Kisah VBA2C Fathimah

Kisah VBA2C Fathimah

Akhirnya Allah menjawab semua doa’ku. Aku tidak pernah menyangka bisa melakukannya. Dengan ikhtiar dan tawakkal lahirlah anak kami melalui proses normal setelah dua kali sesar (Vb2ac). Alhamdulillah, Masya Allah.

***

Masih teringat kelahiran anak pertama dan keduaku yang lahir melalui proses SC beberapa tahun yang lalu. Jarak antara keduanya hanya setahun lebih. Persalinan SC pertamaku karena lewat HPL sedangkan yang kedua karena jaraknya dekat. Anak pertamaku lahir dengan berat 3 kg begitupun yang kedua. Dokter yang memeriksaku mengatakan panggulku sempit dan tak akan bisa melahirkan normal. Katanya, aku harus KB dan untuk hamil lagi aku harus menunggu 3-5 tahun, setelah itu harus “tutup kandungan” karena resikonya besar untuk hamil dan melahirkan ke empat kalinya. Aku sedih ketika dokter mengatakan itu, namun walau demikian aku percaya akan takdir yang mampu diubah dengan doa.

Dua tahun berlalu, tepatnya bulan september 2016, saat itu aku telat haid yang kupikir biasa saja karena haidku memang tidak teratur. Tetapi haid tak kunjung tiba hingga kuputuskan test pack dan hasilnya dua strip yang belum jelas saat itu. Aku pun mencoba tes lagi dan benar saja hasilnya kali ini dua strip yang sangat jelas. Ada rasa bahagia namun juga rasa khawatir tentunya mengingat kata-kata dokter dulu bahwa aku harus menutup kandungan setelah melahirkan anak ketiga…

Seminggu berlalu aku mulai pusing dan mual. Lalu aku dan suami ceck up ke bidan karena aku tidak bisa makan ataupun minum, benar benar mual. Bidan pun memberi vitamin dan antimual. Aku pun mulai menerima bahwa aku memang hamil.

Memasuki usia kandungan ke 4 bulan ketika aku dan suamiku memutuskan untuk hijrah ke satu daerah dengan alasan ingin hidup lebih mandiri, yang kupikirkan saat itu hanyalah bagaimana agar aku bisa melahirkan normal. Jujur aku benar-benar trauma dengan operasi sesar, aku hanya bisa berdoa agar Allah memberiku jalan. Entah apa yang harus kulakukan, aku benar benar tidak ingin sesar lagi.

Melalui internet aku mencari kisah-kisah yang melahirkan normal setelah sesar dua kali. Alhamdulillah atas izin Allah akupun menemukannya. Kubaca berulang-ulang dan aku sangat terharu. Ternyata atas izin Allah beliau bisa melahirkan normal setelah dua kali SC. Aku pun memberi komentar dan ku kirimkan e-mail kepada si pemilik kisah VB2AC itu. Hari demi hari kumenanti tapi tak kunjung ku dapatkan balasan. Akupun melupakannya dan tidak berharap lagi. Saat itu ku hanya merenung dan berharap Allah memberiku jalan, malam-malamku kuberdoa agar Allah memberiku jawaban atas kegelisahan ku. Tiba-tiba ada pesan dari si pemilik kisah masuk, Alhamdulillah ku sangat bersyukur sampai-sampai aku melompat kegirangan, bagaikan cintaku terbalas.

Akupun mulai belajar dari beliau dan saudara-saudara di sebuah grup yang masyaAllah sangat informatif. Saat itu usia kandunganku sudah 21w. Aku mulai memperdayakan diri dan mencari nakes yang support. Alhamdulillah aku menemukan bidan yang mau membantu persalinanku nanti. Masya Allah beliau begitu ramah menyambutku. Kumulai mempelajari apa-apa saja yang harus dilakukan dan yang harus dijaga. Aku baru tau, ternyata kehamilan pertama dan keduaku memang aku tidak memperhatikan makanan yang kukonsumsi apakah sehat atau tidak yang penting enak, padahal ternyata inilah yang perlu diperhatikan. Mengkonsumsi makanan yang sehat sangat penting untuk hamil dan bersalin. Aku juga baru tau bahwa protein pasca oprasi sc itu sangat penting untuk memperbaiki bekas luka. Begitu banyak ilmu yang kudapatkan masyaAllah.

Memasuki usia 28 W kumulai rutin olahraga ringan, saat itu aku dan suami LDR an, jadi setiap pagi aku sendiri jalan kaki ke warung. Kalau bukan ke warung ke depan rumah bolak balik. Karena ingin jalan kemana juga aku tidak berani membawa motor walau sudah belajar, tetep aku tidak berani membawa motor sendiri tanpa didampingi suami. Sambil exercise pikirku.

Memasuki usia 37w, aku berusaha terus mengkonsumsi madu walau lupa sesekali. Berbeda dengan kurma rutin aku makan, bahkan kujadikan sebagai cemilan tiap hari. Jika terasa lapar kuhanya makan kurma sebagai pengganjal perut.

Hingga kandunganku memasuki usia 38w, setiap hari kusempatkan goyang pinggul entah berapa kali dalam sehari. Namun mendekati hpl perasaanku mulai campur aduk, ada rasa cemas walau tentunya juga aku bahagia. Setiap pagi sebelum anak-anak bangun aku menyempatkan senam di dalam rumah karena jika anak-anak bangun aku akan mulai sibuk dengan semua urusan mereka. Tiba tiba keluarga menelfon menanyakan keadaanku, mereka cemas karena riwayat SC ku, terlebih lebih mama yang memikirkan aku dirantauan dalam keadaanku hamil, “Ma, doakan anakmu semoga Allah mudahkan semua persalinanku nanti”, Walau mama tidak di sini kuharap ia terus mendoakanku.

Ahad 39w perutku selalu kencang, tepat hari itu suami memberi kabar bahwa ia akan pulang. Alhamdulillah aku memang sudah mengatakan sebelum ia pergi bahwa ia harus pulang jika sudah mendekati HPL karena kami di rantau, tidak ada keluarga dekat yang bisa membantu.  Memang memasuki usia kandungan 9 bulan perutku sudah sering mules dan kencang, aku takut jika tiba-tiba aku melahirkan dan aku hanya bertiga dengan anak-anak, tidak bisa kubayangkan jika itu terjadi.

Senin 40 W, seperti biasa rutinitas selama hamil aku jalan pagi dan olahraga lainnya, juga membereskan rumah. Ada rasa sakit yang kurasakan seperti mau haid. Aku ingat perkataan teman bahwa termasuk tanda-tanda persalinan yaitu sakit yang muncul seprti rasa sakit ketika haid, dan benar saja keluar lah tak lama kemudian flek merah bersama suatu cairan. Mungkinkah ini tanda persalinan yang dimaksud? Flek darah terus keluar setiap kali rasa sakit itu datang. Aku berharap hari itu aku akan melahirkan bayiku. Aku berusaha tetap kalem karena aku tahu ini proses membuka jalan insyaAllah. Kontraksipun rutin mulai kurasakan saat itu tapi aku masih bingung apa iya ini yang namanya kontraksi, karena selama hamil anak pertama dan kedua aku tidak pernah merasakan yang namanya kontraksi sebelum brsalin. Aku pun mencari tau, browsing dan bertanya kepada salah satu teman tentang kontraksi. Kontraksi yang kurasakan datang dan pergi, kadang 15 menit sekali kadang 21 menit sekali. Kupikir ini kontraksi palsu atau biasa disebut Braxton Hicks karena setiap kali aku rileks dan memperbaiki posisi kontraksinya hilang dan kontraksinya tidak ada kemajuan sama sekali.

Selasa 40w+1d kontraksi itu benar-bensr hilang, kuyakinkan diriku ini hal yang wajar karna memang belum saatnya. Air kelapa dan vit c terus kukonsumsi, dan aku lebih banyak menghabiskan waktuku berolahraga di dalam rumah, jongkok berdiri, goyang pinggul, berjalan mengelilingi rumah, aku juga terus belajar mengatur pernafasan. Ku lalui hari-hariku dengan banyak berolahraga, terkadang aku berlari-lari kecil sambil bermain kejar-kejaran dengan anak-anak.

Rabu 40w+2d kontraksi itu datang lagi, aku berusaha tetap kalem dan ambil all four position. Namun ada rasa khawatir, dan ternyata aku bukan orang yang sabaran. Kucoba cek di bidan terdekat ternyata belum ada pembukaan. Aku pun kecewa dan aku menangis sambil kutatap langit, “Ya Allah semua akan mudah jika Engkau menghendaki mudah dan aku percaya pertolonganMu sangat dekat” Sempat terlintas di pikiranku tentang pernyataan dokter bahwa aku tidak akan bisa melahirkan normal karena panggulku sempit, namun kubuang pikiran itu dan tetap mencoba berpikir positif. Kubaca lagi kisah-kisah teman-teman yang hebat yang berhasil vbac, bukan karena aku lupa dengan kisah kisah yang MasyaAllah menakjubkan itu tapi ku ingin lebih memantapkan hatiku untuk tetap maju, dan meyakinkan diriku lagi, banyak temen-teman yang sudah berjuang dan sedabg berjuang saat ini, bukan hanya aku. “I am not alone”.

Kamis 40w+3d masih aku menanti kehadiran bayi mungilku. Yah, memang mungkin belum saatnya. Pagi itu aku pun mengajak suami dan anak-anak menemaniku jalan pagi, jujur aku merasa sedikit strees di rumah karena kontraksi yang kurasakan berhari-hari tak ada kemajuan. Kami mencari tempat yang jarang dilalui kendaraan. Aku berjalan di sepanjang jalan, entah berapa jarak yang telah kulalui. Semangat aku berjalan kaki hingga betisku terasa sakit. Jika kontraksi datang aku berhenti sejenak dan mengatur nafas. Sorenya aku mengajak suamiku lagi untuk cek ke bidan yang akan membantuku vba2c karena kontraksinya mulai teratur. Kupikir tidak ada salahnya aku periksa dulu, dan sampai di sana ternyata belum ada bukaan juga. “Ya Allah, Yang Maha Melihat, aku tau Engkau melihatku sedang berusaha saat ini, tolonglah hambaMu, ya Allah” Aku yakin Allah pasti mengabulkan do’aku dan Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Aku pun pulang ke rumah.

Jum’at 40w+4d kontraksi datang lagi dan kali ini semakin sakit rasanya walau masih on off. Setiap kali kontraksi itu datang ku mencoba untuk kalem dan ambil posis all four dengan tetap tersenyum. Aku yakin insya allah ini adalah bertanda baik, bertanda bayiku tidak lama lagi akan lahir, tapi tetap perasaan cemas itu ada. Bercak darah yang tidak berhenti keluar, itu lah yang aku khawatirkan. Aku pun merasa tidak ada salahnya mengecek lagi sudah pembukaan berapa. Kali ini aku berharap akan segera melahirkan. Aku sudah mempersiapkan apa-apa saja yang harus aku bawa, kamipun berangkat ke klinik bidan yang mau membantuku vba2c lagi. Sampai disana ternyata kontraksinya berhenti dan belum bukaan juga. Sedih rasanya namun kucoba untuk tetap kalem. Bidan dan asistennya mencoba melakukan ransangan puting dan perut, dan maasyaAllah kontraksinya mulai lagi 15 menit sekali menjadi 5 menit sekali. Namun susah beberapa jam belum ada bukaan juga. Akhirnya bu bidan menyarankan untuk dirujuk saja ke RS. Beberapa menit aku hanya diam mencoba untuk berpikir sebelum mengambil keputusan. Suami menyerahkan semuanya padaku. Walau dia sangat khawatir, dengan bismillah aku menolak rujukan itu. Kami pun pamit dan pulang. Aku merasa malu untuk kesekian kalinya. Aku kecewa dan kuputuskan untuk tidak lagi pergi ke bidan.

Sabtu 40w+5d aku curhat ke mba yang kisahnya kubaca dulu. Beliau benar benar perhatian dan terus memberiku support. Aku hanya takut jika aku tak mampu untuk tetap bersabar. Namun selalu kuingat kalimat beliau yang membuatku kembali semangat “I trust Allah to make this birth easy for me”. Satu kalimat yang juga membuatku tetap berjuang pun kuingat “Saat ikhtiar sudah di garis batas maka biarkan doa dan takdir bertarung di langit” Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tau Allah selalu melihatku, sembari kutatap langit “Ya Rabb, Engkau mampu menciptakan langit yang tinggi, besarnya dunia, tak ada yang tak mungkin jika engkau menghendakinya terjadi, atas izinMu.”

Senin 41w+1d kntraksi masih datang dan pergi, aku masih melakukan aktifitas biasa. Goyang pinggul yang paling rutin kulakukan karena aku merasa nyaman melakukanny ketika kontraksi itu datang, sambil mengatur nafas, air kelapa terus kukonsumsi dan vit C karena flek flek darah masih keluar semenjak hpl ku kemarin.

Teringat ketika sang Mba memberi semangat, beliau mengatakan bahwa mungkin aku mengalami prodromal labor yang mana perlu waktu extra bayi lahir dan faktor X yang hanya Allah saja yang tahu. Akupun browsing dan mendapatkan infonya. Walau berbahasa Inggris aku tdk begitu mengerti, akupun mentranslate ke dalam bahasa Indonesia. MaasyaAllah penjelasannya begitu detail, bahwa seseorang yang mengalami prodromal labor akan mengalami kontraksi berhari-hari bahkan berminggu-minggu tanpa kemajuan, tapi bayi akan lahir jika tiba waktunya, hanya saja butuh waktu tubuh untuk menyesuaikan. Diperkirakan posisi bayi yang menyebabkan kerja prodromal, tubuh sedang mencoba untuk mendapatkan bayi ke posisi kelahiran yang optimal dalam persiapan untuk lahir ke dunia.

Selasa 42w+2d semakin hari kontraksi semakin kuat saja. Suamiku mulai tidak tega melihatku dengan keringat dingin seperti ini dan berkata “Apa masih kuat?” Aku tersenyum masem-mesem, “InsyaAllah masih bisa kutahan, Bi”. Alhamdulilah saat itu aku masih bisa masak, mengurus anak-anak dan membereskan rumah walau ketika kontraksi datang 15 sekali aku mencoba berhenti dulu dan goyang panggul. Ketika kontraksi datang terkadang aku tak mampu berdiri. Tapi jika sudah hilang seprtinya aku tidak mersakan apa apa. Mungkin karena sakitnya yang datang dan pergi, ketika datang terasa sekali, ketika pergi seperti tidak pernah sama sekali kontraksi. Alhamdulilah ini artinya kontraksiku bagus, berjeda. Insya Allah pertanda baik, terhindar dari ruptur uteri yang tanda2nya adalah kontraksi tanpa henti. Setelah semua beras aku memilih untuk tidur saja agar aku bisa menyimpan tenagaku saat persalinan nanti.

Kontraksi terus datang dan pergi, hingga memasuki 41w+3d. Aku masih kuat pergi ke warung dan jalan-jalan walau hanya di sekitar rumah. Kontraksinya mulai datang 15 menit sekali. Kuyakinkan diriku ini tidak lama lagi. Di warungpun orang orang pada heran melihatku diam dan menggenggam erat sesuatu, seperti kesakitan. Seseorang bertanya, “Kenapa to mba?” Aku hanya menjawab, “Lagi kontraksi bu, hehe” Sampai di rumah aku goyang panggul, dan all four position, dan mulai aku merasa aku tidak bisa memasak dan beraktifitas lagi. Aku mencoba berbaring tapi tidak merasa nyaman, aku duduk pun sama saja. Kurasakan ada gelembung yang muncul di bawah sana. Dalam benakku apakah itu salah satu penyebab lamanya kontraksi ini yang menghalangi jalan lahir? Tapi aku terus berjalan-jalan di dalam rumah. Malam itu aku mencoba teknik Rebozo. Aku tidak bisa tidur dan tidak bisa makan karena mual. Kusandarkan punggungku di tembok dengan bantal rasanya nyaman sekali. Namun setiap kali kontraksinya datang aku menarik narik kasur hingga robeknya dimana-mana. Suami dan anak-anak menemaniku sambil menyuapkanku kurma dan membuatkanku minuman yang dicampur madu, habbat dan sari kurma. Pukul 12.00 aku tidak bisa tidur hingga menjelang subuh, sudah tidak kuat rasanya, ya Allah.

Rabu 42w+4d, pagi itu kutanyakan kepada teman-teman tentang gelembung itu. Dan mereka mengatakan bahwa sepertnya itu ketuban. Sudah saatnya aku ke bidan, semoga aku tidak pulang ke rumah lagi sampai aku melahirkan bayiku. Aku pun menghubungi teman untuk mengantarkanku ke bidan, saat itu aku sudah tidak bisa lagi berjalan lagi, suami menggendong ku masuk ke mobil. Di sepanjang perjalanan di dalam mobil aku mencoba all four. Sampai di tempat bidan aku menuggu sambil berbaring dan tidak lama kemudian asisten bidan datang untuk cek VT. Alhamdulillah ternyata sudah bukaan tujuh! Aku sangat bersyukur, tapi aku masih harus menuggu di ruangan pemeriksaan, karena sedang ada pasien di ruang bersalin. Tidak lama kemudian aku pun dipindahkan, sambil stimulasi puting bidan cek lagi katanya kepalanya sudah turun dan ternyata benar yang gelembung itu adalah ketuban yang kapan saja bisapecah. Aku berbaring miring sambil menunggu pembukaan lengkap. Masya Allah bu bidan sabar sekali menugguiku hingga tertidur.

Siang itu pukul 12.00 masih pembukaan delapan, aku disuruh mengejan tapi aku tidak tahu dan salah terus. Entah sudah berapa kali tidak berhasil juga. Bu bidan ingin merujukku jika pembukaannya tidak bertambah. Sepertinya bu bidan tidak bisa membantuku, gumamku, tapi Alhamdulillah beliau mau memberiku waktu. Kemudian beliau pergi keluar meninggalkanku dalam keadaan sedih. Ya, aku sangat sedih. Ya Allah, haruskah perjuangan VB2AC ku sampai disini? Aku pun berfikir bahwa aku harus benar-benar menunjukkan bahwa aku bisa dan aku mampu. Ketika kontraksi datang lagi, aku pun berusaha mengejan beberapa kali lagi. Ya Allah, aku tidak mau disecar, tolonglah aku, ya Allah. Engkaulah yang membuat kelahiran itu mudah, kataku dalam hati. Beberapa menit kemudian bu bidan masuk dan memeriksaku kembali. Alhamdulillah ada kemajuan, kata beliau. Kontraksi pun datang lagi dan aku berusaha mengejan lagi. Bu bidan pun membantu dengan memecahkan ketuban, terdengar suara ketubannya mengucur, syuur syuur… Setiap kontraksi datang aku pun merasa harus mengejan kuat sekuat-kuatnya. Kuambil nafas yang panjang dan kembali mengejan entah berapa kali. Saat itu aku terus berdoa ,”Ya Allah, tolonglah aku. Engkau yang menciptakan dan membuatnya lahir dengan mudah”

MaasyaAllah kepala bayi pun terlihat. “Pinteeer…” kata bu bidan dan beliau menyuruh ku untuk melihat kepala bayinya agar aku semakin bersemangat lagi. Tidak lama lagi, tidak lama lagi, gumam ku dalam hati. Aku pun mencoba mengejan lagi. “Bismillah, Allahu Akbar!” Hingga tiga kali mengejan, keluar lah kepala bayiku… Alhamdulillaaah. Bu bidanpun menggunting sesuatu untuk memudahkannya keluar. Allahu akbar! Rabu pkl 03.35 sore itu lahirlah bayi laki-lakiku ke dunia, benar-benar lahir lewat jalan lahirnya.

Alhamdulillah, syukurku yang tak henti-hentinya. Jazakumullahu khair suamiku yang selalu mendampingiku, mama yang terus mendoakanku, bu bidan yang sangat sabar, kakak dan mba-mba semua atas perhatiannya yang selalu mensupport luar biasa, yang tidak bisa kusebut kan satu per satu. Barakallahu fiikum…

Fathimah

3 thoughts on “Kisah VBA2C Fathimah

  1. Karena satu dan lain hal, terutama keterbatasan waktu dan kemampuan, ini akan menjadi pesan terakhir di kisah ini. Selanjutnya Sila para ibu yang memiliki akun FB untuk bergabung di Page VBAC Tanya Saya. Insya Allah di sana lebih banyak informasi sputar VBAC. Ketemu di sana ya…

  2. Assalamu’alaikum
    Kebetulan saya sedang hamil anak ketiga setelah keduanya sesar.
    Hpl September boleh minta no hp yg bisa di hubungi Mbak.. mungkin bisa minta sarannya.. berharap yg ini bisa lahir dengan normal..

  3. MasyaAllah.. Barakallah mba Fathimah..
    Salah kenal, mba.. Saya sangat terharu membaca kisahnya.. makasih share nya ya, mba..
    Saat ini saya sedang hamil 37 minggu. Saya sangat berharap kali ini bisa melahirkan normal, setelah 2x caesar.
    Boleh minta kontak nya kah, mba..

Comments are closed.