Kisah VBA2C Ulfa

Kisah VBA2C-ku

Rasanya senang luar biasa ketika sukses VBA2C, tak tergambarkan dengan kata2.

 

image

Bismillaah..
Sedikit cerita SC pertama saya. Ketika itu segala ilmu tentang persalinan sudah saya baca, segala macam olahraga juga sudah saya lakukan. Sampai tiba saatnya di satu pagi saya merasa sakit perut. Karena baru pertama kali mau melahirkan saya kira hanya sakit perut biasa, tapi lama kelamaan sakitnya semakin sering. Saya pun memanggil dukun pijat (paraji) dekat rumah. Ketika di VT ternyata sudah bukaan 2. Tak lama berselang rasanya perut semakin sakit, kemudian saya pun dibawa ke puskesmas, di VT bidan dan ternyata sudah bukaan 7. Karena rencana awal mau melahirkan di RS tertentu maka saya meminta dirujuk ke RS tersebut. Saya pun naik ambulance menuju RS tersebut dengan sakit yang tak tertahankan. Tiba di sana darah keluar dan saya merasa susah mengangkat kaki. Setelah itu saya di VT kembali dan bidan jaga menelpon dokter, dokter pun datang dan cek sebentar. Dengan riwayat operasi kista sebelumnya dokter pun menyarankan untuk di vacum. Suami yang masih dalam perjalanan pulang dari kerja tidak mengijinkan saya divacum melalui telpon dan saya pun juga tidak mau. Akhirnya digelindinglah saya ke ruang operasi.

Jarak 12 bulan saya hamil lagi. Dokter pun menyarankan untuk SC kembali. Karena saya manut saja apa kata dokter, akhirnya saya pun kembali SC.

4 bulan setelah anak kedua disapih (2 tahun 4 bulan) saya hamil lagi. Entah senang atau sedih waktu itu. Karena kehamilan ini tidak direncanakan. Bayangan SC kembali menghampiri. Takut iya, ngeri iya, gak mau iya, kesimpulannya saya tidak ingin kembali SC. Alasan pertama, saya takut masuk ke ruang operasi lagi karena ini kali ke 4 saya masuk ruang operasi. Bayangan kesusahan mengurusi diri sendiri, 2 bocil, dan new baby tanpa suami selalu ada di pelupuk mata. Suami saya bekerja di luar pulau. Ditambah kondisi ibu saya (Rahimahullaah) yang selalu mengurus saya pasca operasi sakit waktu itu, plus kehamilan yang berbarengan dengan adik saya, juga bayangan rasa deg-degan sebelum masuk ke ruangan SC, rasanya akan semakin menambah kesusahan saya pasca SC.

Al hamdu lillaah, Allaah memberi kemudahan-kemudahan dan memberi jalan pada saya untuk mengenal beberapa orang lewat media sosial. Pertama diawal kehamilan saya bergabung dengan sebuah grup gentle birth di FB yang lewat grup tersebut saya dipertemukan dengan kisah VBA3C dr. Henny Zainal. Setelah itu saya dipertemukan dengan kisah VBA2C Doula online tercinta (Mb Muti). Dari perkenalan di FB saya inbok mb muti bercerita panjang lebar tentang riwayat SC saya sebelumnya, dan tanya2 cara agar berhasil vaginal birth, dsb. Ya, saya ingin melahirkan normal setelah dua kali sc (VBA2C). Dan dari pertemuan2 itu saya mulai bersemangat untuk VBA2C. Saya mulai belajar dari awal tentang persalinan. Bagaimana proses persalinan, apa itu rupture uteri serta bagaimana penanganannya, bagaimana jika terjadi rembes ketuban atau ketuban pecah dini, bagaimana jika ketuban hijau, bagaimana agar ketuban tidak keruh, dsb. Kenapa saya fokus pada rupture rahim dan ketuban? Karena waktu itu yang paling saya takutkan adalah rupture rahim dan ketuban pecah dini. Ternyata dari hasil belajar saya itu semua ketakutan saya punya jawaban dan solusi. Al hamdu lillaah saya sudah mempersiapkan jika hal itu terjadi.

Selain itu saya juga mempersiapkan banyak hal lainnya, saya belajar seperti saya akan mengajar dan di supervisi. Belajar seperti akan menghadapi ujian. Belajar yang terencana seperti saya mempersiapkan perencanaan mengajar. Saya juga berusaha bertanya pada teman-teman yang berhasil melahirkan normal. Jika ceritanya menarik dan menumbuhkan semangat maka saya dengarkan tapi jika ceritanya mengerikan dan menurunkan semangat VBAC smaka saya tinggalkan orang tersebut. Intinya saya selalu memproteksi diri dari bacaan dan orang-orang yang bisa meracuni pikiran saya dan melemahkan kenginan saya untuk VBA2C.

Tak lupa perbaikan asupan makanan saya jalani juga. Mengurangi makanan berpengawet, berpewarna sintesis, dan makanan lain yang bisa menjadi racun di tubuh saya. Yang paling penting adalah asupan protein, baik protein nabati maupun hewani untuk pemulihan bekas sc sebelumnya. Karena saya alergi beberapa protein hewani maka saya memperbanyak protein nabati. Tapi tetap saja saya juga mengkonsumsi protein hewani dengan konsekuensi saya harus merasakan gatal-gatal di kaki. Demi keberhasilan VBA2C biar lah rasa gatal itu melanda. Jika gatal mendera saya oles lah yang gatal itu pakai minyak zaitun. Selain itu saya juga mengkonsumsi air kelapa sejak usia kehamilan baru 4 bulan. Kebetulan tetangga berjualan es oyen dan air kelapanya selalu diberikan pada tetangga lain. Karena tau saya sedang hamil maka saya adalah prioritas pertamanya (thanks mom sisil). Alhamdulillah.
Sejak UK 7 bulan saya mencari cara agar bisa jalan-jalan di pagi hari sebagai exercise saya. 2 bocil yang tak bisa ditinggal berdua saja membuat saya tidak bisa jalan-jalan di pagi hari. Akhirnya saya memutuskan untuk jalan pagi sebelum subuh sebelum 2 bocil bangun dan hanya berkeliling sekitar perumahan saja. Lumayan bisa sampai 1 kilometer beberapa kali putaran. Namun saya merasa olahraga yang saya lakukan masih kurang, saya pun memutuskan untuk berjalan kaki ketika akan mengajar. Karena diburu waktu saya rubah menjadi bersepeda. Perut gede bersepeda lumayan juga bisa jadi tontonan orang, hehe.mTapi tak apalah yang penting saya berhasil VBA2C.

Menginjak UK 8 bulan saya mulai pelvic rock dengan gymball yang dihadiahkan sahabat saya karena dia tau niat VBA2C saya ( thanks Yuni), berdiri jongkok, senam hamil, semua saya lakukan sendiri dirumah saat anak-anak sudah tidur malam.

Singkat cerita, UK mendekati HPL dan saya masih belum juga mendapat restu dari suami sebagai pendamping persalinan untuk VBA2C dan juga homebirth. Kenapa homebirth? Karena tak satupun Spog dan RS yang saya tau mau membantu melahirkan normal setelah dua kali sc. Selain itu juga alhamdulillah ada bidan dekat rumah yang memamng mau membantu. Saya ingin ketenangan selama melahirkan, privacy pun juga terjaga secara saya orangnya mudah panik, tidak bisa sekali saja ketemu dengan toksik people atau sekedar kata2 toksik. Bisa berdekatan dengan anak2 juga menjadi salah satu alasan saya untuk melahirkan di rumah. Toh jarak tempuh ke RS juga tidak jauh kalau ada apa2. Na’udzubillah.

Saat cuti datang, saya pun ajak suami untuk cek kehamilan di spog. Hanya 3 kali saya ke spog, saat TM 1, 2, dan ini terakhir kalinya. Spog nya pun orang yang berbeda. Karena spog pertama sudah merencanakan jadwal SC saya, saya tidak mau ke sana lagi. Daripada kesana kemudian diburu untuk SC lebih baik ganti spog saja. Sebelum masuk ruangan periksa, sempat ada obrolan dengan suami.
PakSu: “melahirkan di klinik ini saja ya lebih aman, tempatnya lebih tenang karena seperti rumah tinggal”.
Saya: “kalo disini pasti nanti disuruh SC”. 
PakSu: “kalau dirumah beresiko”
Saya: “semua ada resikonya”
PakSu: “atau begini saja, nanti saya sampaikan ke dokter kalau mau melahirkan disini dan kita buat surat pernyataan kalau siap menerima resiko apapun asal dibantu melahirkan normal.”
Saya: “iya asal ayah yang bilang”

Tibalah giliran saya masuk dan diperiksa. Saya tanya ketuban, plasenta, posisi janin, berat janin, kelamin dan tak lupa saya juga tanya SBR. Spog bilang “kenapa kok tanya SBR bu? Gak terlihat ini.” Gak apa dok hanya pengen tau, ujar saya.

Setelah diperiksa lanjut konsultasi lagi. Kali ini suami yang banyak bertanya dan saya hanya diam saja.
PakSu: “istri saya berencana melahirkan normal dok. Kira-kira bisa tidak?”
Spog: “sudah 2 kali SC ya? Sebenarnya BISA cuma kami tidak menyarankan itu karena resiko pendarahan. Kalau pendarahan bisa byar dan itu cepat sekali terjadinya bisa-bisa nyawa taruhannya.”

Kemudian spog mengambil secarik kertas dan menuliskan prosentase dari resiko itu. 0-2% untuk yang SC sekali, 2-7% untuk yang 2x. Dan justru hal itu menjadikan saya lebih mantab VBA2C ketika itu. Karena itu berarti saya mengantongi nilai 93% keberhasilan tidak kena resiko itu dan itu adalah nilai yang besar untuk saya.
Sepulang dari periksa kembali suami saya mengingatkan saya.
PakSu: “resikonya besar sekali bukan hanya pendarahan tapi nyawa taruhannya. Bisa meninggal
Saya: *diam awalnya* “Ayah, semua orang itu pasti mati. Tidak harus nunggu melahirkan untuk mati. Saat jalan begini kalau saatnya mati ya mati aja. Apakah SC menjamin bahwa saya akan hidup setelahnya? Mau SC mau normal semua beresiko bahkan SC resikonya lebih besar.”
PakSu : *diam saja* “Kalau begitu kenalkan saya pada suami temenmu yang bisa meyakinkan saya mendampingimu melahirkan normal”
Saya: “oke nanti kita telpon suami teman saya yang dokter (maksud saya bu Henny Zainal) dan teman saya yang di malaysia.”

Namun sampai melahirkanpun suami saya tidak sempat telpon. Walau demikian alhamdulillaah suami saya mau berubah pikiran dan berbalik mendukung keinginan saya untuk VBA2C di rumah, biidzinillaah, tidak lain karena melhat tekad kuat istrinya ditambah dengan artikel2 keberhasilan Kisah VBAC yang selalu saya sodorkan. Entah dbaca atau tidak yang penting saya kasih saja, Kebetulan suami juga suka membaca, dan dia pun suka browsing tentang persalinan dan vbac. Alhamdulillah.

4 hari sebelum HPL saya kembali periksa ke bidan dan ternyata kepala bayi belum masuk panggul. Karenanya saya lebih intens untuk goyang diatas gymball sejak itu. Bersemangat saya naik turun tangga saat di sekolah, saking semangatnya sampai seperti lari-lari kecil.

Sehari sebelum HPL suami pulang karena sudah mengambil cuti. Malam harinya seperti biasa saya olahraga ketika anak sudah tidur. Karena rumah berantakan sayapun beberes rumah dan ngepel jongkok. Badan serasa capeeeekkk dan lemas setelahnya dan sayapun istirahat.
Pagi harinya (sabtu, 21 juni 2013) saya merasakan pegal-pegal di seluruh badan. Ada sesuatu yang akan keluar dibawah rasanya. Mulai ujung kaki sampai kepala pegal-pegal. Sesekali perut terasa kencang. Tapi saya tidak tau kalau itu adalah pertanda. Saya Tetap beraktivitas seperti biasa memasak dirumah dll, setelah selesai aktivitas dirumah saya bersiap ke sekolah anak karena hari itu pengambilan raport. Pulang dari sekolah saya kerumah orang tua. Jam 11 siang rasanya sangat capek dan sayapun tertidur sampai jam 12.30. Setelah itu saya pamit pulang kepada ibu. Ibu bilang “ kok sepertinya lebih dulu ulfa daripada intan lahirannya, itu sudah keliatan pucat sekali wajahnya” saya bilang “sepertinya iya” lalu adek saya bilang “ mbak duluan dah ya” iya makasih, saya jawab begitu. Tapi sampai saya jawab begitu saya masih belum ngeh juga kalau mau lahiran. Saya pulang untuk sholat dhuhur stelah sholat rasanya sakit sekali pertanda ada kontraksi. Saya bilang ke suami “sepertinya sekarang Yah sudah mulai sakit perut tapi agak nanti kayaknya”. Namun saya tetap aktivitas seperti biasa sampai ashar. Ba’da ashar kira-kira jam 16.00 saya merasakan kontraksi yang rutin yaitu tiap 15 menitan. Saya makan 2 butir telor mentah dan madu arab serta kurma ajwa. Saya minta suami untuk segera mengantar 2 bocil kerumah neneknya dan saya stay dirumah bersama gymbal saya. Maghrib serasa semakin dekat jeda kontraksinya. Sholat magribh pun sudah agak kesulitan, sholat isya bahnkan semakin tak kuat berdiri lama.

Kira-kira jam 20.00 saya minta suami telpon bidan karena jeda kontraksi sudah hitungan 2 menitan. Saya fikir sudah saatnya telpon bidan. Untuk memastikan lagi saya minta suami untuk melihat garis ungu dibelahan pan*at saya seperti yang pernah saya baca cara memperkirakan bukaan tanpa VT, dan hasilnya membuat saya tertawa. Suami bilang “mana garis ungunya wong item semua” wakakakakakaka…lumayan meringankan rasa sakit, merangsang oksitosin. Setelah bidan datang saya di VT dan ternyata masih bukaan 4. Dalam hati saya, Ya Allaah ya Rabbi, sakitnya begini masih bukaan 4 aja. Bidan pamit pulang dan berpesan untuk telpon lagi jika ketuban sudah pecah.

Kira-kira jam 22.00 saya merasa ada sesuatu yang gak enak di celana dan saya cek ternyata keluar mucus plug coklat. Saya kabari lagi doula tercinta (kiss…kiss). sembari terus menerus goyang di gymball, berdzikir, tilawah, all four, posisi butterfly, mengeluh, pegang tangan suami, deep breathing,makan kurma, minum madu, minum air putih . Setengah jam kemudian air ketuban keluar sedikit dan dengan sedikit panik minta suami untuk telpon bidan. Bidan datang di cek lagi masih bukaan 6. Ya Allaah ya Rabbi, belum juga, pekik saya dalam hati. Saat itu bidan meminta saya untuk miring kekiri. Saya pun coba miring kekiri, tapi saya kepiiran kalau tiduran aja bisa-bisa gak nambah ni bukaan. Lalu saya berubah ke posisi butterfly, sesekali jongkok, sesekali all four, sesekali tidur miring kembali. Saat itu bidan berbicara pada suami.

Bidan: “gimana ini pak, dikirim ke RS aja ya. Soalnya sudah 2x SC. Biar lahiran di RS saja ya. Enak kalau di RS lebih aman. Di RS mana saja saya ikuti. Nanti gimana-gimananya ikut RS saja. Mau normal atau gimana biar RS yang tangani
PakSu: “Ya… Gimana ya… Gitu ya…”
Sementara saya sibuk atur posisi dan tidak menghiraukan obrolan mereka.

Bidan: “gimana mbak rujuk saja ya. Ini gak maju-maju bukaannya. Ketuban sudah tinggal sedikit. Sudah 2x SC. Ke RS saja ya. Nanti gimana-gimananya terserah RS saja. Mau normal atau gimana kan ada dokternya.”
Saya: “gak apa mbak. Tenang mbak. Saya baik-baik saja. Perut saya gak sakit dan perih. Saya sudah minum 2 botol air mineral besar. In syaa Allaah sudah cukup. Ketuban tidak bakal habis.”
Bidan: “tapi bukaan ndak maju-maju ini gimana. Rujuk saja ya?”
Saya: “sekarang jam berapa?”
Suami: “jam 23″
Saya: “kasi saya waktu 1 jam ya mbak. Tenang mbak. In syaa Allaah 1 jam lagi ini keluar.”

Karena saya merasa rasa ingin mengejan sudah ada. Bidan pun diam dan VT lagi, tapi saya sudah tidak merasakan tangan bidan masuk dan saya fikir bukaan sudah semakin bertambah. Kembali saya sibuk atur posisi dan merintih karena dorongan ingin mengejan sangat kuat.
Bidan: “kalau ada rasa ingin BAB tarik nafas terus mengejan ya mbak.”

Mengejan sekali, mengejan 2 kali rambut bayi pun sudah terlihat. Tapi kemudian rasa itu hilang entah kemana. Suami membisiki saya “Ayo sudah keliatan rambutnya, Ayo sedikit lagi. Saya bilang “ belum ada rasa lagi”. Setelah itu mengejan ketiga, keempat, kelima dan bruuuuulllllllll… serasa ada yang meloncat, Maa syaa Allaah…. Al hamdu lillaah lahirlah bayi saya dengan tangisannya yang memecah keheningan tepat di 00.05. Subhanallaah wal hamdu lillaah wa laa ilaa ha illallaahu allaahu akbar. Saya berhasil VBA2C. Laa kuwwata illa billaah.

Ulfa

7 thoughts on “Kisah VBA2C Ulfa

  1. Karena satu dan lain hal, terutama keterbatasan waktu dan kemampuan, ini akan menjadi pesan terakhir di kisah ini. Selanjutnya Sila para ibu yang memiliki akun FB untuk bergabung di Page VBAC Tanya Saya. Insya Allah di sana lebih banyak informasi sputar VBAC. Ketemu di sana ya…

  2. Assalamualaikum.. Mba ulfa.. Boleh minta no kontaknya? Saya skrg hamil 19w. 1x sc 1x bo dan keguguran). Saya takut sc lagi mba.. Tiap nanya ke dokter atau nakes pasti disarankan sc. Sy juga peserta bpjs. Katanya bidan puskes g ad yg berani vbac. Saya butuh sekali bimbingan dr yg sdh berpengalaman spt mba. Trimakasih sdh mau membantu. Sri. M.

  3. Mbak Ulfa, aku juga mau donk contact numbernya Mb Muti.
    Aku lagi promil stlh 2x sc, pengen banget normal.

    Sama DSOGku yg sblmnya dah dibilang kl dah 2x SC maksimal 3 anak. hiks

Comments are closed.