Kisah VBA2C Fifi

Kisah VBA2C Fifi

Maasyaa Allaah, begitu gembira nya aku bisa melahirkan dengan proses yang seharusnya, tanpa ada belah perut dan tanpa ada trauma rasa sakit setelah dibelah. Persalinan normal ini semua dilakukan secara alami, tidak ada induksi buatan dan tidak ada gunting-menggunting saat proses kelahiran, walau ada robekan tapi semuanya alami, Alhamdulillah..

 

 

***

Kehamilanku yang ketiga kali ini sebenarnya tidak direncanakan sama sekali karena aku masih menjadi ojek sekolah anak-anakku. Namun Allah lah Yang Maha Tahu yang memberiku rizki kehamilan ini, so bismillah..

Dari awal hamil banyak yg bikin stress, dan salah satunya adalah urusan antar-jemput anak-anakku sekolah plus mabok hamil yg tak kunjung padam, alhamdulillaah ‘alla kullihal. Setelah urusan itu selesai barulah aku fokus memikirkan persiapan persalinanku kali ini.

Walau dua anakku lahir via SC aku belum kepikiran untuk VBAC, walau sebenarnya SC juga cukup membuatku trauma. Namun betapa seringnya muncul pembahasan tentang VBAC atau melahirkan normal setelah SC di timelineku membuatku berfikir seakan-akan ini petunjuk dari Allah untuk aku mencobanya.

Lalu aku bertanya kepada beberapa teman yang sudah berhasil VBAC dan VBA2C. Salah seorang di antara mereka menyarankan aku ke klinik seorang bidan yang pernah membantu VBA2C. Saat aku ke klinik tersebut kehamilanku sudah masuk 5 bulan. Setelah bertemu dengan bidan tersebut aku pun merasa perlu mencari dokter yg support VBAC. Beberapa rumah sakit kujelajahi dan para dokter menyatakan bahwa aku harus SC lagi karena sudah dua kali SC. Namun akhirnya ketemu juga seorang dokter yang mau mencoba membantuku untuk VBA2C. Jadi aku melakukan pemeriksaan tak hanya di klinik tapi juga di RS.

Yang kurasakan berbeda di klinik ini aku sangat diperhatikan. Melihat diriku dari ujung rambut sampai ujung kaki, melihat aku yg pucat, dan mata seperti lelah, langsung aku diresepi menu-menu yg wajib aku makan dan minum setiap harinya, yaitu 7btr kurma, 1lt susu plain,2 butir putih telur, dan 2 sdm minyak zaitun. Walau jarang ada yg masuk tapi aku tetap mencoba memakannya demi ikhtiar vba2c. Di klinik tersebut pun ada les persiapan persalinan dengan pertemuan 5x. Di sana aku belajar tentang proses menjelang persalinan, juga senam hamil yang mendukung persalinan alami yg sudah bisa kulakukan di usia kehamilanku yg 5 bulan waktu itu.

Walau tetap mabok dan susah makan selama kehamilan, resep-resep yg diberikan dari klinik pelan-pelan mulai bisa masuk alhamdulillaah.

Menjelang 7 bulan kehamilan aku melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit yang lain. Saat itu aku memutuskan untuk melahirkan di rumah dengan bidan yang kutemui waktu usia kehamilan 5 bulan, karena itulah aku konsultasi dengan dokter di rumah sakit yang dekat dengan rumahku. Aku memilih homebirth karena kuperkirakan suamiku nanti tidak berada di tempat sehingga kupikir akan memudahkan apabila aku melahirkan di rumah saja.  Aku pun memilih water birth karena kupikir waterbirth adalah persalinan yang nyaman. Allahua’lam.

Dokter yang dekat dengan rumahku ini ternyata sama saja dengan dokter sebelumnya. Iya, ia berkata bahwa ia mau membantuku VBA2C tapi hanya sampai di 37-38w saja. Bila lewat maka harus SC. Ya, aku iyakan saja dulu.

Usia kehamilan 7 bulan itu aku juga melakukan cek darah dan ternyata hb ku rendah. Aku pun mengejar ketinggalannya walau makan masih tetap susah. Dua minggu berikutnya alhamdulillah aku cek darah lagi dan hasilnya naik, dari 8 jadi 9.6.

Usia kehamilan 8 bulan, aku sudah mulai bisa makan. Lauk apa saja kecuali bakso dan soto bisa kuterima. Namun walau sudah enak makan masalah antar-jemput anak-anak kembali bikin spanneng, belum lagi masalah-masalah lain hingga hb bertahan di 9,6. Walau disemangati tetap saja tidak semangat karena anak-anak sudah terlalu banyak bolosnya daripada sekolahnya.

Memasuki 33w aku sudah mulai merasakan ada rasa-rasa kontraksi walau sesekali saja. Mungkin si debay mau mengenalkan aku kepada rasa kontraksi secara pelan-pelan karena pada dua kehamilan sebelumnya aku belum pernah merasakan apa-apa. Aku tidak faham apa itu kontraksi. Katanya sakitnya seperti saat haid, tapi kalau aku haid tidak pernah merasakan sakit apa-apa. Aku benar-benar buta dengan yang namanya kontraksi. Tapi memang di bawah sana benar-benar terasa ngilu dan tidak nyaman sekali, sampai mau angkat kaki kanan saat berwudhu mesti meringis kesakitan.

Memasuki 39w rasa kontraksi sudah mulai agak sering. Tapi setelah itu hilang entah kemana. Aku makan durian 5biji langsung terasa kontraksi lg. Selama 3 hari aku makan durian kontraksi datang, tapi durian habis kontraksi menghilang.

Hari Sabtu aku putuskan untuk pergi ke klinik, karena jujur saja aku galau. Teman-teman yg barengan hamil sudah pada brojol semua. Padahal sudah pijat induksi, sudah makan makanan yang katanya bisa sebagai induksi alami, sudah jalan cepat, sudah naik-turun tanjakan tapi belum juga ada tanda-tanda bayi akan launching. Benar lah kata seseorang, usaha itu tidak ada “sudah”nya. Dan kalau memang belum waktunya ya belum saja.

Di klinik akhirnya aku dibekam yang ternyata juga termasuk salah satu induksi alami. Dan memang Alhamdulillah hari minggunya kontraksi datang kembali bahkan mulai intens muncul setiap 2 jam. Hari senin kontraksi menggiat. Saat itu aku sudah tidak nafsu makan dan perut rasanya tidak bisa menerima apa-apa. Namun alhamdulillah masih bisa minum susu, makan buah, jus bit, virgin olive oil dan ruthob. Nasi yang perutku tidak bisa menerima.

Senin malam aku minta tim homebirth-waterbirth ku di klinik untuk datang. Alhamdulillah setelah VT sudah pembukaan 1. Seneng banget dengernya. Karena masih di bukaan 1, birth team ku pulang dulu dan diminta untuk selalu kontak mereka jam berapapun. Ok, sip.

Saat waktunya tidur ternyata aku tidak bisa tidur, sebentar-sebentar dikagetkan dengan kontraksi. Jam 11 malam sampai subuh aku jalan muter-muter ga jelas di ruang tamu. Kontraksi hilang-timbul. Saat kontraksi hilang aku duduk dan tertidur, saat kontraksi timbul aku tebangun dan muter-muter lagi. Ibuku bangun jam 4 pagi. Melihatku yang tidur terduduk segera beliau memberikan aku dua bantal untuk senderan. Saat matahari terbit kontraksi mulai kuat dan tidak beraturan. Aku hubungi birth team ku di klinik. Mereka bilang kalau belum rutin berarti belum. Baiklah, pikirku.

Menjelang siang rasa kontraksi makin terasa menyakitkan, aku merasa tidak kuat lagi. Aku menangis dalam pelukan suamiku. Kukatakan pada suamiku bahwa aku tidak sanggup, tapi aku juga tidak mau SC lagi. Alhamdulillah saat itu suamiku ada di rumah menemaniku selama aku menghadapi kontraksi demi kontraksi.

Semakin lama semakin tidak karuan kontraksi itu, aku merasa jedanya berantakan. Contraction timer pun membuatku galau karena terlihat acak-acakan jarak kontraksinya. Kadang per 2 menit, kadang per 4 menit, per 7 menit dan per 8 menit. Dalam kepalaku pun aku masih mengira ini masih di pembukaan 1. Aku menangis kepada Allah, Ya Allah sebanyak inikah dosa-dosaku hingga untuk menggugurkannya aku harus merasakan sakit yang seperti ini… Sambil menangis terucap berulang kali dalam hati, Rabbi yassir wa la tu’assir rabbi tamim bi khair. Berulang-ulang aku istighfar, memohon ampun kepada Allah dan kuminta kepadaNya agar menyudahi rasa sakit ini.

Jam 15.30 aku minta suamiku untuk menyiapkan air hangat untuk mandi, karena kupikir bisa merelaxkan badan. Saat di kamar mandi aku merasa tidak tahan, seperti ada sesuatu yang tertahan di bawah sana. Padahal aku sudah BAK, tapi tetap terasa ada ganjalan. Lalu aku berdiri dan mencoba menekan rasa yang mengganjal itu dan tiba-tiba… Byaaar, air keluar! Aku yakin itu air ketuban. Teringat ketika aku akan melahirkan anakku yang pertama ketuban pecah tiba-tiba. Aku pun merasa galau dan ketakutan, akankah aku SC lagi? Segera aku terriak memanggil suami untuk menelpon birth team ku di klinik bahwa air ketuban sudah keluar dan meminta agar mereka segera datang. Aku mencoba tenang dan berbicara pada bayiku, kalau memang sudah saatnya sabar ya tunggu teman mama datang dulu. Lalu aku menyelesaikan mandiku dan memang menenangkan setelah kena air hangat.

Ketika aku berpakaian kontraksi muncul lagi bersama air ketuban walau tidak sebanyak sewaktu di kamar mandi. Ketika kontraksi berhenti aku duduk di kasur dan keluar lagi air ketuban yang kali ini lebih banyak dan mengalir. Aku hanya bisa berdoa semoga hal ini tidak menjadi indikasi SC.

Alhamdulillah tak lama birth team ku datang. Aku disuruh rebahan untuk mengecek sudah bukaan berapa. Aku berdoa semoga sudah bukaan banyak, kalau masih di bawah 5 entahlah apa aku masih kuat menghadapi kontraksi lagi atau tidak. Alhamdulillah ternyata sudah bukaan 8. Aku langsung bersyukur dalam hati berucap, terima kasih ya Allah.

Saat itu birth team ku menanyakan apakah aku tetap mau water birth atau mau di sini saja (di kasur kamarku). Kupikir-pikir air saja belum disiapkan, berarti harus menunggu lagi sedangkan pas cek sudah bukaan 8. Akhirnya karena aku sudah merasa nyaman dengan posisi rebahan aku pun memilih opsi kedua. Melahirkan di mana saja kupikir tidak harus water birth yang penting aku bisa melahirkan normal. So kuputuskan untuk melahirkan di kamar saja.

Aku segera memeluk gymball dengan posisi jongkok dan bersiap-siap untuk mengejan. Beberapa kali percobaan belum ada hasilnya. Aku pun ganti posisi menungging masih tetap dengan memeluk gymbal juga  tapi belum juga ada hasilnya. Aku pun bersandar ke dada suami dengan posisi setengah duduk dan merasa nyaman dengan posisi tersebut. Kucoba mengejan lagi dengan posisi itu ternyata terasa lebih enak dan relax, Maasya Allah. Walau belum juga ada hasilnya.

Awal-awal sewaktu posisi jongkok aku ditanya mau minum dulu atau makan dulu. Tapi aku cuma minta air putih karena memang aku tidak bisa minum walau sedetik pun. Makan pun tak bisa, sama sekali makanan tidak masuk ke perut semenjak kontraksi sudah terasa intens. Lalu aku disuruh minum madu dan kebetulan aku memang nyetok madu yaman tang katanya bikin tenaga langsung on begitu meminumnya, dan ku kinum lah 1 sdm dan benar saja aku langsung terasa bertenaga. Ketika ku bersandar ke suamiku untuk mencoba mengejan lagi, aku pun disuruh minum madu lg, kali ini 2 sdm dan yess tenaga terasa on padahal dua hari sudah aku tidak bisa makan berat. Dan ketika aku mengejan ke sekian kali kurasakan kepala bayi keluar. Alhamdulillaaah…

Namun ternyata semua belum selesai, aku harus mengejan lagi untuk mengeluarkan seluruh badannya. Kucoba untuk mengejan untuk ke sekian kalinya namun gagal. Proses mengejan ini terasa lama sekali. Ibuku pun merasa kasihan melihat bayiku karena kepalanya seperti tersangkut di sana. Birth team ku pun mencoba menenangkanku. Mereka bilang tidak apa-apa, tidak boleh dipaksa, harus menunggu datang mules lagi dulu. Sementara itu aku harus tetap memberikan nafas untuk bayiku. Salah seorang dari tim ku pun menyarankan untuk berteriak seperti marah saat mengejan. Walau bingung awalnya mesti teriak seperti apa aku pun mencoba untuk berteriak saat rasa mules datang lagi. Namun sepertinya itu bukan teriakan, lagipula bagaimana mungkin teriak marah saat melahirkan, pikirku. Yang lain pun berkata, “Mau keluar setelah adzan magrib ya dek? Boleh lah setelah adzan magrib.” Alhamduilillah aku merasa relaks saat harus mengejan bersama birth team ku, suamiku pun menyemangati bahwa aku bisa, aku bisa, aku bisa.

Ketika rasa mules datang lagi, aku pun bersiap-siap mengejan lagi, aku pun mengumpukan seluruh tenaga, dan aku mengejan sekuat tenaga. Ketika adzan magrib berkumandang ketika itu juga lahirlah bayiku… Maasyaa Allaah, Alhamdulillaah, Subhanallaah, La illahaillallaahu, Allaahu akbar…

Sang bayi langsung diserahkan kepadaku, ia begitu putih dan bersih. Langsung kupeluk dia. Aku begitu terharu menangis bahagia melihatnya. Ketika dicek jenis kelamin bayiku ternyata doaku sekali lagi terkabul, Ya Allah, begitu baiknya Engkau kepadaku, tak hanya aku bisa melahirkan normal setelah dua kali SC, namun juga dititipkanNya aku anak perempuan setelah memiliki dua anak laki-laki, dengan berat badan 4.2 kg dan panjang p.53 cm. Maasya Allah. Alhamdulillah.

 

Fifi

 

Terimakasih untuk suami ku yg sabar dicemberutin, diremas2 dan di jutekin sampai teman2 dari klinik tertawa melihatnya. Terimakasih buat mamaku walau kadang agak mengganggu dengan protes2nya tapi lucu jg sih emakku itu. Terimakasih untuk adikku RIka dan suaminya yang jagain fiva (anak-anakku) saat2 proses lahiran. Juga untuk birth team ku terimakasih banyak atas kesabarannya apalagi kalau di japri aku selalu banyak bertanya, bertanya dan bertanya..
Terimakasih juga untuk beberapa teman yang mendukungku dan menyemangati aku di saat2 aku sedang ‘bergembira’ menikmati kontraksi. Barakallaahu fiikum.

Vba2c ..
Siapa takut???
Hehe..

3 thoughts on “Kisah VBA2C Fifi

  1. Mom share donk nama klinik dan bidannya…apa di jakarta? Saya lg hamil anak ke 3, anak ke 1 & ke 2 saesar.. mau juga ngerasain normal jika memungkinkan…thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *