Kisah VBA2C Wilda

Kisah VBA2C Ku

image

Terima kasih ya Allah, malam itu pukul 00.10 tanggal 15 november 2014, tidak putus syukur kuucapkan, Alhamdulillah, Allah memudahkan aku melahirkan normal setelah dua kali sesar sebelumnya. Semua berjalan seperti harapanku, aku berharap semoga Allah melindungi aku dari pendarahan seperti kejadian di anak kedua, aku berharap Allah melindungi aku dari ketuban pecah dini atau ketuban rembes, aku berharap semoga pembukaan lancar, aku berharap saat hari H tetap tenang. Banyak sekali harapan dan doa selama kehamilan dan kelahiran ketiga ini. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, semua Allah mudahkan.

***

 

17 April 2014, kami pulang ke Batuphat untuk mengunjungi kedua orang tuaku. Setibanya di rumah orang tuaku, mamak langsung melihat ke arah perutku, sambil bertanya “rayek that prut lagoe neuk, peu ka mume lom? (besar kali perut kok nak, apa hamil lagi?)” Aku langsung menjawab , “ga lah mak, bulan kemarin aja masih haid”. Mamak tidak bertanya lebih lanjut, langsung mencium dan memeluk kedua cucunya, Zaid dan Medina. Keesokan harinya, mamak menyuruhku untuk melakukan test, mamak khawatir melihat perutku. Jika hamil, alhamdulillah, nah jika bukan hamil, mamak khawatir ada penyakit. Mendengar hal itu, aku pun jadi cemas, karena terpikir bisa jadi usus buntu,aku tidak terpikir hamil, karena bulan Maret masih haid tanggal 17, jadi bulan April belum telat. Besoknya saat mamak ke pasar, aku minta tolong mamak untuk beli test pack.

20 April 2014 pukul 04.00 pagi, aku terbangun dan segera melakukan test (terbangun cepat karena begitu khawatir, apakah ini penyakit atau hamil). Ternyata dua garis muncul, alhamdulillah hamil bukan penyakit (perasaan campur aduk saat itu), namun kemudian muncul keraguan apakah aku benar hamil, karena dua garis yang muncul hanya samar-samar. Walaupun demikian, aku segera berdoa, jika memang benar hamil, semoga Allah memudahkan aku untuk bisa melahirkan normal (baru tau hamil, langsung berdoa untuk melahirkan :D). Yaaa, itulah harapan yang terbersit dalam hati pertama kali karena sangat besar keinginanku untuk melahirkan normal, setelah sebelumnya aku sudah dua kali melahirkan secara sesar. Paginya, aku langsung memberitahukan ke suami, dan mamak. Mamak tampak senang, tapi wajah mamak tampak lebih banyak khawatirnya karena mengingat aku sudah 2x sesar, dan juga aku bekerja, siapa yang akan menjaga si bayi nanti saat aku kembali bekerja. Sorenya, kami berangkat untuk pulang ke Banda Aceh karena besok senin aku dan suami kembali masuk kerja, dan Zaid juga masuk sekolah. Di Banda Aceh, setiap 3 hari sekali aku kembali melakukan test pack, hasilnya sama saja, dua garis samar-samar. Walaupun ragu, di dalam hati terus berdoa, “jika benar-benar hamil, semoga Allah mudahkan aku untuk melahirkan normal”. Doa itu terus kuulang di dalam hati.

2 Mei 2014, aku ke dokter A untuk memastikan apakah aku benar hamil, dan jika benar aku hamil, sudah berapa usia kehamilanku, mengingat perutku yang sudah tampak membesar. Saat masuk ke ruangan dokter, dokter menanyakan riwayat kehamilan sebelumnya, karena itu baru pertama kali aku konsultasi dengan dokter tersebut. Dua kehamilan dan kelahiran sebelumnya aku konsultasi dengan dokter di Lhokseumawe. Ini pertama kalinya aku hamil di Banda Aceh, jadi aku masih tidak tau DSOG mana yang nyaman untuk konsul. Alasan memilih dokter A karena beliau Konselor Laktasi, jadi aku pikir akan mudah untuk meminta IMD. Saat di USG, ternyata kehamilanku sudah masuk 12 minggu 5 hari (sudah 3 bulan ternyata, pantas saja perutku tampak besar), dan HPL 9 November 2014. Jika menurut pada hasil USG, usia kehamilan sudah 12 minggu, berarti HPHT adalah Februari, sedangkan di Maret aku masih haid tapi haidnya tidak seperti biasanya, hanya flek. Satu hari flek, besok berhenti, lusa flek, begitu terus hingga akhir Maret. Bahkan karena haid yang tidak kunjung berhenti itu, aku sempat periksa dalam sendiri. Dokter geleng-geleng kepala saat tau hal itu,sambil berujar “berani ya VT sendiri, untung tidak terjadi hal yang tidak diinginkan”, aku tidak tau hamil yaa berani berani aja VT sendiri. Kata dokter flek di bulan Maret itu bisa saja implantation bleeding, atau bisa juga itu abortus iminiens. Aku iya iya saja, yang penting sekarang kehamilanku sehat, begitu pikirku. Selain itu, aku menyampaikan bahwa aku sangat ingin melahirkan normal kali ini, dan dokter langsung menjawab “setelah 2x sesar, yang ketiga harus sesar, dan harus tubektomi, karena ini dan itu”, penjelasan dokter tersebut tidak lagi terdengar dengan jelas karena aku sibuk dengan pikiranku sendiri (aku yakin aku bisa melahirkan normal, begitulah pikirku).

9 Mei 2014, keluar flek, seperti haid, aku sangat khawatir, tapi aku tetap bekerja hari itu. Di tempat kerja, aku mulai pusing dan berkeringat, mungkin karena terlalu cemas, kemudian aku minta izin pulang cepat. Suami mengatakan nanti sore kita ke dokter A lagi, selain itu aku juga mengirim sms ke dokter A tentang kondisiku, dari sms balasan dokter menyuruh ku untuk istirahat. Suami juga meminta aku untuk berpikir positif saja. Sorenya, aku ke dokter A, saat di USG, alhamdulillah bayiku sehat dan baik-baik saja, hanya plasenta agak di bawah (sebab itulah flek), kata dokter di awal kehamilan suatu hal yang wajar jika plasenta agak di bawah, seiring bertambahnya usia kehamilan plasenta juga akan bergerak ke atas. Dokter meresepkan obat dan menyuruhku untuk istirahat di rumah selama 3 hari (bedrest). Aku sedikit lega bahwa semua baik-baik saja. Selama istirahat di rumah, alhamdulillah flek semakin berkurang. Tapi aku masih saja ragu, apakah kehamilan ini akan bertahan atau aku akan keguguran hingga dikuret (pikiran yang sangat buruk). Karena berpikir seperti itu, aku jadi malas minum susu. Hal itu membuat suami kesal, suami kembali mengingatkan untuk terus berpikir positif.

22 Mei 2014, aku konsul lagi ke dokter untuk memastikan apakah bayi sehat. Aku memilih ke dokter B, karena dokter tersebut buka praktek pagi, jadi aku bisa pergi sepulang dari tempat kerja. Kali ini aku ke dokter sendiri, tidak dengan suami. Alhamdulillah tidak menunggu lama, aku langsung dipanggil untuk konsul. Aku membawa list pertanyaan. Saat di USG, dokter mengatakan bayiku sehat, usia kehamilan 14 minggu, dan HPL 16 November 2014. Saat mendengar bayi sehat, aku sangat bahagia, hingga lupa menanyakan hal yang ada di list pertanyaan. Selain itu,HPL dokter A berbeda dengan dokter B, dokter A tanggal 9, dokter B tanggal 16. Karena aku sangat senang bayiku sehat, perbedaan tanggal HPL itu tidak terlalu kupikirkan.

Aku mulai berpikir positif dan rajin membaca file-file yang ada di grup FB ‘GBUS(Gentle Birth Untuk Semua)’. Aku terus melakukan hal-hal yang disarankan dalam file-file tersebut. Aktivitasku lebih banyak duduk karena tuntutan pekerjaan. Dari file yang kubaca, jika ingin posisi janin baik, duduk harus tegak, jika tidak sanggup tegak, lebih baik meletakkan bantal di perut, untuk bersandar menghadap ke depan, tidak boleh duduk malas dimana punggung bersandar ke belakang, seperti duduk di mobil sedan. Aku juga menjaga makanan, tidak lagi makan mie goreng, mie bakso, mie instan dan makanan jajanan lainnya. Untuk makanan ringan di kantor, aku selalu membawa bekal dari rumah, seperti buah pepaya, buah kurma, roti bakar. Aku mulai mencari kisah ibu-ibu yang berhasil melahirkan normal setelah sesar atau VBAC(vaginal birth after sesarean), dan hasilnya banyak juga yang sudah sukses melahirkan normal setelah sebelumnya sesar, tidak hanya satu atau dua orang. Hal itu membuatku semakin bersemangat, doa terusku ulang, pada mamak, ayah, kakak, dan teman-teman, aku minta bantuan mereka untuk mendoakanku.

21 Juni 2014, aku kembali konsultasi ke Dokter. Aku konsultasi ke Dokter C, karena dokter tersebut sering membantu persalinan normal, termasuk kakak ipar suami melahirkan keempat anaknya dibantu oleh dokter tersebut dengan cara normal. Sebelum di USG, dokter menanyakan riwayat kehamilan dan kelahiran sebelumnya, dokter langsung mengatakan kelahiran kali ini harus sesar lagi karena sudah 2x sesar sebelumnya, resikonya bisa rupture uterine(robek atau pecah rahim) jika bersikeras untuk melahirkan normal, dokter juga mengatakan kalo baru satu kali sesar, masih bisa dipertimbangkan untuk melahirkan normal, namun jika sudah 2x sesar, belum ada dokter yang mau membantunya . Dari hasil USG, bayi sehat, plasenta sudah di atas, usia kehamilan 20 minggu 1 hari, HPL 7 November 2014(HPLnya beda lagi). Aku juga menanyakan ketebalan SBR(segmen bawah rahim), tapi tidak terjawab, alasan dokter, bisa saja saat di USG, SBR tebal tapi nyatanya tipis, ya sudahlah tidak usah berpikir untuk melahirkan normal, daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, begitu kata dokternya. Aku diam saja (dalam hati, dokter C coret dari list). Suami hanya mendengar, dan sesekali bertanya juga pada dokter, suami menanyakan kalo sesar, bagus di rumah sakit mana, aku tidak lagi mendengar percakapan suami dengan dokter karena aku mulai sibuk dengan pikiranku sendiri dan juga terus berdoa dalam hati, semoga Allah mudahkan aku untuk melahirkan normal. Pulang dari konsul dokter, aku kembali baca-baca file di GBUS. Setelah baca-baca, ternyata masih banyak hal yang tidak kuketahui tentang riwayat sesarku sebelumnya diantaranya apa jenis insisi di dalam rahim(melintang atau vertikal), mungkin saja berbeda insisi di dalam rahim dan di bagian kulit perut, apa jenis jahitan yang dilakukan (single layer atau double layer). Aahh rasanya ingin pulang ke Lhokseumawe untuk bertemu dokter yang menanganiku sebelumnya. Aku bertanya pada suami, apakah mau meluangkan waktu untuk pulang ke Lhokseumawe untuk konsultasi ke dokter yang menangani SCku sebelumnya. Suami bersedia, aku sangat senang.

3 Juli 2014, kami pulang ke Batuphat. Besoknya tanggal 4 Juli 2014, kami ke dokter. Dokter tersebut sudah pindah praktek, sudah 5 tahun kami tidak pernah ke dokter itu. Dokter itu sudah buka praktek di rumah sendiri, tidak lagi di praktek bersama. Sampai di prakteknya, semua serba baru, alat USG lengkap mulai dari 2D hingga 4D, asistennya baru, nomor dan buku rekam medisku juga baru(aku punya firasat, jangan-jangan dokter sudah tidak menyimpan lagi riwayat rekam medisku) . Sayangnya saat konsultasi, dokter tidak ingat riwayat rekam medis ku(ternyata benar firasat ku) . Aku tetap bertanya hal yang ada di list pertanyaan, beberapa ada yang terjawab dan ada yang tidak terjawab, yaitu pertanyaan tentang ketebalan SBR, dokter tidak mau melihat ketebalan SBR, karena butuh waktu lama, begitu katanya. Dari konsul dengan dokter tersebut, harus sesar lagi dengan alasan satu kali sesar saja, rahim sudah tipis, apalagi jika sudah 2x sesar, bertambah tipis rahim. Aku senyum-senyum saja, tidak sedikit pun terpengaruh, di dalam hati tetap yakin Insyaa Allah bisa normal, entah bagaimana dengan suami setelah mendengar penjelasan dokter itu. Keluar dari praktek, suami bertanya “apakah masih tetap ingin melahirkan normal”, aku menjawab cepat, “Insyaa Allah tetap mau normal jika memang di hari H nanti semua baik-baik saja”. Suami diam, aku juga diam. Sampai di rumah, mamak sudah menunggu cerita hasil konsultasi dokter, aku hanya cerita yang baiknya saja, tentang rahim tipis dan harus sesar berulang tidak diceritakan ke mamak. Besoknya kami berangkat lagi menuju Banda Aceh.

Juli 2014 merupakan bulan Ramadhan, alhamdulillah Ramadhan kali ini, aku puasa penuh dalam satu bulan. Saat kehamilan pertama aku tidak puasa selama 16 hari, dan hamil kedua selama 10 hari terakhir sudah tidak kuat puasa. Alhamdulillah selama kehamilan ketiga, aku lebih kuat, baik puasa dan aktivitas lainnya. Setiap pagi di bulan Ramadhan, aku membiasakan diri untuk berjalan kaki. Di bulan Ramadhan anak-anak libur sekolah, jadi aku mengajak mereka juga berjalan kaki sebagai olahraga pagi.

5 Agustus 2014, aku konsul ke Dokter D. Hasil USG, usia kehamilan sudah 26-27 minggu, semua normal dan sehat, kepala bayi sedang di bawah(karena bisa saja berubah sewaktu-waktu, begitu kata dokter), dan dokter bahkan bertanya “apa ada sakit di bagian bekas luka sc ini?”, “tidak dok, memangnya kenapa dok” jawabku, “biasa luka bekas SC sakit kalo posisi kepala bayi sudah di bawah”. Alhamdulillah pernyataan dokter itu membuatku semakin yakin untuk melahirkan normal. Setelah USG, aku berkata “dok, saya mau lahiran normal”, dokter menjawab, “tidak bisa, ini harus sesar lagi, belum ada dokter yang berani untuk membantu persalinan normal setelah 2x sesar, mungkin bidan ada yang berani mencoba membantu persalinan normal setelah 2x sesar , itu karena mereka tidak tau bahaya/resiko yang akan terjadi pada ibu dan bayi, seringkali bidan merujuk pasien vba2c ke rumah sakit setelah kondisi memburuk(telah terjadi rupture)”. Aku bertanya ciri-ciri rupture itu bagaimana, dokter menjawab, “pasien vba2c yang dirujuk ke saya, seringkali kontraksinya sangat menyakitkan sehingga si ibu menggelepar-gelepar, ada juga yang kontraksi sudah berhenti dan ibu menjadi tenang, padahal sudah terjadi pendarahan di dalam rahim, ada juga yang akhirnya bayi meninggal dan rahim harus diangkat”. Untuk apa seperti itu, kata dokter tersebut. Kemudian aku mengatakan juga, “tapi dok, ada loh dan lumayan banyak yang sukses vba2c, dokter langsung menjawab dengan menganalogikan “ada juga loh bu, yang selamat saat jatuh dari gedung lantai 10”. Mendengar jawaban itu, kepala mulai agak panas tapi aku tetap berusaha tersenyum, dalam hati tetap yakin Insyaa Allah bisa normal, dan suami, aku tidak tau apa yang dipikirkannya.

Selain itu, dokter D juga langsung menyarankan untuk menentukan jadwal sesar, antara tanggal di akhir bulan Oktober sampai awal bulan November nanti, tidak boleh lewat tanggal 5 November 2014. Aku hanya mendengar dengan tetap tersenyum. Dalam perjalanan pulang, suami bertanya, “kita pilih tanggal berapa ya untuk sesar? Dan sebaiknya di rumah sakit mana? Kita ambil tanggal 28 oktober saja ya?” Aku diam saja, karena sedang berpikir untuk memberikan jawaban yang bisa meyakinkan suami bahwa Insyaa Allah aku bisa lahiran normal. Akhirnya, aku menjawab kita lihat nanti saja, dalam hati kembali kuulang doa yang sama, dan menambahkan doa untuk suami agar suami mau mendukung niatku melahirkan normal. Sampai di rumah, aku berpikir, apakah aku bisa melahirkan normal, pikiran buruk mulai muncul, apalagi suami sudah antusias menentukan tanggal sesar. Kemudian cepat-cepat kuganti pikiran buruk dengan kembali berdoa, dan membaca lagi file tentang VBAC(vaginal birth after sesarean).

Selalu, jika mulai ragu, aku langsung mencari kisah-kisah ibu yang sudah berhasil vbac, vba2c, dan aku menemukan beberapa yang sudah berhasil vba2c, bahkan ada dua orang ibu yang sudah berhasil vba3c(Mbak Henny Zainal dan Mbak Dewina, merupakan ibu yang berhasil vba3c). Aku kembali bersemangat. Aku mulai berteman dengan ibu-ibu tersebut, menanyakan kepada mereka bagaimana mereka berusaha demi keberhasilan vba2c dan vba3c nya. Aku ingin melakukan semua yang mereka lakukan, mereka bisa, Insyaa Allah aku juga bisa.

8 September 2014, aku konsul lagi. Kali ini ke dokter E, suami yang mengajak ke dokter tersebut karena berencana akan melahirkan di rumah sakit milik dokter itu. Saat konsul, suami tidak ikut masuk karena menjenguk keponakan sakit, kebetulan dokter praktek di rumah sakit. Saat USG, bayi sehat, plasenta di atas dan meluas ke bagian samping agak bawah, tapi tidak menutup jalan lahir, ada lilitan tali pusat. Dokter melihat ada bekas SC, dan mengatakan jika tidak pendarahan (pendarahan karena plasenta agak di bawah) bisa melahirkan normal. Aku sangat senang, tidak percaya ada dokter yang mengatakan hal itu. Selesai konsul, suami baru datang, jadi aku mengatakan semua yang dokter sampaikan. Suami tidak banyak komentar. Selama bulan september, aku sangat tenang, pasrah, cuma berharap yang terbaik dari Allah, jika melahirkan normal yang terbaik untukku dan bayi, Insyaa Allah, Allah akan mudahkan, begitulah pikirku. Akhir bulan September, anak-anak sakit, Medina demam, sembuh Medina giliran Zaid demam, hingga harus menginap di rumah sakit karena DBD. Alhamdulillah di rumah sakit hanya 4 hari, dan alhamdulillah aku juga kuat dan sehat saat menjaga Zaid di rumah sakit padahal kehamilan sudah masuk trimester ketiga.

Oktober 2014, anak-anak terus mengajakku untuk membuat kue(cookies) hari raya Idul Adha. Kamis malam, 2 Oktober 2014, aku membuat kue, karena anak-anak terus memaksa. Malam itu, mungkin karena kelelahan, aku merasa perut sedikit tegang, dan susah untuk berjalan, aku sempat terpikir apakah ini kontraksi, apakah mau lahir, tapi jangan lahir dulu ya Allah, karena hari raya sebentar lagi. Alhamdulillah ternyata perut tegang itu hanya sebentar, setelah berbaring, semua kembali normal. Hari raya pun tiba, keluarga semua berkumpul di rumah, dan berkomentar “perut nya sudah turun sekali, kapan perkiraan lahir?” Aku menjawab, “do’a kan ya supaya mudah lahirnya, Insyaa Allah lahirnya paling telat pertengahan bulan November”. Bulan ini, aku mudah kelelahan tapi tidak pernah kutunjukkan di depan suami, suami belum menunjukkan dukungannya pada niatku, jadi aku harus kuat di depan suami agar suami yakin dengan keinginanku untuk melahirkan normal.

13 Oktober, aku ke dokter lagi, ke Dokter F, karena mau mendengar second opinion, apa benar plasenta agak ke bawah, dan ada lilitan tali pusat. Di USG oleh dokter F, bayi sehat, berat badan janin ideal dengan usia, plasenta di atas dan ada sedikit bagian dari plasenta yang meluas ke bagian samping hingga agak ke bawah, tapi tidak menutup jalan lahir, tidak ada lilitan tali pusat. Aku tidak lagi menyampaikan niat melahirkan normal ke dokter F, karena dokter itu juga sudah menentukan tanggal sesar yaitu tanggal 11 November, karena menurutnya itu tanggal cantik, aku senyum saja.

Aku mulai cuti tanggal 20 Oktober 2014. Aktivitas berubah dari bekerja menjadi antar jemput anak, Medina, yang sekolah TK dekat rumah. Antar jemput dengan jalan kaki, sekaligus diniatkan olahraga. Aku juga mulai rutin pelvic rocking di gym ball, posisi nungging di atas kasur dorong, senam hamil sendiri di rumah (tidak setiap hari), minum minyak kelapa buatan sendiri (sudah 2x buat, belum lahiran juga, akhirnya ganti dengan minyak zaitun), latihan kegel (banyak lupa, jadi tidak rutin x_x), latihan pernapasan perut sambil afirmasi dan visualisasi posisi janin semakin turun dan turun, dan yang tidak pernah putus ku lakukan adalah berdoa, meminta didoakan, dan mendoakan ibu-ibu hamil lainnya, “semoga Allah mudahkan proses persalinan nanti, ibu dan bayi sehat dan selamat”. Akhir Oktober, perut sudah sering kencang, tapi hanya sesaat, pinggang kiri juga sering sakit, tapi masih sanggup ditahan.

24 Oktober, malamnya perut kencang lagi, dan terasa mulas, aku mencoba ganti posisi, mulasnya agak berkurang, dan masih kuat ke toilet , karena berpikir mulas mau BAB, ternyata benar bukan mulas mau lahiran. Sudah 2 minggu cuti, 2 minggu juga antar jemput Medina. aku benar-benar menikmati hari-hari cuti, tiap pagi berjalan kaki sambil antar jemput Medina, melakukan hal-hal yang membuat hati senang, mamak juga sudah datang, jadi bisa request masakan yang aku inginkan.

Bulan Oktober hampir berlalu, tanda-tanda melahirkan belum muncul. Mamak dan suami mulai bertanya, kapan lahirnya. Aku cuma bisa senyum, dan menjawab nanti kalo sudah waktunya Insyaa Allah lahir. Kadang juga muncul pikiran negatif dalam kepala, bagaimana jika rupture uterine, bagaimana jika pendarahan karena plasenta agak ke bawah(seperti anak kedua), bagaimana jika ketuban pecah dini, ketuban rembes, bagaimana jika tali pusat pendek, bagaimana jika pembukaan tidak maju, bagaimana jika kepala tidak turun, bagaimana jika sudah bukaan 8 ternyata kepala tidak turun (kasus teman di tempat kerja), bagaimana jika berhasil melahirkan normal tapi ibunya meninggal atau sebaliknya. Jika sudah demikian buruk pikiranku, mulai lagi aku mencari kisah vba2c yang berhasil. Aku menemukan kisah mbak Mutiara, yang melahirkan normal di rumah tanpa tenaga kesehatan setelah dua kali sesar (unassisted birth). Setelah membaca kisah tersebut, aku mengirim email ke beliau. Alhamdulillah email berbalas, dan berlanjut dengan bergabung ke grup vbac yang dibentuk mbak Mutiara. Banyak hal yang kami diskusikan di grup, dan makin banyak kisah sukses vba2c yang kubaca karena bergabung di grup tersebut. Aku kembali bersemangat dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul akibat pikiran negatifku. Alhamdulillah aku lebih tenang dan terus berpikir positif.

Suatu malam, suami bertanya, “apakah yakin mau melahirkan normal?”, aku jawab dengan senyum “Insyaa Allah”. Suami bertanya lagi, “tidak takut kalo meninggal saat berusaha melahirkan normal?”, aku jawab, “kalo memang sudah ajal, saat melahirkan secara sesar pun pasti akan meninggal”. Suami akhirnya berkata, “kalau memang sudah yakin mau normal, harus tenang nanti, jangan panik, karena kalau udah panik, pasti dokter langsung sesar”. Aku jawab “iya, Insyaa Allah”. Aku sangat senang mendengar nasihat suami, bagiku itu merupakan salah satu bentuk dukungannya padaku untuk melahirkan normal, suatu hal yang sangat kutunggu dari suamiku selama ini.

Sudah bulan November, suami tidak mengizinkanku antar jemput Medina. Aku ganti dengan berjalan kaki di sekitar rumah ditemani mamak. Pulang jalan kaki, istirahat sebentar sambil menonton drama korea :-D, lanjut pelvic rocking di gym ball. Tanggal HPL yang diberikan beberapa dokter berlalu, bayi masih betah di dalam. Aku selalu berpikir Insyaa Allah jika waktunya pasti akan lahir. Suami mulai sering bertanya, kapan melahirkannya, aku tau suami hanya bercanda. Sebenarnya aku lebih gelisah, karena khawatir habis masa cuti hamil belum melahirkan juga. Aku iseng bertanya pada Medina, kapan adek lahir, Medina jawab satu sabtu. Satu sabtu, aku artikan satu november tepat hari sabtu, tapi tanggal satu sudah berlalu. Aku tanya lagi, Medina masih jawab sabtu sabtu lagi. Jadi aku menunggu sabtu, 8 november.

5 November, suami mengajak ke dokter. Kami ke dokter E lagi karena rencana melahirkan di rumah sakit dokter tersebut. Konsultasi kali ini, dokter berubah pikiran, tidak mau membantu vba2c, karena khawatir rupture uterine. Aku bersikeras vba2c, sampai dokter berkata boleh saja jika suami mau tanda tangan surat pernyataan. Suami menengahi, kami tidak memaksa untuk normal jika memang ada kondisi yang tidak memungkinkan untuk normal, jadi kita lihat kondisi di hari H saja. Dokter akhirnya setuju, kemudian dokter banyak cerita tentang kejadian-kejadian selama dia menolong persalinan.

Sabtu, 8 November, perut memang sudah sering kencang, pinggang kiri sudah mulai sakit dari seminggu lalu, minggu ini pinggang kanan yang mulai sakit. Aku deg degan menunggu kontraksi datang, ternyata belum sabtu ini dedek bayinya lahir. Senin 10 november, Medina pulang sekolah, aku tanya lagi, kapan adek bayi lahir nak, Medina jawab dengan senyum -senyum “mungkin rabu”. Rabu, 12 november tidak ada tanda-tanda, aku tanya lagi ke Medina, “belum lahir adek nya, jadi kapan ya adek lahir nak?”, Medina jawab, Sabtu. Yaaa, jawabannya Sabtu lagi, yaitu 15 November. Aku berharap lahir tanggal 14, karena tanggal cantik, 14 11 14.

Jumat, 14 November, suami sakit, badannya panas, jadi istirahat di rumah. Zaid juga tidak sekolah. Pagi itu kami jalan bertiga, aku, mamak, dan Zaid. Setelah itu, aku pelvic rocking sambil nonton. Selesai nonton, Zaid mengajak bermain kelereng di dalam rumah. Sambil duduk setengah jongkok aku bermain kelereng. Perut memang agak kencang dan sedikit mulas tapi tidak dipikirkan karena sudah sering seperti itu. Selesai bermain, aku mandi dan mencuci celana Zaid (sambil jongkok). Hari itu aku sering pelvic rocking, karena perut sering kencang. Selesai shalat Ashar, nonton tv bersama suami. Perut kencang lagi, langsung duduk di gym ball. Adzan magrib, aku berwudhu, tapi perut mulas, coba jongkok di wc, oh ternyata mulas BAB, begitu pikirku. Selesai wudhu, aku bertanya ke mamak, bagaimana rasa kontraksi itu, mamak jawab sakit mulai dari pinggang, ke perut depan, terus ke bawah. Aku mengatakan, “cuma mulas di perut bawah”, “Kalo sakit di perut bawah, biasa cepat lahir”, kata mamak, “Aamiin”, doaku.Selesai shalat maghrib, aku mulas lagi, berhenti, dan mulas lagi. Saat datang mulas, aku coba bergerak, ternyata masih mulas juga. Aku mulai memanfaatkan aplikasi contraction timer, tiap mulas datang, aku tekan start, sambil bergerak, gerak yang nyaman untuk menikmati sensasi mulas, saat itu aku masih kuat pelvic rocking, jika mulas sudah berhenti ,aku tekan stop.

Adzan Isya, mulasnya mulai teratur, tapi masih belum yakin itu mulas mau melahirkan, karena tidak ada mucus plug yang keluar dan saat dibawa jongkok di wc, masih keluar BAB, jadi aku berpikir mungkin cuma mulas BAB. Dari maghrib hingga isya, sudah 4 kali bolak-balik wc. Kemudian saat mau wudhu, mulas lagi, ga jadi wudhu, masuk kamar, rencana mau duduk di gym ball sambil goyang inul, ternyatasuami minta dibuatkan telor ceplok untuk makan malam. Baiklah, ke dapur, mau goreng telor, datang lagi mulasnya, kemudian berpegangan di meja sambil goyang pinggul. Mulas hilang, langsung cepat-cepat goreng telor. Selesai goreng, datang lagi mulasnya, kembali berpegangan di meja sambil goyang pinggul, kebetulan ada Zaid, jadi minta bantu Zaid bawakan nasi plus telor ceplok ke dalam kamar untuk ayahnya. Melihat telor goreng, aku jadi ingin makan nasi dengan telor ceplok juga. Jadi, aku goreng telor lagi, sambil menahan mulas. Saat mulas hilang, aku cepat-cepat makan nasi, lahap pula sampai tambah nasi lagi. Aku berpikir mungkin malam ini waktunya lahir, jadi harus banyak makan, biar kuat.

Selesai makan, langsung wudhu, dan shalat isya. Selesai shalat, mulasnya mulai teratur dan dekat waktunya, sambil mulas tetap tekan start stop contraction timer, untuk jaga-jaga kapan harus ke rumah sakit. Alhamdulillah, saat mulas itu, ada jedanya, jadi ga khawatir lagi dengan rupture uterine, karena gejala rupture uterine itu kontraksinya sangat menyakitkan, dan tidak ada jeda saat kontraksi. Kontraksi yang wajar adalah ada waktu datang dan pergi, ada jeda atau ada waktu istirahat antara kontraksi yang satu dengan kontraksi berikutnya. Sekitar pukul 10.00 malam mulasnya mulai aduhai, tapi masih sanggup menahannya,karena sudah terbayang kebahagiaan untuk berjumpa dengan si buah hati. Alhamdulillah, dalam keadaan mulas, tetap bergerak walau cuma gerak nungging di kasur, karena mau duduk di gym ball dan jalan-jalan sudah tidak kuat. Selain tetap bergerak saat mulas, aku juga tetap tersenyum sambil bersuara, dan deep breathing sambil membayangkan bayiku semakin turun dan turun.

Pukul 10.30 malam, akhirnya aku memanggil suami, minta bantuan suami untuk pijat di daerah pinggang, alhamdulilah sangat nyaman. Tapi suami cuma sanggup pijat sebentar karena kondisi badannya juga yang sedang tidak sehat. Selain itu, sewaktu suami sedang pijat, ia mengajak ke rumah sakit, aku tidak mau, karena belum keluar mucus plug. Setelah pijat, mulasnya berhenti, suami izin mau tidur sebentar. Baiklah, Insyaa Allah aku kuat, walau sendiri, dan juga aku berpikir kalau pun ditemani suami, takutnya suami bentar-bentar akan mengajak ke rumah sakit, jadi tidak nyaman juga. Pukul 11 lewat, aku mulai kesal sama hp dan contraction timer, merasa tidak ada waktu untuk tekan start dan stop karena memang mulasnya sudah dekat-dekat waktunya. Setelah kesal sama hp, aku juga kesal, botol air minum sudah kosong, mau minta bantuan suami, sayang suami, baru juga sebentar suami tidur. Pelan-pelan aku jalan keluar kamar sambil bawa botol air, masuk ke kamar mamak, “mak, tolong isi air bentar, dan tolong mamak pijat di pinggang bentar”. Mamak isi air, kemudian memijat pinggang. Mamak mengajak ke rumah sakit. Aku tetap tidak mau, “bentar lagi mak, ini belum keluar tanda”. Sambil goyang-goyang pinggul, ‘tes’, keluar sedikit mucus. Mamak langsung bersiap-siap, sekarang kita ke rumah sakit. Aku kembali ke kamar, mau ganti baju, sekalian bangunkan suami, saat bersiap-siap, dalam keadaan mulas, aku masih bersuara dan tersenyum lebih tepatnya senyum nyengir menahan mulas, sehingga suami pun protes “kok gitu suaranya, susah orang yang dengar”, aku jawab mantap, “memang harus seperti ini, biar terbuka rahimnya”, suami diam sambil bersiap-siap juga. Sebelum berangkat,aku meminta izin padamamak mertua, minta maaf dan mohon doa.

Dalam perjalanan, deep breathing mulai kacau, tetap buka mulut, dan bersuara. Mulai muncul sensasi mau BAB, “mak, wilda mau ke wc”. Nanti sampai di rumah sakit kita ke wc, jawab mamak. Kembali ingat untuk deep breathing, goyang-goyang pinggul. Sampai juga di rumah sakit, langsung dikasih kursi roda. Di kursi roda, tetap goyang-goyang pinggul karena sensasi mengejan, tapi tidak sampai mengejan. Sampai di kamar bersalin, turun dari kursi roda, cepat-cepat ke wc, tapi tidak keluar BAB. Bidan menyuruhku naik ke atas kasur. Langsung dipasang infus, aku tanya “untuk apa dipasang infus?”, “untuk jaga-jaga”, jawab bidan, sebenarnya mau tanya lagi, tapi aku memilih diam. Bidan yang lain periksa bukaan. Dokter datang dan langsung berkata “ini sekarang jam 12 malam dan kalo kita tunggu hingga harus sesar jam 3 malam, tidak ada dokter anestesi bagaimana?”, aku jawab dengan tegas, “saya mau normal dok”. Kemudian dokter bicara dengan suami, aku dengar bidan berbisik dengan temannya, “udah bukaan 9”. Aku bertanya ke bidan untuk memastikan, “sudah bukaan berapa?”, “sembilan”, jawab bidan. Wah, aku sangat senang, bidan bicara dengan dokter. Dokter masih tetap ingin sesar, dan meminta suami tanda-tangan surat setuju SC. Suami mendengar saat aku bertanya pada bidan sudah bukaan berapa, dan mengetahui bahwa aku sangat ingin melahirkan normal, jadi suami berkata ke dokter “Dok, itu sudah bukaan 9, dibantu saja dulu”.

Akhirnya dokter bertanya, “berarti ini belum pernah melahirkan normal sebelumnya ya?”, “belum”, jawabku. Aku bingung, mengapa dokter bertanya itu, padahal dia tau aku sudah 2x SC. Dokter menyuruh bidan untuk menyiapkan vakum dan gunting. Aku tanya, “kenapa pakai vakum, apa tidak beresiko dok?”, “semua ada resikonya “, jawab dokter. Aku melihat wajahnya tidak senang, mungkin karena aku bersikeras untuk melahirkan normal setelah dua kali sesar. Tidak lama kemudian, dokter menyuruhku untuk mengejan, aku lupa cara mengejan, dokter menyuruh lagi, “mengejan seperti mau BAB”, yaaa aku ingat, dan langsung mengejan, Alhamdulillah, aku merasakan nikmat saat bayi keluar dan mendengar suara tangis bayi. Suami dan mamak langsung mengucap syukur, “Alhamdulillah, wilda berhasil nak melahirkan normal”, ujar mamak. Suami berkata “hebat ummi”. Aku tersenyum puas dan bahagia. Alhamdulillah cita-citaku tercapai.

Wilda Fulidan

***

89 thoughts on “Kisah VBA2C Wilda

  1. Salam kenal mb wilda,sy sangat tersentuh menbaca tulisan mb wilda.Saya ingin bergabung di group mb,soalnya sy jg pengen melahirkan normal setlah 4thn lalu sc..Meski usia kehamilan msh muda sy takut soalnya baca di brosing untuk melahirkan normal setelah sc jahitan hrs horisontal,sedangkan jahitan secar sy vertikal(untuk bagian dlm tdk tahu).padhal sy pengen sekali bs melahirkan normal..

  2. Hi mba Wilda…
    Mau tanya waktu hamil anak ke3 usia berapa dan berat bayi dibulan/minggu terakhir jelang melahirkan berapa…?

    Saya lg hamil anak ke 3, usia saya 39th. Kehamilan saya 34 minngu tapi berat bayi sudah 2.8 kg… agak kelewat besar kata dokternya. Saya pernah menanyakan ke 2 dokter apakah mungkin saya melahirkan normal setelah 2 kali saesar. Kedua dr menganjurkan utk operasi saja mengingat sudah 2 x saesar, dah usia 39th apalagi dg berat bayi yg agak kelewat besar… jadi pesimis saya utk bisa normal….:-(

  3. Assalamualaikum.
    Mbak, saya rita dari bandung. Mau ikut gabung ke grup mbak. Soalnya saya pernah SC anak pertama karena sungsang dan juga pecah ketuban duluan.

  4. Salam kenal kak Wilda,
    Saya juga vbac anak kedua di lhokseumawe, Alhamdulillah ketemu dokter yang full support vbac. Bidan2nya yang khawatir sepanjang proses melahirkan,mereka bolak balik tanya..”ibu ga caesar aja” 😂..Alhamdulillah Allah ngasih saya kekuatan..
    Senang punya teman yang sama2 berjuang untuk vbac…

    • Alhamdulillah ya Amalia berhasil vbac. jarang2 ada dokter yg Full support apalagi di Aceh hehehe. melahirkan dimana kmrn? Bs tolong info dokter dan rs nya melalui email saja ya, di siwilda et gmail dot com.

  5. Mba bs minta tlg sy di masukkan ke group vb2c. Sy domisili di ampang, KL. Sy ingin sekali normal tp blm dpt dokter yg bs bantu. Mohon infonya mba dmn dr yg bs bantu vb2c? Tlg jg info group vb2c dmn. Terima kasih bnyk sblmnya

  6. salam kenal mbk. kisah sangat menginspirasi mbk… smga lahiran anak ke-2 q bisa normal.. sungguh trauma msuk ruang operasi lagi… (pdahl blum cek apakh positif hamil ato ndk,,saking trauma ny sma proses kelahirn pertama kmren//bru telat mens sebulan).. bagi tips latihan fisik ny donk mbk?? blh join grup ny mbk? terima kasih

    • Salam kenal mbak ^^ Utk grup sudah tutup mbak,sebagai gantinya sudah ada fb grup https://www.facebook.com/vbactanyasaya/photos/a.563595300505082.1073741828.563578313840114/566089800255632/?type=3

      Selain itu, website wew.bidankita.com jg sangat baik utk dibaca baca. Sy banyak mendapatkan ilmu dr website tersebut.

      Utk latihan fisik, sy mulai banyak jalan, banyak gerak ya, duduk jg sy jaga,tidak bersandar, duduk tegak (sitting tailor),belajar napas jg, deep breathing (tarik napas hingga perut menggembung kemudian buang napas perlahan lahan sambil membayangkan kepala bayi turun turun dan turun ^^), terus berpikir positif bahwa insyaAllah sy bs melahirkan normal ^^

      Semangat ya mbak, semoga niat utk melahirkan per vaginam dimudahkan Allah, aamiin ^^

  7. Kisah mba Wilda sangat memotivasi buat vbac. Subhanallah
    Saya Yani mba, baru Skali sesar anak pertama. Skg lg program anak kedua, rasanya ad trauma buat hamil lg. Dulu sesar karena ud pembukaan 9 balik lg k pembukaan 4 Daan d tinggalin Ama dokternya krna g mau sesar.
    Mau join grupny dong mba

  8. Halo mbk slam kenal.. sya skrg hamil 34w, anak saya yg pertama skrg usia 17bulan lahir dg sc. Kira2 lahiran anak ke2 nanti bisa normal g? Kalo kta dokter harus sc lagi. Trus mau nanya ttg KB mbk.. mbk dlu habis sc KB apa? Sy rencana nanti pengen pae kb alami tpi kta dokter harus dipasang spiral stelah sc ke 2. Mohon pencerahannya mb wilda

    • Salam kenal mbak Astri.. Kalo ditanya lahiran anak kedua mbak nanti bs normal ga, sy ga tau mbak hehehe krn kan belum kejadian. Tp kalo pertanyaan nya, apakah mungkin setelah sc ada harapan utk melahirkan normal, itu baru bs sy jawab mbak^^, insyaAllah sangat mungkin krn melahirkan normal itu bs diusahakan. Usaha utk melahirkan normal itu bs dicari mbak di kisah2 vbac, dan langsung dipraktek kan. Dan tentunya yg paling utama, kalo sy dulu sambil usaha, sy terus berdoa.

      Semoga kelahiran kali ini bs normal ya mbak, aamiin. Semanga mencari ilmu utk vbac ya mbak ^^

      Oh ya mbak, kalo mau tanya2 vbac, bs kunjungi fb ini https://www.facebook.com/vbactanyasaya/photos/a.563595300505082.1073741828.563578313840114/566089800255632/?type=3

  9. indahnya kisah mu mbak, sy juga sekarang sedang mengandung anak ke 2 perkiraan dokter lahir awal februari saat umur anak 1 23 bulan. saya rindu sekali untuk bisa normal mbak….
    baca kisah mbk ini membuat harapan saya untuk bisa normal bertahan…
    terima kasih y mbak atas sharingnya.

    • assalamu’alaikum mba..sy mo join dong dlm grup ini, sy hamil anak ketiga dan sdh 2x cessar, ada niat untuk lahir normal namun blm berhasil.Hamil pertama krn pendarahan, hamil kedua krn sdh pembukaan lima namun sdh ga kuat, untuk kali ini msh blum tau bisa apa tdk, namun ingin ttp mencoba.mhn sharing nya mba, nomor saya : 0816915888. trima kasih mba

    • Salam kenal mbak siti muniroh. Sy agak bingung kalo diminta motivasi ^_^. Motivasi sy utk vba2c adalah sy tidak ingin kembali ke ruangan operasi yg sangat dingin, sendirian, hanya ada dokter dan perawat plus perawat2 yg sdg belajar. Sy merasa sy sebagai bahan percobaan,aurat terbuka di depan laki2 yg banyak saat itu (pengalaman sc kedua). Jd di kehamilan ketiga sy sangat termotivasi utk bs melahirkan normal dan sy yakin sy bs melahirkan normal atas pertolongan Allah, walau dokter mengatakan vba2c itu tidak mungkin.

      Jd motivasi mbak siti kalo boleh tau apa ya utk vba2c?

    • Salam kenal mbak siti muniroh. Sy agak bingung kalo diminta motivasi ^_^. Motivasi sy utk vba2c adalah sy tidak ingin kembali ke ruangan operasi yg sangat dingin, sendirian, hanya ada dokter dan perawat plus perawat2 yg sdg belajar. Sy merasa sy sebagai bahan percobaan,aurat terbuka di depan laki2 yg banyak saat itu (pengalaman sc kedua). Jd di kehamilan ketiga sy sangat termotivasi utk bs melahirkan normal dan sy yakin sy bs melahirkan normal atas pertolongan Allah, walau dokter mengatakan vba2c itu tidak mungkin.

      Jd motivasi mbak siti kalo boleh tau apa ya utk vba2c?

  10. bismillah
    assalammu’alaikum
    saya teny…skrg sdh hamil.anak.ke 3.saya sdh caesar 2x..dan keguguran 3x.
    usia kehamilan sdh 36w
    kmrn2 sempat kontraksi tegang perut..oleh dktr diberi penguat krn baby masih kurang beratnya
    bisakah saya lahir vb2ac?

    • Wa’alaikumussalam mbak..

      Apa kabar mbak? Mungkin mbak sudah melahirkan ya? Semoga ibu dan bayi nya sehat ya mbak.. Maaf saya baru balas mbak.

  11. Wuaahh.. subhanalloh sharingnya sngt bermanfaat mbk Wilda, boleh sy ikut di grup ato sharing lbh lanjut dngn mbk Wilda.. sy Nunuk, usia khamilan sy br 2 bln skrg hamil anak ke 3.. pngn bgt bs vbac. Hp sy 081310459355

  12. Assalamualaikum .. aku farah hamil 9 week aku ingin coba vba2c .. aku ingin gabung di group nya ni no saya 085341420346.. aku butuh byk informasi dan sharing sama ibu2 yg sukses vba2c smoga berkenan aku bisa gabung digroupnya

  13. Slamatt mlm mba…
    sy baca cerita mba memang luar biasa…bikin sy jd semangat ..sy sudah 2x sc tpi anak ke 3 pengen normal…..oh ia mau tanya ..kira2 jarak kelahiran mbak itu berapa tahun

  14. Mbak saya mega lg hamil 32 mgg ank ketiga umur saya 36 tahun, ank saya pertama sectio indikasi solosio plasenta, ank kedua tdk punya riwayat apa2 kata dokter ank pertama harus operasi jd ank kedua harus operasi jg, n skrg ank ketiga jd sy pengen sekali bersalin secara normal tolong bantuannya mbak ini nmr hp sy 081333357054

    • InsyaAllah semua ada hikmahnya ya mbak. Semoga trauma mbak bisa segera diatasi ya, saran saya coba self healing mbak, googling aja ttg self healing mbak. Sy ga ngerti jg ttg itu, hanya sering dengar saja..

      Saya lalu masuk grup vbac mbak muti setelah baca kisah vba2c mbak muti. Kisah nya ada di Link berikut http://ummiummi.com/kisahku-melahirkan-normal-di-rumah-setelah-dua-kali-sesar

      Setelah baca kisah tersebut sy mengirimkan email ke mbak muti. Email mbak muti ada di kolom komentar Link tersebut.

      • Aslm..
        Mba perknlkn saya iis., saya skrg sudh hamil 4bln ank ke 2.,sedangkan ank pertama saya baru berumur 15 bulan., hpl saya 18 05 17.,
        Saya ingin sekali melahirkan normal., apakah masih ad kemungkinan saya untuk melahirkan nolmal.,?
        Makasih mab.,
        Wslm..

  15. Assalamualaikum mba wilda, terharu sekali baca kisah mba wilda, niatnya persis seperti saya saat tau hamil, langsung berdoa dimudahkan utk melahirkan normal setelah anak pertama sc. Skrg baru masuk bulan ke 7, niat saya masih besar utk normal, tolg masukkan saya ke grup WA ya mba, saya betul2 butuh support dari kisah2 VBAC yg berhasil, tolg kirim no WA ke email saya ya momodue.24@gmail.com Terimakasih mba

  16. Assalamualaikum mbak wilda , senang sekali membaca sharing mbak ttg vba2c. saya sdg hmil ke2 ,37w,sblmnya sc 3,6 thn lalu.saya pgn skali normal. Says ingin skali gabung di group wa Dan gbus, tlg kirim no kontak nya mbak. email saya: ananda_honeyz@yahoo.com
    Mksh.

  17. Barokallah mba Wilda, mba tlong masukkan sya digroup Vbac dong mba, after sc 2x dan swkrang hamil 35w… terima kash seblumnya…

  18. Aslm mba Wilda…
    Kisah mba benar2 buat saya optimis lg buat vba2c. Saya udh masuk 36w tp dokter gada yg mengizinkan utk normal pdhl kondisi baby dan saya alhamdulillah sehat. Saya benar2 galau mba. Krn saya ingin sekali normal. Mba plz tlg mnt nmr hp nya ya… saya perlu sekali teman sharing spt mba. Nomor hp saya 081316321692

    • Wa’alaikumussalam mbak, maaf ya mbak sy baru lihat komentar mbak. Kalo sudah melahirkan, semoga ibu dan bayi sehat selalu ya mbak. Saya bs dihubungi di siwilda et gmail dot com. Barakallahufiik..

  19. Assalamualaikum… Mbak wilda saya dengan mvak lulus di surabaya, saat ini saya tengah mengandung anak ke-2, suami ingin saya melahirkan normal, sedang saya ada masalah placenta previa. Tp saya coba meyakinkan diri, insya Allah saya bisa normal. Mohon doanya juga, bisakah mbak memasukkan saya ke group…ini nope saya: 081 553 61 92 68. Terimakasih

  20. assalamu alaikum, mba sy nena dari NTB, hamil anak ke 2 (35 w), sebelumnya SC, sy sangat berharap bisa VBAC seperi mba, mohon invite di grup WA , no hp sy 082341026477, terima kasih

    • Wa’alaikumussalam.. Maaf ya mbak, sy baru lihat komentar nya. Apakabar mbak? Sudah melahirkan ya mbak? Semoga ibu dan bayi sehat selalu ya mbak..

  21. Mb wilda sy lg hmil anak ke3, udh msuk bln ke6 dan pengen vba2c. Boleh minta contactnya utk sekedar sharing dan gmn crnya bs gabung di grup/komunitas vbac mb muti. Makasih…

  22. Slmt mlm mbk,sy mau sharing ni mbk udah 2 x sc n ank ke 2 sy meninggal, sy pgen cpt2 hamil lg tp ngak mau sc lg troma .stlah bnyk bca kisah2 vbac trmasuk kisah mbk sy jc smangat,pgen gabung komunitas vbac ,bs tolng infonya mbk,tx very much

  23. Assalamualaikum mbak..
    Sya Pn. Salzana dr Malaysia..sya begitu excited membca nukilan saudari tentang VBA2C ini..ttp sya tdk mempunyai inpirasi sprt puan kerana di Malaysia tidak banyak pendedahan tentang VBA2C ini..syukurnya jika sya juga diberikan nikmat olehNya seperti itu setelah 2 x caeser ini…

    • Wa’alaikumussalam puan Salzana. Alhamdulilah jika kisah saya membawa inspirasi utk puan 🙂
      Insyaallah puan juga akan diberikan nikmat melahirkan pervaginam (normal). Allah Mahakuasa ^_^ Kuasa Allah hingga saya berhasil melahirkan normal setelah 2x caesar.

    • Sis salzana, sis boleh join grup fb ICAN Malaysia. Insya allah banyak pendedahan vbac dan vbamc. Saya pun alhamdulillah berjaya vba2c kat malaysia 2 tahun lepas. Grup tu sangat bermanfaat insya allah.

    • Tips nya sudah sy sebutkan di atas seperti nya mbak ledi ^_^ Tp boleh lah saya simpul kan lagi 😉

      – niat dan yakin bisa melahirkan normal
      – minta dukungan suami, kalo slogan mbak muti “dukungan suami itu bagai memiliki dunia dan seisi nya” 😀
      – berdayakan diri, banyak baca baca ttg kehamilan, kelahiran, dan proses2 persalinan
      – rajin gerak terutama di trimester akhir
      – makan makanan yg sehat dan bergizi, supaya kehamilannya sehat
      – doa, doa, doa dan terus berdoa, Allah itu sesuai dengan persangkaan hamba Nya.

  24. assalamuálaikum wr wb

    mba….ak jg ingin vba2c..klo blh tau jarak kehamilan 1, 2 dan 3 brp thn mba??? boleh sy minta grup vbac nya mba..ingin gabung jg

    trims

    wassalam

    • Wa’alaikumussalam mbak arna ^_^

      Maafkan ya, sy baru balas. Hamil anak kedua saat abangnya umur 18 bulan, hamil anak ketiga saat umur kk nya umur 4thn10bln. Mbak arna sedang hamil? 🙂

  25. alhamdulillah…terharu bacanya.

    mbak wilda, boleh minta kontaknya ya..?
    sm gimana gabung d groupnya mbak muti ya.makasi..

    • Assalamualaikum mbak pipit, salam kenal.. E-mail saya di siwilda et gmail dot com. Sy kmrn itu kirim email ke mbak muti. Mbak pipit sedang hamil?

  26. Aduhhh…selamattt..alhamdulilah..bisa kiat vba2c. Teh mohon sharing nya coz aku juga galau niiih…pengen vb2c.minta kontaknya donk.makasiiih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *