Kisah VBAC Dila

Kisah VBAC ku

Segala sesuatu yang terjadi adalah atas ijin Allah SWT. Telah lahir anak kami yang ketiga pada hari Ahad, 7 Agustus 2016 pukul 09.54. Inilah kisah kami.

***

Tahun 2015 adalah tahun terakhir aku merantau di kota itu. Setelah penantian 5 tahun akhirnya aku dimutasi ke kota tempat suami berdinas. Rasa bahagia tak bisa ku bendung lagi, ku mulai mengepak semua barang-barang karena aku harus pindah rumah.

Desember 2015
Sebentar-sebentar kutengok aplikasi kalender di hpku karena ada hal yang kurasa janggal saat itu, dan benar juga ternyata aku sudah telat menstruasi. Akhir November seharusnya datang lagi tamu bulananku tapi sampai awal bulan Desember masih belum juga muncul. Oke, tak apa, kurasa aku hanya kecapekan saja mengurus dua bocil, berjauhan dari suami dan menjalani kesibukanku di kantor, serta menyelesaikan apa yang harus diselesaikan sebelum pindahan. Sudah biasa juga sih tamu bulananku terlambat datang. Namun sampai akhir bulan kutunggu belum datang juga haidku dan badan rasanya tidak karuan, seperti masuk angin karena seluruh sendi linu semua sampai hampir pingsan. Aku pun memanggil tukang urut ke rumah sebelum melakukan perjalanan jauh yang akan memakan waktu kurang lebih 8 jam untuk pindahan. Sempat kubertanya pada tukang urut yang memegang perutku ada apa denganku tapi katanya tidak ada apa-apa, hanya masuk angin biasa saja. Hingga tiba saatnya aku melakukan perjalanan jauh yang melelahkan itu dan sampai di rumah baru badan terasa semakin linu dan lemes. Tetapi tetap aku harus beberes barang-barang dulu, fiuuhh.. Subhanallah rasanya.

Januari 2016
Masuk kantor baru mengalahkan rasa lemasku, sampai suatu hari aku sudah tak kuat menahan gemetar disertai kliyengan di kantor. Akhirnya kuberanikan diri membeli tespack untuk memastikan apakah aku hamil atau hanya kecapekan biasa, dan taraa! Hasilnya dua garis yang sangat jelas. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, rasa senang tak bisa kusembunyikan. Segera kuberitahu suami bahwa hasilnya positif, namun tanggapan suami tak seperti yang kuharapkan. Suami shock, kenapa secepat ini Allah memberikan kepercayaan lagi? Apakah kita mampu? Ya Allah, kecewa aku melihat reaksi suami. Memang kesedihan suami beralasan karena di dua kehamilan sebelumnya aku mempunyai riwayat persalinan yang kurang menyenangkan. Persalinan pertamaku persalinan normal dengan induksi, waktu itu karena tidak ada kemajuan setelah bukaan 4. Aku hanya bisa pasrah dan menerima saja yang disarankan. Campur aduk rasanya. Sementara itu persalinan yang kedua SC karena lewat HPL 2 minggu.  Atas anjuran dokter waktu itu bayi harus segera dikeluarkan karena plasenta sudah tidak bagus katanya. Kemudian dilakukanlah induksi sebelum sempat aku merasakan kontraksi, namun dalam 18 jam tak ada pembukaan, akhirnya SC lah yang menjadi pilihan.

Apakah kehamilan kali ini juga harus berakhir seperti itu? Oh, sungguh aku tidak sanggup kalau harus SC lagi. Walaupun pernah melahirkan normal tetap saja apabila sudah SC kata orang mesti SC lagi.  Akhirnya aku mencari informasi mengenai melahirkan normal setelah SC atau VBAC (Vaginal Birth After Cesarean) untuk kusodorkan pada suami untuk menguatkan hatinya. Aku pun ingat pernah dikasih kabar kalau Prima teman SMA ku melahirkan normal setelah sesar dan hanya berjarak 18 bulan dari sesarnya, melahirkan di rumah lagi, di kamar mandi. Prima juga riwayat melahirkan normal anak petama. Segera aku tanya-tanya Prima tentang VBAC dan luar biasa tanggapannya. Setelah sharing banyak aku diajak bergabung ke sebuah grup support VBAC. Aku senang sekali, dan untuk melengkapi ikhtiar aku pun mencari-cari nakes yang support vbac di daerahku. Pilihanku pun jatuh pada seorang dokter senior di kota X yang konon katanya support VBAC dan telah beberapa kali menolong pasien VBAC. Alhamdulillah, ketika pertama kali periksa aku langsung menanyakan “Apakah saya bisa melahirkan normal dok?” Beliau jawab “BISA.” Tapi syaratnya harus mules alami tanpa induksi kimia karena aku riwayat sc, jika di induksi kimia bisa mengakibatkan ruptur uteri. “Baik, Dok” jawabku. Sepulang dari periksa aku sangat senang sekali dan tambah bersemangat.  Alhamdulillah suami juga mulai senang melihat aku begitu semangat ingin melahirkan normal, dia pun akhirnya sangat mendukungku dan itu makin menguatkan hasratku untuk memberdayakan diri dan menjaga baik-baik janin ini.

Maret 2016
Semakin lama mempelajari VBAC, aku menyadari bahwa melahirkan itu alami, semuanya hanya soal waktu dan posisi, hingga dapat kuambil kesimpulan bahwa sebenernya SC ku yang terdahulu itu bisa di cegah. Namun semua itu telah di takdirkan oleh Allah. Tak boleh ada kata menyesal, yang ada hanya kita mau berdamai dengan diri sendiri, self healing. Kumaafkan diriku dan berusaha semaksimal mungkin kali ini dan bertawakal pada Allah SWT. Di sinilah aku merasa tiap hari bersemangat karena ilmu ku bertambah, dari sharing teman-teman kudapatkan kiat-kiat agar sukses vbac.

Aku pun memperbaiki pola dan asupan makan, mengkonsumsi air putih kurleb 3 liter perhari, memperbaiki posisi duduk dan melakukan exercise. Pemberdayaan diripun dimulai. Menjaga pola makan dengan gizi seimbang adalah kuncinya. Asupan protein baik dari protein hewani maupun protein nabati sangat baik untuk menjaga jahitan bekas sc tetap aman karena protein berfungsi untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Aku juga rajin memijat bekas luka sc dengan pijat c-scar massage untuk mengurangi keluhan rasa nyeri di bekas jahitan dan untuk mencegah pelengketan organ dalam. Tak lupa aku salurkan ilmu yang aku dapat kepada suami agar suami makin mendukungku.

Seiring berjalannya waktu, Aku merasa ragu untuk meneruskan rencana melahirkan di RS tempat Spog ku praktik. Hal ini bukan tidak berdasar karena menurut testimoni pasien rate SC di rumah sakit tersebut meningkat akhir-akhir ini. Inilah saatnya aku memikirkan rencana lain. Aku curhat sama suami dan menyampaikan keinginanku untuk melahirkan di bidan saja karena kalau di rumah sakit aku takut kalau mesti SC lagi. Tapi suamiku diam saja. Oke, kupikir mungkin belum saatnya ngomong ini.

April 2016
Hari-hari pun berlalu, semakin besar janin dalam perutku aku merasakan sakit pada kaki kiriku, tiap hari pula aku minta tolong suami dan anak-anakku untuk melemaskan kakiku, rasanya tegang dan nyeri sekali. Sembari bekerja aku mencari informasi dari teman-teman tentang yoga prenatal dan hipnobirthing di kotaku, dan ternyata ada bidan yang membuka praktek prenatal yoga sekaligus mentor hipnobirthing lulusan Bidan Kita, mba Y. Namun aku harus ke kota sebelah untuk menjumpainya. Walau demikian aku senang sekali waktu itu. Aku cari hari libur untuk mengagendakan bertemu dengan Mba Y. Waktu itu hari Minggu akhirnya ku minta suami menjaga anak-anak selama aku ketemuan dengan Mba Y di tempat prakteknya. Awalnya kami sharing permasalahan dan berkonsultasi kapan baiknya aku mulai ikut kelas yoga dan hipno, dan ternyata menurut Mba Y sebaiknya yoga dilakukan di usia kandungan 24 W keatas dan Hipno di usia 32 W keatas. Oke berarti aku harus nunggu dulu….

