Kisah VBA2C Nendra

Kisahku Melahirkan Normal Setelah Dua Kali Sectio Caesaria

Alhamdulillah, bi idznillah, syukur kepada Allah, dalam segala kelalaian masih allah beri kesempatan melahirkan normal setelah dua kali SC. Rasanya tak tergambarkan. Meski mendapat banyak jahitan bekas epis ini adalah nikmat terindah, alhamdulillah.

***

Saat memutuskan melepaskan KB setelah anak keduaku berumur tiga tahun lebih, aku belum mempunyai gambaran bagaimana aku akan menghadapi persalinan nanti seandainya aku hamil lagi untuk ketiga kalinya. Anak pertamaku lahir melalui operasi sc setelah aku merasakan kontraksi yang membuat sesak nafas dan kehilangan akal. Pilihan sc sebetulnya sudah muncul sejak usia kehamilan 5 bulan, yaitu ketika bidan yang membaca hasil usg menyatakan bahwa aku hamil dengan kondisi plasenta previa. Meski tidak total, posisi plasenta ada di samping agak ke bawah dan bidan menyatakan ketidaksanggupannya untuk membantu proses persalinanku nanti, karena katanya saat persalinan nanti darahnya bisa keluar werewerewer, tak terkontrol, dan ini bukan dalam kewenangan bidan lagi. Bidan pun merekomendasikan klinik bersalin yang telah ada MoU antara bidan dengan dokter di sana. Mendengar perkataan bidan, kata previa pun tertanam dalam di hati dan pikiranku walaupun setelah konsultasi ke dsog, hasil pemeriksaan beliau semua bagus tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan persalinan normal bisa dilakukan, dengan pengawasan dari dokter dan persalinan harus dilakukan di rumah sakit. Memang harusnya ini adalah berita yang menguatkanku untuk melahirkan normal, tetapi mungkin keterlenaan membuat aku lupa dan merasa tidak perlu untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan agar melahirkan secara normal itu dapat dilakukan. Yang kutahu hanyalah bahwa pada saat tanda-tanda persalinan sudah muncul, segeralah berangkat ke rumah sakit, kemudian serahkan semua kepada ahlinya, maka akan lahirlah bayi dalam perut ini. Sesimpel itu. Sehingga saat mendekati hpl tanggal 4 Januari 2011 dan tanda-tanda persalinan berupa bercak darah dan kontraksi mulai (ya, baru mulai) datang, aku sudah berangkat ke klinik bersalin. Stress dengan rasa kontraksi yang aku tidak tahu bagaimana menghadapinya, bukaan yang mandeg seharian di angka 4, bidan yang bolak balik melakukan vt, dan orang-orang yang mengintip ke kamar (mungkin keluarga pasien yang lain, bayangkan bumil dalam kondisi awut-awutan, sedang mengaduh-aduh kesakitan, pakaian bener apa nggak, berjilbab entah nggak), pilihan sc adalah pilihan yang masuk akal dan sepertinya adalah jalan keluar yang benar saat itu. Sempat aku ditawari untuk diinduksi tapi kutolak setelah bidan yang kutanya apakah induksi bermanfaat menambah bukaan dan dijawabnya dengan tidak. Akhirnya Syifa Wasithoh, 3 kg lahir sore 4 Januari 2011 secara sc di RSUD Ciawi.
Huffff, ada sesuatu yang kusimpan rapat di kedalaman hati.

Anak keduaku lahir juga secara sc setelah dokter yang kutemui menyatakan bahwa persalinan normal dengan riwayat sc itu berbahaya untuk dilakukan karena akan menyebabkan rupture rahim. Jarak persalinan pertama dan kedua baru (kata baru kugunakan saat itu, sekarang aku akan mengatakan kata sudah) 18 bulan. Menurutnya untuk dapat melahirkan normal setidaknya jarak antar persalinan adalah 24 bulan. Manut dengan vonis dokter yang baru pertama kali ditemui, aku hanya mengajukan syarat bahwa semua pihak yang terlibat dalam proses operasi harus perempuan. Namun sebetulnya konsultasi dengan dokter yang berbeda sebelumnya, dokter mengizinkan aku untuk mencoba proses persalinan normal, tapi harus dengan pengawasan dokter di rumah sakit. Pertimbangan keuangan saat itu lah yang membuat kami (aku dan suami) memutuskan pindah rumah sakit. Tetapi, meski persalinan normal selalu menjadi wacana saat itu, tetap aku belum ngeh untuk mencari tahu bagaimana menghadapi persalinan, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dipelajari agar persalinan normal menjadi kenyataan. Aku cuma diet makan supaya bayi tak lebih besar dari anak pertama. Sehingga keinginan untuk persalinan normal hanya bermain di pikiran, sekedar wacana, belum tertanam ke dalam hati dan menjadi tekad. Mungkin itu sebabnya sehingga pada saat dokter kedua menyuruh untuk segera operasi, kami manut tanpa pikir panjang. Kali ini persalinan secara sc diputuskan dengan hati yang lebih lapang, karena kami memahami (pemahaman ketika belum tahu ilmunya) betapa berbahayanya seandainya terjadi rupture rahim, tidak hanya perut ibu yang akan robek tak beraturan (yang bisa saja dijahit meski berantakan) tapi lebih kepada keselamatan janin yang akan terancam. Proses persalinan Salmah Anshorullah, 2,9 kg, 8 Juli 2012 secara sc di RS Sari Asih Ciledug lancar dan membahagiakan. Hanya saja sesuatu di kedalaman hati semakin rapat tersimpan.

***

Haidku memang tidak pernah lancar, bahkan nyaris tidak pernah haid karena suntik KB. Sehingga setelah memutuskan tidak suntik KB pada September 2015, tidak kedatangan haid tidak terlalu kupikirkan. Namun ketika Desember datang, badan rasanya sakit-sakit seperti demam, sepertinya ada yang berbeda dengan tubuh ini. Hasil testpack menunjukkan garis dua, aku hamil lagi untuk ketiga kalinya, saat Kota Jakarta telah kami tinggalkan. Kegalauan mulai melanda, bagaimana aku akan melahirkan nanti, sementara di kota ini dokter anastesi perempuan tidak ada. Untuk melahirkan sc aku butuh tim persalinan perempuan. Seandainya ke Jakarta untuk melahirkan, aku berat meninggalkan dua anak yang masih 5,6 y dan 4 y. Dan seandai sc lagi, berarti bisa jadi ini adalah kehamilan terakhirku. Sesuatu yang rapat tersimpan di kedalaman hati mulai terbuka, mulai keluar. Berhari-hari, bahkan berminggu pada awal-awal kehamilan, dunia yang lapang ini terasa begitu sempitnya. Aku tahu, persalinan secara sc bukan jalan keluar bagiku. Kebalikan dari kondisi saat persalinan anak pertama, aku mulai menyadari bahwa sc bukan pilihan yang masuk akal untuk kondisiku. Ada sesuatu di dalam hati yang mempertanyakan kemampuan diriku sendiri. Seharusnya persalinan normal bisa kulakukan, seharusnya operasi sc itu tidak perlu dilakukan. Seandainya jauh-jauh hari sebelum persalinan, aku mempersiapkan diri lebih baik. Seandainya begini, seandainya begitu. Segala andai-andai yang menyesakkan jiwa.

Saat itu, opsi untuk berkonsultasi dengan dokter spog belum menjadi pilihan. Setahuku di kota ini beberapa dokter yang pro normal dan bisa membantu kelahiran vbac (aku belum mendengar kabar kelahiran vbamc di kota ini) hanyalah laki-laki. Yang tentu saja, tidak bisa kupilih untuk membantu persalinanku nanti. Aku butuh dokter spog perempuan, yang pro normal, yang mau membantu vbac, dan aku akan melahirkan vba2c (bahkan saat itu aku masih belum mengetahui istilah vbac/vba2c). Dan rasanya mustahil untuk kutemukan di kota ini.

Pada usia kehamilan dua bulan, aku pun bertandang ke rumah bibik suami yang seorang bidan. Berharap beliau bisa membantu persalinanku nanti. Ternyata kehamilanku ini dinyatakan sebagai kehamilan beresiko tinggi, riwayat sc dua kali menjadi penyebab bidan manapun tidak mempunyai kewenangan untuk membantu persalinan. Proses persalinan harus dilakukan di rumah sakit di bawah pengawasan dokter spog. Tapi bibik akan mendampingi proses persalinan hingga ke rumah sakit.

Sejauh ini kontrol kehamilan kulakukan hanya di bidan. Berdasarkan hasil diskusi dengan bidan, suami kembali menawarkan opsi untuk melahirkan di Jakarta. Kita mencoba untuk melahirkan secara normal, tetapi tetap siap siaga, seandainya terjadi gawat darurat bisa segera dilakukan operasi sc, dan rumah sakit siap dengan tim operasi yang kita inginkan. Tawaran yang manis, tapi hatiku masih berat untuk menerimanya.

Februari 2015
17w kehamilan. Di rusuk kiri ada benjolan-benjolan kecil berair. Apakah ini? Cacar air atau herpes? Cek ke dokter umum di klinik kantor, positif herpes. Beliau menganjurkan aku untuk periksa ke dokter kandungan. Khawatir jika terjadi sesuatu dengan kandungan, aku segera mencari praktek dsog yang buka sore itu. Mendaftar di praktek dr. A dapat urutan nomor dua, jam lima sore masih belum datang dokternya. Aku pindah ke tempat praktek dr. B (sekitar 10 menit dengan motor) harusnya nomor urut satu, tapi sesuatu menyebabkan dokter membatalkan praktek. Balik lagi ke dr. A. Sore itu, aku sungguh menjadi pembalap. Setelah dr. A usg dan memeriksa si herpes, alhamdulillah, insya Allah tidak ada masalah dengan janin dan kandungan, katanya, Aku juga sempat sedikit konsultasi tentang rencana persalinan normal. Beliau tertawa dan menyampaikan bahwa keinginanku untuk melahirkan normal tidak bisa dilakukan, karena berbahaya (aku tidak bertanya apanya yang bahaya, tapi aku paham yang dokter maksud adalah tentang rupture rahim), “Lagipula operasi sc bisa sampai empat kali kok. Cukuplaah, anak empat.” katanya. Hee, terima kasih bu dok. Tapi bukan ini yang kucari.

Kegalauan mengantarkan pencarianku pada Persalinan Maryamnya Mbak Mugi Rahayu dan istilah hypnobirthing. Sementara aku membeli buku Persalinan Maryam dan Hypnobirthing, ternyata suami berselancar di internet, dan menemukan kisah seorang perempuan yang melahirkan anak ketiganya secara normal setelah sc dua kali, melahirkan normal di rumahnya sendiri di dalam kolam dan tanpa bantuan medis, tanpa bantuan tenaga kesehatan, hanya ia dan suaminya. Wow, bisa ya ternyata? Pada saat yang sama, teman kantorku, Ayu juga hamil, kehamilan kedua setelah sc di persalinan pertama. Kisah-kisah vbac kubagi dengan Ayu, berdua kami kemudian berselancar di internet. Membaca banyak kisah vbac dan menonton banyak video di youtobe tentang vbac. Salah satu yang ditemukan dan dibagikan Ayu adalah kisah vbac Dee. Dari kisah Dee aku mencatat mengenai trauma healing, self healing, tentang memaafkan mengikhlaskan sc yang dialami sebelumnya. Ini berarti sesuatu yang rapat tersimpan di kedalaman hati harus kukeluarkan semuanya, harus direlakan diikhlaskan. Terutama aku harus memaafkan diriku sendiri. Huff, ya Allah aku rela aku ikhlas, setidaknya aku mencoba mengikhlaskan, seandainya perjalanan melahirkan anak pertama masih kusebut-sebut, semata-mata dalam rangka menarik hikmah darinya. Bismillaahhhh, perjalanan mengusahakan persalinan normal untuk anak ketiga dimulai.

Buku Persalinan Maryam dan Buku hypnobirthing membuka pikiranku tentang bagaimana memaknai kehamilan dan persalinan. Bahwa proses hamil melahirkan adalah hal yang berat. Berat yang semakin berat hari ke hari, sehingga membutuhkan persiapan untuk menjalaninya. Tentang Maryam yang terus berjalan dan bergerak dan makan minum dalam menghadapi persalinan. Juga mengajarkan bagaimana agar proses persalinan bisa berlangsung dengan lembut, tidak menyakitkan. Hamil dan bersalin bukan pekerjaan yang mudah, tidak bisa dijalani sendiri oleh ibu hamil. Harus didampingi dikuatkan oleh suami. Maka kemudian setiap informasi mengenai persalinan, selalu kubagi dengan suami. Meski terkadang terlihat ogah-ogahan (mungkin lagi kondisi capek ya?), aku yakin suami juga mencari informasi dengan caranya sendiri. Dan berdasarkan diskusi kami mengenai proses persalinan, aku yakin beliau telah memahami dengan baik, mempunyai visi yang sama denganku, dan akan mendukung setiap usahaku untuk sukses melahirkan normal. Dalam rangka menambah pendampingan dan penguatan, aku berkenalan dengan mba Aulia yang kisah vbac nya ada di sebuah blog kisah vbac dot com, ia pun mengingatkan untuk memulai semuanya dengan mengikhlaskan sc yang pernah kualami dulu dan mulai membenahi diri untuk meraih impian persalinan normal.

Aku pun mulai membenahi pola makan. Sebisa mungkin makan makanan rumahan yang sehat dan bergizi. Makan makanan yang high protein untuk meyakinkan kesembuhan bekas luka operasi. Protein juga berguna untuk menguatkan selaput ketuban sehingga bisa terhindar dari resiko ketuban pecah dini. Hindari memakan makanan berpengawet, penyedap rasa, pemanis buatan untuk menghindari terjadinya plasenta akreta juga pengapuran. Minum air putih 3 lt setiap hari kulakukan untuk kecukupan air ketuban. Jika merasa butuh rehidrasi, aku minum air kelapa hijau. Agar imun tubuh kuat tidak gampang sakit, aku konsumsi vitamin c alami. Pilihanku jatuh pada jus jambu, jeruk, dan nenas yang rasanya manis-manis asem, enak dan segar. Supaya urusan BAB lancar, karena ibu hamil rentan dengan serangan wasir, aku perbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan. Dan untuk melengkapi asupan makanan tersebut, aku minum sari kurma, makan buah kurma, minum madu dan minyak zaitun.

Katanya, tubuh atlet itu lebih siap untuk hamil dan melahirkan karena tubuh mereka telah terbiasa dengan latihan-latihan yang rutin dan berkelanjutan. Maka, aku mulai melatih tubuh untuk bergerak lebih dari biasanya. Lebih banyak berjalan naik turun tangga, mulai berdiri-jongkok-berdiri lagi. Mulai dari berjalan sambil menyapu di rumah hingga berjalan mengelilingi kantor. Mandi pun sabunan sembari berdiri-jongkok. Bahkan masak pun jongkok sambil ngupas bawang. Saat kemungkinan untuk olah raga yang lebih baik sulit dilakukan, aku memaksimalkan gerakan keseharian sehingga bernilai seperti olah raga.

Untuk memaksimalkan posisi janin dalam rahim, aku juga harus memperhatikan cara duduk. Usahakan untuk tidak duduk santai bersandar, tidak duduk dengan menompangkan satu kaki di atas kaki yang lain. Saat duduk kupastikan posisi lutut lebih rendah dari panggul. Saat sakit pantat dan pinggang terasa, kuambil posisi all four, gerakan yoga seperti kucing pun kulakukan.

Saat luka bekas sc di perut terasa ngilu, mba Aulia memberi tahu untuk melakukan scar-massage. Dengan merutinkan scar-massage ini, ngilu yang sering terasa lebih jarang berkunjung. Scar-massage dapat dilakukan sambil berbaring dengan menggunakan minyak zaitun, bisa pula pada saat mandi dengan menggunakan sabun mandi.

Di atas semua itu, setiap saat tak lupa aku selalu berdo’a, “Ya Allah beri aku kesempatan dan kekuatan untuk bisa melahirkan anak ini secara normal. Mudahkan aku saat persalinan nanti ya Allah, mudahkan aku untuk bernafas, memaknai rasa sakit kontraksi, kuatkan tekadku, mudahkan urusanku dalam persalinan.”

Informasi mengenai asupan makanan, exercise, scar-massage benar-benar baru kupahami setelah bergabung dengan sebuah grup support vbac. Aku juga diingatkan untuk selalu menjaga kebersihan area vagina, jaga agar tidak lembab. Area vagina yang kurang bersih dan lembab akan meningkatkan kemungkinan terjadinya ketuban pecah dini, yang merupakan salah satu penyebab indikasi sc. Jika ada masalah dengan gigi juga harus segera dibereskan, karena infeksi pada gigi juga dapat menginfeksi kehamilan.

Persalinan normal telah menjadi cita-citaku. Bahkan jika tidak ada dsog yang mendukung, aku akan tetap mengusahakan proses persalinan normal walau harus menunggu sampai one last push. Saat-saat terakhir bayi terasa akan keluar baru aku akan menggedor pintu bibik bidan. Tak mungkin beliau akan menolak saat itu kan? Tapi itu hanyalah birth plan yang kusimpan di dalam hati. Aku lebih berharap benar-benar bisa mengelola nafas dan stres saat kontraksi memuncak.

Sembari memperkuat diri sendiri, diiringi dengan selalu berdiskusi dengan suami (suamiku gabung di grup alumni kampusnya, kebetulan ada dsog di sana, berdiskusilah (baca:debat) mereka tentang betapa bahayanya vbac/vba2c, betapa orang yang melakukannya benar-benar nekat, bahkan egois). Ckckck, bukankah ini adalah hak dasar manusia? Hamil lalu melahirkan, sealami itu, kenapa kemudian terlalu banyak intervensi dengan alasan untuk kebaikan ibu dan bayi, sementara usaha untuk memaksimalkan persalinan secara normal belum dilakukan. Setelah segala upaya mempersiapkan persalinan normal telah dilakukan, dan ternyata memang ada kegawatdaruratan, pun tenaga kesehatan mempunyai kewajiban untuk menjelaskan pilihan-pilihan yang akan diambil pasien dengan bahasa yang mereka mengerti.

April 2016
Untuk mempersiapkan birth plan A, aku harus mendapatkan dsog yang mau membantu persalinan nanti. Setelah kemarin gagal dengan dr. A, ketika usia kehamilan 24 w aku kembali mencoba berkonsultasi dengan dr. C. Saat USG, aku menanyakan kemungkinan untuk vba2c.

Aku: Bisa normal ya, dok?

Dokter: Kemarin sc kenapa?

Aku: Ga tahan sakit, dok.

Dokter: Lah, yang namanya lahiran emang sakit. Nah, sekarang nyesal kan? Ga bisa buat normal lagi, kecuali baru sekali sc saya bisa bantu, kalo udah dua kali ga bisa lagi.

Aku: Kalo bekas sc nya gimana, dok? Bisa dilihat di usg ga? Kelihatan masih ada luka ga?

Dokter: Bekas sc mah pasti udah sembuh, udah empat tahun juga, pasti udah sembuh. Tapi ga bisa buat lahiran normal.

Aku: Ooo, gitu ya dok?

Tidak apa-apa. Alhamdulillah, setelah tak jemu-jemunya tersenyum dan mengatakan bisa lahiran normal pada setiap ibu-ibu komplek yang bertanya dan mempertanyakan serta kemudian menyatakan bahwa setelah dua kali sc tidak mungkin bisa melahirkan normal, akhirnya bertemu dengan tetangga yang menginformasikan keponakannya yang merupakan dsog yang baru pindah dari kota sebelah. Setelah menitipkan pesan pada beliau untuk menyampaikan kondisiku ke dsog tersebut, Dr. D, aku menyempatkan untuk konsultasi meski belum sebulan dari kontrol terakhir di dr. C.

Senang sekali, alhamdulillah, akhirnya bertemu dengan dsog yang hanya tersenyum mendengar keinginan ku untuk melahirkan normal. Meski hanya tersenyum, ia tidak mengiyakan dan juga tidak mengatakan tidak, ini jauh lebih baik. Meski dengan syarat, beliau hanya akan membantu proses persalinan normal jika aku datang ke rumah sakit saat sudah pembukaan 8. Okey, aku akan datang setelah bukaan 8, bu dokter.

***

Dengan pola hidup sehat, selalu exercise, dengan memperbanyak berdo’a, serta berusaha sebisa mungkin mengelola stres, kehamilan kali ini biidznillah adalah kehamilan yang paling ringan kurasakan. Tidak ada lagi adegan merangkak ke kamar mandi, meski masih merasakan sakit pinggang, tulang panggul, tapi tidak separah di kehamilan sebelumnya. Saat kehamilan makin membesar, sempat terbersit rasa khawatir akan terjadinya rupture rahim, terutama ketika rasa ngilu menusuk di bekas luka sc kembali terasa. Namun saat kondisi seperti itu, kembali kuyakinkan di dalam hati bahwa dengan asupan protein selama ini, bekas luka scku telah sembuh. Rahim memang mengembang seperti balon, sangat tipis, tapi rahim adalah ciptaan Allah (bukan made in cina), dan Allah telah menyatakan bahwa calon janin diletakkan dalam rahim yang kokoh. Sepanjang asupan giziku bagus, aku yakin insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Hanya saja aku perlu merutinkan c-scar massage untuk menghindari resiko perlengketan organ dan mengurangi rasa ngilunya.

Juni 2016


Kontrol terakhir ke dr. D aku ditawarkan tanggal 15 Juli untuk operasi sc. Aku cuma menggeleng, “Nggak, dok. Saya ga mau sc, maunya normal.” Reaksi dr. D begini, “Duuh, yang semangat mau lahiran normal. Ya udah, yang penting pantau gerakan janin minimal 10x sehari yaa…” Alhamdulillah.

Sejauh ini memang tidak ada masalah, selain melanjutkan pola makan dan exercise yang telah kulakukan biasanya, kali ini kutambah dengan minyak ikan dari HPAI yang berkhasiat memperlancar aliran darah. Minum minyak ikan adalah rekomendasi dari teman yang memahami obat-obatan herbal setelah aku menceritakan soal dugaan adanya varises di dalam rahim. Dr. D saat melakukan usg terakhir kali melihat adanya varises dan sempat mengatakan akan beresiko terjadinya pendarahan.

Ramadhan tahun ini kulewati dengan sangat baik, biidznillah. Puasa penuh sepanjang bulan, shalat tarawih dengan berdiri, terasa sekali sehat dan kuatnya tubuhku. Dibanding dengan kehamilan anak pertama dan kedua, sudah mulai shalat duduk bahkan pada usia kehamilan sekitar 7 atau 8 bulan. Keyakinan bahwa tetap bergerak akan baik untuk kehamilanku, dan gaya gravitasi akan membantu mengoptimalkan posisi janin dalam rahim, membuatku lebih rajin bergerak, tidak malas-malasan, dan tidak mau mengalah pada rasa sakit di pinggang dan tulang panggul.

Juli 2016,
Tengah malam saat aku telah nyenyak tidur, terasa ada sesuatu yang keluar dari miss v, sesuatu yang bulat hangat rasanya, tapi tidak membasahi pakaian. Jantungku berdebar-debar dan langsung cek ke kamar mandi. Ternyata seperti lendir, oh inilah yang namanya mucus plug. Alhamdulillah, penyumbat jalan yang akan dilewati bayi nanti mulai terlepas. Insya Allah bayiku akan lahir dari jalan itu. Rasanya aku ingin berteriak, Allahu Akbar! Alhamdulillah, perlahan tapi pasti satu tanda persalinan telah muncul. Tidak ada yang tahu kapan akan terjadinya persalinan nanti. Bisa jadi sehari lagi, dua hari lagi, seminggu lagi, dua minggu lagi, bahkan mungkin sejam atau dua jam lagi. Ini bisa jadi kesempatan terakhirku untuk sholat, karena itu segera kuambil wudhu, kutegakkan shalat 2 rakaat bermohon ampunan dari Allah, bermohon kemudahan dalam persalinan. Kabulkan cita-citaku ya Allah, beri hamba kesempatan untuk melahirkan normal.

Sabtu dan minggu saatnya mencari perlengkapan bayi yang masih kurang. Berjalan dari toko ke toko, berhenti sesaat setiap terasa sensasi kontraksi. Yeayyy, akhirnya aku merasakan indahnya kontraksi. Tetap kalem dan deep breathing.

Senin, 18 Juli 2016,
Hari pertama Syifa masuk SD, aku ikut mengantar ke sekolah, sambil berdiri berjalan jongkok menunggui pembagian kelasnya, aku ikut mengintip hari pertama sekolah di SD. Kontraksi terasa masih berjarak saat itu: Setelah itu perjalanan lanjut ke dokter gigi, untuk menambal gigi yang berlubang. Sempat khawatir bagaimana kalau kontraksi kuat datang saat proses penambalan. Dokter gigi pun turut was-was, gimana kalau sampai melahirkan di sini? “Ga pa-pa, dok. Malah bagus buat saya, hee..” Teringat kisah lahiran di becak dan kisah lahiran tak sengaja Mbak Prima di kamar mandi. Siapa tahu melahirkan di kursi dokter gigi (-ed). Dari dokter gigi aku mampir ke kantor untuk mengambil pesanan pancake duren. Lalu kujemput Syifa pulang sekolah sehingga sampai rumah sudah sore. Lupa diri makan pancake duren tiga biji dan malamnya kontraksi menguat hingga deep breathing tak terdengar indah lagi.

Selasa, tanggal 19 Juli 2016
Setelah sholat maghrib, melihat kontraksi yang makin menguat, suami kembali menawarkan untuk menitipkan anak-anak ke rumah ayuk. Khawatir seandainya tengah malam harus berangkat ke rumah sakit. Tapi aku sendiri belum merasa akan melahirkan secepat itu. Kontraksi yang kurasakan masih sangat berjarak, dan aku masih bisa tersenyum, ngobrol, makan juga minum di sela-sela kontraksi. Belum akan lahir, bisa jadi seminggu lagi, kataku. Untuk memperkuat keyakinanku, kuajak suami dan anak-anak untuk cek ke bidan. Demi menguatkan keyakinan bahwa bayi ini mungkin akan lahir seminggu lagi, aku merelakan diri untuk di-VT oleh bidan. Dan ternyata, hasilnya bukaan dua serviks tipis. Menurut bu bidan, seandainya kontraksi konstan, pukul 11 malam bisa jadi lahir. Waduh, ternyata di luar perkiraanku. Karena anak-anak sudah kecapean dan tertidur, suami akhirnya menjemput Bapak dan Mak dari rumah Ayuk.

Jam setengah 11 malam kontraksi plus dorongan mengejan dan tekanan kuat ke arah anus nyaris tak tertahankan. Nafas sudah nggak bener. Kupakai gendongan bayi untuk memberi tekanan kuat ke pantat. Sambil bernafas “Huhah, huhah..” sedikit aku menjerit tiap dorongan ke anus terasa. Mak yang melihat jadi khawatir. Beliau teringat ketika ayuk yang sejam-dua jam setelah mulai terasa kontraksi langsung bukaan lengkap dan melahirkan dalam waktu yang singkat. Karena itu Mak membujukku untuk segera berangkat ke rumah sakit. Aku pun ke kamar dan setiap kontraksi aku minta suami cek contraction timer. Awalnya per 10 menit tak lama jadi per 7 menit. Karena sudah tidak kuat menahan kontraksi, akhirnya aku setuju untuk ke rumah sakit tengah malam itu. Sekitar jam 12 malam, sampai di IGD. Bidan yang melakukan pemeriksaan dalam mengatakan sudah bukaan lima. Alhamdulillah. Meski saat kontraksi aku harus bernafas kuat-kuat, tapi aku masih bisa berjalan. Aku pun masih bisa makan minum, masih bisa ngobrol, bahkan masih sempat diskusi dengan dokter jaga di IGD. Karena itu, saat akan dipasang infus, aku menolak. Aku belum butuh tambahan asupan dari infus. Lagi pula aku masih harus bergerak, berjalan, jongkok berdiri memanfaatkan grafitasi untuk menambah menurunkan posisi bayi.

Jam setengah empat pagi bidan kembali melakukan pemeriksaan dalam, hasilnya masih pembukaan 5. Saat akan diinfus oleh bidan, aku kembali menolak. Kenyataan ini membuatku tercenung, kembali memikirkan bahwa melahirkan tidak bisa dipaksa-paksa. Tidak bisa dijadwal sesuka kita, melahirkan adalah soal posisi dan waktu. Kalau belum waktunya, kalau posisinya tidak benar, bayi akan sulit lahir. Dari bukaan 5 tidak akan secepat itu untuk menjadi bukaan 10. Bagaimana kalau butuh waktu berjam-jam, atau malah berhari-hari? Rumah Sakit, dokter, bidan, perawat, bahkan aku dan suami tidak akan sabar menanti. Karena itu, kuputuskan untuk pulang ke rumah. Lebih baik aku menunggu di rumah, hingga aku merasa tidak sanggup menahan sakitnya kontraksi.

Jam setengah lima, kami sampai lagi di rumah. Kecapean dengan histeria akan melahirkan tengah malam, suami dan ibu mertua langsung tertidur. Tinggallah aku sendiri menghadapi gelombang kontraksi yang semakin intens. Saat itu, tidak ada lagi kesempatan untuk sekedar cek contraction timer. Saat kontraksi datang, aku harus berdiri mencengkeram bergantung pada apapun. Mengeluh aku, karena terasa amat sakit. Kelelahan karena kontraksi, saat ingin berbaring untuk istirahat rasa itu datang lagi dan lagi. Hampir aku stress karena merasa tidak ada jeda bahkan untuk berbaring sekalipun, sampai aku pun merasa ketakutan untuk berbaring. Dengan perut besar, bukan urusan mudah untuk mengganti posisi dari berbaring ke duduk dan berdiri. Setiap akan mengatur nafas lega sambil berbaring, gelombang kontraksi kembali datang. “Aaahhhhh, udaaaa, tolongggg….” Aku menjerit memanggil suami. Namun suamiku sedang menemani bapak mertua sarapan. Saat itu, aku menangis karena kecapean dan ketakutan akan datangnya kontraksi saat berbaring. Hanya kepada Allah akhirnya aku memohon pertolongan.

Jam 8 pagi, ayuk yang bantu-bantu di rumah datang. Aku minta dipanggilkan nenek tetangga untuk bantu pijit dan urut. Alhamdulillah, dengan bantuan sapuan tangan nenek di punggung, pinggang, dan tulang panggul, sedikit mengurangi rasa sakit kontraksi. Dengan bantuan nenek akhirnya aku bisa istirahat, bisa berbaring, sedikit memejamkan mata. Pagi itu aku sarapan segelas besar susu, beberapa lembar mie, dua telur ayam kampung dan banyak sekali air madu dan air sari kurma.

Jam setengah dua belas siang, asisten bidan datang untuk vt, hasilnya bukaan 9. Aku pun dianjurkan untuk segera berangkat ke rumah sakit atau ke praktek bidan, karena bayi ini mungkin segera akan lahir. Merasa sudah tidak sanggup lagi menahan kontraksi, dan juga karena jeda antar kontraksi terasa sangat pendek, akhirnya aku berangkat ke praktek bidan. Meski suami sempat menandatangani surat penolakan rujukan, akhirnya kami setuju untuk kemudian dirujuk ke rumah sakit.

Sekitar jam dua siang, sampai lagi aku di IGD rumah sakit yang subuh tadi kutinggalkan. VT menunjukkan bukaan 8 menuju 9. Di situ aku sudah pasrah. Dorongan mengejan lebih banyak tak tertahankan. Rok basah karena BAK. Kubilang ke suami sejak di tempat praktek bidan bahwa dorongan mengejan ini tak bisa kutahan. Aku ingin menghindari mengejan sebelum waktunya agar terhindar dari bengkaknya jalan lahir, hingga menyulitkan bayi melewatinya. Bidan yg mendampingiku selalu mengingatkan untuk tarik nafas. Aku pun terus berharap, semoga bisa melahirkan normal. Akhirnya aku duduk, pasrah, dan berdoa dalam hati, “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimiin.” Tolong ya Allah, tolong normal ya Allah. Saat itulah baru rasa mengejan bisa kukendalikan. Alhamdulillah.

Selama di IGD, sementara suami sibuk mengurus administrasi RS, bidan RS bolak balik memeriksa, mulai dari mengukur tinggi fundus, dopler, vt, sembari menanyakan riwayat persalinan sebelumnya. Sempat juga mempertanyakan keinginanku untuk melahirkan normal. Juga menyampaikan bahwa dengan riwayat sc dua kali tidak mungkin bisa melahirkan normal, sangat berbahaya, bisa mengakibatkan rupture rahim. Huuuuhhh haaaahhhh, dalam kondisi kontraksi berat dan panjang, tidak bisa aku berfikir tenang, tidak bisa aku menjawab dengan lebih santun, aku cuma bisa mengatakan “Bisa, bisa normal.” Jika memang akan terjadi rupture rahim, sudah dari awal-awal kontraksi. Jika memang akan rupture rahim, aku tidak akan sampai pada tahap kontraksi seberat ini. Kuyakini itu dalam hati.

Saat didopler, aku atur nafas sebaik mungkin. Karena aku memahami bahwa nafas ibu yang tenang, pikiran ibu yang tenang, detak jantung ibu yang teratur, berimbas langsung pada detak jantung janin yang akan teratur, menandakan kesejahteraan janin dalam rahim.

Menit-menit terakhir, kontraksi melemah. Dokter membantu mengusap-usap perut. Hingga akhirnya dokter memutuskan memecahkan ketuban. Kepala bayipun langsung turun. Alhamdulillah, alat vakum yang sudah disiapkan bidan tidak harus digunakan. Dengan his yang lemah, dan bantuan guntingan perineum, aku dituntun mengejan oleh dokter. Setelah beberapa kali mengejan, bahkan sempat bingung bagaimana cara mengejan yang benar, terasa sesuatu yang hangat dan licin turun perlahan di bagian bawah tubuhku. Seiring turunnya jabang bayi, perlahan beban di perutku berkurang, beban berat yang berbulan-bulan kubawa kemanapun, akhirnya berhasil melewati jalan yang seharusnya. Lahirlah anak ketigaku, Umar Alfatih, 3,1 kg lahir secara normal di RS di kota kecil ini. Alhamdulillah.. Saat dokter mengeluarkan plasenta, aku sudah tidak fokus mengejan. Sangat ingin kugenggam erat tangan dokter, terimakasih dok. Terimakasih Umar Alfatih, anak pejuangku, yang telah berjuang bersama melalui proses persalinan ini. Saatnya mengabarkan pada dunia, bahwa melahirkan secara normal, amat sangat layak untuk diperjuangkan.

Terimakasih suamiku, telah mempercayaiku dalam menjalani proses persalinan ini. Dukungan darimu mengantarkanku hingga ke garis akhir.

Hanya doa terucap untuk semua pihak yg terlibat, semoga Allah ganjar dengan pahala berlipat ganda.

-Nendra-

38 thoughts on “Kisah VBA2C Nendra

  1. Karena satu dan lain hal, terutama keterbatasan waktu dan kemampuan, ini akan menjadi pesan terakhir di kisah ini. Selanjutnya Sila para ibu yang memiliki akun FB untuk bergabung di Page VBAC Tanya Saya. Insya Allah di sana lebih banyak informasi sputar VBAC. Ketemu di sana ya…

  2. Wa’alaikumussalam, mb dian. Sudah ke facebook vbac tanya saya? di sana ada teman2 sekota juga. Kali ada yang bisa infoin nakes yang support. Selain tetap memberdayakan diri ya, mbak. Tetap saja kita, ibu hamil adalah artis utamanya yang harus memberdayakan diri. ingat lagi, mbak. You are what you eat. Semangat!!

  3. Wa’alaikumussalam, mb dinda. Insya Allah bisa vba2c ya, mbak.
    Yang kedua dan ketiga kenapa akhirnya sc, mbak? boleh dong berbagi cerita. di facebook vbac tanya saya ada banyaakkk bumil2 yang lagi proses vbac. ayo berkunjung ke sana, mbak.

  4. Mb Nur buka facebook deh, ada vbac tanya saya. banyak info bagus di sana. ada teman2 yang sama2 berusaha utk vbac/vbmc di sana. ada teman2 sekota juga di sana.

  5. Wa’alaikumussalam mb nia, info2 soal VB banyak di internet mbak. Ada juga di facebook namanya vbac tanya saya. di sana ada teman2 sekotanya juga, jadi bisa saling support. Semangat mb nia, insya Allah bisa.

  6. Assalamualaikum mbak boleh masukkan saya di group?
    Sy jg riwayat 2sc rencana kedepan ingin sekali VB.. Butuh sekali support dan edukasi dari teman2 smua.. Jazakumullah khoir

  7. Aslm. Mbak, saya pingin sekali vba2c setelah sebelumnya 2x sc.. Mohon bantuannya.. Tolong masukkan ke grup no wa 081214961417

  8. assalamualaikum mba….saya sdg hamil anak k3 setelah 2x sc, ingin skali bisa merasakan vba2c, mohon dimasukan ke group wa boleh mba?081906233023
    saya sdh konsul k2 dokter diblg hrs sc lg mba..trimaksih

  9. Assalamualaikum.. MasyaAllah baca kisahnya bikin merinding..

    Anak pertama saya kelahiran normal.. ke 2 dan ke 3 hrs sc.. saya ingin nambah momongan lg.. semoga bs vba2c..

  10. Kisah yg bikin semangat lagi buat coba vba2c, secara saya sudah 2x sc mbk… anak 1 sudah bukaan 8 tp tdk turun n hrus sc, anak ke 2 coba vbac lg tp baru bukaan 4 gk tahan lagi dan harus sc lagi… dan sekarang hamil anak ke 3 dgn usia kehamilan 28 week pingin coba vba2c lagi setelah baca kisah mbk… mohon masukkan ke group wa vba2c nya mbk.. 085271866000…

  11. mohon bantuannya menemukan dokter yang dukung vba2c mbak. saya benar benar mengharapkan ada yg mau dukung saya lahiran normal. ini no wa saya 082232742234

  12. Assalamu alaikum mb. Sy sdh 2x sc berharap yg ke 3 normal. Bolehkah jika sy ingin tanyakan mengenai scar message?

  13. Iya mba saya sudah email .. Mohon dibantu ya sp tau bisa dpt pencerahan baiknya gimana 🙏🏽🙏🏽🙏🏽🙏🏽

  14. Aku jg riwayat sesar 18bulan hamil sekarang anak pertamaku udh 25bulan pengen banget normal soalnya bayi udh turun panggul tp dicek sbr tipis jd harus sesar lg sebenernya pengen banget nunggu mules .. Tp takut terjadi kejadian yg ga diinginkan jg .. Semua rencana Allah sy pasrah aja
    Btw idh berapa bulan hamilnya ?

  15. Wa’alaikumussalam Mb Reni
    Maaf baru balas
    Insya Allah, mbak. Semoga nanti bisa lahiran normal ya, mbak. Semangat berjuang dan belajar.

  16. Assalamualaikum mbak.salam kenal ya,
    Saya lagi hamil anak ke 2 nih mbak.minta doa nya y biar bsa lahir normal.aku pgn bgt vbac
    Anak pertama ku 14bulan lahir sc kira2 ada yg senasib sm aku gak yah ? mohon info dan ilmunya ya spya aku bsa ttp normal dan bsa menepis saran dokter yg mesti harus di sc lg pada saat nanti lahiran yg ke2.terimakasih

  17. Assalamualaikum, Mba nendra.. Senang sekali sy ketemu sama tulisan ini (walo sy merasa agak telat, huhu..kurang prepare deh)

    Sy jg riwayat 2x sc, kali ini hamil ketiga 36w, pengen normal,, dokter mendukung (sayangnya, ini dokter cowo), di tempat prakteknya. Jadwalnya minggu dpn mw dikasi h obat pelunak ktnya,, meransang biar kontrakasi.

    Ada bbrp hal yg ingin sy tnykn mbak… Terutama ttg c-scar massage. Itu gmn ya? Klo boleh, sy jg pengen sdkt sharing via wa (saya di 085692059832). Makasih sebelumnyaaa

  18. aamiiin allahumma aamiiiinnn.
    insya Allah bisa ya, mbak sri. semangat memberdayakan diri, mbak. rajin baca insya Allah jadi banyak tahunya.

  19. MasyaAllah,,saya sampai ikutan terbawa emosi dan menangis membaca cerita mba nendra..saya juga berniat vbac, dan HPL februari 2017.
    Bismillah,,Laa Haula wa laa quwata Illabillah..

  20. masyaalloh
    insyaalloh saya juga bisa
    sekarang sedang menjalani kehamilan ke3 dgn riwayat sc2x
    mohon doa dan dorongan semangatnya…

  21. aamiin allahumma aamiinn. semoga kali ini bisa melahirkan normal, sehat selamat ibu dan bayinya.
    semangat memberdayakan diri ya, mba ulya. you can do it too, insya Allah

  22. Maasyaallah…perjuangn ug luar bias mb…baarokallahufiik..

    Sy jg 2x sc.. Yg kdua baru 14bln.. Smoga yg ktiga bsa normsl amiin yaa robb

    Sya prnah normal yg prtma tp qodharullah meninggal…

  23. Mba bisa saya tanya2 tentang VBAC..? Di RSIA saya belum pernah yg VBAC.. Tapi saya tetep ngeyel mau VBAC dengan jarak 26 months.. Hpl akhir january 2017.
    Ini no wa saya 082137334612

  24. Boleh gabung ke grup VB2 AC sy juga punya 2x riwayat SC.. insya Allah bulan Februari akan melahirkan anak ketiga sy pengen bgt normal..ini contact saya 081326121090..siapa tahu mbak bisa sharing soal VB2 AC k sy

Comments are closed.