Kisah VBAC Depti

Kisah VBAC Depti

Awal cerita, saat itu anakku yang pertama berumur 12 bulan dan aku telah 2 bulan telat haid. Tepatnya awal Agustus 2016 aku memberanikan diri untuk tespek dan Alhamdulillah wa syukurilah Allah memberikan kami kepercayaan kembali untuk memiliki seorang anak. Jujur saat itu aku menangis karena aku masih trauma proses persalinan SC pada anak pertama kami dan kemungkinan akan SC kembali karena jarak kehamilan ini hanya terpaut 19 bulan. Saat itu proses SC sebelumnya dilakukan dikarenakan aku mulai kurang kesadaran pada pembukaan 7 ke 8, yang sebenarnya aku drop karena mendengar bidan yang membisikkan bahwa jalan lahirku kaku. Akhirnya jalan SC pun ditempuh atas kesepakatan seluruh keluarga. Walau demikian aku bersyukur aku dikarunia anak pertama seorang anak laki-laki.

Tidak mau mengulangi kesalahan sebelumnya di hamil anak kedua aku pun rutin exercise, jalan, dan menjaga makananku, makan makanan sehat, susu dan lainnya (kecuali vitamin dokter karena aku nggak bisa minum obat dan malas). Aku juga sibuk mencari dokter pro normal yang mau membantuku untuk melahirkan normal pasca SC. Alhasil hingga 8 dokter sudah aku kelilingi dan hasilnya kompak “AKU HARUS SC KEMBALI KARENA KURANG DARI 2 TAHUN” Dokter andalan kami yang semula mengatakan akan membantu normal pun berubah pikiran serta memberikan rekomendasi SC. Ketika usia kandunganku telah mencapai 38w menurut usg dan jadwal SC pun sudah ditetapkan pada tanggal 30 maret 2017 yang di request samaan dengan tanggal lahir suami, waktu jadwal SC diberikan dokter sempat ada percakapan dengan suamiku.

Aku: Abi, kira-kira kamu yakin aku normal atau SC?
Suami: Normal aja yaaa..
Aku: Kamu siap kehilangan aku? Karena kata dokter resikonya nyawa karena kalau normal beresiko robekan belas jahitan SC.
Suami: Jangan ngomomg gitu Ya udah, SC aja biar mengurangi resiko.

Pembicaraan kami pun ditutup dengan cek RS untuk booking kamar dan kami berdua sudah siap untuk SC. Menuju tanggal 30 maret, 2 minggu menuju jadwal SC, entah kenapa aku merasa belum bisa menerima dengan tulus bahwa SC merupakan jalan terakhir proses kelahiran. Di setiap doa aku pun memohon dapat merasakan kelahiran yang telah ditentukan Allah yaitu melahirkan secara pervaginam. Memang rezeki itu tidak datang diduga2, malam setelah kami cek RS aku browsing kembali tentang kisah melahirkan normal pasca SC, yang sebenarnya sudah aku lakukan dari awal kehamilan. Entah mengapa malam itu aku mendapatkan info page FB “VBAC Tanya Saya” dan aku memberanikan diri untuk sharing pengalaman. Di sanalah aku bertemu Mba L yang banyak membantuku sharing ilmu2 VBAC, ia pun merekomendasikan dokter yang pernah membantu VBAC di kotaku.

Aku pun melakukan cek up pertama ke Dr D saat usia kandungan memasuki 39w menurut USG dan saat itu aku disuruh cuti melahirkan untuk fokus vbac. Alhamdulillah aku bersyukur akhirnya aku mendapatkan dokter yang support VBAC. Beliau menyarankan jalan cepat setiap hari 3 jam, campur dengan suami 5x dalam seminggu dan minum obat pelentur serta zat besi. Ditambah juga konsumsi makanan untuk induksi alami berdasarkan info yang kudapat yaitu nanas, buah naga dan kelapa ijo (setiap hari aku konsumsi).

Cek up kedua saat aku memeriksakan diri, ternyata sudah ada bukaan yaitu bukaan 1 ke 2 dan aku langsung diinfus 2 labu untuk memancing bukaan (bukan induksi) karena ditakutkan akan kekurangan air ketuban sementara belum ada kontraksi. Aku pun disuruh pulang ke rumah kembali karena tidak ada kemajuan.

30 maret saat cek up ketiga bukaan masuk bukaan 2. Aku disarankan untuk langsung diinduksi balon. Saat itu aku menolak dan minta minggu depan saja karena anakku campak. Aku tidak tega meninggalkan anakku. Mbak L pun yang menjadi tempat bertanyaku tidak menyarankan untuk induksi balon.

31 maret, atas saran suami dan orangtua juga pertimbangan bahwa Dr D mau membantuku normal walau dengan interfensi akhirnya aku bersedia diinduksi balon. Aku pun disuruh pulang kembali dan diminta untuk lari selama 3 jam. Setelah diinduksi balon rasanya mules dan durasinya berantakan. Rasanya bayiku semakin menyundul di bawah sana, seperti ada yang mau merosot saja. Setelah lari aku nge-gymbal dan kontraksi mulai terasa teratur.

1 april, sore hari kontraksi semakin aku rasakan dan teratur intensitasnya dan saat kembali ke Klinik ternyata bukaan 3 dan aku disuruh pulang lagi. Waktu pulang aku pasrah dan selalu berusaha mengingat hypno, kalau kita ikhlas maka bayi akan keluar pada waktunya. Aku pun menyempatkan diri menjemput mertua dr RS dan sepulang dari rumah mertua ketubanku pecah. Aku kembali lagi ke RS dan langsung dilakukan infus.

2 april, pukul 00.00 aku sudah tidak kuat menahan gelombang cinta dede bayik dan tidak ada yang bisa aku pikirkan selain meminta untuk dilakukan SC, saat itu bukaan baru masuk bukaan 4. Pukul 01.00 aku masuk ruangan operasi. Infus, kateter, suntik, dll sudah disiapkan. Pukul 01.15 Dr D datang dan cek bukaan sudah bukaan 6 dan Dr D membujuk untuk melahirkan normal. Pukul 01.30 seluruh dokter sudah datang dan siap melakukan operasi namun Dr D tetap pada pendiriannya membujukku melahirkan normal karena bukaan sudah di bukaan 7 menuju 8.

Aku pun menyerah dan nurut saja dengan Dr D. Sekitar 1 jam kemudian tepatnya pukul 02.23 alhamdulillah wasykurillah putra kedua kami lahir.

***

Sujud syukur atas rezeki yang Allah berikan kepada kami. Melahirkan secara normal ataupun SC, keduanya tetap melewati rasa sakit, keduanya tetap bertarung antara hidup dan mati, dan keduanya adalah takdir Allah.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada suami, keluarga, tim dokter & bidan, teman2 semua yang sangat membantu dan memberikan aura keyakinan bahwa melahirkan normal setelah SC itu BISA .

 

-Depti-

This entry was posted on January 14, 2018, in VBAC. Bookmark the permalink.