Kisah VBAC Fathimah Bunda Thifa

Kisah VBAC Fathimah Bunda Thifa

Alhamdulillah, bi idznillah, puji syukur kupanjatkan kepada Allah yang telah memberiku kesempatan untuk bisa melahirkan normal setelah persalinan CS sebelumnya. Rasanya tak tergambarkan. Meski merasakan kontraksi begitu luar biasa dan mendapat banyak jahitan bekas epis ini adalah nikmat terindah, Alhamdulillah. Masya Allah.

***

Masih terbayang dalam ingatanku bagaimana proses kehamilan hingga persalinanku yang pertama. Pada waktu itu aku menganggap bahwa proses persalinan dan melahirkan adalah sesuatu yang alami. Aku tidak banyak belajar tentang persalinan dan melahirkan. Aku selalu mendengar cerita ibu dan nenekku yang ketika melahirkan dulu itu mudah dan ada mitos yang mengatakan bila ibunya melahirkan mudah maka keturunannya pun akan melahirkan mudah. Itu terpatri dalam diriku sehingga aku merasa tidak perlu banyak belajar tentang proses persalinan dan melahirkan saat itu.

Hingga hari persalinan itu tiba, ketika aku sedang tertidur tiba-tiba ada air yang mengalir seperti air seni yang tidak bisa ditahan. Aku tahu itu salah satu tanda persalinan dan aku langsung mengajak suami ke bidan tempat biasa aku control. Sesampainya di bidan ketika di VT ternyata belum ada pembukaan dan kontraksi, karena itu akupun dirujuk ke RS karena di klinik bidan tidak ada dokter jaga. Akhirnya aku ke rumah sakit yang telah ditentukan dan sesampainya di RS jam 00.30 aku langsung diinduksi, tetapi baru jam 08.00 pagi sakit perut itu mulai terasa pelan dan semakin lama semakin kencang. Jam 10.00 WIB aku di VT kembali dan ternyata baru pembukaan satu. Kemudian pihak rumah sakit memberitahukan kalau sampai jam 12.00 pembukaan belum bertambah maka CS harus dilakukan karena bayinya bisa lemah dan bisa keracunan air ketuban. Karena tidak punya pengetahuan apa-apa tentang persalinan maka aku menyetujui saja usulan itu, bagiku tentu dokter lebih mengetahui yang terbaik buat aku. Alhamdulillah lahirlah anak pertamaku.

***

Tiga tahun berlalu, belum tergambar olehku bagaimana menghadapi proses persalinan jika aku hamil lagi nanti. Aku tahu melahirkan adalah suatu yang alami dan melihat teman-temanku yang dapat melahirkan normal, hatiku pun bertanya-tanya mengapa mereka bisa aku tidak bisa? Ketika program hamil lagi aku pun mencari tahu tentang melahirkan normal setelah SC (VBAC) dan berazam dalam diri yang diikuti oleh suami di persalinan berikutnya harus bisa normal. Delapan bulan setelah lepas KB Alhamdulillah aku hamil lagi, namun ketika 8w qaddarallah dokter mengatakan bahwa bayi dalam kandunganku tidak berkembang dan harus dikuret.

***

Satu tahun setelah aku dikuret yaitu akhir bulan april 2016 tamu bulananku belum juga datang dan aku merasakan tidak enak badan. Pusing dan mual mulai aku rasakan. Aku pikir karena pergantian cuaca saja dan semenjak lepas KB haid ku memang selalu datang telat. Dua minggu tidak juga datang aku pun membeli testpack untuk memastikan apakah aku hamil atau tidak dan hasilnya dua garis merah. Alhmadulillah ternyata Allah mengamanati lagi aku seorang anak.

Ketika sudah mengetahui bahwa aku hamil aku mulai mencari tahu bagaimana melahirkan normal setelah cesar atau yang dikenal dengan VBAC. Hasil awal yang aku temukan adalah resiko melahirkan normal setelah cesar adalah robek rahim dan itu membuatku down. Dalam hati aku berkata apakah aku bisa melahirkan normal di persalinanku nanti, resikonya sangat menakutkan. Aku sampaikan niatku untuk lahiran pervaginam dengan suami dan Alhamdulillah suamiku sangat mendukung keinginanku.

Di awal kehamilan aku dan suami mencari spog yang sabar dan tentunya mau menolong proses persalinanku pervaginam. Akhirnya aku menemukan klinik Dr. M yang tidak jauh dari rumahku. Saat itu kandunganku memasuki 9 w. Aku pun ingin memastikan apakah calon bayiku tumbuh berkembang atau tidak karena aku trauma dikehamilan ke-2 ku ternyata bayinya tidak berkembang. Alhamdulillah dokter mengatakan semuanya baik. Aku utarakan keinginanku untuk bisa lahiran normal dan Dr. M mengatakan bahwa beliau sering membantu persalinan normal setelah CS selama semuanya berjalan normal. Aku senang karena Spog merespon baik keinginanku.

Tak hanya berhenti di situ aku terus mencari tahu tentang persalinan normal setelah secar (VBAC) di internet, mulai dari apa saja yang harus dilakukan, makanan apa saja yang harus dijaga hingga aku membaca kisah Mba M yang sukses lahiran pervaginam setalah 2 x secar. Kisahnya menambah semangat ku untuk bisa melahirkan normal. Aku mulai membaca cerita-cerita sukses vbac lainnya dan mencari tau tahapan-tahapan apa saja yang mereka lakukan sehingga bisa sukses vbac. Hingga akhirnya di trisemester ke-3 kehamilanku aku bergabung bersama di sebuah group support vbac yang menambah ilmuku tentang persalinan pervaginam. Semenjak itu aku mulai jaga asupan makananku mulai dari booster protein untuk menguatkan bekas jahitan CS ku, memperbanyak makan vitamin C, mengatasi keputihanku dengan masker yogurt. Aku baru tahu ternyata keputihan bisa menyebabkan KPD (pecah ketubah dini) seperti yang kualami di kehamilan yang pertama dulu. Aku pun mengkomsumsi kurma, minum evoo (minyak zaktun extra virgin) yang rasanya “luar bisa” tapi karena aku ingin lahiran normal maka tetap aku minum walaupun sesudahnya pasti ingin muntah dan perbanyak minum air putih apalagi ketika sudah memasuki trisemester akhir agar ketubanku selalu mencukupi.

Aku mulai exercise jongkok berdiri setiap habis sholat 10 x, butterfly pose, all four, mulai pijat bekas CS sewaktu mandi, membetulkan posisi duduk dan yang terpentig adalah mempelajari tahap-tahap persalinan. Tak lupa yang paling utama adalah berdoa kepada Allh SWT memohon agar memudahkan proses persalinanku nanti.

***

Akhir Desember 2016 aku kontrol yang terakhir ke Spog dan memastikan beliau mau membantuku melahirkan normal. Beliau mengatakan, “Datang saja ke klinik ini. Kalau ketuban pecah duluan datang saja, nanti saya akan bantu untuk normal.” Alhamdulillah aku merasa mendapatkan dukungan penuh.

22 januari 2017
Pagi itu setelah subuh aku sedang masak dan mempersiapkan diri karena aku harus mengisi kajian di pagi hari. Tepat pukul 06.00 ada yang air yang keluar dan tak tertahankan. Aku kaget bercampur panic, astagfirullah ini air ketuban sudah pecah. Kemudian aku beri tahu suami bahwa ketuban aku sudah pecah. Suami pun kaget seperti halnya aku, karena aku merasa sudah berusaha mencegah agar tidak terjadi KPD lagi seperti persalinanku yang pertama dulu. Sambil rapi-rapih sebelum ke klinik bersalin aku hubungi dulu teman-temanku untuk membatalkan kajian pagi itu karena tidak memungkinkan untuk bisa digantikan oleh orang lain.

Di perjalanan menuju klinik tak henti-hentinya aku berdoa kepada Allah Swt untuk memudahkan proses persalinanku, doa yang selalu aku panjatkan “Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah].

Setelah sampai diklinik aku di VT oleh bidan jaga dan ternyata baru bukaan satu tanpa ada kontraksi. Kemudian bidan jaga laporan Spog dan diberi waktu 6 jam untuk observasi karena ketubanku sudah pecah, aku pun harus diinfus untuk dikasih antibiotic supaya tidak kemasukan bakteri. Aku sempat ragu untuk di infus karena kalau diinfus itu berarti aku tidak bisa exercise. Namun akhirnya aku terima juga untuk diinfus untuk menghindari resiko yang disampaikan dokter.

Setelah itu aku berusaha memancing gelombang cinta dengan induksi alami, yaitu stimulasi puting karena aku tidak bisa banyak bergerak. Pelan dan pasti kontraksi itu pun datang. Aku mulai menghitung datangnya kontraksi selama 30 detik dengan jeda 8 menit dan semakin siang semakin kencang kontraksinya. Aku tetap banyak minum untuk menghindari ketuban yang terus keluar dan aku makan untuk menambah tenaga.

Jam 14.00 aku di VT ternyata bukaan 2 menuju 3 dan Spog mengatakan silakan dilanjut dan kita lihat perkembangannya nanti. Aku senang sekali aku masih dikasih waktu untuk bisa mencoba melahirkan normal. Menjelang jam 3 sore aku berniat makan kurma untuk menambah tenaga tapi yang terjadi malah yang aku makan keluar lagi dan sejak itu tidak ada lagi apapun yang bisa aku makan. Aku terus menikmati sensasi mulas yang luar biasa.

Jam 17.00 aku kembali di VT dan alhmadulillah sudah bukaan 6 besar. Aku langsung dipindahkan ke ruang bersalin dan di dalam ruang bersalin ini sensasinya luar biasa. Waktu jedanya sangat sebentar dan sensasi mengejan itu tak tertahankan. Aku tidak bisa menahan untuk tidak mengejan. “Kalau ada sensasi mengejan jangan mengejan dulu ya, Bu, soalnya belum bukaan lengkap.” Kata bidan. Tapi aku tidak bisa mengatasinya. Ketika sensasi mengejan itu datang aku mengikutinya saja.

Jam 20.30 bidan VT aku kembali dan dia bilang sudah bukaan lengkap, Alhamdulillah. Kemudian bidan langsung menyiapkan peralatan persalinan dan aku senang karena proses persalinanku sebentar lagi berakhir. Tetapi apa yang aku pikirkan tidak seperti kenyataannya. Setelah pembukaan dinyatakan lengkap itulah perjuangan yang sesungguhnya. Aku harus punya tenaga untuk melewati proses ini tapi tidak ada makanan yang bisa masuk ke tubuhku, hanya teh manis hangat dan air madu saja yang aku minum. Ketika kontraksi itu datang aku harus mengejan melalui perut seperti orang BAB. Jangan mengejan melalui dada, berkali-kali aku dikasih tahu namun berkali-kali pula aku salah, sampai bidan dan suamiku terdengar seperti marah-marah. “Ibu itu kepala bayinya udah kelihatan. Ibu mengejannya yang benar ya.” Ada lagi bidan yang bilang, “Ibu kalau Ibu mengejannya tidak benar nanti Ibu disecar lagi. Ibu cuma dikasih waktu 1 jam sama dokter loch.” Mendengar kata cesar aku berusaha terus berjuang untuk bisa normal karena aku tahu tinggal sebentar lagi.

Jam 21.30. Ketika sensasi itu sekali lagi datang aku mengejan sekuat-kuatnya dibantu oleh bidan, terdengar lah suara robekan, dan tak lama kemudian lahirlah bayiku setelah 1 jam berjuang untuk mengejan. Alhamdulillah. Rasa sakit yang sedari pagi aku rasakan hilang seketika mendengar tangisan anakku.

Jam 23.30 Dr. M datang mengunjungiku beliau mengatakan, “Selamat ya, Bu, Ibu hebat sukses melahirkan pervaginam. ” Akupun mengucapkan terimakasih kepada Dr. M karena telah diberikan waktu untuk bisa melahirkan pervaginam.

***

Puji syukur kupanjatkan padamu ya Allah yang telah memudahkan proses persalinanku, kau kabulkan doaku untuk bisa melahirkan normal.

Terimakasih untuk suamiku yang selalu mensuport dan memberikan aku semangat terutama di saat aku lelah merasakan kontraksi yang luar biasa. Terimakasih untuk kedua orang tuaku atas doa kalian dan support kalian. Terimakasih untuk teman-teman semua untuk semua ilmunya yang telah kalian bagi kepadaku.

Tidak ada yang tidak mungkin terwujud apabila terus berusaha semampu yang kita bisa dan berdoa kepada Allah SWT meminta dan memohon kepadanya agar mewujudkan cita-cita kita.

Bunda Thifa

This entry was posted on January 13, 2018, in VBAC. Bookmark the permalink.