Mei – Juni 2016
Di sela-sela jam istirahat kerjaku, aku menyempatkan diri mencari bidan di kotaku yang bersedia membatu vbac tanpa sepengetahuan suami karena memang suami belum support kalo aku lahiran di bidan, maunya di rumah sakit karena kalau ada apa-apa bisa segera ditangani. Bidan pertama yang kudatangi adalah bidan di klinik umum dan bersalin di dekat rumah, iseng-iseng aku periksa kesana, di dopler sambil ngobrol kesana kemari dan pada akhirnya ngobrolin persalinan dan ternyata bidan di klinik itu tidak bersedia membantu persalinan normal jika sebelumnya pernah sc, duh sedih rasanya. Beberapa hari selanjutnya, aku mendatangi bidan di klinik bersalin yang agak jauh dari rumah dan jawabannya pun sama, duh semakin besar kekecewaanku. Ya sudah, akhirnya aku nurut kata suami, lahiran di rumah sakit dengan dokter.

Usia kehamilan menginjak usia 28W dan aku mulai mengikuti kelas yoga prenatal dengan mbak Y, sepulang yoga ku ingat-ingat gerakan yang telah diajarkan di kelas untuk dilakukan dirumah juga, tetap menjaga asupan makan dan minum seperti biasa, protein dan vitamin c lanjut terus.

Ramadhan datang, kupersiapkan fisik dan mental untuk menjalankan ibadah puasa. Alhamdulillah kali ini bisa full tanpa bolong, dengan selalu menjaga asupan makan dan minum minimal 2 liter perhari di setiap sahur dan berbuka puasa serta setelah sholat tarawih. Salah satu yang membuat aku kuat dan enjoy menjalankan ibadah puasa adalah selalu mengkonsumsi nabeez alias air rendaman kurma yang aku bikin malam hari setelah buka puasa untuk dikonsumsi pada saat sahur dan sebaliknya bikin saat sahur untuk dikonsumsi saat buka puasa. Exercise yang kulakukan hanya semampunya saja karena khawatir tak kuat. Pada bulan ramadhan ini pula aku mengambil kelas hipno birthing sama Mba Y. Kuputuskan untuk mengikuti hipnobirthing bersama suamuku karena kali ini aku sangat menginginkan ditemani suami saat melahirkan. Suamiku takut melihat darah, namun mba Y menjelaskan bahwa darah persalinan tidak sama dengan darah segar. Walau awalnya ragu namun suami setuju siap mendampingi asalkan di sampingku, tidak di bawah.

Tiga kali pertemuan dengan Mba Y, aku dikasih materi tentang tahap-tahap persalinan, pijat perineum, pijat oksitosin, pijat endorphin, latihan kontraksi, managemen kontraksi dan lain-lain. Suami semangat sekali setiap ada kelas hipno, tak lupa kami praktekkan juga ilmunya setiap hari. Itu yang membuatku sangat bahagia, ternyata suami juga exited menyambut anak ketiga kami dengan persalinan normal.

Setelah lebaran akhirnya aku menemukan bidan dekat rumah mertua yang bersedia membantu persalinanku nanti, dengan syarat berat badan janin tidak lebih dari 3 kg, dan apabila ada kendala saat persalinan nanti bersedia mendampingi ke rumah sakit yang aku mau. Alhamdulillah senangnya hatiku, walau bersyarat namun hatiku lega. Setelah itu aku rutin periksa ke bidan tersebut 2 minggu sekali.

Juli 2016
Aku rasakan nyeri di bagian kaki tambah parah, ditambah lagi nyeri bagian panggul yang amat menyiksa. Nyeri bagian perut bawah sampai selangkangan ini membuatku kesulitan untuk melakukan beberapa aktifitas, seperti memakai celana sampai harus merangkak ketika bangun dari posisi tidur dan menahan sakit ketika harus berjalan. Berdasarkan hasil browsing dan sharing dengan teman-teman ternyata aku mengalami SPD (symphisis Pubis Dysfungtion). Ini membuatku pesimis apakah aku bisa menghadapi rasa sakit ini ketika kontraksi datang nanti? Setiap saat aku pun berdoa, Ya Allah mudahkan ya Allah…..

Akhirnya kuputuskan mengambil cuti ketika masuk usia kehamilan ke 38w karena SPD semakin menjadi, sekaligus untuk memaksimalkan exercise supaya dilancarkan di hari H. Mengingat aku mengalami SPD maka aku tidak bisa melakukan exercise yang berat. Exercise yang ku lakukan hanya berdasar ilmu dari hipnobirthing dan kiat-kiat di grup wa vbac suport diantaranya (butterfly pose) 2x sehari, pelvick rocking 15-20 menit/ sehari, relaksasi melahirkan nyaman min. 2x/ hari, senam hamil 2 x 30 menit/minggu, prenatal yoga 1 x 30 menit/ 3 hari, jalan pagi/ sore ( setiap hari), senam kegel (sehari min. 15x / hari), ngepel (setiap hari), pijat perineum ( 15 mnt/ hari ), jongkok-berdiri ( 3x/ hari ), akupresur/ pijat oksitosin (setiap hari ), latihan nafas perut min. 10x hitungan setiap hari, pijat endorphin (setiap hari), latihan kontraksi setiap hari 15 menit, makan kurma, makanan pelunak (nanas, tape/ setiap hari) dan goyang di gymball setiap saat.

Agustus 2016
Memasuki usia kehamilan ke 40w belum ada nampak tanda-tanda aku akan melahirkan. Tepat HPL ku tanggal 4 Agustus aku dijadwalkan kontrol ke Spog lagi jika belum ada tanda-tanda melahirkan, namun saran dokter itu tak ku hiraukan, suami juga masih tenang-tenang saja. Aku yakin bayiku punya waktu sendiri kapan ia telah ditentukan melihat dunia.

Jumat, 5 Agustus 2016 (40w+1d)
Aku merasakan kontraksi ringan mulai dini hari jam setengah 1, sejak itu aku tidak bisa tidur sampai pagi. Keringat bercucuran karena deep breathing dan bolak balik exercise disertai BAK. Jumat pagi aku merasa lebih baik dan kumanfaatkan jalan-jalan pagi bersma suami dan anak-anak. Sampai siang lkontraksi hilang entah kemana, akhirnya ku buat tidur saja, tapi cuma bisa tidur sebentar karena dedek terasa nyundul2 ke bawah. Kata mb Y bayi mulai masuk panggul. Oke, ku teruskan goyang gymball lanjut jalan-lanjut keliling komplek dan exercise semampunya.

Jumat malam sekitar pukul 18.30 WIB keluar flek dan lendir darah sedikit, aku kegirangan karena inilah yang ditunggu-tunggu. Namun sepanjang malam tidak keluar lagi lendirnya, tp kontraksi terus datang dan aku tidak tidur sampe pagi lagi.

Sabtu 6 Agustus 2016(40w+2d)
Sabtu pagi berharap mucus semakin banyak namun ternyata hasilnya nihil, padahal sepanjang malam sudah kontraksi meskipun intervalnya masih lama, akhirnya jalan2 lagi sama anak-anak dan suami. Sepanjang hari sabtu kontraksi sudah mulai teratur meskipun intervalnya masih lama juga, kali ini disertai flek tanpa lendir. Goyang di gymball paling enak waktu itu.

Sabtu malam ba’da magrib ketika beranjak mandi keluar lagi lendir yg banyak. Aku tetap positif thingking sambil berdoa semoga diiringi kontraksi yg intens. Akhirnya aku minta jalan-jalan sekalian makan di spesial sambal, ku pesen sambel nanas yang katanya dipercaya sebagai induksi alami untuk memperlancar kontraksi ini. Namun belum sempat jalan-jalan kontraksi datang setiap 30 menit sekali, akhirnya aku minta pulang saja tidak jadi jalan-jalan karena hujan juga. Sampai rumah kutidurkan anak-anak sambil dipijit endorphin oksitosin sama suami Alhamdulillah kontraksi mulai datang 20 menit sekali. Kali ini jelas sudah aku tidak bisa tidur lagi, namun tetap aku lakukan deep breathing dan zikir terus.

Ahad, 7 Agustus 2016 (40w+3d)
Ahad pukul 00.30 aku bangun dari tempat tidur. Kumakan pisang dan kurma karena lapar dan badan terasa lemas. Ketika aku berdiri tiba2 keluar cairan seperti bak yang tidak bisa ditahan, syuuur… Kubangunkan suami untuk mengambilkan kertas lakmus untuk memastikan apakah benar ini ketuban atau pipis, eh ternyata lakmus berubah menjadi biru, tanda ini benar ketuban rembes. Suami sempat panik dan buru-buru mengajakku berangkat ke rumah sakit saat itu juga karena takut kenapa- kenapa tapi aku masih tetap positif thingking dan berusaha meyakinkan suami kalo aku masih kuat. Kuminta suamiku melakukan pijat oksitosin.

Jam 01.00 suami keluar beli hydro coco, berharap dapat mencukupi cairan yang dibutuhkan setelah rembes. Padahal kondisi di luar masih hujan, namun suamiku tetap keluar untukku. Sesampainya dirumah kuminta lagi merebus telor tapi ternyata telornya habis, akhirnya aku makan seadanya saja. Kontraksi mulai 10-15 menit sekali suami seperti menyerah karena ketuban juga keluar crat crut terus tapi ku minta suami tenang.

Jam 02.00 Anak wedok ikut kebangun minta hydro coco juga. Melihat mamanya kesakitan doula kecilku ini masih sempat bilang “Ambil nafas.. buang…” Entah ngelindur atau tidak, mungkin ini efek dari seringnya anak-anak ikut yoga dan hipnobirthing. Dari situ aku makin kuat dan yakin kali smua mendukungku. Kontraksi makin intens dan sarung makin basah kena rembesan ketuban, BAK semakin sering dan aku merangkak untuk ke kamar mandi biar ketuban tak ngucur lagi. Untuk menenangkan hati, aku sholat lail sambil nahan kontraksi,lalu ku telepon ibu minta doa dan minta kesini kalo udah pagi. Suami pun tenang dan minta ijin tidur sampai subuh. Subuh kubangunkan suami sambil menahan kontraksi. Suamiku pun bangun dan sholat subuh lalu lanjut keluar beli telor. Suamiku sudah mengajakku terus untuk berangkat ke bidan namun kutolak karena menunggu terang dulu, sekalian anak-anak bangun.

Jam 06.00 kontraksi semakin intens mulai 7 -8 menit sekali. Suami ku bersikeras meminta berangkat ke bidan namun masih kutolak karena aku mau mandi dulu biar segar. Anak-anak sudah bangun tapi ibu belum datang juga. Akhirnya kutelpon mertua dan meminta tolong menjaga anak-anak. Tak lama kemudian mertua dan adik ipar pun datang, Alhamdulillah.

Jam 07.00 akhirnya berangkat juga ke bidan deket rumah mertua karena kontraksi udah 5 menit sekali, sampai bidan di VT katanya baru bukaan 2 dan dirujuk ke rumah sakit. Sudah kuduga bidan yang awalnya bersedia membantu lahiran normal berubah pikiran di hari H dan yang awalnya bersedia mendampingi ke RS akhirnya berubah pikiran hanya bersedia memberi surat rujukan saja. Duh, kecewanya aku. Suamiku ingin langsung berangkat saja ke RS tapi aku minta pulang dulu karena mau sarapan dan minum air madu. Di rumah sempat goyang gymball beberapa kali, namun aku sudah tidak bisa makan karena kontraksi sudah 3 menit sekali. Kali ini suami dan mertua minta kami segera berangkat ke Rumah Sakit dan akhirnya aku iyakan.

Saat masuk mobil ibuku datang, Alhamdulillah. Ibuku meminta ikut ke RS namun kutolak, khawatir tidak bisa ikut ke ruang bersalin. Tapi akhirnya kubolehkan, lumayan bisa sembari elus-elus kalau kontraksi datang di mobil.

Perjalanan dari rumah ke RS sekitar 30 menit, dan baru dapat 2 lampu merah kontraksi sudah 1 menit sekali dengan durasi yang lama. Aku sudah tidak bisa menghitung lagi karena sudah tidak memegang HP. Kira-kira baru setengah perjalanan hasrat ingin mengejan sangat kuat. Karena dorongan bayi aku menahan mengejan sambil memeluk ibuku. Aku diingatkan zikir dan deep breathing terus. Qaddarulloh jalanan pagi itu rame sekali karena ada car free day. Suamiku panik namun ibu tetap menenangkanku dengan mengusap-usap punggung sembari diingatkan sabar dan dzikir. Ibuku pegang perutku, orang jawa bilang “wes mbededeng” artinya sudah mengeras seperti batu dan sangat tegang. Firasat ibu aku akan segera melahirkan. Spontan ibu bilang “Seandainya lahir di mobil juga tidak apa-apa biar ku tangkap dan ku selimuti pakai kerudungku nanti sampai rs diurus bidan” kata ibuku.

Alhamdulillah nafas cepat membantu memanage kontraksi di mobil. Mungkin ada sekitar 3-4 kali aku berusaha untuk menahan mengejan di mobil tapi bayi tetap nyundul-nyundul di bawah sana. Akupun sudah tidak bisa duduk pegangan handel pintu dan posisiku setengah berdiri. Suamiku terlihat ikut keringetan dan memacu mobil dengan ngebut, tidak peduli semua mobil di depannya di klakson.

Akhirnya sampai juga aku di RS, aku langsung loncat dari mobil ke kursi roda yang sudah disiapkan perawat. Meskipun sudah tidak bisa duduk nyaman dibawa larilah aku ke ruang bersalin melewati UGD dan tak henti-hentinya aku teriak laa haula walaa quwwata illaa billaah, semua pandangan orang di UGD waktu itu tertuju padaku. Setelah masuk ruang bersalin aku langsung naik bed dan sensasi mengejan sudah sangat tak tertahankan lagi, namun masih ditahan bidan karena di VT katanya baru bukaan 6-7. Apa??? Udah mau jebrol gini baru mau bukaan 7? Ya Allah, tolong lah aku, dalam hatiku berdoa. Waktu itu posisi kakiku harus lurus, “Sabar ya mbak, tunggu dokter dulu” kata mbak bidan. Subhanalloh, rasanya sudah ingin mengejan saja.

Akhirnya mbak bidan telepon dokter yang biasa mengontrolku tiap bulan, Qaddarullah beliau sedang ada acara seminar. Langsung aku ditawarkan dokter lain “Ya udah aku pasra, udah nggak kuat lagi ingin ngejan ini” kataku.

Alhamdulillah ada dokter jaga yang sedang ikut pengajian di lantai atas, langsung ditelpon sama mbak bidan. Sambil menunggu dokter datang aku masih saja diajak ngobrol sama mbak bidan, ditanya kakaknya umur berapa, ketuban pecah jam berapa? Aku pun menjawab sekenanya saja. Aku sudah tidak bisa konsentrasi lagi karena kaki masih dijepit, tidak boleh dibuka lebar. Alhamdulillah dokter datang juga lalu melakukan cek dan mengambil gunting. Di epislah aku dan diberi aba-aba mengejan dalam satu nafas sampai tiga kali dan keluarlah bayiku. Allahu akbar! Alhamdulillah ya Allah…  Lahirlah baby gentlebirth “Zaidan Shaquilano Spontana” dalam keadaan sehat dan selamat. Sungguh pertolongan Allah tepat pada waktunya. Dokter bilang ketubanku tinggal seuprit alias hampir habis. Dokter dan semua bidan heran kenapa aku tidak langsung ke rumah sakit saat ketuban pecah, aku hanya bisa senyum saja. Sementara itu cita-cita melahirkan didampingi suami pupus sudah. Suami baru selesai parkir mobil dan belum selesai mengurus pendaftaran dan administrasi ketika bayi kami lahir. Allah tolong suamiku dari melihat darah. Namun aku bersyukur VBAC ku berjalan dengan lancar. Sungguh Allah sesuai persangkaan HambaNya.

Karanganyar, November 2016

Dila

Terimakasih Ibu, terimakasih suami tercinta, terimakasih doula kecilku Kak Ezel dan Kak Zira, terimakasih mertua atas semua doa dan dukungannya, terimakasih teman-teman vbac support dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu. 

 

 

22 thoughts on “Kisah VBAC Dila

  1. Karena satu dan lain hal, terutama keterbatasan waktu dan kemampuan, ini akan menjadi pesan terakhir di kisah ini. Selanjutnya Sila para ibu yang memiliki akun FB untuk bergabung di Page VBAC Tanya Saya. Insya Allah di sana lebih banyak informasi sputar VBAC. Ketemu di sana ya…

  2. Wah pgn bgt bisa vbac..lahiranku yg pertama sc, skrg lg hml 32 w..smg bisa vbac..Mbak minta tlg dong dimasukin ke grup vbac..nomerku 081330090511..makasih mbak

  3. Assalamualaikum mba, saya juga lagi mempersiapkan kehamilan kedua vbac, bisa minta tolong masukan ke grup vbac mba, no saya 089653604556, syukron,

  4. Mba msukin jg aq di group wa VBAC,soalnya aq lg hamil anak ke2 32w ,jg ingin mlkukab VBAC,kontak aq 085248432092

  5. Ya Allah Mba Dilla, terharu + merinding saya pas baca dibagian “sudah tidak bisa duduk nyaman dibawa larilah aku ke ruang bersalin melewati UGD dan tak henti-hentinya aku teriak laa haula walaa quwwata illaa billaah, semua pandangan orang di UGD waktu itu tertuju padaku”, subhanallah banget Mba, pertolongan Allah datang tepat pada waktunya, saya skrg dah masuk 37w Mba, jarak kelahiran anak ke 1 sampai de2k lahir 21bln, selamat Mba sukses VBAC’nya..

  6. Mbaak dilla, aku bacanya deg2an sampe meneteskan air mata akhirnya sukses vbacnya, bikin saya tambah semangat untuk vba2c. Doakan saya ya mbaaa…

  7. InsyaAllah jika Allah berkehendak tidak ada yg tidak mungkin mbak farah….semoga dimudahkan.amiin
    Sudah berapa w ini mbak?maaf telat bgt balesnya 😊

  8. Semoga bisa mbak mulis….tetap semangat ya,rajin exercise, tetap menjaga pola makan dan berdoa sama Allah semoga di mudahkan 😊

  9. saya menangis saat membaca kisahnya mbak…saya sedang hamil 38w…jarak kelahiran sudah 6 tahun…berharap bisa seperti mbak…

  10. Mbak Dilla waktu lairan di rs mana ya, dokter siapa yg bantu lairannya. Kebetulan saya juga tinggal di karanganyar dan saya pengen bgt bisa vbac..

  11. Mba sy lg menunggu kelahiran.. 37w, anak pertam sy sc dan yg kdua sy pgn normal.. jarak anak 19 bulan. Boleh minta sy masuk k grup wa mba? No sy 085881550602

  12. Alhamdulillah, mbak ari. Turut gembira mendengar kabar VBACnya. Kapan2 boleh berbagi kisah, mbak. Gimana sukses VBAC saat didiagnosa SBR tipis.

    Titip kecup sayang untuk adek bayinya, mbak ari.

  13. Alhamdulillah saya membaca blog ini saat kehamilan 35 week. Yang menginspirasi saya untuk VBAC. Alhamdulillah kemarin tgl 7 Februari 2017 saya VBAC. Sebelumnya saya didiagnosa SBR Tipis. Tpi atas ijin Allah saya berhasil melahirkan normal

  14. selamat buat bunda dilla..penuh perjuangan ya bun buat bisa vbac.
    bunda saya juga mau di masukan ke grup Wa. ini nomer saya 085695218116
    saya lagi hamil anak ke 2. yg pertama sc jarak hanya 10 bulan. apakah bisa niat saya untuk bisa vbca?? tipis skali harapan saya bunda

  15. Mbak aku juga mau di masukan ke grup vbac donng. saya sdg hamil anak ke dua dan yg pertama sc. Errika 083870029038

  16. Hai mbak viola….selamat ya atas kehamilan nya,mbak viola bisa gabung di fanspage di fb “VBAC tanya saya” semoga bisa membantu mbak 😊😊

  17. Masya Allah mbak :’) selamat ya, semoga jadi anak yang soleh. Btw, boleh minta kontaknya mba ? Mau tanya2 soal vbac, siapa tau bisa dimasukin grup juga 🙂 ke violialuana@gmail.com ya mbak. Makasih mbak 🙂

  18. Mbak Dilla, aku ikut deg2an bacanya :-))
    Barakallahu, mbak. Sungguh perjuangan luar biasa, masya Allah. TOP, mb dilla

Comments are closed.