(Bukan) Kisah VBA2C Nila: Sebuah Kisah CBA2C

Persalinan Ketigaku

Entah sudah berapa kali saya menceritakan proses persalinan ketiga ini. Teman-teman dekat yang tau keinginan saya untuk bisa vba2c merasa penasaran, apa ending dari kisah persalinan saya.

Ya, akhirnya saya harus melahirkan dengan caesar lagi.

image

Hamil tak akan pernah selamanya. Yep, that’s true. Akhirnya saya melahirkan di usia kehamilan 43 minggu. Tak selama beberapa teman yang sampai sebulan lebih lewat hpl, tapi cukup panjang bagi saya. Melalui 3 minggu terakhir kehamilan rasa-rasanya mungkin adalah waktu yang lama sekali bagi saya. Keluarga khawatir, tentu saja. Tapi saya yakin, bismillah…insyaAllah bayi saya baik-baik di dalam sana. Tiap 3 hari sekali saya silaturahim ke bidan, tiap hari memantau gerakan bayi, asupan cairan, nutrisi, exercise..

Sampai usia kehamilan 38 pekan, si bayi masih melintang. Sampai akhirnya usia 41 pekan, kepala berada di bawah. Saat itu saya ingat, begitu bahagianya saya saat bercerita kepada salah seorang teman, ‘alhamdulillah, akhirnya kepala debay mau ke bawah, mbak’.

Sepekan kemudian saat kontrol lagi…kepala janin muter ke atas lagi. Kepala di perut kiri atas, pantat di perut kanan atas. Melintang lagi. Rasanya seakan dunia runtuh #lebay. Bismillah..dicoba lagi exercise untuk muter posisi bayi.

43 pekan… Saat itu saya baru pulang dari bepergian, tak jauh..sekitar 6 jam perjalanan pulang pergi. Setelahnya belanja dan jalan-jalan bersama suami, berdua saja, karena anak-anak sedang ikut mbahnya ke Cilacap. Sore itu saya bersenang-senang, menikmati hari-hari terakhir kehamilan. Dan benar saja, malamnya mulai terasa gelombang cinta itu. Alhamdulillah….akan segera bertemu dedek bayi. Menikmati setiap kontraksi datang, sesuatu yang tidak saya rasakan pada 2 kehamilan terdahulu. Ya, dulu hanya rasa sakit yang saya rasakan setiap kontraksi datang, tapi kali ini saya saya tersenyum ketika mulas datang, inilah yang saya tunggu-tunggu! Paginya suami mengajak jalan-jalan ke pantai, biar rileks.

#Ah, suamiku..menetes air mataku mengingat bagaimana saat itu kau mendampingiku

Ahad malam, kontraksi semakin intens. Saat inilah saya merasakan semalaman tak bisa tidur. Tidur hanya 5 menit, dan saat kontraksi datang saya otomatis bangun, jalan muter-muter di dalam rumah. Karena dengan jalan itu agak menekan nikmatnya kontraksi. Saya tak tahan duduk atau tidur saat rasa mulas itu datang. Saat itu lendir dan darah persalinan mulai keluar. ‘ Yay, sebentar lagi, insyaAllah’.

Subuh kami memutuskan untuk ke bidan, karena saat itu kontraksi sudah intens tiap 4-5 menit sekali. Cek sana sini oleh bu bidan. Janin masih sungsang. Bubid menanyakan bagaimana inginnya saya. saya berkata ‘Bismillah..kita coba tunggu sampai bukaan lengkap dulu bu, siapa tau bayinya mau muter’.

Jam 11 siang saya minta di VT karena sudah semakin kuat kontraksinya, bukaan 7. Alhamdulillah…
Saya dan bubid berharap letak paling bawah dari bayi adalah kakinya, jadi masih bisa diusahakan untuk persalinan pervaginaan.

Sembari menunggu bukaan lengkap, saya jalan terus mengelilingi rumah bubid. Hanya air putih dan kurma yang saat itu bisa masuk ke perut. Jam 1 siang sudah tak tahan lagi, kontraksi semakin kuat rasanya, saya minta di VT lagi, sudah bukaan lengkap ternyata. Tapi saat diraba oleh bubid, yang terasa di bagian bawah adalah siku bayi. Allah…

Dirujuklah saya ke RS untuk sc, terlalu berisiko untuk melahirkan pervaginaan. Siang itu, saya dilepas bubid dengan pelukan untuk berangkat ke RS.

#Ah, menetes lagi air mata ini

Baru saat ini merasakan drama persalinan. Tangis? jelas. Tapi satu yang saya ingat, saat suami berkata, ‘Kamu hebat’.

Menunggu sekitar 2 jam untuk akhirnya disesar lagi, rasanya? subhanallah.. tangan suami, tiang infus, teriakan, kata-kata suami, ‘ambil nafas panjang, rileks’, setiap kontraksi datang.

Ketika suntikan bius menghujam tulang belakang, memang seketika sakit itu hilang, tapi pedih di hati yang kemudian menghampiri.

‘Rabb…inilah usaha terbaikku, insyaAllah..’

Senin, 25 Juli 2016, sekitar jam 4 sore..keluarlah bayi cantik itu, Muadzah Ayra Hanifah.

Tak ada yang disesali, insyaAllah.. Hanya syukur dan syukur, saya dan bayi sehat selamat.

Nila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *