(Bukan) Kisah VBA3C Nadia: Sebuah Kisah CBA3C

Kisah Kelahiran Syakira

7 November 2014 adalah hari terakir tamu bulanan berkunjung setelah lama tak bersua sejak melahirkan Jaffan via SC di April 2014. Lega rasanya setelah sekian bulan dag dig dug menunggu datangnya haid. Namun ternyata November itu pula merupakan haid terakhirku, karena Desember 2014 tamu bulanan tidak muncul lagi. Bagaimana perasaanku? Betapa berdosanya aku! Bukannya bersyukur, malah stresss luar biasa, nangis kejer tiap masuk kamar mandi sampai seminggu lebih. Setengah meratap kepada Sang Maha Pencipta, mengapa “tega” membiarkan rahimku dititipi anak lagi, karena bekas luka sc 7 bulan yg lalu pun rasanya masih pedih, ngilu dan menyakitkan. Belum lagi pasca sc anak ke 3 ku kemarin, rasanya daya tahan tubuhku lemah sekali, sering kena flu dan demam tanpa sebab, sakit pinggang dan lain2nya. Ya, aku sudah 3x sc. Bukan bayinya yg bikin aku galau toh memang aku kepingin punya anak lebih dari 3, tapi proses kehamilannya yg kutakutkan, karena aku khawatir bekas luka SC lama terbuka kembali seiring bertambah besarnya usia kehamilan.

image

Aku hanyalah manusia biasa, terkadang ada saja bisikan2 setan. Namun aku selalu ingat firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al Isra: 31). Maka mulai lah aku konsul ke dokter kandunganku yang dulu menangani anak ke 3 dan ke 2. Beliau hanya shock mengapa aku bisa hamil lagi hanya dalam 7 bulan pasca sc ke 3. Alhamdulillah walau demikian komentarnya cukup menenangkan. Insya Allah ga apa2, hanya harus ekstra di jaga saja dan stop menyusui, katanya, karena aku ada riwayat keguguran lantaran kekentalan darah di kehamilan ke 2.

Sebetulnya aku sedih sekali, karena aku masih sangat ingin menikmati proses bonding menyusui Jaffan, anak ketigaku. Dan bismillah kuteruskan menyusuinya.

Namun hati ini belum puas rasanya. Lalu aku cek ke dsog lain tapi yang ini komennya super ngaco. Katanya kita lihat perkembangannya, kalau memang bahaya buat ibu, maka bayinya harus di korbankan dan rahim ibu harus di angkat. Aku gak paham ini dokter sekolah dimana, mengapa omongannya kaya gini! Ya Allah, makin menjadi-jadi lah kegalauanku, rasanya kepingin di telan bumi saja atau nyelam di laut yg dalam. Hikss…

Akhirnya mulailah perjalananku menjelajahi google, cari Info sana sini tentang hamil pasca 3x sc. Ternyata ada kisah mba Muti yang melahirkan normal pasca 2x sc. Aku memberi komentar tentang kegalauanku. Tapi kemudian aku fikir.. Ah, sudah lah.

Sementara itu aku hanya berdoa, semoga Allah kasih solusi dari kegalauan yg kualami, karena sebelumnya saat kehamilan Nazira anak keduaku pun aku dikatakan kehamilan beresiko karena tingginya kadar ACA ku, tapi ternyata Alhamdulillah Allah mudahkan dan tolong aku. Nazira lahir dengan sehat dan selamat, tanpa aku harus konsumsi pengencer darah yang membuat irama jantung ku ga karuan rasanya.

Tak lama ternyata mba Muti menyapa ku di Inbox fb ku, aku bingung dan kaget ternyata ditanggapi, Alhamdulillah. Mungkin ini salah satu bantuan yang Allah kirim untukku. Aku pun dimasukkan ke grup yang luar biasa supportnya, banyak ilmu yang aku dapat, dan aku baru paham kalau protein pasca oprasi sc itu sangat penting untuk membangun jaringan bekas luka agar sempurna kembali, bi idznillah. Aku juga baru tau kalau ada yang namanya scar adhesive massage untuk mengurangi resiko perlengketan di bekas luka sc.

Aku pun mulai mempraktekkan apapun ilmu yang aku dapatkan dari grup wa tersebut, mulai dari diet protein yg jadi perhatian utama ku agar luka sc ke 3 ini tidak pedih dan ngilu2 lagi. Aku makan banyak telur setiap harinya, banyak ikan, susu , dan berbagai makanan yg tinggi protein dan albumin, agar luka lamaku tidak ada keluhan lagi. Ternyata memang alhamdulillah berhasil, karena 1 bulan kemudian ngilu2 dan pedih di bekas luka sc mulai sirna, aku pun mencoba usg ke dsog langganan , dan memang alhamdulillah hasilnya mengesankan.

Namun Cobaan datang di minggu ke 18, sehabis aku jalan jalan sama anak2, sore itu serasa ada yg mengalir seperti berkemih namun tidak terkontrol. Karena proses kelahiran Nazira dan Iqbal (anak ke-1) smuanya diawali dengan berhari2 rembesnya air ketuban maka sore itu feeling ku yg merembes ini air ketuban, karena bentuk nya sama seperti saat ketuban Iqbal dan Nazira rembes, putih bening, agak kental dan baunya manis. Aku cek menggunakan kertas laksmus ternyata benar, warnanya berubah. Ya Allah. Selama 3 hari aku bed rest di rumah, hanya tiduran saja di kamar, proses menyusui Jaffan tetap aku lanjutkan. Hanya saja aku super ekstra makan protein saat itu pluss minum banyak air kelapa hijau. Aku pun mengikuti saran dari grup sopport vbac agar saat membersihkan daerah kewanitaan menggunakan yoghurt, ketuban rembes bisa juga dimungkinkan karena infeksi atau keputihan. Yogurt banyak mengandung bakteri baik, sehingga bisa membantu menstabilkan ph di vagina..

Alhamdulillah di hari ke 3 badan ku mulai vit, rembesan pun tidak ada lagi, karena masih agak mulas, aku pun ke dsog spesialis feto untuk cek keadaan bayi ku. Ternyata memang ada infeksi di plasenta , setelah di periksa dan usg, dokter hanya tanya apakah gigi ku ada yg berlubang. Aku heran apa hubungannya antara gigi berlubang dan kehamilan, ternyata gigi berlubang tidak boleh di sepelekan karena selain bisa menyebabkan keguguran juga menyebabkan proses pencernaan menjadi terganggu. Aku pun di anjurkan untuk “membereskan” masalah gigi ku yg memang berlubang. Setelah slesai urusan ke dokter gigi, 10 hari kemudian aku kembali lagi ke dsog. Alhamdulillah semua hasilnya baik, volume ketuban, letak plasenta, dll. Alhamdulillah.

Hari2 selanjutnya aku lewati dengan banyak exercise, yoga kehamilan, dan memperbanyak baca buku serta berdoa kepada Allah SWT. Aku juga mengikuti kelas persiapan vbac di sebuah klinik. Alhamdulillah kehamilan kali ini suami ku juga benar2 berusaha untuk mendampingi ku, karena kehamilan sebelumnya aku lebih banyak sendiri lantaran LDR dengan suami yg bekerja di luar kota. Dukungannya sangat berharga bagiku.

Aku rutin memeriksakan kehamilan ke klinik tsb, juga rutin mengikuti kelasnya, sangat menyenangkan rasanya bisa bertemu sesama ibu2 hamil yg sedang berjuang agar bisa sukses vbac, rasanya benar2 jadi semangat. Entah nantinya bisa berhasil atau tidak tapi aku menikmati prosesnya. Aku juga sangat bersyukur dipertemukan dengan grup wa vbac support, luar biasa rasanya. kehamilan ke 5 ini adalah kehamilan yg paling aku nikmati, aku banyak belajar saat kehamilan ini.

Minggu ke 38 aku disarankan sc, mengingat kalau sudah sekali sc selamanya sc. Tapi aku menolak, aku takut kejadian seperti kelahiran anak ke 3 yang lalu, yaitu sehabis sc yg tanggalnya direncanakan aku harus pulang tanpa membawa anakku lantaran masalah di paru2 dan bilirubin yang tinggi. Birthplan ku pun yg sebelumnya lahiran di bidan di klinik yang rutin ku datangi akhirnya kacau juga setelah dengar tetangga yg rupture uteri di kehamilan ke 3, usia kandungan 36w. Naudzubillah min dzalik. Belum lagi aku mendengar berita dari tetangga yg suster di salah satu RS besar bahwa beliau menangani seorang ibu yg jaitannya sobek lagi sehabis 2 bulan melahirkan sc. Kacau sekacau2nya, galau se galau2nya. Walau demikian kembali lagi yang aku yakini adalah Allah sebaik baiknya penolong, Dialah sebaik baiknya pelindung. Aku pun mengutarakan kemungkinan untuk melahirkan normal di rs dengan dsog, beliau mau menolong dengan syarat ketuban tidak pecah duluan dan mulasnya sudah tak tertahankan barulah pergi ke rs. Ok, aku agak tenang dan bersyukur akirnya ada dokter yg siap bantu kalau2 terjadi apa2.

Hari yg ditunggu pun tiba, tepat 40w
15 agustus jam 11.00 sehabis yoga di klinik dalam perjalanan pulang aku merasakan sensasi ketuban rembes yang disertai sakit pinggang. Aku hubungi dsog dan beliau hanya membalas aku harus segera ke rumah sakit. Namun aku ingat cerita mba muti, agar banyak minum air/rehidrasi saat ketuban mulai merembes. Akupun minum banyak air dan memakai tampoon agar tidak basah ke lantai2.

Sorenya aku jalan sekitar 1 jam dengan harapan mulasnya datang lagi. Malam itupun aku tidur sambil menyusui anak ke 3. Mulai lah berasa sakit pinggang setiap 7 menit, mungkin ini yg namanya kontraksi.

16 agustus 2015, habis subuh, aku jalan pagi dengan semangat 45, mengingat sebentar lg 17an (lho?) Tapi sakit pinggangnya hilang entah kemana, di situ kadang aku merasa sedih (ehh..) Siangnya aku beraktivitas biasa, bebenah rumah, lalu duduk di gymball yang rasanya nyaman sekali. Sesekali kontraksi datang lagi dan kulakukan nafas perut. Sakit pinggang pun raib lagi. Suamiku sangat membantuku, mulai dari menyuapi anak2 sampai ngelus2 pinggangku.
jam 8 malam, ketuban mulai geger ngucurnya. Habis sholat isya, aku sholat sunnah mohon dimudahkan dan diberi yg terbaik. Aku juga coba untuk komunikasi dengan bayiku, namun kucuran ketuban makin luar biasa sampai2 lantai basah kuyup, sampai2 terjadi tragedi Nazira yang nyaris kepeleset ketuban. Selama seharian ini entah berapa banyak air kelapa yg sudah aku minum.

Jam 11 malam aku menyerah. Instingku mengatakan untuk ke rumah sakit. Sampai di rs aku menunggu di ruang vk. Namun aku malah stres karena ada ibu2 melahirkan yg menjerit2 geger setengah mati minta di sc. Akhirnya aku dan suami keluar, jalan2 di sekitar rumah sakit..

17 agustus 2015 (40w 3d) jam 02.00 aku kembali lagi ke ruang vk, berharap kontraksi datang lagi, namun ternyata aku tidur pulas sampai jam 4.30. 
Habis sholat subuh cek VT ternyata belum bukaan juga. Dengan penuh keikhlasan hati jam 6.30 aku di sc untuk ke 4 kalinya. Alhamdulillah lahirlah anak perempuan yg sehat dan menggemaskan, dengan berat 3.7kg.

Sehabis sc aku pun melakukan IMD di ruang oprasi, alhamdulillah dsog menuruti serentetan permintaan yg aku ajukan, salah satunya IMD di ruang oprasi. Aku juga memilih siapa saja yang boleh berada di ruangan selama operasi dan meminta agar auratku lebih tertutup.

Mungkin aku gagal vbac, namun kali ini aku yg membuat keputusan untuk diriku sendiri, bukan seperti yang lalu2, mereka yg buat keputusan untuk diriku.

Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah. Cukuplah Engkau bagi kami. Hanya Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan tempat bagi kami untuk bersandar.

Nadiya Mustafa

Bekasi 2015

10 thoughts on “(Bukan) Kisah VBA3C Nadia: Sebuah Kisah CBA3C

  1. Karena satu dan lain hal, terutama keterbatasan waktu dan kemampuan, ini akan menjadi pesan terakhir di kisah ini. Selanjutnya Sila para ibu yang memiliki akun FB untuk bergabung di Page VBAC Tanya Saya. Insya Allah di sana lebih banyak informasi sputar VBAC. Ketemu di sana ya…

  2. Bu….kisah nya….bikin mewek tapi semangat ibu itu..buat merinding…aku pengen bisa kuat bu…gimana caranya

  3. Assalammualaikum.mba cerita yg sangat menginspirasi, boleh tau rs dan dsog dimana ya mba? Utk klinik vbac di bekasi dimanakah mba? Jazakillah..
    boleh minta no.wa nya mba nadia?

  4. Mba aq mnt nmer wa nya ya aq mau sharing jga neh aq da 3x sc kl smpe 4x gmn ya..mksh mba..atau mba bs tlng wa ke aq neh nmerku mba 089621375441.mksh mba

  5. Salam kenal mba nadia..boleh saya minta alamat kontaknya bisa email atau whatsapp, ingin sharing dgn mba nadia.makasih sblmnya mba.

  6. Mba boleh saya d masukin group atah komunitas VBAC kehamilan saya 31 minggu n kedua nya sc krn pertama preeklampsia, n kedua ketuban kering…ketiga ini pingin bisa normal,,tp dokter angkat tangan tdk mau nanggung resiko

  7. Perjuangan bgt ya mi..
    Semoga syakira dan kakak2 nya jd anak yg sholeh sholeha membanggakan dan menyayangi umi nya sebagaimana umi nya berjuang demi mereka..
    Aamiin YRA..

Comments are closed.