Kisah VBA2C Vyna

Kisah VBA2C Vyna

Alhamdulillah. Biidznillah. Semua atas izin ALLAH, tidak ada yang tidak mungkin, atas pertolongan Allah aku bisa melahirkan secara normal setelah 2 kali operasi secar.

Persalinan pertamaku pada tahun 2013, waktu itu aku kontraksi selama 2 hari 2 malam. Mungkin karena terlalu cepat ke rumah bersalin dan kurangnya edukasi, aku ditemani mertua dan suami datang ke RS tepat di hari HPL, padahal saat itu belum terasa kontraksi sedikitpun. Walau ternyata sudah ada pembukaan 1, namun diputuskan untuk pulang dulu. Keesokan paginya aku datang lagi ke RS karena sudah terasa kontraksi walaupun masih jarang sekali, kemudian aku diinduksi untuk mempercepat kontraksi. Aku pun ikut saja apa kata Dsog karena aku ingin cepat melahirkan dan bertemu si buah hati. Ternyata setelah dikasih suntikan induksi aku merasakan sakit yang begitu tak terkira. Setiap jam dilakukan cek pembukaan tapi tidak bertambah juga, hal itu membuat aku sangat kesal dan marah setiap di-VT. Aku marah karena sakit rasanya setiap di-VT dengan kasar dan hasilnya pun tidak bertambah juga bukaannya sementara rasa sakit diinduksi semakin terasa luar biasa dan sangat menyiksaku. Aku menunggu dari hari selasa sampai dengan kamis pagi tapi belum juga melahirkan. Dsog pun datang mengecek dan ternyata masih pembukaan 2, denyut jantung jabang bayi Alhamdulillah masih bagus. Tapi aku menyerah karena aku tak tahan rasa sakitnya diinduksi, aku pun minta untuk segera di operasi. Keputusan yang berbuah penyesalan. Namun aku bersyukur Alhamdulilah anakku terlahir sehat wal afiaat.

Namun, pada usia anakku 2 minggu anakku panas tinggi, lalu diputuskan lah untuk dirawat inap. Setelah diperiksa USG kepala ternyata anakku mengidap meningitis, atau ada bakteri di otaknya yang tidak diketahui penyebabnya darimana, apakah dari luar ataukah sejak dalam kandungan. Pada usia 2 bulan anakku dioperasi, tetapi setelah itu kondisi anakku tidak kunjung membaik. Qaddarallah pada usia 4 bulan kurang 2 hari anakku pun dipanggil Allah. Aku dan suami ikhlas karena itu sudah takdir Allah dan anak ku pun tidak menderita sakit lagi. Tapi tidak menampik hal itu membuatku sangat sedih dan terpukul.

Dua bulan setelah anak kami berpulang Allah percayakan aku untuk hamil lagi, tapi Qadarallah kandunganku BO (Blighted Ovum) tidak berkembang. Mungkin karena faktor stress menurut Dsognya. Tentu hal ini mengguncangku dan suami. Kami pun memutuskan untuk mengunjungi beberapa dsog untuk second, third, fourth sampai fifth opinion hingga usia kandunganku 3 bulan namun hasilnya tetap sama. Dsog menyarankan untuk segera dikuret agar tidak menimbulkan penyakit di dalam rahim ke depannya. Akhirnya subuh itu aku berdua dengan suami sholat subuh, kami menangis bersama dan berusaha lebih tabah karena semua milik Allah dan akan berpulang padaNYA. Aku pun setuju dikuret.

Setelah aku dikuret kami memutuskan untuk berkonsultasi ke Dsog konsulen penyakit kandungan untuk mencari tahu dan menghindari risiko di kehamilan berikutnya. Aku di cek TORCH dan suami pun juga di periksa. Alhamdulillah hasil testnya baik dan bisa mengikuti program kehamilan. Kami disarankan untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan dijamin kebersihannya juga terapi hormon. Setiap hari aku dan suami selalu membawa bekal ke kantor untuk menjaga kesehatan dan makanan kami. Alhamdulillah sebulan kemudian aku positif hamil dan sudah terlihat janinnya ketika di-USG pada usia 8 minggu.

Aku berusaha menjaga kandunganku dengan konsumsi makanan bergizi dan tidak jajan di luar. Aku berniat dan ikhtiar untuk persalinan secara normal. Tapi Dsog kami menyarankan untuk SC karena mempunyai riwayat SC kurang dari 2 thn dan berisiko rutur rahim setelah mengecek SBR ku kurang dari 3 mm. Aku sedih sekali tetapi akhirnya kami menuruti saran dari dokter mengingat perjuangan kami sampai saat ini untuk mendapatkan keturunan cukup panjang, tentu saja kami juga sangat takut ketika dsog menakut-nakuti kami tentang resiko bila kami memaksakan untuk melahirkan secara normal.

Akhirnya aku di operasi pada usia kandungan 38 minggu. Masih teringat waktu itu aku menunggu di ruang operasi 1 jam dengan kondisi tidak berpakaian lengkap menunggu doker anestesi datang. Aku begitu nervous dan sedih ketika harus menunggu para dokter seorang diri di ruang operasi. Di benakku aku tidak ingin ada  di posisi ini lagi, tapi aku juga masih ingin punya anak banyak. Aku pikir Salah satu caranya adalah aku harus bisa lahiran normal setelah ini. Alhamdulillah aku tetap bersyukur anakku yang kedua terlahir sehat dan selamat melalui persalinan SC. Tetapi setelah persalinan aku merasa sakit luar biasa, seakan-akan masih ada kontraksi setelah SC. Aku menangis dan bilang ke suami aku tak mau SC lagi. Tolong diingatkan kata-kata ku ini, kalau ALLah kasih kepercayaan untuk hamil lagi, bantu aku untuk melahirkan secara normal, kataku pada suamiku. Suamiku hanya mengangguk pada saat itu.

Januari 2017
Ketika anakku berusia 22 bulan, haidku berhenti. Aku memang tidak KB karena tidak ingin menunda kehamilan dan ingin berserah pada Allah saja, bila Allah kasih kepercayaan lagi insyaAllah kami siap. Aku pun langsung ingat kata-kataku pada suami untuk melahirkan secara normal pada kehamilan berikutnya karena aku merasa trauma berada di kamar operasi lagi. Aku pun langsung mencari tahu mengenai persalinan normal setelah secar dan aku baru tau istilahnya Vaginal Birth After Caesarean atau VBAC (kudet banget). Aku pun menemukan website kisahvbac.com yamg kisahnya betul-betul menyentuhku. Tiap kali aku membacanya aku menangis dan meminta suami untuk membacanya juga. Setelah membaca semua kisahnya aku begitu yakin insya allah aku bisa vba2c, aku pun langung mengemail para ibu2 di kisahvbac.com untuk meminta sarannya agar sukses vbac.

Ikhtiar pertama kami mengunjungi Dsog yang pro normal di kota kami.  Dsog ini cukup senior dan terkenal “sangat pro normal”, namun ternyata setelah mendengar riwayatku beliau bilang menurut SOP nya harus sc lagi karena sudah dua kali sc akan beresiko rupture, alasan yang sudah pernah ku dengar di kehamilan sebelumnya. Tapi Dsog itu seperti memberi angin segar setelahnya, beliau bilang bisa saja nomal bila bayi lebih kecil dari berat badan bayi sebelumnya dan lahirnya sebelum hpl. Aku pun agak lega, itu artinya normal setelah sesar bisa-bisa saja.

Sampai dirumah aku terus browsing untuk megedukasi diri bagaimana kiat sukses vbac. Alhamdulillah email ku dibalas beberapa pejuang vbac, aku mengikuti saran ibu2 untuk booster protein dengan memakan putih telor tiap hari, susu, air putih min 3 liter, juga evoo dan kurma yang setiap hari ku konsumsi. Di kehamilan ini pun aku lebih energik tidak malas bergerak dan aktif berjalan. Alhamdulillah aku juga diberi kesempatan untuk masuk ke sebuah grup WA yg support VBAC, disana aku banyak mendapatkan ilmu tentang melahirkan secara normal, juga sering-sering mengintip akun fanpage support vbac di fb.

Aku dan suami tetap konsul dengan dokter pro normal yang terakhir. Pada kehamilan 5-6 bulan aku di vonis placenta previa totalis, plasenta letak bawah dan menutup jalan lahir sama sekali, tapi aku belum pernah mengalami pendarahan pada kehamilan ini.  Menurut Dsog tidak semua kasus PP mengalami pendarahan, bisa saja pendarahan terjadi di trimester 3. Aku begitu sedih kalau benar PP Totalis, harapan ku untuk melahirkan normal tinggal lah hanya angan-angan. Tapi aku berusaha tenang dan banyak membaca kasus-kasus PP serta tetap berdoa agar placentanya bergeser ke atas.

Pada usia kandungan 28 w aku mencoba mencari secon opinion dengan mendatangi bidan yang katanya pro vbac menurut teman-teman di kota yang sama yang sudah pernah vbac. Kliniknya memang kurang representative tapi bidannya sangat ramah dan baik. Ketika aku cerita riwayat persalinanku aku pun bertanya apa aku bisa lahiran normal. Beliau malah balik bertanya kepadaku apa aku yakin bisa. Aku jawab insyaALLAH aku yakin aku bisa. Kalau ibu yakin saya juga yakin ibu bisa, kata beliau. Angin segar bagiku. Beliau bilang aku harus yakin dulu dan banyak berdoa maka insyaALLAH semua akan berjalan  lancar. Tak lupa aku bertanya ketika di usg apa benar kehamilanku placenta previa? Menurut beliau memang placentanya berada dibawah tapi tidak menuntup jalan lahir atau bukan placenta previa totalis, insyaAllah plasentanya masih bisa bergeser, ibu harus yakin placentanya akan bergeser ke atas dan janin bisa lahir lewat bawah. Ibu harus selalu berpikir positif, pesan sang bidan. Aku mengganguk yakin, bekal dari bidan ini pun semakin meyakinkanku untuk bisa vbac. Aku pun menetapkan birthplan, aku akan melahirkan diklinik beliau.

Pada usia kandungan 33 w aku merasa sakit  di bagian bawah, vagina terasa seakan ditusuk-tusuk. Aku pun kontrol lagi ke bidan dan ternyata janin sudah dibawah dan aku dianjurkan untuk bedrest. Alhamdulillah setelah bedrest 1 minggu kondisi membaik. 2 minggu setelahnya aku kontrol lagi ke dsog di usg untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Namun Dsog berkata aku tidak bisa untuk lahiran normal selain karena resiko rupture beliau bilang aku masih  placenta previa totalis, tentu ini mengejutkanku karena terakhir aku cek di bidan janin sudah di bawah dan placenta tidak mengahalangi jalan lahir, aku agak panik dan takut tidak bisa vbac. Akhirnya beberapa hari setelahnya aku ke bidan lagi, suamiku minta agar aku di cek lagi apa benar placenta nya sudah begeser. Bidan bilang plasenta sudah bergeser ke atas, buat apa beliau berbohong karena itu akan sangat beresiko kalau berbohong tentang letak placenta dan memaksakan untuk lahiran normal. Aku pun yakin placentanya sudah bergeser. Kami pun memutuskan untuk tetap konsul di bidan tsb saja, agar tidak terjadi salah perkiraan lagi yang membuat aku kalut.

Oktober 2017

Aku sudah mengambil cuti melahirkan karena kebijakan dari kantorku untuk cuti satu bulan sebelum HPL. Aku ikhtiar jalan kaki setiap hari selama minimal 20 menit juga exercise lainnya yang ku dapat dari youtube untuk memudahkan persalinan. Booster protein terus aku lakukan, air putih aku tambah menjadi 4-5 liter sehari ditambah air kelapa, juga kurma 7 butir sehari. Menjelang HPL tanggal 30 Oktober belum kunjung ada tanda-tanda melahirkan, padahal cuti sudah aku habiskan 1 bulan, aku sudah resah mengapa belum juga ada tanda-tanda, namun aku tepis pikiran negative karena banyak juga teman-teman yang lewat HPL tapi masih bisa VBAC.

Aku mencoba tetap fokus dengan niat awalku sambil terus browsing cerita persalinan VBAC lewat HPL untuk membangkitkan semangat. Dua hari melewati HPL mulai ada tanda-tanda kontraksi walaupun belum intens. Aku mencoba keep calm menghitung jarak kontraksi dengan contraction timer, masih jarang-jarang jaraknya. Malamnya semakin sering sampai 5 menit sekali, aku pun bilang ke suami. Akhirnya bada subuh suami mengajak ke klinik. Sebelumnya aku menelpon ibuku dan minta doanya untuk dipermudah, kemudian kami titipkan anak ke rumah mertua yang jarak rumahnya tidak begitu jauh dari rumah. Kami pun telpon bidan bahwa kami sedang menuju ke klinik. Sesampainya di klinik asisten bidan menyambut kami dan memanggil bidan.

Setelah di vt ternyata baru bukaan 1 sempit dan bidan bilang ini bisa jadi masih lama, bisa beberapa hari lagi. Lebih baik pulang dulu saja, kata bidan, dan kami disarankan untuk induksi alami di rumah. Akhirnya kami pulang dulu, di perjalanan pulang kontraksi hilang sama sekali. Ada perasaan sedikit kecewa, karena aku sudah tidak sabar ingin melahirkan dan sudah lewat hpl.  Aku telpon orangtua memberitahu keadaanku bahwa ternyata baru bukaan 1 sempit dan disarankan untuk pulang. Orangtua mendoakan semoga lancar dan beliau berkata akan datang ke rumah.

HPL+3 tidak disangka, ternyata kontraksi tidak muncul lagi, aku sedih. Aku mencoba menghubungi mbak yang berhasil vba2c sampai 44w yg juga telah ku anggap mentor ku. Tenang aja mungkin belum waktunya, kata beliau. Dan itu menguatkan ku serta mengingatkan tujuan awalku untuk vbac. Aku pun mencoba induksi alami dengan nanas 1 bonggol, makan duren dan kiwi. Selang-seling setiap hari buah-buah itu jadi cemilan. Kadang terasa kontraksi setelah makan buah-buah tersebut tetapi hilang lagi, sepertinya memang masih latihan kontraksinya.

Ibuku menelpon tiap hari, beliau panik karena sudah hampir satu minggu setelah hpl belum ada tanda-tanda juga. Beliau membujukku untuk kontrol di Dsog terdekat untuk mengetahui apakah semua baik-baik saja. Aku iyakan saja, tapi aku tidak ingin merasa resah ketika kontrol di Dsog, karena teringat ketika aku divonis placenta previa totalis dan Dsog tsb menjadwalkan sc. Aku tidak mau ketika disana aku langsug disuruh sc dan aku tidak bisa kabur lagi. Akhirnya aku kontrol ke bidan lagi. Alhamdulillah semua sehat, kepala janin sudah dibawah, ketuban masih cukup dan placenta di atas. Alhamdulillah aku merasa lega. Bidan pun menyarankan aku induksi alami di rumah dan yakin optimis untuk bisa vbac. Akhirnya aku pulang kerumah.

HPL lewat seminggu, aku pun merasakan kontraksi lagi dan ini lebih sakit dari biasanya. Aku mengajak  suami untuk cek ke bidan dan ternyata bukaan 1 longgar, aku pun merasa kecewa. Menurut bidan bisa jadi masih lama karena vagina masih terasa kaku. Sebaiknya aku pulang dulu dan kembali lagi apabila terasa kontraksi 5 menit sekali. Mungkin bu bidan melihat kekecewaanku dan berkata, begini saja kalau ibu tidak bisa menunggu normal, saya bisa buat rujukan untuk operasi ke RS. Jelas aku tidak mau. Kalau begitu kalau mau lahiran normal ibu harus sabar, tegasnya. Aku pun merasa malu seketika itu, karena aku yang kekeuh pengen lahiran normal, tetapi aku tidak sabaran.

Di irumah ibuku membujukku untuk operasi saja karena banyak dengar cerita orang tentang resiko VBAC yang sudah lewat hpl. Aku sedih dan goyah. Aku menangis di rumah dan memutuskan operasi, karena ternyata aku tidak sesabar itu. Aku menangis dan berkali-kali minta izin suami untuk ke RS dan operasi. Tapi suami terus menerus menenangkanku, mengingatkan niat awalku untuk lahiran normal. Aku harus fokus sama niat awal ku mengapa aku ingin lahiran normal, mengingat ikhtiar ku selama ini. Alhamdulillah Aku masih punya kekuatan besar dari suami yang menyadarkanku dan mengingatkan niat awalku untuk vbac ketika orangtua dan mertua, serta kebanyakan teman-teman sudah menyarankan ku operasi.

Sabtu sore menjelang 42 w, aku diajak suami menginap di hotel sekalian mengajak anak berenang. Biar kamu gak stress, ujarnya. Dini hari aku keluar flek. Malam itu memang aku tidak bisa tidur, kontraksi terasa begitu dekat beberapa menit sekali, aku coba goyang pinggul sendiri karena gymball tak dibawa. Aku hangatkan pinggul dengan air panas di keran, dan terasa begitu nikmat. Sengaja aku tidak bangunkan suami, karena takut hanya latihan kontraksi seperti sebelumnya. Aku terfikir lokasi klinik yang lumayan agak jauh dengan hotel, tapi aku ingat ada rumah sakit bersalin yang dekat dari hotel, kalau sudah kepepet mungkin bisa jadi pilihan. Namun subuhnya aku masih bisa tidur walau kemudian pada saat sarapan pagi aku merasa kontraksi sangat dekat. Suami menemani anak berenang sementara aku memutuskan untuk istirahat.

Siang harinya aku ke rumah orang tua, aku tidak menceritakan semalam aku kontraksi lagi takutnya cuma latihan lagi. Aku pun menitipkan anak di rumah orangtua dan bilang mau kontrol lagi ke bidan karena besok sudah 42 w sambil mampir sebentar ke rumah mengambil gymball. Sesampainya di klinik setelah vt ternyata baru pembukaan 2 longgar, aku sudah agak kecewa karena sakitnya sudah begini tapi ternyata baru pembukaan 2. Aku takut pembukaan lama bertambah seperti pengalaman di kehamilan pertama. Kami ditawarkan untuk menginap atau pulang dulu dan memutuskan menginap saja karena kondisi kliniknya juga sepi tidak seperti di rs, seperti di rumah sendiri dan juga kontraksi terasa semakin sakit.

Kami beristirahat di kamar ditemani suami yang mengusap-usap pinggulku setiap kontraksi. Aku tetap goyang di gymball hingga malam hari bidan datang, ditawari mau di vt atau tidak. Aku menolak karena masih terasa “waras”. Jam 3 dini hari aku merasa sakit semakin dekat dan ternyata sudah bukaan 6. Jam 6 pagi aku merasa kesakitan sekali, sudah keluar rembesan ketuban, suami pun memanggil asisten bidan. Setelah di vt ternyata sudah pembukaan penuh. Bidan dan asisten mempersiapkan bath tub untuk diisi air hangat. Aku  dipersilahkan masuk ke dalam sambil sekali-kali bidan masih mengajak bercanda. Lalu aku dituntun untuk berdzikir dan berdoa oleh bidan. Keinginan untuk mengejan pun menguat, tapi semua Teori yang pernah ku baca dan ku tonton tentang mengejan hilang semua. Aku selalu salah mengejan. Aku disuruh ambil nafas dan berusaha mengejan sambil menutup mata untuk lebih konsentrasi tapi ternyata tidak boleh. Tak lama kemudian.. Kepalanya sudah mau keluar, teriak bidan. Aku pun mengenjan dengan sekuat tenaga.  Alhamdulillaaah…  Biizdnillah lahirlah putri kami yang kami namakan Tanisha Asiyah Azkadina.

Semua tidak akan terjadi tanpa izin Allah. Terima kasih atas support dari suami dan grup support vbac. Jazakumullah  kyaran katsiran.

Vyna

This entry was posted on March 6, 2019, in VBA2C. Bookmark the permalink.