Kisah VBAC Aulia

Sebuah Perjalanan VBAC

image

Semua atas ijin Allah, semangat, support group (suami, keluarga beserta nakes) dan ilmu yang mengantarkan impianku untuk VBAC menjadi kenyataan.

***

Januari 2011

Dua garis tegas alat deteksi kehamilan membuatku tersenyum lebar dan melakukan sujud syukur. Penantian selama 5 tahun, rintihan doa dan tangisan dalam sujud kami serta perjuangan dengan fertility issue dikabulkan Allah.

“Janin usia 8 minggu dan HPL 14 September 2011, Bu. Sebaiknya jadwal SC adalah awal September, usia 38 minggu.” kata dokter yang kutemui. “Kenapa harus sc dok”, demikian sanggahku. “Anak yang ditunggu-tunggu, Bu. Ini anak mahal.” jawab dokter. Termanggut-manggut aku mendengarkan penjelasan dokter. Tanpa sadar ide bahwa a scheduled c-section is way too safe compare with vaginal birth itu tertanam dalam benakku. Sempat aku berdebat dengan suamiku karena ia ingin aku melahirkan secara normal, hingga akhirnya aku pun akhirnya memutuskan i want to give it a try.

Untuk itu aku pun berpindah memeriksakan diri ke dokter yang support persalinan normal. Alhamdulillah setiap kedatangan dokter itu mengatakan semuanya baik-baik saja. Aku pun menganggap karena hamil itu alamiah, maka melahirkan pun akan alamiah juga, tidak ada yang perlu dirisaukan. Selama kehamilan berjalan pun aku fokus mempelajari manajemen pemberian ASI saja, karena aku ibu bekerja saat itu. Mempelajari tentang persalinan alami tidak pernah terlintas di pikiranku.

September 2011

40 minggu, tanda-tanda bersalin pun dimulai dengan mucus plug (lendir) yang keluar disertai dengan sedikit mulas pukul 9 malam. Blank, khawatir, cemas, was-was terjadi sesuatu yang buruk campur aduk jadi satu.

“Pembukaan 1 bu, sebaiknya sudah stay di rumah sakit untuk kami observasi”, demikian kata dokter. Tanpa pikir panjang kami mengiyakannya.

Hari ke-1 di LD surging yang kurasakan masih bisa ditahan dan progress dillation sangat lambat. 1 x 24jam pembukaan tidak bertambah juga. “Pembukaan itu tiap 1 jam harus bertambah 1”, kata suster yang selalu kuingat-ingat saat itu. Dan ketika pembukaan lambat aku merasa gagal dan mulai menyalahkan tubuh. (Astaghfirullah.. Aku lupa manusia adalah sebaik-baiknya ciptaan Allah).

Hari ke-3  aku masih di RS dan mulai menerima tawaran untuk induksi. 2 x 24 jam induksi tidak banyak membantu untuk pembukaan sampai full dillation, hanya sampai pembukaan 4 saja dan itupun tebal.

Hari ke-5 karena sudah lelah dan merasa frustasi kami akhirnya memilih persalinan SC. Alhamdulillah Tanggal 16 September 2011 pukul 13.35 lahirlah putri pertama kami.

Operasi berjalan lancar, bayi menangis dan langsung dipisahkan dari ibu. “Dok, saya mau IMD”, pintaku. “Iya bu, bayi ditimbang dulu… bla bla bla…”, penjelasan dokter tidak terlalu kudengar jelas. Kemudian bayi ditaruh di dadaku sekitar 5 atau 10 menit, namun aku merasa sesak napas dan meminta bayi diangkat dan selanjutnya aku lupa hingga kemudian aku merasa sangat menggigil di ruang recovery post op.

I was left empty.

***

Desember 2013

Suau hari aku merasa selalu pusing, mual-mual dan menjadi sangat sensitif. Aku kuatkan tekad untuk membeli sebuah test pack dan meskipun sudah mempunyai feeling hamil melihat tanda 2 garis itu rasanya selalu membuat bahagia, haru dan berharap.

This time I will do it differently. I want a natural vaginal birth.

Saat itu aku masih “hijau” tentang VBAC tetapi aku berikhtiar dengan stay active, banyak jalan pagi, makan sedikit karbo kompleks dan memperbaiki nutrisi yang masuk.

Seperti sudah diatur, tiba-tiba si kakak menanyakan video kelahirannya dulu. Mungkin karena hormon hamilku yang sebelumnya melihat video tangisan bayi itu biasa-biasa saja, saat melihat video itu sekali lagi aku jadi lebih mengamati tiap nada tangisan si kakak waktu itu. Seolah-olah tangisan itu bisa diterjemahkan menjadi luapan rasa marah, haus dan menanyakan “where is my mommy?”. Dan aku pun menangis.. menangis.. dan menangis.

Sekali lagi aku ber-azzam, kali ini lebih kuat lagi bahwa kehamilan kali ini harus melahirkan normal. Aku tidak mau dipisahkan dari bayiku, aku ingin langsung mendekapnya setela lahirnya tanpa intervensi.

Siang malam waktu aku habiskan untuk riset dan mencari tahu tentang VBAC. Qodarullah aku dipertemukan Allah dengan banyak hal mengenai ilmu persalinan dan VBAC, di antaranya mengetahui mengenai persalinan maryam dan mengikuti workshop bidan Mugi Rahayu. Kemudian aku sangat terkesan dengan kisah VBA2C yang kubaca di ummiummi.com yang di kemudian hari tanpa sengaja aku bisa mendapatkan kontak dengan mba Muti, pemilik kisah VBA2C, yang mengesankan melalui BB. Semua dengan ijin Allah.

Aku pun menambahkan ikhtiar dengan mengkonsumsi kurma, madu, air zam zam dan minyak zaitun dalam diet sehari-hari. Simple saja alasannya karena bahan makanan itu disebutkan dalam Al-Quran dan yang pasti barokah.

Perjalananku mencari ilmu persalinan alami pun sampai pada puncaknya ketika mengikuti pelatihan AMANI Birth di awal bulan Juni 2014. Baru kali ini aku sangat serius mengikuti sebuah kelas, ilmu persalinan yang selama ini aku cari.

“Ini tho yang namanya empowering itu. Dan setiap ibu hamil seharusnya dan berhak mendapatkan ilmu ini, walaupum hamil itu alamiah”. Demikian kataku dalam hati.

Percakapan demi percakapan dengan mba Muti menjadi murroja’ah dari apa-apa yang sudah pernah aku dapatkan dari pelatihan tersebut.. She is my virtual doula. (Uhibbuki fillah ukhti).

Usia 28 minggu kehamilan, aku kontrol rutin dan dokter mendiagnosa ada luka SC bagian dalam yang belum sembuh dan aku pun dirujuk ke ahli fetomaternal untuk 2nd opinion. Hal ini cukup membuat shock terutama suami. Setelah membuat janji dengan dokter ahli fetomaternal yang antrinya 1 bulan sebelumnya, aku mulai sharing dengan beberapa yang sukses VBAC. Konsumsi gamat menjadi opsi waktu itu, dan aku pikir tidak ada salah nya menambah suplemen.

Usia kehamilan 32 minggu, hasil USG dokter ahli menegaskan tidak ditemukan luka pada bekas jahitan SC, dan bahkan mendapat bonus kabar gembira mengenai ketebalan SBR yang pas untuk melahirkan normal.

Yes, you are in a good shape to go ahead for VBAC”. Satu rintangan terlampaui. Alhamdulillah.

Selanjutnya adalah meyakinkan suami untuk menyetujui homebirth, mengambil opsi homebirth ini tidak semena-mena aku putuskan. Trauma akan LD Room, banyak intervensi dan kondisi kehamilan yang fit kali ini menjadi pertimbanganku. Aku ingin proses melahirkan kali ini lebih tenang dan nyaman, dan kondisi tersebut hanya bisa didapatkan di rumah.

Disclaimer : Homebirth is not for everybody, there is term and condition applied

Setelah negosiasi yang cukup panjang akhirnya suami menyetujui homebirth dengan syarat harus ada bidan. “Yesss!!” Teriakku dalam hati. Tidak banyak bidan yang available saat itu karena HPL dekat dengan Hari Raya Idul Fitri, tapi aku mendapatkannya. Alhamdulillah.

31 Juli 2014 (H+3 Idul Fitr)

Entah kenapa saat itu aku merasa harus membersihkan rumah, seperti mendapat feeling akan segera bersalina. Belakangan aku mengetahui itu namanya nesting instinct. Sesekali aku beberes sambil menahan sakit area pinggul seperti tulang pinggul patah. Menjelang maghrib semua bersih lalu aku membeli makan malam di luar.

1 Agustus 2014,

Pukul 00.00 wib, aku terbangun karena merasakan sensasi kontraksi dan ada keinginan untuk BAB. Catatan waktu tiap tekanan beserta durasinya aku kirimkan ke bidan dan my virtual doula. Dengan kompak mereka jawab, “Masih acak, tunggu mucus plug keluar dan itu adalah kontraksi yang sebenarnya”.

Ketika tekanan datang aku mengatur nafas sambil mondar-mandir di dalam rumah. Nafas yang baik dan dalam sangat membantu kelancaran suplai oksigen ke janin agar tidak stress. Satu-satunya alasan aku banyak berjalan saat itu adalah untuk membantu janin agar mudah “turun”, yaitu dengan memanfaatkan gaya gravitasi.

Pukul 05.00 wib, setelah sholat subuh aku kembali mencatat setiap tekanan. Saat ini jarak antar kontraksi sudah 5 menit sekali dengan durasi 30-45 detik. Aku pun tetap melanjutkan aktifitas seperti biasanya, hanya kali ini sering berhenti dan meringis ketika kontraksi mulai datang. Tidak lupa aku terus mengkonsumsi kurma dan memperbanyak minum air. Seingatku inilah yg terakhir kumakan hari itu.

Bidan sms akan datang sekitar pukul 9. Karena semalaman aku tidak tidur Karena sudah merasakan sakit, aku memutuskan istirahat sampai bidan datang, suamiku yang mengurus mandi dan sarapan si kakak.

Pukul 08.00 wib, ternyata bidan datang lebih cepat. Rasanya lega sekali, karena saat itu saya sangat membutuhkan support. Dan ajaibnya mengobrol sambil goyang pinggul mengalihkan perhatianku dari sensasi kontraksi. Sambil melakukan persiapan sterilisasi kolam, bidan minta ijin untuk cek dalam. Hasilnya pembukaan 4 tipis dan mucus plug sudah keluar, plus detak jantung janin normal. Alhamdulillah, aku  semakin percaya diri.

Setelah semua siap, bidan memberi tahu bahwa beliau punya pasien inpartu (dalam proses melahirkan) juga dengan kondisi bukaan yang sama di klinik. Setelah diskusi dengan suami, birthplan berubah dari homebirth menjadi clinic birth.

50 Km jarak dari rumah ke klinik, kami tempuh dalam waktu 30 menit. Sesampainya di klinik aku ditinggal suamiku untuk sholat Jumat.

Pukul 14.30 wib, kontraksi mulai merapat, intensitasnya mulai menguat dengan durasi kontraksi semakin lama sekitar 1 menit. Selama itu aku berpegangan dan memeluk erat suamiku, rasanya sangat nyaman.

Pukul 16.15, air ketuban pecah dan tampak jernih. Kolam air hangat sudah dipersiapkan. Suamiku terus menerus mengingatkan deep breathing. Karena panik aku sering lupa dan bernafas cepat.

Tak berapa lama aku merasakan sensasi “ring of fire” dan bidan memberitahu bahwa kepala bayi sudah crowning, aku pun memegang rambutnya dan merasakan sensasi kebahagiaan.

Lalu aku merasa sangat mengantuk dan rasanya tidak mau melanjutkan. Suamiku terus menyemangati dan bidan pun menyuruhku untuk mengejan tapi aku menggeleng-geleng kepala.

“Mbak, ayo dibantu adek bayinya keluar, saya kasih aba-aba yaaah mengejan, sudah sedikit lagi mau selesai” kata bidan. Mendengar itu akupun mengangguk dan mengikuti instruksi bidan.

Tiga atau empat kali mengejan bayiku pun lahir pukul 16.45. Alhamdulillah. Bayiku masih di dalam kolam dengan lilitan di leher dan tangan. Kemudian bidan membuka lilitannya dan diserahkannya ke pelukan ini. Rasanya percaya tidak percaya aku melahirkan.

“Assalamu’alaikum sayangku, ini mama nak, adek dipeluk mama yaaah.. Iyaaa ini dipeluk mama sayaaang.” Kataku menyambut bayiku.

Sangat mengharukan momen itu. Aku merasa seperti “terlahir” juga. Buncahan bahagianya masih terasa sampai sekarang.

Aulia Nida

15 thoughts on “Kisah VBAC Aulia

  1. Assalamualaikum ba aulia…. Aku minta kontak mba sm mba muti dong… Mw rencana vbac homebirt jg
    Hehehe..
    Mau tanya2

  2. assalamualaikum.. saya sedang berusaha belajar ttg vbac dg jarak kehamilan 18 bulan setelah sc. mohon bntuan dari teman-teman supaya saya bisa dapat ilmu vbac nya… terima kasih

    tlong invite wa saya, 083834997518

  3. Baarakallahu fiik terharu baca kisahnya, Salam kenal mba aulia nida boleh japri.. saat ini aku.sedang hamil 25 week,, sedang ngumpulin ilmu untuk vbac, terima kasih

      • Mb bbm ada mbk?aq lagi hamil 7W dulu pertama sc dan baru 2 th,,,,bidan langganan gk suport sama sekali,,,ini aq lg down mb,,,cz msh trauma wktu sc,,,thank

  4. assalamualaikum, mbak aulia, uk sy skrg 23w, ini kehamilan kedua. sy pgn bgt vbac mbak. tp dsog sy blg fifty2 pluangnya, dan nnti br bs dputuskan uk 36w. dlu sc krn bayi 3,6 kg udh full dillation dan kliatan rambut tp gak maju2 krn kata bidan sy pendek (145cm). sdgkan ktubaan sdh pecah dan kehijauan. dr pglmn itu, sy bertekad utk diet agar bayi tdk besar tp sulit sekali, dan bidan jg bilang nanti dietnya kalau sudah 6 bln saja. mohon sarannya

    • Wa’alaykumussalaam ummu Hanun..

      Afwan baru reply, bagaimana kabarnya??
      Jangan berkecil hati saya ada kawan yang tinggi badan kurang lebih sama dengan ummu Hanun dan biidznillah sukses vba2c malah..

      Saya tunggu kabar baiknya..

    • Hai haii.. mama wildan sekarang sedang hamil kaah, HPL kapan?
      oiyaa, kata dokter resiko nya apa saja yaa mba dengan ketebalan rahim 2.6mm?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *