Kisah VBA2C Tina

Kisah VBA2C Tina

Bersyukur alhamdulillah kepada ALLAH Subhanahu wata’alla yang telah memberiku kesempatan melahirkan normal. ALLAH lah yang membimbingku di saat-saat terakhir aku melahirkan Haziq. Haziq artinya pintar, cerdas. Doa mamah dan papah, Nak. Nama untukmu: Syahron Haziq Ramadhan. Semoga kelak engkau jadi anak sholeh. Aamiin.

image

***

Desember 2015

Ada tanda tanya dalam hati, kenapa luka SC ku nyeri akhir-akhir ini. Tapi ah, mungkin karena kecapean, pikirku. Mengurus anak-anak sendirian memang cukup menguras tenaga dan pikiran. Berkali-kali nyeri di bagian yang sama akhirnya aku dan suami memeriksakan diri ke DSOG. Kami mengantri dan melihat sekeliling. “Banyak bumil ya pah”, kataku. “Iya” jawab suamiku. “Untung aku ndak hamil ya pah. Jadi tidak merasakan sakit lagi. SC tuh sakit pah. Aku kapok”, lanjutku. “Iya”, kata suami tenang.

Tiba lah giliranku dipanggil, dengan santainya kami duduk lalu aku di-USG. Dan MasyaAllah, kata dokter, “Selamat ya bu, dah 12 minggu ini”. Aku dan suami kaget, bingung mau ngomong apa. “Bener ndak dok, kayaknya saya belum dapat haid pertama, saya biasa aja dok ndak kayak hamil seperti dulu.” kataku. Dokter pun tersenyum. “Coba sini ibu dengerin detak jantungnya. Ini dari perut ibu.” MasyaAllah. Aku dan suami terdiam. Tapi Alhamdulillah ya ALLAH, kataku dalam hati. Seneng tapi rasanya mau nangis juga karena bingung mau ngomong apa. Rezeki ALLAH ini. Di saat aku masih menyusui anak ke-2 yang masih 17 bulan aku hamil 3 bln. Masya ALLAH, surprise dari ALLAH.

Perjalanan pulang aku dan suamiku diam dan merenung. “Apa yang harus kita lakukan, aku kapok SC.” kataku ke suami. Gak mau aku SC ke-3 kalinya. Kami pun terdiam.

Aku ingin sekali normal, qadarulloh harus SC waktu itu… Dan SC lagi. Iya, 2x SC. Tapi aku terima.

***

SC pertama cukup membuatku miris, rasanya antara hidup dan mati. Bayi pertamaku dikatakan gawat janin, kritis karena infeksi ketuban ijo. Pasca SC nyaris lama muncul nafasnya, menangispun tak bisa. Aku melihat dari kejauhan bayiku dilarikan ke NICU untuk perawatan intensif tanpa aku sempat melihatnya terlebih dahulu. Salah seorang dokter anestesi memegang tanganku. Sabar ya bu, banyak doa, katanya. Aku termenung, menangis pun tidak bisa. Terbayang-bayang bagaimana nasib bayiku. Aku pasrah. Andaikan ada suamiku menemaniku kala itu, tidak berdaya aku di ruang operasi seorang diri.  Subhanallah. Cukup membekas luka itu di hatiku. Tapi aku terima.

SC yg ke-2 kupilih dengan kesadaran penuh. Aku “minta SC” karena lewat HPL 1 minggu dan depresi berat. Ada masalah yang tidak bisa kuceritakan dan saat itu tidak teratasi juga. Padahal aku ingin bisa pervaginam waktu itu. Sudah kubaca-baca beberapa referensi termasuk artikel fenomenal di www.ummiummi.com, namun itu hanya sepintas lalu saja. Belum ngeh juga apa yg kuinginkan waktu itu. Aku memang terlalu fokus pada “demi keselamatan bayi” apalagi teringat-ingat gawat janin pada persalinan yg pertama. Tapi aku terima.

***

Januari 2016

Aku dengar kabar temanku Prima hamil dan berhasil melahirkan secara normal. Dia tetangga dekat dan juga sebayaku. Kami sama-sama melahirkan anak ke-2 di waktu yg hampir bersamaan. Kami barengan melahirkan di RS yang sama, dengan DSOG yang sama, dan kamar rawat inapnya pun sebelahan. Dan iya, sama2 SC waktu itu. Tapi kali ini dia melahirkan normal. Kabarnya Prima melahirkan spontan di rumah tanpa sengaja di kamar mandi, tanpa ada nakes, hanya ada ibu, suami, dan anak-anaknya. Masya Allah. Bi idznillah.

Sampai lah aku di rumah Prima. Prima cerita panjang perjalanannya untuk bisa VBAC. Inilah awal aku “melek VBAC” . Padahal dari sejak hamil ke-2 aku sudah tahu soal ini. Tapi baru kali ini merasa ada semangat. Aku jadi termotivasi untuk vba2c. Dari Prima aku dibekali 3 buku super : Persalinan Maryam karya Mugi Rahayu, Ina May Gaskin versi Indonesia, dan Super Baby Dictionary.

Pulang dari rumah Prima aku pun menceritakan semua kisah Prima kepada suamiku. Dan kusampaikan padanya aku juga ingin melahirkan per vaginam kali ini. Suami pun setuju dan malah meyakinkan aku. Insya allah, yang penting usaha dulu.

Melalui Prima aku dapat bergabung di sebuah VBAC support grup yang ada nama seseorang di sana yang pernah kubaca kisah fenomenalnya. Bismillah, kataku dalam hati, aku ingin VBA2C. Aku pun semakin termotivasi dengan kisah-kisah VBAC yang ada di grup itu. Ternyata aku tak sendiri, mereka di sana senasib denganku dan punya satu tujuan sama, VBAC. Namun ternyata semua itu tidak semudah membalik tangan. Sama seperti ketika kita ingin mendapatkan sesuatu maka harus ada ikhtiar dan tawakal serta belajar ilmunya. Tidak sekedar hanya ” ingin”. Bener-bener kita harus memberdayakan diri semaksimal mungkin.

Perasaan galau pasti lah ada. Takut ini takut itu, namun takut kematian akibat ruptur lah yang selalu menghantuiku. Sempat aku bilang ke suami “Kalau aku meninggal menikahlah, carikan mamah yang lebih sholelah dari aku untuk merawatmu dan anak-anak kita.” “Sudah fokus saja VBAC, jangan mikir aneh-aneh.” Celetuk suami. Iya juga ya.. Ah, ya sudahlah, sudah mengantongi support suami saja sudah cukup bagiku dari segalanya. Alhamdulillah, aku pun makin membulatkan niat ingin VBAC. Laa khaula wala quwwata illa billah. Aku akan berusaha. Insya Allah.

Sempat bingung apa yang harus kulakukan pertama kalinya apalagi banyak istilah “aneh” yang belum kumengerti. Self healing, kata Prima. Okey aku coba. Aku memang harus “waras” dulu kalau mau ngencengin niat. Aku tulis di buku apa yang mengganjal di pikiranku. Aku pun sudah mulai baca buku Ina May Gaskin versi Indonesia dan Persalinan Maryam karya Mugi Rahayu. Aku berusaha menemukan apa yang salah di kehamilanku sebelum-sebelumnya. Aku pun mulai menemukan titik kelemahanku dan ku ambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi. Penyebab SC pertamaku memang aku dalm keadaan stres karena merasa kurang privasi di RS, diserbu beberapa perawat yang tiap saat ke kamar inap untuk mengecek aku dah bukaan berapa. Semua itu memang tidak terlepas dari SOP RS. Stressku membuat stress janinku sehingga akhirnya ditetapkan dokter gawat janin.

Aku pun mulai berdamai dengan diriku sendiri, karena sebenarnya sc ku yang terdahulu bisa dicegah dengan bersikap tenang. Tenangnya aku tenang pula janinku. Namun SC juga adalah takdir dari ALLAH Subhanahu wata’alla. Kalau nggak SC aku gak akan tahu VBAC, dan ga tau bagaimana memperbaiki apa yang harus kuperbaiki.

Aku pun mulai memperbaiki semuanya di kehamilanku yang sekarang. Mulai memberdayakan diri, menangkap informasi penting yang baru seputar kehamilan dan tahap persalinan, mulai menjadwalkan exercise, kegel, nge-gymball, mulai jaga asupan gizi terutama protein untuk memperbaiki luka SC. Aku juga mulai konsumsi herbal madu, gamat, minyak zaitun, kurma, dan merutinkan c-scar massage, minum air putih juga wajib 3 liter/hari. Awalnya begitu berat bagiku. Tapi kalau tidak usaha gimana mau berhasil, pikirku menyemangati diriku sendiri. Tidak bisa memang hanya “ingin” saja, semua harus diiringi ikhitiar dan doa, dengan meminta sama ALLAH.  Tidak jarang aku tergoda untuk malas-malasan, tapi alhamdulillah selalu diingatkan lagi oleh suami, anak-anak dan temen-temen vbac grup. Back to the right track and try harder, myself. Aku bersyukur dipertemukan dengan grup ini. Ini adalah petunjuk dari Allah.

Maret 2016

Memasuki kehamilan 24w aku mulai mencari support nakes. Aku keliling ke 3 RS dan memeriksakan diri dengan 3 DSOG yang berbeda bahkan salah satunya DSOG fetomaternal. Sebenarnya aku cek ke 3 DSOG untuk memastikan kapan HPL ku. Aku meminta DSOG memperkirakan kapan tanggal LMPku (Last Mentruasi Period) karena waktu itu aku belum sempat dapat haid pertama. Aku pun mencocokkan dengan hitungankku memakai rumus Neagle dari tanggal LMP yang kuperoleh dari hasil USG. Alhamdulillah sama semua range HPL nya. Namun mereka menjadwalkan range waktu operasi SC ku. Aku diam saja. Mungkin dari mukaku bisa kebaca dokter aku ingin normal. “SC kita jadwalkan ya bu. Ibu gak bisa lagi normal.” Kata sang dokter. Aku senyum saja dan bilang “O gitu ya dok.” Semua beralasan yang sama. Resiko tinggi, ruptur, sobek rahim, pendarahan hebat, kematian ibu dan bayi karena  jarak melahirkan belum ada 2 tahun. Lindungi aku dari semua itu ya ALLAH, hatiku  berdoa, Ya ALLAH bantu aku bisa normal. Engkau memberiku janin dalam rahimku secara unik, Engkau pula yang akan membimbingku melahirkan bayiku. Bismillah… Laa khaula wala quwwata illa billah.

Waktu terus berjalan, aku pun teringat ada bidan yang pernah khitan anak yang ke-2 dulu. Aku coba datangi bidan tersebut dan  Alhamdulillah beliau support. Aku komunikasi terus dengan bidan tersebut, tiap hasil USG aku tunjukkan ke Bidan. Bidan meyakinkanku dan menyuruhku untuk banyak doa. Ini memang bukan perkara yang mudah, katanya, butuh perjuangan dan doa. Aku dan suami jadi lebih bersemangat dan kami pun sama-sama belajar. Ilmu apa saja yang kuperoleh aku transfer ke suami. Bidan pun memberiku tips-tips VBAC yang salah satunya menjaga BBJ (Berat Badan Janin) supaya tidak melebihi BBJ kakak-kakaknya dulu. Sebenernya aku percaya my baby is in perfect size for me, tapi kalau dipikir-pikir kayaknya susah juga kalau kebesaran. Yah, akhirnya aku sepakat untuk diet karbo.

Mei 2016

Memasuki trimester ketiga aku sudah mulai menjadwalkan induksi alami, dan lebih fokus VBAC. Namun ternyata ALLAH sayang padaku. ALLAH kasih aku cobaan bertubi-tubi. Bergantian anak-anak sakit, bolak-balik RS, bolak-balik bergantian rawat inap. Ya ALLAH. Sempat pesimis karena bagian luka SC-ku nyeri seperti disayat karena kebanyakan gendong saat anak sakit dan rewel. Asupan gizi, exercise dan induksi alami pun mulai kacau. Belum selesai perawatan sakit anak ke-2 karena divonis pneumonia grade 2, disusul anak pertama kena campak. Aku searching dampak campak pada bumil ternyata dampaknya bahaya. Aku mulai resah gelisah. Seorang teman di grup  pun kasih aku motivasi yang membuat aku bangkit lagi. ” Ingat ALLAH sesuai dengan persangkaan hambanya.” kata mba Eva. Aku pun bertahan untuk terus berusaha lagi.

Sementara aku menjaga jarak dari anak-anak karena campak. Aku pakai masker merawat mereka, waspada kontak dengan mereka dan memisahkan baju mereka agar aku tidak terkontaminasi. “Memang virus itu ada kemungkinan berdampak pada janin “tapiii” ada kemungkinan juga tidak berdampak dengan ijin Allah. Karena kita setiap hari juga di kelilingi virus jahat. Pertolongan ALLAH saja lah dan ikhtiyar kita menjaga kesehatan membuat kita tetap sehat.” Kata mba Aulia menyemangatiku. Namun memang semua tidaklah mudah, aku pun menangis dan mengadu ke ALLAH. Sabarkan aku ya ALLAH.. Engkau Maha Pengasih dan Penyayang berikan aku kemudahan melewati semua ini.

Alhamdulillah di w37 anak-anak mulai membaik. Aku fokus lagi ke VBAC. Di penghujung kehamilan ini teringat lagi riwayat kehamilan keduaku yang lewat HPL yaitu Ketika janinku keluar masuk panggul kata dokter diameter kepalanya besar dan terbayang oleh ku panggulku sempit. Namun kata-kata bahwa kepala bayi itu lembut dan bisa menyesuaikan dengan panggul kita yang akan melebar nantinya pun melegakan hatiku. Panggul sempit memang bukan dari kata-kata saja. Tapi ada pemeriksaan khusus. Aku pun berusaha positif thinking. Induksi alami dan exercise kulanjutkan lagi. Jalan-jalan pagi sore, ngepel jongkok, membersihkan kamar mandi sambil jongkok berdiri, memandikan anak-anak juga sambil jongkok berdiri, ngegymball tiap saat, butterfly pose dan beberapa gerakan senam hamil ringan yang bisa dilakukan sendiri dirumah kulakukan semua. Apa yang masuk dalam daftar check listku yang ketinggalan, aku kejar.

Disela-sela anak sakit, aku sempat cek gigi berlubang dan berusaha mengatasinya. Karena gigi yang berlubang menurut yang kubaca dapat mengakibatkan infeksi dan memicu rembes ketuban. Dan kujaga juga cairan dengan minum rutin 3 liter/hari. Aku pun cek HB untuk memastikan HB cukup agar tidak terjadi pendarahan saat persalinan nanti. Kuperketat  lagi protein dan c-scar massage di waktu yang sempit ini. Alhamdulillah luka SC ku tidak nyeri lagi. Yah…back to the right track kata mbak Muti. Bersyukur aku disupport banyak doula-doula hebat disana yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu disini. Aku dapat ilmu yang tak ternilai harganya.

Start induksi alami pun kulakukan dengan makan nanas yang katanya termasuk salah satu induksi alami. Kutambah porsi nanas 1 bonggol perhari apabila tidak terjadi kontraksi. Saat bulan puasa tiba aku pun ikut puasa dan tentu saja berbuka dengan nanas.

17 Juni 2016
Pagi jam 05.30 keluar flek coklat. Alhamdulillah ada sebuah tanda. Tapi aku aku tidak mau kepedean, masih jauh perjalananmu, kataku dalam hati. Karena masih 38w. Tetap kalem aku sahur dan sholat. Jam 18.30 setelah berbuka dengan nanas, pas makan nasi terasa ada rembesan dan flek yang keluar. Tetap kalem aku rehidrasi dengan air kelapa dan air putih. Aku pun mulai merasakan ada sedikit kontraksi waktu itu. Masih tetap kalem, aku bilang pada suami menjelang tidur, “Pah aku baru ingat kontraksi itu gimana rasanya. Masih sakit yang dulu waktu induksi anak pertama. Yang ini insya ALLAH masih bisa handle.” “Jadi gimana birth plannya?” tanya suami. “Kalau aku gak kuat kita ke bubid yuk. Syukur-syukur klo bisa Last push”, aku berharap. “Birth plan kita plan A, plan B, plan C. Siap, Pah?” tanyaku.  “Iyaa..” kata suami. Kemudian kami tidur dengan tenang. Jam 23.00 ketika BAK keluar bercak darah dan lendir semburat. Tetap kalem aku tidur lagi. Sambil sebelumnya rehidrasi dulu untuk mengganti cairan yang keluar.

18 Juni 2016
Aku sengaja tidak puasa hari itu. Nanas 3 bonggol kumakan sedikit-sedikit sambil memantau reaksi tubuhku. Tetangga sebelah juga kasih aku sambel ijo teri yang lumayan nonjok pedesnya. Dan tetap kulakukan aktifitas seperti biasa hari itu.

19 Juni 2016
Jam 03.30. Kontraksi terasa lagi dan saat BAK ternyata keluar mucus plug. Yah, aku yakin kalau ini ciri-ciri mucus. Panjang, lengket, coklat pekat, dan ditarik-tarik pun kuat. Baru pertama ini ku lihat dan pegang mucus sendiri. Tetep kalem kunikmati kontraksi yang timbul dan hilang.  Sambil menyiapkan sahur dan menemani suami, kami berdiskusi lagi soal birth plan. Suami tetap kerja karena belum ijin hari itu. Toh ada adik di rumah yang jaga anak-anak kalau perlu tindakan cepat. Kontraksi dah 10 menit sekali waktu itu dengan durasi 30 detik dari subuh.

Jam 07.40 kontraksi terasa lagi dan keluar flek lagi. Di sela-sela kontraksi aku merasa ngantuk berat. Ku wapri mbak Muti, Prima, Putri (sahabat dari kuliah yang juga berencana VBAC), dan juga Bidan. “Kalau sudah muncul tanda-tanda, tetap kalem dan bersyukur kontraksi yang datang.” kata mbak muti. Saat gelombang cinta itu datang aku pun deep breathing dan dan mengambil posisi all four position.

Kontraksi terus hilang timbul masih tidak teratur. Aku tetap exercise jalan-jalan, makan, minum, dan murojaah lagi teori persalinan alami sambil ngegymball.

Jam 8 relaksasi mandi air hangat lumayan membuatku nyaman, Alhamdulillah. Suami wapri menanyakan kapan akan ke bidan dan menyarankan segera saja.  Jam 09.57 wapri Bidan aku bilang masih 10 menit sekali kontraksinya. Bidan memastikan tidak ada rasa sakit di luka SC. “Tidak sakit.” kataku, tapi memang ada diare karena semalam makan sambel ijo. Bidan menyarankan minum teh pahit untuk meredakan diare. “Nanti kalau sudah 10 menit 2-3 kali kontraksi ke klinik ya” pesannya. “Iya, bubid, siap.” kataku.

Masih enjoy dan deep breathing aku keliling rumah jalan-jalan. Di rumah aku melihat-lihat apa yang sudah siap, seperti insting mau berangkat segera saja. Waktu terus berjalan dan ketika aku buka kulkas pengen makan buah naga, aku sudah nggak kuat ingin BAK. Jalan cepat aku ke kamar mandi. Jam 10.15 “plussh” bunyi ketuban pecah di kamar mandi. Masya ALLAH aku belum siap.

Aku telfon suami sambil pegang handuk jaga-jaga ada yang jatuh kebawah biar kelihatan. Aku ingin suamiku disisiku saat aku melahirkan. Belum selesai telfon, aku sudah nggak kuat pegang hp. Hp kutaruh di lantai. Ngomongpun susah. Rasanya seperti nyawa di ubun-ubun seperti ditarik ulur dari atas. Suarakupun berbeda “Ougch.. ougch..” Suara melenguh menahan rasa sakit yang MasyaALLAH ruaarrr biasa. Pertama kali dalam hidupku menyelami rasa itu.

Aku langsung posisi all four, mencoba merilekskan rahim saat kontraksi. Namun tenyata penuh perjuangan. Aku tidak bisa lagi ketik-ketik contraksi timer. Terakhir contraction timerku terhenti di jam 09.57 setelah wapri Bidan tadi. Tiba-tiba saat all four ada sesuatu yang mendorong kuat ke bawah, terdengar jelas bunyi krek tulang panggul pinggulku. Aku mengilustrasikan bayiku melorot mau keluar dari botol. Tetangga berdatangan ke rumah  karena adikku menitip kunci ke tetangga sebelah dan cerita aku mau melahirkan. Tetangga sebelah dengan sigap ingin memakaikanku gamis tapi apa daya berdiri saja tidak kuat. Namun kupaksa juga untuk memakainya karena mau tidak mau aku harus pakai baju tertutup dan kerudung.

Jam 10.30 Suami dan adik menelpon taxi. Dan aku msh berusaha fokus lagi sambil berdzikir, ya ALLAH. Namun entah bagaimana ALLAH meringankan sakitku, beberapa saat setelah all four position rasa sakit itu hilang. Aku pun beranjak berdiri dan fokus berjalan ke arah taxi yang sudah datang dengan sisa tenaga dan mata yang berkunang. Jam 11-an taxi meluncur ke Bidan. Anak-anak sementara mengungsi ke rumah tetangga sebelah. Karena aku memutuskan berangkat sama adik. Tetangga depan keluar, aku seperti artis cepet-cepet naik taxi tanpa memperhatikan tetangga tanya ada apa denganku. Saat naik taxi aku lupa tidak pakai kacamata. Kacamataku ketinggalan, gak sempat pakai. Supir taxi dan adik tidak tahu jalan ke arah Bidan karena adik baru datang dari Jawa. Haduh tidak ada waktu lagi kataku, dengan mukaku yang meringis gak karuan. Aku meluncur saja ke Bidan sebagai penunjuk jalan. Pak supir taxi sangat kebingungan, “Kemana buk? Kemana buk?”. “Bapak lanjut aja nanti saya kasih tau jalan.” Kataku. Aku suruh pak supir melaju kencang, menyalip sana sini. Sudah burem mata ini tanpa kacamata sambil menahan kontraksi selama perjalanan 10 menit dari rumah rasanya lamaaa… sekali. Masuk jalan ke rumah Bidan pun jalannya bergelombang. “Dikit lagi.” kataku. “Sabar ya nak..” Sambil kuelus-elus perut, deep breathing dan dzikir. Mau duduk aku tidak bisa karena rasanya ada yang menonjol di bawah. Mulailah aku pegangan handle pintu atas dengan posisi duduk menggantung. Lalu Alhamdulillah sampai lah aku di klinik Bidan.

Aku menyelonong masuk  dan bilang ke asisten Bidan, “Mbak, mau melahirkan.” Tampak asisten Bisan kebingungan. “Bentar buk.. Di sana masuk ruang persalinan.” Bidan kaget karena sejam yang lalu aku masih wapri Bidan. Sjam kemudian aku sudah nggak kuat menahan lagi, bagian bawah serasa ada yang mau keluar. Aku all four di depan Bidan. Alat-alat pun segera disiapkan. Bidan menyuruhku naik ke atas kasur bersalin dan mengecek kondisiku. “MasyaALLAH umm sudah bukaan lengkap.” Katanya. “Terus gimana Umm, ini sakit ndak luka SC?” Tanyanya. “Ndak”, kataku. “Ya sudah bismillah, Umm, saya aba-aba mengejan ya”, himbau Bidan membantu proses persalinan.

Mengejan pertama gagal karena belum ngerti. Mengejan kedua gagal karena nafas berantakan. “Maaf Umm, dikit ya?” Kata Bidan. Kres kres.. Ternyata di epis. “Auw…auw…”, aku teriak. “Gak pa pa, ayo ngejan lagi bismillah”. “Bismillaaah…” Mengejan yang ketiga kalinya tiba-tiba ada sesuatu yang besar keluar, anget, putih, bersih dan licin. MasyaALLAH bayiku.. Jam 11.16 bayiku lahir dengan BB 2,6 dan PB 47 cm.

Bayiku kemudian ditaruh di atas perut dan Bidan masih melanjutkan tindakan untuk pengeluaran plasenta. Sambil dijahit bagian bawah tidak ada yang kurasakan selain bahagianya aku. MasyaALLAH, Alhamdulillah, seakan-akan belum percaya dan seperti mimpi bisa vba2c, bi idznillah. Aku mau menangis tapi malu di depan Bidan. Aku bilang ke Bidan aku mau nangis. “Ya nangis aja Umm, gak pa pa. Nangis saja.”, katanya. Langsung mewek aku gak bisa nahan suara tangisku. Adikku pun menangis di pojokan dan gemetaran melihat kondisiku melahirkan live di depannya. Suamiku yang belum dikasih kesempatan melihat live aku melahirkan. Suami datang beberapa saat kemudian dan melihat bayi laki-laki yang masih diatas perutku. Suamipun terharu melihatku, mengelus dan mencium keningku dan bayiku.

***

Seakan-akan belum percaya dan seperti mimpi. Biidznillah bisa vba2c.

Alhamdulilah alla kullihal ni’mah. Laa khaula wala quwwata illa billah. Segala puji bagi ALLAH atas segala nikmatnya. Tiada daya dan kekuatan selain dengan pertolongan ALLAH.

Tina (Mamah FGH *Fayadh Ghaitsa Haziq*) – Pekanbaru, 2016

***

Terima kasih untuk suamiku tercinta yang selalu menenangkanku, you are my best birth patner. Doula-doulaku Mbak Muti, mbak Eva, mbak Aulia, Prima teman-teman semua di VBAC group yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu atas semua ilmu yang sangat bermanfaat. Putri sahabatku atas doa dan semangatnya. Bubid yang sabar dan sigap membantu last push saya. Tetangga sebelah rumah Bunda Annisa yang ngemong anak-anak saya saat hari H, adikku diyah birth patner dadakan hihiii.. God job my sister, anak-anakku fayyadh Ghaitsa yang selalu mengingatkan dan menemani saat exercise, tidak lupa ibu dan ibu mertuaku yang mendoakanku. Teri kasih buat semuanya. Yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Jazakallahu khoiron katsiron. Semoga tulisan sederhana ini bisa menginspirasi para calon VBACers diluar sana. Ikhtiar dan tawakal atas hasil akhir apapun itu. This is a wonderful and unforgetable experience in my life and my family. Nothing is impossible to ALLAH to make the dream come true, believe, pray and wait the miracle moment will happen.

24 thoughts on “Kisah VBA2C Tina

  1. Karena satu dan lain hal, terutama keterbatasan waktu dan kemampuan, ini akan menjadi pesan terakhir di kisah ini. Selanjutnya Sila para ibu yang memiliki akun FB untuk bergabung di Page VBAC Tanya Saya. Insya Allah di sana lebih banyak informasi sputar VBAC. Ketemu di sana ya…

  2. Assalamualaikum mbk….pgn bgt bisa vbac..saya lg hml 32w anak ke 2..anak pertama sc…mbk nmr saa nmr saya 081330090511

  3. Boleh kah saya dimasukkan ke grup? Sy tinggal menunggu hari utk melahirkan, skrg 38 w, trauma SC dan induksi..pgn vbac

  4. Nangis bacanya terharu.mudah2 an saya bicara vba2c .Ini kehamilan ke 3 saya .Usia sekarang 9minggu.jarak nya sudah 5 thn Dr SC ke 2. Ya Allah SWT semoga saya bisa seperti mbak Tina.amin yra.minta info nya mbak group wa.

  5. Assalamu’alaikum..masyaAlloh sy terharu baca crta mba. Skrg sy lg hamil anak kedua dg uk 25 w. Anak pertama via sc dh jarak 7 bln.sy pngen bgt bs vbac mba. Sy jg domisili di pku. Mohon share ilmunya mba, email sy poephoe7@gmail.com

  6. Aslmkum mbak, mohon saya di masukkan ke grup jg 085270399335, kehamilan msh 6mggu, anak pertana sc usia 19 bln saya pengen vbac jg tp blm dpt dr yg pro. Trimakasih sblmnya mbak.

  7. Minta tolong gabung di Grup VB2 AC y mbak sy 2 bulan lagi melahirkan dan riwayat SC 2x.. alhamdulilah sudah dapet dokter yg pro VB2 AC..tapi biar sy tambah ilmu dan motivasi minta contact mbak tina y..ini nmr sy 081326121090

  8. Bund…bisa minta bantuannya di gabungkan ke grup vbac…sy ingin belajar bnyk ttg vbac bunda…sy lagi hamil anak ke2 ingin rasanya bisa lahiran normal. Ini wa sy 081370688953. Trimakasih bund

  9. Selamat siang mba, sy mohon dimasukkan ke group.
    Usia kandungan sy skrg 33 weeks, rencana mau VBAC. Anak pertama SC.
    No hp saya 082149318554

    Terima kasih sblmnya

  10. Masya Allah mba tina…
    Alhamdulillah Allah swt beri kemudahan buat mba..
    Bolehkah saya ikut grup vbac mba..
    domisili saya di depok, bagaimana caranya y mba..
    rencana saya ingin vbac juga..
    tolong kontak saya di ilmiyaanwar@gmail.com

  11. Mbak boleh minta kontak wa grup vbac, hpl sy Bulan depan dan sudah ada bidan yg support, mdh2 an bisa berhasil sperti mbak.
    Ini kontak wa saya 087774525260. Mohon bantuannya untuk dimasukan k grup

  12. Mbak. Mau share.. Dan terharu dengan pengalaman nya. Semoga saya bisa vba2c.. Bisa minta kontaknya gak ya?

  13. Subhanallah..
    Saya 2x SC, anak pertama 3 thn, anak ke dua lahir 1 oktober 2016 dan berpulang ke rahmatullah tgl 4 oktober yg lalu. Dokter bilang hamil ke 3 nanti hrs SC dan setelah itu steril. Mohon doanya ya bun agar hamil ke 3 nanti sy bisa VBA2C dan Allah beri ganti putra sy yg telah tiada dengan ganti yg lebih baik

  14. Asslm mba, baarokallah atas kelahiran anak ketiga nya, mba boleh minta email atau wa..? Aku mau sharing. Aku jg rencana vba2c..tp nugu anaku yg kedua agak besar dulu..mhn doanya

Comments are closed.