Kisah VBAC Erya

Perjalanan VBAC-ku..

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, tak henti kuucapkan syukur pada-Nya. Alhamdulillah, Alloh melindungiku dari ruptur rahim. Alhamdulillah Alloh melindungiku dari ketuban keruh. Alhamdulillah Alloh melindungiku dari pengapuran plasenta. Alhamdulillah Alloh melindungiku dari rasa cemas dan panik, Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah Alloh mudahkan semuanya.

image

***

Kamis malam, empat tahun silam, saat hujan datang, aku kontrol ke dokter kandungan dengan diantar suami dan kedua orang tua. Bayi ini adalah calon anak pertama dan cucu pertama di keluarga kami. Dan rupanya tak hanya diluar, di dalam ruang dokter pun hujan dan halilintar datang bersamaan. Ya, itulah surat sakti dokter yang mengatakan bahwa bayiku harus segera dikeluarkan karena hasil USG menunjukkan ketuban sudah keruh dan plasenta pengapuran (yang akhirnya aku pahami bahwa itu wajar di usia kehamilan yang semakin tua). Ibu mana yang tak perih hatinya. Sungguh ini tak pernah terbayangkan olehku. Dan esoknya, Jumat, 21 Oktober 2011 lahirlan anak laki-laki kami melalui operasi caesar. Alhamdulilah ‘ala kulli hal…

Meski semalam sebelumnya aku telah mencoba ikhlas dan menangis pasrah pada-Nya, tapi jejak trauma dalam proses sc itu sungguh membuatku hampir gila. Tak ingin lagi aku mengalaminya.

***

Desember 2014
Tamu bulanan belum juga datang. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu dalam diriku. Dan benar saja, terlihat dua garis hasil tespack. Bahagia dan khawatir menjadi satu. Meski kehamilan ini kami rencanakan dengan memberi jarak demi keinginan vbac. Namun tetap saja ada resah mungkinkah aku bisa melewati persalinan alami atau harus merasakan dinginnya ruang operasi (lagi).

Januari 2015
Jauh hari memang telah kungkapkan keinginanku untuk vbac kepada suami. Namun baru kali ini kulepaskan semua beban dan sisa traumaku. Kuceritakan dingin dan sesaknya menjalani persalinan sc dulu hingga saat itu aku merasa inikah akhir hidupku. Pun trauma yang juga membuat sempit hatiku saat hari-hari pertama mengasuh bayiku. Tergugu aku menangis di pelukannya. Sungguh, sekali lagi kuungkapkan, aku tak ingin persalinan sc lagi.

Berbekal dari ‘kesalahan” saat kehamilan pertama bersamanya aku mulai memberdayakan diri, belajar tentang apa dan bagaimana kehamilan dan persalinan, membeli dan membaca berbagai buku persalinan, kisah-kisah sukses vbac, hingga mencari nakes yang sreg dan mau membantu kami. Namun semangat suami rupanya mulai redup seiring dengan ujian dan tugas kuliah yang menumpuk. Baiklah sayang, tak mengapa, biarlah aku dulu yang belajar…

Juni 2015
Hingga hampir lima bulan usia kehamilan aku berhasil melalui dengan penuh semangat dan bahagia meski belum bertemu dokter spesialis kandungan yang menyatakan iya atas keinginan vbac-ku. Alhamdulillah, karena banagia adalah salah satu kunci kehamilan sehat. Akupun rutin memeriksakan kehamilan dengan bidan yang sabar dan support selalu.

Hatiku mulai dagdigdug saat terlihat di layar USG bayiku sungsang. Saat kehamilan pertama saja keadaan ini tak pernah terjadi. Ya Alloh, berserahku kepada-Mu. Hari-hariku menjadi murung dan bingung. Namun Masya Alloh,rencana Alloh sungguh selalu sangat sempurna. Karena sungsang itulah aku lebih banyak lagi membaca hingga menemukan sebuah kisah vbac inspiratif yang akhirnya mengantarkanku bertemu dengan ibu-ibu hamil yang berencana vbac maupun yang telah sukses vbac bahkan vbamc dalam sebuah grup. Masya Alloh, Alhamdulillah, aku banyak belajar dan mendapat doa serta semangat dari mereka (thank you buibu semua..uhibbukum fillah.)

Belajar dari mereka kutambah lagi exerciseku dari yang sebelumnya hanya jalan, kegel dan yoga menjadi rutin kulakukan jongkok-berdiri-jongkok, gymball, posisi-posisi untuk sungsang, all four, dan banyak lagi. Tak lupa pula untuk berlatih nafas, deep breathing. Makanan pendukung untuk vbac yang salah satunya tinggi protein juga baru kuketahui. Hal ini utamanya untuk memperbaiki jaringan bekas luka sc. Alhamdulillah, sejak awal hamil selalu mencari pindang ikan palembang, kata orang namanya ngidam, hehe..

Juli – Agustus 2015
Awalnya, aku berencana untuk melahirkan di Serang, tempat kami tinggal sekarang agar bisa selalu dekat dengan suami, namun belum juga menemukan dokter kandungan yang mau membantu dan sreg di hati kami. Ya, saat itu kami masih berpikir disamping bidan harus ada dokter kandungan juga yang mendukung vbac kami. Birth plan pun akhrinya berubah, ingin melahirkan di kota kelahiran saja, di Solo, dimana ada lebih banyak dokter kandungan perempuan (karena aku prefer dokter kandungan perempuan), yang artinya pilihanku juga akan semakin banyak. Pun aku juga berencana untuk mengikuti kelas vbac di Bidan kita Klaten bersama suami untuk lebih memantapkan hati lagi.

Pencarian dokter kandungan terus berlanjut, namun tak juga kami menemukannya. Kucoba bujuk suami untuk mengijinkanku melahirkan di Bidan kita saja. Suami cukup kaget dan ragu – ragu dengan keinginanku karena jarak Solo – Klaten memang cukup jauh untuk ‘kondisi akan melahirkan’, sekitar hampir 1jam. Kukatakan padanya dicoba dulu saja nanti ketika kelas vbac pertama disana baru dipikir lagi. Suami pun meng-iya-kan.

Dengan bermotor ria kami mulai kelas vbac pertama ke Klaten. Senang sekali rasanya bermotor berdua dengan suami Solo – Klaten – Solo, dengan perut gede ini. Hingga empat pertemuan perjalanan ini kami lalui. Berasa anak muda lagi pacaran, suer deh..

Pulangnya kami selalu menyempatkan untuk mampir makan bersama di ‘Soto Seger Mbok Giyem” (#bukanpromosi) dan sejenak melupakan kata – kata bu bidan ‘kurangi nasi ya mba erya, banyakin aja makan lauk sayurnya’, bahkan pernah sampai dua mangkok soto kuhabiskan (piss ya bubid).

Pertemuan demi pertemuan kami jalani, sungguh sangat nyaman, kalau bisa bersalin disana aku akan memilih untuk bersalin disana. Namun saat suamiku sudah meng-iya-kan untuk bersalin di Bidan kita ternyata qodarulloh perpanjangan ijin Bidan kita belum keluar dan belum bisa dipastikan kapan keluar, sehingga belum bisa membantu persalinan. Bubid menyarankan untuk mencari bidan yang support di Solo dengan menyodorkan birth plan, khawatir hingga hari-H tiba tetap belum bisa membantu persalinan.

Alhamdulillah Alloh mudahkan semuanya. Sudah ada dua orang bidan yang bersedia membantuku mewujudkan impian vbac. Salah satunya di dekat rumah, yang aku catat sebagai birth plan pertama untuk tempat bersalin dan satu lagi sekitar 20 menit perjalanan dari rumah untuk plan keduanya. Dan kami berencana menggunakan jasa doula dari Bidan kita.

Menanti gelombang cinta datang, kuperbanyak lagi exercise-ku..bahkan sambil nunggu si sulung di sekolah juga sambil jalan atau jongkok berdiri. Selain itu juga tetap mengkonsumsi evoo, kurma, air zamzam, madu, dan berbagai makanan/minuman induksi alami, seperti nanas, tape, pepaya muda, kacang hijau, serta melakukan moxa.

28 Agustus 2015
Sebenarnya aku sudah tak ingin lagi ke spog, tp memenuhi permintaan orang tua akhirnya aku kesana. Aku niatkan sebelum berangkat, aku hanya ingin silaturahim saja dengan spog ini, agar lebih slow dengan apa yang akan terjadi nanti di sana. Dan benar saja.. cret cret cret, masuk amplop, ’bu, ini surat pengantar dari saya, saran saya ibu segera sc ulang karena sampai sekarang belum ada tanda persalinan, ketuban udah keruh, kepala belum masuk panggul, sepertinya panggul sempit’. Aku hanya tersenyum. ‘jangan sampai tanggal 3 ya bu, takutnya nanti ibu udah kontraksi’ lanjut si dokter. Lagi-lagi aku hanya tersenyum, dalam hati ‘lah bu dok, memang kontraksi itu yang kutunggu-tunggu pengin kurasakan’.

31 Agustus 2015
Lendir mulai keluar saat dini hari. Awalnya aku belum paham kalo itulah lendir, aku pikir ketuban rembes hingga sedikit panik karena suami masih di Jakarta. Subuh datang keluar lagi lebih banyak. Aku tambah panik. Kucoba deep breathing untuk meredakan panik. Kukabari bidan yesie, dan mba muti, my online doula. Kutanyakan padanya ini ketuban rembes atau apa, sambil mengalir air mata, karena di kehamilan pertama aku belum pernah melihat dan merasakannya. Berdasarkan keterangannya, bahwa ketuban itu mengalir, keluar tanpa bisa ditahan, namun tidak lengket. Sedangkan ini, memang tidak bisa ditahan tapi lengket dan tidak mengalir. Sambil nangis karena masih bingung, kubersihkan cairan itu dengan tisu. Masya Alloh warnanya pink dan cenderung seperti lendir. ‘Ternyata pink pas saya lap mba’ kataku via wa, ’ooh itu mucus plug’. Alhamdulillah, jawabannya sangat membuatku tenang. Kuseka air mata dan kukabari suamiku, tak menunggu waktu suami segera pulang ke Solo. Memang mucus plug bukan berarti persalinan akan segera terjadi, bisa saja beberapa jam atau beberapa hari lagi. Tapi support dan keberadaannya disampingku akan sangat membantu.

3 September 2015
Mucus plug masih terus keluar bahkan lebih banyak. Pengin coba cek, karena rasa-rasa kontraksi semakin intens. Qodarulloh, tim bidan kita sedang bertumpuk acara sampai seminggu kedepan sehingga tidak bisa datang menemani menjadi doula. Mau ke plan A terbayang waktu vt dengan asisten bidannya, duh duh kasar, ragu-ragu jadinya. Bismillah, akhirnya dengan kemantapan hati kuminta persetujuan suami berbelok arah ke bidan plan B yang sudah lama kami tidak kesana. Disambutnya kami dengan senyum dan ramah, diperiksa semua kondisi baik, vt dengan lembut hampir tidak terasa. Dikatakannya saat ini belum ada pembukaan. Allohu Akbar. Sampai di rumah lanjutkan ikhtiar, jalan, jongkok berdiri, gymball, moxa, makan kurma,minum minyak zaitun, air kelapa, dan juga air madu sebagai persiapan tenaga.

4 September 2015
Sore hari minta suami menemani kontrol lagi, pengin cek lagi, perasaan semakin intens ini kontraksinya. Duh, sampai sana ternyata aku cuma ke-ge-er-an saja, bukaan satu sodara-sodara! Bu bidan minta aku tetap di klinik aja menunggu bukaan, karena kasihan bolak balik perjalanan. Tapi kuputuskan tetap pulang untuk mengantisipasi stres dan karena pasti akan lebih nyaman di rumah, untuk menambah bukaan kan kenyamanan sangat diperlukan. Belum lagi aku pasti akan sangat rindu dengan anak pertamaku.

Sepulang dari tempat bu bidan, aku merasakan ngantuk yang amat sangat. Disela gelombang cinta yang datang aku selalu tertidur sampai suami heran dan nanya ke bu bidan bagaimana ini ko ngantuk terus, padahal seharusnya banyak bergerak memanfaatkan gravitasi untuk nambah bukaan. ‘tidur saja tidak masalah’ kata bu bidan.

Setiap kali gelombang cinta datang, aku terbangun dan segera suamiku memberi pelukannya, ketika hilang rasanya, aku tertidur lagi, begitu terus yang terjadi. Aku hanya bangun dan berjalan untuk makan, minum, dan ke kamar mandi.

5 September 2015
Tingtingting ‘gmn kabarnya erya?’ begitu terbaca wa di hp ku. Duh, baru mau balas ketik sudah makswing rasanya. ‘Mamas, tolong dijawab mas’ kataku ke suami, berharap yang di seberang sana ikut memberi semangat dan doanya. Tak ketinggalan, bu bidan juga dengan perhatiannya meng-sms-ku menanyakan kabar, segera kami jawab ‘kami bersiap berangkat bu bidan’.

Alhamdulillah, Alloh mudahkan semuanya. Meski tidur ketika sudah saatnya akan terasa juga. Sejak subuh rasanya gelombang cinta semakin intens. Bolak balik ke kamar mandi tapi tak ada yang dikeluarkan. Pengalaman teman-teman, katanya si bayi sedang membuat ‘jalan tol’ untuk kelahirannya. Orang tua sudah mulai khawatir dan menampakkan wajah paniknya. Aku hanya meyakinkan mereka bahwa aku dan bayiku baik-baik saja, kemudian berusaha menghindar, bukan apa-apa hanya untuk proteksi diri saja dari rasa panik dan khawatir, agar tetap tenang selalu.
Sekitar setengah tujuh pagi kami sampai di tempat bu bidan, menunggu antrian, suami selalu ingatkan untuk istighfar, rileks, deep breathing sembari sesekali menyodorkan air madu yang telah beliau siapkan untuk cadangan tenaga karena sejak semalam setiap makan rasanya mual sekali, hanya kurma dan air madu saja yang bisa masuk mulut.

Tibalah giliranku diperiksa. Sambil menanyakan apa yang dirasakan, bu bidan cek dalam. Masya Alloh, bukaan 7. Bu bidan kemudian mengajak asistennya untuk bergegas menyelesaikan persalinan ibu lain di dalam dan membersihkan ruang bersalin segera serta memintaku untuk menunggu di ruang periksa karena ruang bersalin hanya tersedia satu saja. Alhamdulillah, Alloh hanya memintaku untuk lebih bersabar. Suami dengan setia menemani dan mengajakku bercanda, tersenyum, rileks, deep breathing, dan istigfar meski sebentar-sebentar aku tertidur karena mengantuk yang amat sangat. Akhirnya perasaan ingin mengejan sangat tak tertahan namun lagi-lagi harus bersabar, ruang bersalin belum siap, subhanalloh. Kali ini sudah tak sanggup menanggapi candaan suami. Kucoba tetap rileks, memutar murotal, dan tetap deep breathing. Sempat terbersit, ‘duh ko lama amat si..’ tapi segera kubuang jauh-jauh perasaan itu. Alloh hanya meminta sedikit lagi bersabar setelah sembilan bulan menjalani kehamilan.

Sekitar jam sepuluh akhirnya aku sudah bisa pindah ke ruang bersalin, di cek dalam sudah pembukaan lengkap. Bu bidan hanya menyuruh ku mengejan saat ingin mengejan, seperti saat buang air besar. Dibantu stimulasi puting agar terkontrol gelombang cinta dan rasa mengejan yang datang, aku pun mengejan seperti kata bu bidan. Sampai akhirnya ppppyyaaaaaarrr.. Basah semua, ketubanku pecah. Allohu Akbar, aku benar-benar panik hingga hampir menangis. Hilang semua yang sudah dipelajari. Alhamdulillah suami sebagai pendamping persalinan sangat paham harus apa dan bagaimana. Dipeluknya aku dan diajaknya aku rileks, senyum, serta terus deep bresthing hingga panikku berkurang. Setiap gelombang cinta datang aku mengejan. Namun entah sampai berapa kali gelombang cinta aku belum berhasil juga mengeluarkan bayiku. Sampai kataku ‘bu, saya sudah bener belum ini ngejannya bu’, dijawabnya ‘sudah betul mba erya, pinter, ayo coba lagi, lebih sabar’.

Lanjut lagi mengejan rasanya sudah mau habis saja nafas ini. ‘ bu bidan, ini bagaimana ini, saya ngga bisa, saya bingung ngga bisa nafas’ kataku hampir menyerah, ‘ ayo mba, kasian dede bayinya, kepalanya udah kelihatan. Apa mau pake oksigen?’kata bu bidan. Segera kuiyakan tawarannya. Menunggu dipasang oksigen, suami merangkulku dan menatapku dengan penuh support, ‘ayo sayang, bismillah, sedikit lagi, insya Alloh bisa, kepala adek sudah bener-bener kelihatan’ katanya meyakinkan, seolah tahu kalau aku meragukan kata-kata bu bidan bahwa kepala sudah terlihat yang kupikir hanya untuk menenangkanku saja. Masya Alloh, dukungannya sangat berharga untuk memompa semangatku.

Oksigen terpasang, gelombang cinta datang, aku segera mengejan. Bismillah, sekali mengejan, dua kali mengejan, yang ketiga masya Alloh, alhamdulillah.. Segala puji hanya bagi Alloh.. Lahirlah putri kecilku dengan sehat selamat pada pukul 10.34 dengan berat 3,3 kg dan panjang 47 cm. Lahaula walaquwwata illa billah, segera diberikannya bayiku untuk kudekap dan kususui. Suamiku memeluk dengan haru, dan dengan mata berkaca pula kusambut pelukannya.

Selamat datang sholihah, kusambut bayiku..

Erya

*Terimakasih tak terhingga pula untuk suami yang selalu menemani, yang diam-diam ternyata sudah belajar banyak hal untuk vbac-ku, terimakasih sayang.. Ahh, terimakasih pula untuk saudari-saudariku vbacsupport, banyak hal aku pelajari darimu.. Jazakumulloh khoir*

7 thoughts on “Kisah VBAC Erya

  1. asslmkm. mbak saya sampai berkaca-kaca membaca kisah mbak, memberi semangat utk saya sendiri utk bisa vbac di kehamilan kedua ini aamiin,boleh berdiskusi mbak?ini no wa saya 082361209829

  2. Terharu sekali membacanya, suaminya juga sangat kooperatif.
    Mudah2an saya juga bisa vbac untuk kehamilan kedua nanti. Aminnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *