Kisah VBA2C Ika

Kisah vba2c Ika

Bismillah… Walhamdulillah…

Sebuah kisah tentang kelahiran putri kecil kami, yang kami beri nama Aisyah Abdurrahman. Sebuah kisah melahirkan normal, biidznillah, setelah mendapat 2 kali takdir sc, Ibrahim Abdurrahman dan Maryam Abdurrahman. Inilah kisah ku.

***

Aku tidak pernah memiliki rasa takut akan persalinan, bahkan aku selalu sangat bersemangat setiap kali hamil untuk segera melahirkan. Namun yang kutahu tentang kehamilan dan persalinan saat itu adalah bahwa ketika kita hamil maka kita cukup makan sehat dan minum vitamin, dan kalau sudah waktunya nanti akan bersalin maka kita akan mulas, kontraksi dan siap melahirkan. Namun ternyata malam itu ada cairan yang keluar tanpa ada mulas, tanpa ada kontraksi. Aku pun segera ke RS setelah subuh. Setelah berkali-kali VT ketubanku dinyatakan sudah tinggal separo dan induksi akan percuma saja. Tidak ada pilihan lain, akhirnya aku SC untuk yang pertama kalinya.

Di kehamilan kedua pun saat anak pertamaku 21 bulan aku masih menjalani apa yang kuketahui tentang kehamilan dan persalinan. Makan sehat dan minum vitamin, dan kalau sudah waktunya nanti maka kita akan mulas, kontraksi dan siap melahirkan. Kali ini mulas kontraksi pun datang, sakit, tapi aku masih bisa menikmatinya. Ketika keluar lendir aku langsung lari ke rs dan setelah cek bukaan ternyata baru bukaan 1. Aku pun kemudian diminta pulang. Waktu berlalu dengan mulas kontraksi yang datang dan pergi. Aku pun kembali cek bukaan ke bidan dekat rumah kali ini. Ternyata bukaan 2 sempit. Bidan pun mencoba membujukku untuk sc lagi, bahkan ia mengiming-imingiku sc dengan separuh harga dari biasanya. Tentu saja aku tidak mau walau akhirnya kuputuskan juga mondok di rs. Ahad mulas sampai selasa jam 3 sore baru bukaan 4 sempit. Ibuku tidak tega melihat anaknya kesakitan begitu. Ada temanku yang menyarankan agar kontraksi jangan dilawan, tapi aku malah jadi kesal dibuatnya. “Sakit begini malah disuruh rileks, ah ada-ada saja”. Di tengah kontraksi yang semakin menjadi aku pun makin berusaha melawannya, menahan sakitnya. Namun aku tak bisa berbuat banyak. Akhirnya aku sc yang kedua kalinya. Memang tidak membuat luka baru di perut, tapi sepertinya membuat luka baru di hati, hiks, aku merasa gagal, tapi aku tetap berusaha ikhlas.

***

Waktu berlalu dan aku kembali hamil anak ketiga dengan jarak yg sama, yaitu 21 bulan. Aku kembali kontrol ke rumah sakit yang sama denagn dokter yang sama. Dokter pun langsung mengharuskan SC dan yang membuat aku syok adalah kata-katanya yang menyatakan bahwa aku harus disteril. Tanpa pikir panjang aku langsung bertanya apakah tidak ada cara lain? Dokter hening sejenak lalu mengatakan kalau aku tidak mau disteril maka aku harus mau dipasang iud saat SC nanti. Sempat aku bertanya-tanya mengapa dokter bisa secepat itu berkata aku harus steril kalau memang ada opsi lain yaitu iud, apalagi beliau beralasan “Biar ada jarak saja.” Hmmm… Mungkin saja selain SC pun sebenarnya ada opsi lain.

Siang itu aku keluar ruang dokter dengan hati gundah, dan sejak hari itu hari-hariku agak terganggu dengan pikiran steril itu. Lalu aku iseng cari di Google, apa ada yang bisa melahirkan normal setelah 2x caesar. Hingga pada satu hasil pencarian aku menemukan tulisan seorang ibu yang bisa melahirkan normal setelah dua kali sesar. Ya, dengan riwayat seperti aku, 2x caesar. Waw, bagai mendapat air di tengah kehausan, aku baca kisahnya sampai habis. Aku kirim ke suamiku, aku kirim ke teman yang bidan, aku kirim ke sahabat-sahabatku. Karena saking senangnya aku jadi penyebar kisah itu. Tak ada yang merespon kecuali suamiku. Tak apa, justru respon suamiku lah yang paling berharga. Dukungan suami juga yang akhirnya membuat semangatku bertambah setiap harinya untuk mencari, menggali dan menimba ilmu melahirkan normal setelah 2x caesar atau VBA2C.

Beberapa kali kami diskusi dan mencari nakes yang mau menerimaku VBA2C. Alhamdulillah semua dipermudah Allah, aku menemukannya bahkan aku bisa memilih di antara beberapa nakes. Pilihan pun akhirnya jatuh ke seorang bidan yang tempatnya agak jauh dari tempat tinggal kami, di kota sebelah. Berbekal rute lokasi dari seorang teman, aku dan suami berangkat dengan sepeda motor berdua saja, sambil mengingat-ingat masa pacaran pasca nikah dulu. Jalannya berkelok kelok, tapi alhamdulillah hanya nyasar sedikit. 35w kehamilan waktu itu dan Aku pun mendapatkan saran asupan nutrisi kurma 7 butir, minyak zaitun 2 sdm, madu 2 sdm, air kelapa, susu uht lowfat 1liter, dan itu diminum perhari. Alhamdulillah suami memenuhi semua nutrisi yang aku butuhkan, beliau juga sering mengingatkan ku tentang nutrisi ini. Tak lupa setiap aku mendapat ilmu baru aku share ke suami, karena suami pun perlu tahu juga apa yang sudah aku ketahui tentang persiapan vba2c. Walau kadang beliau sedang istirahat lelah pulang bekerja, aku mah cerita aja.

Sebenarnya aku juga Ingin sekali menceritakan semuanya kepada ibuku, “Ibu, teteh hamil lagi, in syaa Allah mau usaha normal. Ini lihat di internet ada yang bisa, malah di rumah lahirannya, cuma sama suaminya aja” Tapi apa daya, ibuku sakit keras, ada batu di ginjal kirinya yang mengharuskan ia merelakan dirinya untuk dioperasi, diangkat ginjal kirinya, dan diteliti di laboratorium. Sampai akhirnya hasil lab patologi anatomi keluar, ibu dinyatakan kanker ginjal. Bolak balik RS, dan berakhir di Dharmais, hingga tanggal 26 April malam hari ibu dipulangkan. Aku bahagia bisa menemaninya sebentar di rumah, karena kata dokter, sel kanker sudah menjalar ke hati, paru, dan terakhir otak. Nyes, sambil mengusap perut aku berbisik pada janin di kandunganku, “Dek, doakan nenek ya…” Begitu juga di telinga ibuku, kudengungkan juga akhirnya kalau aku mau melahirkan normal, sekalian aku minta didoakannya. Bagiku doanya sangatlah penting, semoga ia menjadi salah satu sebab terkabulnya harapanku. Ah, ibu, aku sangat mencintaimu. Dulu aku anak pertamamu yang dilahirkan normal, begitu juga ketiga adikku. Kalau ibu saja yang tingginya masih di bawah aku bisa normal, apalagi aku, harusnya aku juga bisa, Insya Allah. Sehari semalam ibu bersama kami di rumah, seluruh keluarga hadir. Sampai tanggal 28 April malam hari, malam jum’at, sekitar jam 23.11 wib ibuku menghembuskan napas terakhirnya. Tidak ada air mata saat itu, in syaa Allah semua ikhlas. Dan keesokan harinya, setelah shalat jum’at ibu dishalatkan dan dikuburkan. Semoga Allah mengampuninya dan menerima amalnya. Aamiin.

***

39w kehamilan aku kembali cek ke bidan di kota sebelah. Alhamdulillah hasilnya kepala sudah turun, djj bagus, perkiraan bbj juga tidak sampai 3kg, cuma 2,9kg, tensi pun normal. Aku pun disarankan melanjutkan exercise dan nutrisi. Tidak lupa induksi alaminya, durian, nanas, sirsak, jimak, dan terakhir kiwi. Sampai tiba hari jum’at malam tepat di 40w, mucus itu tampak. Bergegas paginya aku bawa tas dan koper ke klinik bidan. Alhamdulillah anak-anakku hebat, mereka anteng aku tinggalkan di rumah bersama saudara dan kakek mereka. Namun sudah mulas kontraksi dan keluar mucus ternyata belum ada bukaan, masyaAllah. Pulanglah kami ke rumah sore itu juga.

Ahad sampai senin, aku masih di rumah dan sudah tidak kuat naik ke gymball, sementara rasa mulas kontraksi masih terus bertambah. Pegang hp buat cek kontraksi mulai salah-salah. Setiap ada kontraksi dengan sensasi mengejan aku coba nikmati saja. Satu hal yang cukup membuat aku terus bertahan di rumah sampai bukaan sudah banyak adalah karena klinik bersalin itu jauh. Aku khawatir kalau aku kesana masih terlalu cepat maka aku akan ‘dipulangkan’ lagi. Padahal pada waktu itu bidan tidak masalah apakah mau pulang dulu atau tetap di klinik. Bidan menyerahkan keputusan itu kepadaku sesuai kenyamananku saja. Dengan kontraksi yang mulai lebih intens, dan kekhawatiran keluargaku akan kondisiku saat itu, akhirnya aku mencoba menemui bidan terdekat untuk memenuhi rasa penasaranku akan bukaan. Kebetulan senin itu bertepatan dengan hari raya idul adha, bidan pun tutup semua. Sambil naik motor dibonceng suamiku dalam gerimis aku masih menikmati mulas. Setiap mulas kami berhenti dan turun dari motor. Saat hilang kontraksi aku cari lagi klinik bidan lain. Sebenarnya setiap turun motor dan pegangan sama suami di pinggir jalan aku malu, khawatir dikira sedang bertengkar dengan suami.

Sampai akhirnya ada klinik bidan yang buka. Langsung aku minta diperiksa. Aku pun banyak ditanya, anak ke berapa, sebelumnya normal semua kah, dan setelah aku bilang caesar semua, bidannya malah bilang, trus mau diapain? Aku bilang hanya mau cek bukaan, dan bidan pun berkata “Aduh ibu ini udah banyak bukaannya! Sudah bukaan 8, bisa beberapa menit lagi lahir.” Wah… antara senang dan panik jadi satu, karena jarak tempuh rumah dan klinik bidan dengan naik motor itu 1,5 jam. Kalau naik mobil atau taksi pasti lebih lama lagi. Ah, naik ambulans saja kalau begitu. Aku pun menunggu suami yang pulang taruh motor di rumah dan menjemput ambulans, berdiri di pinggir jalan. Ada ibu yang melihat aku meringis. Ia mencoba menemaniku. Wajahnya menggambarkan pertanyaan, “Kenapa, bu?” Aku pun langsung menjawab, “Mules, mau lahiran.” Perlahan ibu itu mendekatiku. Tak lama hujan pun turun. “Ibu sendirian?” Ibu itu membuka percakapan. “Iya.” jawabku singkat. “Suaminya mana?” “Lagi pulang panggil ambulans.” Ibu yang baik hati itu pun meminjamkan HPnya untuk aku menelpon, karena saat itu HPku tertinggal di rumah. Sampai akhirnya suamiku datang dengan ambulans. Alhamdulillah. Semoga Allah membalas kebaikan ibu tersebut. Perjalanan pun kami tempuh dalam waktu 1 jam saja, alhamdulillah…

Sampai klinik bidan, aku langsung dicek, dan katanya sudah bukaan 9. Aku jalan2 dan sempat mandi sambil menikmati kontraksi. Hingga akhirnya aku hanya mampu menikmati kontraksi tiduran di kasur. Bidan memintaku duduk tapi sudah sulit sekali dibawa duduk. Akhirnya aku gelosoran di lantai dan dikasih gymball untuk peluk2. Pegal peluk gymbal akupun bersandar pada suami. Hingga bukaan lengkap aku bersandar padanya, sampai pegal tak dirasa atau ditahan, kaki kesemutan mungkin tak dirasakannya. Bukaan 9 ke 10 sungguh terasa lama sekali. Namun Kemudian ketuban pun pecah byar! Bagikan ombak yang menderu ketuban dan kontraksi menggiring bayiku keluar hingga muncul kepalanya, kemudian bahunya, dan setelah mengejan beberapa kali  lahirlah ‘Aisyah ‘Abdurrahman pada hari senin malam tanggal 12 September 2016 jam 23.10 BB 3120 PB 46 di lantai klinik, masyaAllah. Alhamdulillah Semua karena kasih sayang Allah padaku. Biidznillah. Bahagia rasanya dapat memeluk putri cantik shalihahku langsung.

Ternyata hak untuk melahirkan normal itu masih milik semua orang, tidak tersekat, termasuk saya yang sudah ada riwayat caesar 2x. Bekal itu sangat lah penting, nutrisi, exercise, dan yang paling penting adalah keyakinan, tawakkal sama Allah.

Semoga menginspirasi.
Cibubur, 16 September 2016.

Saya yang berbahagia,

Ika Ummu Abdurrahman

Terimakasih buat suami saya, anak-anak saya, bapak, emak, bu bidan dan asistennya yang dengan sabar membantu proses melahirkan saya sampai sukses vba2c, saudara di rumah yang membantu menjaga anak-anak saya di rumah. Terakhir, semoga Allah mudahkan dan lancarkan persalinan semua ibu baik yang normal, vbac, atau yang vbaxc. Aamiin.

3 thoughts on “Kisah VBA2C Ika

  1. Subhanallah ibu ika.. Barakallahu fiik, semoga sehat selalu bunda dan dedek aisyah…
    Saat ini saya juga sedng hamil 34W, sblmnya juga sc 2x, mohon doanya moga Allah juga memberikn saya kesempatan melahirkan normal..

  2. la haula wala quwwata illa billahil áliyyil adzim
    baarakallahu fiik mb ika…smg sy jg diberikan nikmat persalinan normal stlh sc jg. aamiin

  3. Masya Allah, mb ika
    Barakallahu fiik, semoga sehat2 selalu adek aisyah.
    Jadi kepengen juga, merasakan deburan ombak ketuban yang mengantarkan bayi ke pelabuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *