbk lakukan, mahal gk ya? Boleh minta pin bb mbk? Ini email q. Kir3ina_hito@yahoo.com

  3. Assalamu’alaikum..
    Barokallahu fiik mbk atas persalinan vbac nya.
    Saya tl dibekasi. Mau dong mbk info bidan yg tgl ditambun yg bantu persalinan mbk.krn Saya sedang mencari bidan yg pro normal dan pro vbac.
    Syukron mbak.

  4. Assalamualaikum mba eva tinggal di bojonggede? Perkenalkan saya hilyah tinggal di cilebut.. sy ingin tau lbh byk ttg vbac secara detail dr org yg lgsg brpengalaman vbac spt mba.. sy bru mlahirkn sc 1 bln yg lalu namun dr skrg sy sdh merencanakn ingin mmiliki momongan lg oleh sebab itu sy ingin mmprsiapkan diri sy mnuju suksesnya vbac dr skrg.. bolehkah sy mnta pin bb atw whatsapp mba.. jika Allah mengizinkan tentu sy ingin bertemu lgsg dgn mba mngingat cilebut dan bojonggede tdk trllu jauh.. trima kasih mba mohon bantuannya 🙂

  5. MasyaaAllah,,,,,sungguh taqdir Allah begitu indah ya mba, mba,,,kenalkan saya zahro, saya jga ingin vbac. Klo boleh tau mba eva di bojong dimananya ya? Pengen banyak2kin temen yg uda vbac biar lebih semangat, kebetulan saya di cilebut mba,,,. Saya masih buta bgt dg persalinan dirumah dan vbac. Mohon bantuannya ya mba, minta no hpnya bole?

Comments are closed.